FAWARD DARI MILIS SEBELAH..................

 

 

Laskar FPI; Dari Perusak Bar ke Evakuator Mayat 

 

Teringat kisah kawan dari Mobile-8 (Djunaedi) yang ikut bergabung 

sebagai relawan 

dan menghabiskan semua cutinya, berikut kutipan ucapannya : 

 

..melewati pekan ke-3 pasca tsunami, terjadi musibah pada relawan dari
Bali 

yang diamputasi sebelah tangannya disebabkan terserang penyakit dari 

mayat-mayat itu...praktis setelah itu hampir tidak ada lagi yang berani 

mengangkat mayat termasuk saya (karena dilarang keras), kecuali FPI. 

Setelah mayat-mayat dibungkus barulah tugas TNI menaikkan ke mobil-mobil


untuk dibawa kekuburan masal. 

 

Subhanallah.. 

Saya rasa, kita semua termasuk Bangsa ini telah berhutang pada
FPI...satu 

diantaranya adalah mencegah kemungkaran dan berbagai kesesatan termasuk 

kasus ahmadiyah.. 

Wallahu'alam, bagaimana kelak dapat meminimalisir kemaksiatan bila FPI
tidak 

ada.. hiks.. 

 

---------------------------------------------------------- 

 

Selasa, 18 Januari 2005 

Punya Tim Pengendus Mayat dan Negosiator GAM 

Laskar FPI; Dari Perusak Bar ke Evakuator Mayat 

 

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=78110
<http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=78110>  

 

Banda Aceh,- Siapa yang belum mendengar nama Laskar Front Pembela Islam
(FPI). 

Di Jakarta, laskar itu punya nama besar gara-gara sering menyatroni 

dan merusak klub-klub 

malam saat Ramadhan (setelah sebelumnya diperingati dengan halus). 

Bagaimana aksi laskar 

itu di daerah bencana di Banda Aceh? 

 

Laporan Ibnu Yunianto, Banda Aceh 

 

SULIT melihat Habib Riziq Shihab mengenakan jubah dan kafiyeh putihnya 

selama hari-hari 

pascabencana gempa dan tsunami di Banda Aceh. Atribut kebesaran 

Panglima Laskar Front Pembela 

Islam itu telah setengah bulan ini bersalin dengan kaus tipis dan 

celana lebar semata kaki. Bahkan, 

jabatan panglima dia tinggalkan ketika pada hari-hari tertentu 

mendapat jatah masuk menjadi 

anggota tim evakuator mayat. Laskar FPI memang menjadi salah satu 

relawan evakuator mayat 

di ibukota NAD. Mereka telah datang sejak hari kedua bencana. Hari 

ini, sekitar 1.200 

 

anggota FPI dari Jakarta, Solo, Surabaya dan Makassar telah mendirikan 

posko di Banda Aceh. 

Lokasinya pun istimewa, Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Di halaman 

makam yang berlapis 

marmer hitam itu, tiga tenda lapangan dan dua tenda logistik didirikan 

'laskar garis keras' itu. 

"Emang ente pikir Laskar FPI hanya bisa merusak bar, kami juga punya 

organisasi penanggulangan 

pascabencana," tukas Habib Riqizk, ketika ditanya motivasinya terjun ke
NAD. 

 

Habib itu mungkin tak sedang bergurau. Meski mengaku datang dengan 

modal dengkul, FPI termasuk 

kelompok relawan yang cukup disegani di Banda Aceh. 

 

Laskar itu bukan cuma ringan tangan, tapi juga pintar mengambil hati 

orang Aceh. Tentang ringan 

tangannya laskar itu juga cukup legendaris di kalangan relawan. 

Soalnya, hanya FPI yang berani 

menyentuh kawasan Syiah Kuala. Kawasan di pinggiran Universitas Syiah 

Kuala dan makam 

raja-raja Aceh itu memang menjadi momok, karena lokasinya yang 

berawa-rawa, banyak paku bekas 

rumah yang telah berkarat dan ratusan ekor ular. Di kawasan itu juga 

terkenal dengan mayat yang 

sangat berbau dan anggota tubuhnya tidak utuh karena terus-menerus 

terendam air. 

 

"Bukan Ane bermaksud sombong, banyak relawan yang muntah-muntah begitu 

masuk kawasan 

Syiah Kuala. Tapi, FPI berhasil membersihkan mayat-mayat di daerah 

itu. Sekitar 600 mayat sudah 

kami angkat dari sana selama 22 hari ini," kata Habib Riziq. Untuk 

membersihkan kawasan bekas 

padat penduduk itu, Ketua Pelaksana Operasi FPI Ja'far Sidiq 

mengatakan, kalau Laskar FPI memulainya 

dengan menyiapkan "peralatan perang" yang lengkap. Mereka menggedor 

setiap pintu instansi pemerintah 

sehingga berhasil mendapatkan 4 ton logistik, ribuan masker standar 

TNI, ribuan pasang sarung tangan, 

dan ratusan pasang sepatu boot. "Pokoknya gaya gebug dulu khas FPI 

kami pakai untuk mendapatkan 

perlengkapan evakuasi, tapi mereka beruntung karena ada yang 

mengerjakan evakuasi mayat di kawasan 

yang tak tersentuh relawan lain," kata dia. 

 

Setelah itu, mereka lantas menyiapkan kamp relawan di Taman Makam 

Pahlawan. Kawasan elit itu mereka 

sulap menjadi kamp relawan dengan dapur umum 24 jam, kamar mandi 

portabel dan tempat sanitasi terbaik 

diantara kamp relawan lainnya. Kamp itu juga dilengkapi dengan tempat 

untuk mencuci anggota tubuh 

relawan dan alat perlengkapan evakuasi dengan cairan kimia khusus. 

Bahkan, meski pun kawasan makam, 

seluruh kamp itu juga dinyatakan sebagai daerah bebas rokok dan daerah 

wajib berbusana muslim. 

Bahkan, setiap pekan anggota FPI juga wajib disuntik tetanus dan 

malaria, karena tingginya risiko bekerja 

di rawa-rawa yang penuh puing-puing bangunan. 

 

Mereka juga membagi sekitar 1.200 anggota laskar menjadi 3 tim, yaitu 

tim pengendus mayat, evakuator 

mayat, tim sholat jenazah dan tim logistik. 

 

Tim pengendus bertugas mencari mayat diantara tumpukan puing, tim 

evakuasi menggali puing untuk 

mencari mayat, tim pensholat jenazah khusus mensholatkan setiap 

jenazah yang ditemukan sementara 

tim logistik mengurus konsumsi relawan. "Dengan begitu, tim logistik 

dan tim sholat jenazah tidak 

menyentuh mayat, sehingga kebersihan makanan dan kesucian anggota tim 

pensholat jenazah selalu 

terjaga," kata Ja'far. 

 

Di daerah kos-kosan mahasiswa itu, anggota Laskar FPI juga kerap 

menemukan keanehan-keanehan. 

Diantaranya, Sabtu lalu mereka menemukan tubuh utuh seorang ibu muda 

yang tengah hamil tua. 

Mayat itu utuh, kulitnya masih segar dan sama sekali tidak berbau 

meski terendam air selama 21 hari. 

 

Namun, hanya berselang 1 meter ada jenazah yang tidak utuh organ 

tubuhnya serta sangat berbau. 

"Apa maknanya, saya kira Allah hendak menunjukkan kekuasaannya," kata
habib. 

 

Karena nama besarnya dalam urusan evakuasi mayat, Laskar FPI juga 

kerap dimintai tolong untuk 

mengevakuasi mayat di daerah konflik. Di kawasan Lhok Nga, sekitar 20 

kilometer dari Banda Aceh, 

FPI bahkan dihubungi langsung Panglima GAM wilayah itu untuk mengurus 

jenazah di sana. "Ada 

ratusan mayat yang sempat terbengkalai di daerah itu. Soalnya, GAM 

takut ditembak TNI kalau dia 

keluar untuk mengurus mayat, sementara TNI juga nggak mau ditembak 

GAM. Karena itu, FPI yang 

diminta turun," kata Ja'far Shodiq. 

 

Kini FPI juga mulai menyentuh reruntuhan Pasar Atjeh, kawasan 

pertokoan tepat di belakang Masjid 

Baiturahman, Banda Aceh. Di kawasan yang terkenal karena ada rekaman 

video yang mengabadikan 

datangnya tsunami di kawasan itu, ratusan jenazah diperkirakan masih 

tertimbun tumpukan puing 

dan barang dagangan. Bau busuk menyengat begitu memasuki kawasan yang 

hanya berjarak 300 meter 

dari Meuligae (Pendapa) Nanggroe Aceh Darussalam, kompleks kantor 

gubernur NAD yang juga Posko 

Satkorlak PBA NAD itu. "Dari jam 9 hingga dhuhur, sudah 48 mayat kita 

temukan. Entah berapa lagi 

yang tersisa. Mayat seakan tidak ada habisnya," kata Habib Riqizk, 

menambahkan. Karena hanya 

tukang gedor fasilitas penyelamatan, FPI kini masih kesulitan 

mengangkut jenazah ke tempat pemakaman 

masal di daerah Lambaro, Aceh Besar. Mereka hanya mengandalkan 

angkutan milik TNI dan Dinas PU 

yang tidak seberapa banyak. Padahal, sekitar 100 mayat per hari 

ditemukan laskar yang di Jakarta 

gemar menghunus pedang dan golok di kelab malam itu. 

 

Lantas, apa rahasia sehingga dalam 23 hari hanya 6 orang anggota 

laskar yang pulang ke daerah 

masing-masing? "Kontrak kami ke Aceh adalah bebas pergi kapan saja 

tapi jangan harapkan uang saku 

untuk pulang. Kami ke sini tidak ada yang bayari, jadi tidak ada yang 

kami beri uang saku untuk pulang. 

Kalau mereka bisa pulang sendiri silahkan. Akibatnya, hanya enam orang 

saja yang pulang," jelasnya. 

 

Selain piawai mengumpulkan mayat, laskar FPI juga piawai mengambil 

hati orang Aceh. Laskar yang 

meliburkan operasi setiap hari Jumat untuk membersihkan masjid dan 

madrasah itu dikenal keras 

melindungi kesucian masjid. Mereka pernah membuat larangan bagi orang 

asing untuk masuk ke 

lingkungan Masjid Baiturrahman dengan alasan kawasan masjid haram bagi 

non muslim. Peraturan 

keras itu rupanya sangat didukung oleh rakyat Aceh. Tak heran, Laskar 

FPI justru menuai pujian 

di Banda Aceh.(jpnn)

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke