--- On Mon, 6/16/08, Masyhurim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Masyhurim <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [anggotaicmi] Menuju Mukmin Sejati (sebuah refleksi dari surat 
al-fatihah)
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, June 16, 2008, 11:13 AM











Menuju mukmin sejati
 
 
Bismillahirrahmanir rahiim
 
"Dan Sesungguhnya kami Telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca 
berulang-ulang dan Al-Quran yang agung." (Q.S. 87)
 
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa masksud ayat diatas adalah tujuh 
surat-surat yang panjang yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 
'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah.
 
Surat al-Fatihah merupakan surat yang diturunkan setelah surat al-Mudatsir 
diturunkan di Makkah al-Mukarramah dan merupakan surat yang pertama didalam 
tertib susunan surat-surat al-Quran. Adapun ayatnya tidak lebih dari tujuh ayat 
termasuk "Bismillahirrahmani rrahim" sebagai ayat pertama menurut kesepakatan 
para ulama sebagaimana telah dijelaskan didalam kitab sunan al-Kubra li 
al-Baihaqiy juz 2 dan al-Mu'jam al-Kabir li al-Thabraniy bab Qith'atun min 
al-mafquud juz 20 sebagaimana dijelaskan juga didalam kitab al-Mu'jam al-Ausath 
li al-Thabraniy bab al-miim min ismihi : Muhammad juz 14. 
 
Dinamakan surat al-Fatihah dikarenakan kedudukannya sebagai pembuka bagi 
seluruh surat-surat yang ada didalam al-Quran al-Kariim. Walaupun ayatnya 
sangat pendek tetapi kandungannya telah mencakupi seluruh isi al-Quran dan 
asas-asasnya secara ringkas. 
 
Pembicaraan pada surat al-Fatihah meliputi kajian ushuluddin dan 
cabang-cabangnya, ilmu-ilmu akidah, ibadah, syari'at, keimanan terhadap hari 
akhir, keimanan terhadap asma' al-husna, mentauhidkan Allah swt dalam 
beribadah, memohon pertolongan dan berdoa, dengan menghadapkan diri kepadanya 
dengan memohon hidayah-Nya kepada agama yang benar (Islam) dan jalan yang 
lurus, serta merendahkan diri dihadapan-Nya dengan menetapi keimanan dan 
berjalan diatas jalan-jalan orang-orang yang salih. Kemudian surat al-Fatihah 
ditutup dengan permohonan manusia kepada Allah swt agar dijauhkan dari 
sifat-sifat al-magdhuub (orang-orang Yahudi yang terlaknat) dan al-dhaall 
(orang-orang Nasraniy/Kristen yang tersesat).
 
Dinamakan juga sebagai Umm al-Kitab karena al-Fatihah telah menghimpun seluruh 
maksud surat-surat yang lain didalam al-Quran al-Karim. Menurut al-ustaz 
Muhammad Ali al-Shabuniy didalam kitabnya "Shafwat al-Tafasir" jilid pertama 
bahwa al-Fatihah juga memiliki nama-nama seperti berikut "Sab'u al-Matsaniy, 
al-Syafiah, al-Wafiah, al-Kafiyah, al-Asas dan al-Hamd".
 
Didalam solat surat al-Fatihah juga merupakan rukun yang wajib dibaca oleh 
setiap musahlliy dan tidak sah solat seseorang tanpanya. Dikatakan didalam 
kitab al-fiqh al-manhajiy bahwa tidak sah solat seseorang yang belum sempurna 
membacanya kemudian dia terus rukuk, melainkan dalam keadaan masbuq, maka tidak 
mengapa untuk tidak membacanya dengan sempurna, karena seorang imam itu mesti 
diikuti keadaan solatnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw 
didalam kitab-kitab Sahih Bukhariy Muslim, Muwattha' Malik dan kitab-kitab 
sunan.
 
Keutamaan surat al-Fatihah
 
Al-Ustaz Muhammad Ali al-Shabuniy menjelaskan didalam kitabnya Shafwat 
al-Tafasir bahwa telah diriwayatkan oleh imam Ahmad pada musnadnya bahwasanya 
Ubay bin Ka'b membaca Umm al-Quran (al-Fatihah) keatas nabi Muhammad saw maka 
Rasulullah saw bersabda : "Demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, tidaklah 
diturunkan pada kitab Taurat dan tidak pula pada kitab Injil demikian tidak 
pula pada kitab Zabur serta tidak pula pada al-Furqan (al-Quran) sepertinya 
(al-Fatihah) dialah tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya serta amatlah besar 
kemuliaan dan faedahnya yang diberikan kepadaku."
 
Dijelaskan juga pada shahih Bukhariy bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Abu 
Sa'id bin al-Ma'alla : "Akan saya ajarkan kepadamu satu surat dia merupakan 
surat yang paling mulia didalam al-Quran : al-hamdu lillahi rabbi al-al'alamiin 
(al-Fatihah) , dialah tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang serta amatlah besar 
kemuliaan dan faedahnya yang diberikan kepadaku."
 
Makna surat al-Fatihah 
 
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta 
pertolongan.
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan 
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
 
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(Q.S. 
al-Fatihah : 1)
 
Allah swt yang telah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya, telah 
mengajarkan kepada orang-orang yang beriman agar dalam setiap urusan yang baik 
seperti belajar, mencari nafkah, makan minum, berjihad, akan berdiri, duduk 
ataupun berbaring dan sebagainya hendaklah dimulakan dengan membaca 
"Bismillahirrahmaan irrahiim" . Satu kalimat yang diajarkan oleh Allah swt 
kepada rasul-Nya melalui malaikat Jibril as, sebagaimana yang diriwayatkan dari 
Ibnu Abbas ra. Disunatkan bagi orang-orang yang beriman untuk meneladaninya, 
demikian yang dikatakan oleh Abu Ja'far seperti yang ditulis oleh imam 
al-Thabariy didalam tafsirnya.
 
"Bismillahirrahmaan irrahiim" menjelaskan akan sifat Allah swt Maha Pemurah 
lagi Maha Penyayang yang telah menjadikan segala sesuatu atas kehendak-Nya 
(iradat) dan menyatakan bahwa manusia itu lemah dan tidak dapat melakukan 
apa-apa urusan melainkan dengan izin-Nya. Kalimat ini juga mengisyaratkan 
kepada umat manusia bahwa segala usaha umat manusia itu dapat terjadi karena 
sifat rahman dan rahim Allah swt yang telah menjadikan apa-apa yang diusahakan 
oleh manusia sesuai dengan kadar usahanya, sebagaimana yang dijelaskan didalam 
surat al-Ra'd ayat ke 8 yang bermaksud: "Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada 
ukurannya."
Ketika kita memulai setiap usaha ataupun aktivitas, maka mulailah dengan 
menyebut "Bismillahirrahmaan irrahiim" . Dan renungkanlah dengan hati serta 
rasakan betapa dengan rahman dan rahiim-Nya kita bisa duduk dan berdiri, 
denganya kita bisa melakukan apa saja diatas muka bumi ini. Kemudian masuklah 
lebih dalam lagi kedalam jiwamu, maka dikau akan dapatkan bahwa sungguh manusia 
itu tidak dapat melakukan sesuatu melainkan atas kehendak rahman dan rahim-Nya 
juga. Sehingga dengan demikian ketika engkau renungkan akan hakikat perbuatan 
dan setiap kejadian, maka dapatlah engkau merasakan akan kebesaran Allah pada 
setiap kejadian itu dan dirimu adalah sangat lemah dan memerlukan Tuhan untuk 
menolongmu. Dan hanya karena sifat kasih dan sayang-Nya juga setiap makhluk 
dapat melakukan banyak perkara diatas muka bumi ini. 
 
Oleh karena itu jika seseorang itu telah memahami akan makna perbuatan serta 
hakikatnya, maka dia diharapkan untuk tidak melakukan melainkan perkara yang 
diridhai Allah swt saja. Hal ini tidak lepas dari konteks manusia yang 
dijadikan khalifah (pengganti posisi) Allah swt dimuka bumi. Manusia tidak 
diminta melainkan untuk beriman kemudian melakukan kerja-kerja perbaikan 
didalam segala urusan serta mencegah setiap kemungkaran seperti yang dijelaskan 
didalam al-Quran surat Ali Imran ayat ke 110 yang bermaksud: "Kamu adalah umat 
yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan 
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." 
 
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S. al-Fatihah : 2)
 
Diriwayatkan dari Hakam bin Umair bahwa Rasulullah saw bersabda : "Jika engkau 
mengatakan 'al-hamdulillahi rabbi al-'alamiin' , maka engkau telah bersyukur 
kepada Allah." Manakala Ibnu Abbas menjelaskan bahwa malaikat Jibril as 
mengajarkan kepada rasulullah saw : "Katakan wahai Muhammad 'alhamdulillah' ." 
Demikianlah kalimat syukur yang diajarkan oleh Allah swt kepada rasullah-Nya 
yang sunnah untuk diamalkan oleh setiap orang yang beriman. 
 
Manusia diminta untuk sentiasa bersyukur (berterimakasih) atas setiap nikmat 
yang didapatkannya dengan mengucapkan 'alhamdulillah'. Sudah semestinya setiap 
orang yang beriman berterima kasih kepada penciptanya yang telah menyempurnakan 
penciptaannya dan telah menjadikan dirinya beriman, betapa dengan iman itu 
dirinya dapat meraih surga-Nya. 
 
Nikmat Allah swt pada setiap insan itu sangatlah besarnya dan tidak satupun 
yang dapat menandinginya pemberian-Nya. Jika dilihat kepada diri kita, maka 
akan kita dapatkan sosok tubuh yang sempurna dengan fungsinya masing-masing. 
Kita dibekalkan otak yang dengannya kita dapat memikirkan, kita diberikan mata 
dengannya kita dapat melihat alam yang luas, kita diberikan telinga dengannya 
kita dapat mendengar segala bunyi dan suara, kita diberikan mulut dan segala 
perlengkapannya dengannya kita dapat berbicara dengan baik, kita diberikan 
lidah dengannya kita dapat rasakan masin, manis dan pahit, kita diberikan hati 
dengannya kita dapat merasakan sedih, gembira, dan membedakan yang benar dan 
salah, kita diberikan tangan dengannya kita dapat meraih dan memegang, kita 
diberikan kaki dengannya kita dapat pergi mendatangi apa yang kita inginkan, 
kita dilengkapi rambut dan bulu dengannya kita kelihatan indah, kita dilengkapi 
kuku dengannya kuatlah jari-jemari,
 ketika letih dijadikan kita tidur, ketika sakit dijadikan kita sehat kembali. 
Dengan otak itu kita dapat mengendalikan setiap gerakannya, dengan paru itu 
kita dapat menyimpan oksigen kedalam tubuh kita dan mengeluarkan karbondioksida 
yang beracun daridalamnya, dengan jantung itu kita dapat memompa darah 
keseluruh tubuh, dengan hati itu kita dapat memproduksi darah, dengan empedu 
itu kita dapat meleraikan lemak-lemak yang tidak diperlukan oleh tubuhnya, 
dengan lambung itu kita dapat menyimpan makanan dan minuman didalam tubuh, 
dengan ginjal itu tubuh kita dapat menyaring darah dan membersihkan limbah, 
namun juga menjaga keseimbangan dari tingkat-tingkat elektolit-elektroli t 
didalam tubuh, mengontrol tekanan darah, dan menstimulasi produksi dari sel-sel 
darah merah, dengan usus-usus itu kita dapat menyerap zat-zat makanan yang 
dimakan, kemudian dia dapat membuang yang apa-apa tidak diperlukan oleh tubuh. 
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu
 dustakan?" (Q.S. Al-Rahman). 
 
Dia penuhi muka bumi ini dengan oksigen kemudian kita bisa bernafas dengan baik 
dan menjadi sehat, pada malam hari dijadikan bintang gemintang yang berkelipan 
dengan warna warni yang menyenangkan hati setiap yang melihatnya, untuk 
menghiasi langit yang gelap pekat selain menjadi petunjuk arah bagi para 
nelayan dilautan, diberikan juga cahaya bulan yang lembut, dengannya manusia 
merasa hidup ini indah dan nyaman berada dibawah belayan cahaya rembulan, jika 
siang diterbitkan oleh-Nya matahari yang bersinar terang dan kehangatan belaian 
cahayanya maka seluruh makhluk Allah tumbuh memekar, diturunkan pula hujan yang 
dengan airnya seluruh makhluk-Nya menjadi hidup. "Maka nikmat Tuhan kamu yang 
manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Al-Rahman).
 
Sungguh, tidak ada yang dapat memberi seperti pemberian Allah, maka hendaklah 
setiap orang-orang yang beriman itu untuk sentiasa bersyukur berterimakasih 
kepada Allah Tuhannya. "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat 
kamu menghinggakannya. " (Q.S. Ibrahim : 34 dan al-Nahl : 18) 
 
Kalimat al-hamdulillahi rabbi al-'alamiin telah mengajak kita untuk sentiasa 
beryukur atas kenikmatan yang telah diberikan secara gratis. Kalimat ini juga 
telah mengisyaratkan kepada manusia untuk sentiasa mentaati perintah dan 
meninggalkan seluruh larangan-Nya karena hanya dengan demikian saja segala 
kenikmatan tadi akan menjadi kekal bahkan akan digandakan menjadi kenikmatan 
diatas kenikmatan. "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; 
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, 
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." 
(Q.S. Ibrahim : 7)
 
Allah swt telah memerintahkan kita untuk senantiasa mengingati segala nikmat 
itu, karena hanya dengan demikian manusia itu akan dapat bersyukur. Allah swt 
telah berfirman : "Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu." (Q.S. al-Baqarah : 
231, Ali Imran : 103 dan al-Maidah : 7). Hampir dapat dipastikan bahwa 
terjadinya kemaksiatan serta merebaknya kerusakan diatas muka bumi ini 
disebabkan oleh mereka yang melupakan keindahan dan kenikmatan yang 
dianugerahkan oleh Sang penciptanya. "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah 
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan 
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah 
Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami 
dari siksa neraka." (Q.S. Ali Imran : 191)
 
Kalimat al-hamdulillahi rabbi al-'alamiin merupakan kepala rasa syukur demikian 
yang disabdakan oleh Rasulullah saw seperti yang dijelaskan oleh Abu Qasim 
Mahmud bin Amru bin Ahmad al-Zamakhsyariy (penulis tafsir al-Kasyaf).
 
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Fatihah : 3)
 
Disini Allah swt sekali lagi menekankan bahwa Dialah Maha Pengasih dan Maha 
Penyayang. Pada kedua sifat inilah kehidupan di dunia menjadi teratur dan 
sempurna.
 
Sebagaimana yang telah kita jelaskan tadi bahwa Allah swt telah menyempurnakan 
ciptaannya, ternyata semua itu tidak lepas dari sifat al-rahman dan al-rahiim 
ini. Bisa dibayangkan kalau Allah swt tidak memiliki sifat kedua ini maka sudah 
tentu akan terjadi banyak kehancuran dan kemusnahan dimuka bumi ini.
 
Sebagai contoh Allah swt akan mengazab orang-orang yang mengingkari ajaran-Nya, 
seperti yang dijelaskan didalam al-Quran bagi mereka yang tidak dapat menerima 
hidayah karena tidak mentadabburi ayat-ayat Allah swt dan tidak pernah 
mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya yang ada dilangit dan dibumi 
juga pada diri mereka sendiri : "Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi 
mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga 
akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan 
penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (Q.S. 
al-Baqarah : 6 - 7) Namun demikian mari kita lihat dan renungkan, bukankah 
mereka yang ingkar itu tetap dapat merasakan manisnya buah-buahan? ; Mereka 
yang menjadi pembangkang keatas ajaran-ajaran- Nya tetapi masih tetap merasakan 
segarnya air yang diminum; Mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah 
swt tetapi masih juga mendapatkan curahan
 air hujan dari langit; Mereka membuat fatwa-fatwa yang tidak pernah diajarkan 
oleh Allah dan rasul-Nya tetapi mereka masih juga merasakan kehangatan sinar 
matahari dan kelembutan sinar rembulan. 
 
Kita semestinya lebih banyak merenungkan kebesaran dan nikmat Allah yang ada 
pada alam semesta juga yang ada pada diri kita. Hanya dengan demikianlah kita 
dapat mengerti arti kehidupan dan tujuan kita diciptakan. Dengan demikian maka 
setiap kita akan dapat mengerti mengapa Allah berfirman : "Dan Aku tidak 
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (Q.S. 
Al-Dzariaat : 56). Maka dengan demikian, nyatalah bagi manusia apa-apa yang 
patut dia kerjakan sebagai khalifah (pengganti tugas-tugas) -Nya dimuka bumi 
ini untuk senantiasa mengerjakan tugasnya iaitu menyebarkan kebaikan dan yang 
hak serta untuk tidak melakukan kerusakan apapun bentuknya, apalagi akidah yang 
diwariskan oleh nabi ini yang menjadi modal utama bagi setiap insan untuk 
meraih  surga-Nya, ketika setiap kita kembali setelah menjalankan 
tugas-tugas sebagai khalifah-Nya dimuka bumi. 
 
Jika setiap insan itu menginsafi bahwa ia akan mempertanggungjawab kan setiap 
apa yang telah diusahakan olehnya, maka tentu dia akan menjaga setiap ucapan, 
tulisan dan perbuatannya agar tidak terkeluar dari jalur-jalur yang telah 
ditentukan oleh Allah swt didalam al-Quran dan sunnah nabi-Nya. "Barangsiapa 
yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat 
(balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, 
niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (Q.S. Al-Zalzalah : 7 – 8)
 
4. Yang menguasai di hari pembalasan. (Q.S. al-Fatihah : 4)
 
Satu berita kepada umat manusia khususnya kepada mereka orang-orang yang 
beriman, bahwa tidak ada yang menjadi raja saat dipadang mahsyar. Semua manusia 
akan dibangkitkan semula dari kematian dan kemudian akan digiring oleh para 
malaikat untuk menghadap Allah swt untuk mempertanggungjawab kan segala apa 
yang telah diusahakan selama menjadi khalifah dimuka bumi. 
 
Tidak ada yang menjadi raja pada waktu itu, semua manusia adalah sama dan 
telanjang tanpa seorangpun yang mengenakan pakaian apalagi pakaian kebesaran. 
Mereka semua berdiri terhina melainkan mereka yang dirahmati oleh Allah swt. 
"Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak 
berkata-kata, kecuali siapa yang Telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang 
Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar." (Q.S. Al-Naba' : 38), "Allah 
mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang 
mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai 
Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati Karena takut kepada-Nya." (Q.S. 
al-Anbiya' : 28)
 
Pada waktu itu hanya milik Allah swt saja yang segala kebesaran dan kehebatan 
serta kewibawaan dan kekuasaan. Demikianlah seperti yang dijelaskan oleh Allah 
swt didalam al-Quran yang bermaksud : "(yaitu) hari (ketika) mereka keluar 
(dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. 
(lalu Allah berfirman): "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" kepunyaan 
Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. " (Q.S. al-Mukmin : 16), "Pada hari 
itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak 
berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha pemurah, 
Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja." (Q.S. Thaaha : 108).
 
Pada hari itu mereka yang telah mengerjakan tugasnya sebagai khalifah dengan 
baik, dengan beriman kepada-Nya serta mentaati segala ajaran-Nya kemudian 
mengerjakan amar makruf dan nahi mungkar, maka bagi mereka kenikmatan surga 
yang telah dijanjikan dan mereka tidak akan mati selamanya, demikian pula 
sebaliknya bagi mereka yang ingkar bahkan membangkang terhadap garis panduan 
yang telah ditentukan, bagi mereka adalah neraka yang tidak akan pernah mati 
pula didalamnya. "Hai manusia, Sesungguhnya kamu Telah bekerja dengan 
sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang 
yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,  maka dia akan diperiksa 
dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang 
sama-sama beriman) dengan gembira.  Adapun orang-orang yang diberikan 
kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku".  Dan dia 
akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (Q.S.
 al-Insyiqaaq : 6 – 12)
 
Sebagaimana dijelaskan juga bagi mereka yang tidak menjalankan tugasnya - 
dimuka bumi ini sebagai khalifah Allah - dengan baik maka renungkan ungkapan 
penyesalan mereka yang dilukiskan didalam al-Quran : "Sesungguhnya Kami telah 
memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia 
melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir 
berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah." (Q.S. al-Naba' : 40)
 
Berita ini merupakan peringatan keras bagi umat manusia terlebih lagi bagi 
orang-orang yang beriman, karena merekalah yang membaca surat ini pada setiap 
solatnya. Maka sudah tentu dia akan lebih bertanggungjawab keatas dirinya 
tentang persiapan pada hari perjumpaan dengan penciptanya. 
 
Ayat ini merupakan satu isyarat bagi umat manusia dan orang-orang yang beriman 
agar tidak melakukan perkara apapun dimuka bumi ini melainkan yang telah 
digariskan oleh Allah swt dan rasul-Nya saja. Maka para pemimpin tidak 
dibenarkan melakukan kezaliman dengan kekuasaan mereka melainkan bersikap adil 
saja; para politikus dan cendekiawan tidak dibenarkan melainkan memikirkan, 
menulis dan mengatakan yang haq saja; para suami tidak dibenarkan melainkan 
menggauli isteri-isteri mereka dengan baik saja; para artis dan penghibur tidak 
dibenarkan melainkan berperan dan menghibur dalam perkara yang benar saja; 
demikianlah setiap insan tidak dibenarkan melainkan mengerjakan kebaikan saja. 
Maka rasulullah saw bersabda "Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan 
mempertanggungjawab kan setiap apa yang dipimpin olehnya."  (H.R. Jama'ah)
 
Dengan besikap demikian yang disebutkan tadi, maka dapatlah dikatakan bahwa 
manusia itu telah menepati misinya sebagai khalifah (pengganti) Allah dalam 
mengimarahkan muka bumi ini, tersebarlah kedamaian dan kesejahteraan bagi 
setiap makhluk Allah swt. "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan 
bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan 
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka 
disebabkan perbuatannya." (Q.S. al-A'raf : 96), "Dan sekiranya mereka 
sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang 
diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan 
dari atas dan dari bawah kaki mereka." (Q.S. al-Maidah : 66). 
 
Dari makna ayat-ayat ini dapatlah disimpulkan bahwa tersebarnya kemaksiatan dan 
kerusakan dimuka bumi baik itu kerusakan alam semesta ataupun ideologi 
pemikiran disebabkan oleh manusia-manusia khususnya orang-orang yang beriman 
tetapi tidak mencermati apa yang dibaca didalam solatnya. Mereka lupa akan hari 
pertemuan dengan penciptanya, seandainya dia ingat sekalipun tetapi dia tidak 
membayangkan akan dahysatnya hari pertemuan itu. 
 
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta 
pertolongan. (Q.S. al-Fatihah : 5)
 
Inilah ikrar kita untuk Sang Pencipta, inilah janji kita kepada Yang Maha 
Agung, inilah pengakuan kita terhadap Yang Maha Mendengar. 
 
Imam al-Thabariy didalam tafsirnya menjelaskan bahwa Abu Ja'far mengatakan 
makna kalimat Iyaaka na'budu bermaksud : "Hanya kepada Engkau ya Allah kami 
berserah dan kami merendah dan kami taat." Sebagaimana yang dijelaskan oleh 
Ibnu Abbas bahwa malaikat Jibril as mengajarkan rasulullah saw untuk membaca 
"Iyaaka na'budu" yang bermaksud : "Kami hanya mentauhidkan, takut dan berharap 
hanya kepada Engkau ya Tuhan kami, dan tidak mengharapkan selain dari-Mu."
Pada kalimat pertama ini merupakan satu materi tauhid yang diajarkan oleh Allah 
swt kepada Muhammad saw dan umatnya, bahwa mereka mesti berikrar terhadap diri 
mereka sendiri dihadapan Tuhan mereka didalam solat mereka agar mereka tidak 
menyembah selain Allah swt; tidak mentaati melainkan karena Allah swt; tidak 
mengharapkan dalam setiap apa yang diusahakannya selain Allah swt; tidaklah 
membenci melainkan karena Allah swt; dan tidak juga mencitai selian dari Allah 
swt. Rasulullah saw bersabda didalam sebuah hadis daripada Anas dan Abu 
Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda : "Tidaklah sempurna iman diantara 
kamu sehingga aku lebih dicintai daripada dia mencintai orang tuanya dan 
anaknya." (H.R. Bukhari dan Muslim)
 
Mencintai Rasulullah saw bermakna mencintai Allah swt, mencintai kedua-duanya 
dengan menjalankan segala perintah dan ajaran keduanya. "Katakanlah: "Jika kamu 
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan 
mengampuni dosa-dosamu. " Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Ali 
Imran : 31) Serta meninggalkan segala larangan keduanya : "apa yang diberikan 
Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka 
tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras 
hukuman-Nya." (Q.S. al-Hasyr : 7)
 
Berserah diri atau sam'an wa tha'atan merupakan sikap yang paling prinsipil 
didalam keimanan kepada Allah swt, karena demikianlah maksud Islam itu 
diturunkan, mengajak manusia untuk berserah diri secara total kepada-Nya. Sikap 
berserah diri ini telah digambarkan oleh para malaikat, para nabi dan para 
sahabat dan orang-orang yang salih, bahkan alam semesta dan jagad raya turut 
pula taat atau berserah diri kepada Allah swt.
 
Para malaikat makhluk yang paling taat telah berserah diri kepada Allah swt, 
seperti yang dijelaskan oleh Allah swt didalam kisah penciptaan Adam as, 
ketaatan para malaikat ini telah dikekalkan didalam al-Quran surat-surat 
al-Baqarah ayat ke 34, al-A'raf ayat ke 11, al-Isra ayat ke 61, al-Kahfi ayat 
ke 50 dan surat Thaaha ayat ke 116. Mereka tidak bertanya-tanya kepada Allah 
swt mengapa harus sujud kepada Adam as, manakala Adam as baru saja diciptakan 
dan mereka sudah hidup lebih dahulu berbanding Adam as. Demikian pula mereka 
tidak protes lantaran nabi Adam as dicipta dari tanah dan mereka dicipta dari 
cahaya demikianlah yang dijelaskan oleh Ibnu Manzhur pada kitabnya "Mukhtashar 
Tarikh Damsyiq" bab "Abu al-Abbas" juz kedelapan, demikian pula yang dijelaskan 
oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya "Al-"Bidayah wa al-Nihayah" juz kesatu. 
 
Manakala sikap berserah diri para nabi kepada Allah swt telah dijelaskan 
didalam al-Quran seperti berikut :  "Maka tatkala anak itu sampai (pada 
umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku 
Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah 
apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan 
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. 
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas 
pelipis(nya) , (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan kami panggillah dia: "Hai 
Ibrahim.  Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya 
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.  Dan Kami tebus anak 
itu dengan seekor sembelihan yang besar." (Q.S. 102 – 107) Perhatikan bahwa 
kedua nabi yang mulia ini (Ibrahim dan anaknya Ismail
 as) tidak protes kepada Allah swt mengapa harus menyembelih Ismail as dan 
perhatikan apa yang dikatakan oleh Ismail as : "Hai bapakku, kerjakanlah apa 
yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk 
orang-orang yang sabar." Yang kita jadikan ibrah dalam kisah ini adalah selama 
apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dirasakan itu benar-benar dari 
Allah swt, maka tidak ada perkataan yang diluahkan melainkan mereka berkata 
sami'na wa atha'na.
 
Allah swt telah mengabadikan kisah penyerahan diri nabi Ibrahim as didalam 
al-Quran : "Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim 
menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". (Q.S. al-Baqarah : 131).
 
Sikap berserah diri kepada Allah swt telah digambarkan pula oleh manusia biasa 
dialah Abu Bakr al-Shiddiq ra. Ibnu Hisyam didalam kitabnya al-Sirah 
al-Nabawiyah jilid kedua bab "Audat Ila Hadits al-Hasan" Ketika kafir Quraisy 
mendustakan peristiwa Isra' dan Mi'raj dan tidak sedikit orang-orang yang sudah 
beriman menjadi murtad karena peristiwa besar itu. Maka datanglah mereka secara 
beramai-ramai menghadap Abu Bakr al-Shiddiq dan memberitakan peristiwa yang 
sangat luar biasa itu. Maka Abu Bakr mengatakan : "Demi Allah, jika dia 
(Muhammad saw) yang mengatakan maka dia telah berkata benar. Maka apa sebabnya 
yang menyebabkan kamu merasa heran dengannya? Maka demi Allah, sesungguhnya dia 
(Muhammad saw) betul-betul telah mengabarkan kepadaku bahwa berita itu datang 
dari langit (Allah swt) ke bumi, pada saat malam ataupun siang maka aku akan 
membenarkannya. .." Maka sejak hari itu Abu Bakr ra mendapat gelar al-Shiddiq 
(orang yang membenarkan) . 
 
Allah swt telah mengabarkan kepada umat manusia, bahwa alam jagad raya semua 
patuh dan tunduk terhadap ketentuan Allah swt. Allah swt menjelaskan didalam 
al-Quran al-Karim : "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit 
itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 
"Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". 
keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".(Q.S. Fushilat : 11). Bahkan 
alam jagad raya sentiasa bertasbih mengagungkan nama-nama Allah swt, Sang 
Pencipta Yang Maha Sempurna. Semua ini telah dilukiskan didalam al-Quran pada 
surat-surat berikut :  al-hadiid : 1, al-Shaff : 1, al-Hasyr : 1, 
al-Jumu'ah : 1 dan al-Taghabun : 1. 
 
Demikian contoh-contoh hamba-hamba yang berserah diri secara total kepada Allah 
swt, demikianlah semestinya sikap orang-orang beriman kepada Rabbnya, karena 
hanya Allah swt saja yang layak untuk disembah dan ditaati.
 
Sebagai seorang yang benar-benar beriman hendaklah mentaati ajaran Allah swt 
dan rasul-Nya secara total atau kaaffah. Allah swt berfirman : "Hai orang-orang 
yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu 
turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata 
bagimu." (Q.S. al-Baqarah : 208). Ayat ini merupakan isyarat serta 
pengejawantahan keatas kalimat Iyyaka na'budu, sehingga diharapkan orang-orang 
yang beriman itu dapat menghayati keimanan serta penyembahan itu dengan benar, 
tidak menjadi seorang yang hanya berlabel Islam di KTPnya tetapi pemikirannya, 
hatinya, tulisannya, perkataannya, perbuatannya, sikapnya dan pakaiannya 
seperti orang-orang Yahudi ataupun Nasrani.
Allah swt juga telah menegaskan cara bersikap seorang muslim dalam hal ta'abbud 
ini seperti yang telah dijelaskan didalam al-Quran al-Karim seperti berikut : 
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan 
yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan 
ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa 
mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang 
nyata." (Q.S. al-Ahzab : 36)
 
Wa Iyyaka Nasta'iinu (Hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan). Inilah 
ikrar kita yang kedua, setelah ikrar yang pertama bahwa kita tidak akan 
mentaati selain Allah swt saja. 
 
Imam al-Thabariy menjelaskan didalam tafsirnya bahwa Abu Ja'far mengatakan 
makna perkataan Allah swt 'Wa Iyyaka Nasta'iinu' : "Dan hanya kepada-Mu wahai 
Allah kami memohon pertolongan dalam ibadah kami, ketaatan kami hanya untukmu 
dan dalam setiap urusan kami, kami tidak meminta kepada sesiapun dan apapun 
selain kempada-Mu. Seandainya orang-orang selain kami meminta kepada 
tuhan-tuhan selain kamu, maka kami hanya kepadamu meminta dalam setiap urusan 
kami dengan penuh keikhlasan dalam penghambaan kami terhadapmu."
 
Ikrar ini berkaitan rapat dengan ikrar yang pertama, bahwa sebagai bentuk 
ta'abbud penyembahan atau berserah diri kepada Allah swt manusia diajarkan 
nutuk meminta pertolongan Allah swt sebagai bukti ketaatannya kepada Rabb. 
 
Walaupun kita tidak dibenarkan untuk meminta pertolongan selain kepada Allah 
swt, kita diwajibkan berusaha untuk mendapatkan segala keperluan kita 
sehari-hari, asalkan cara yang digunakan tidak bertentangan dengan syariat. 
 
Meminta pertolongan sesama manusia dalam perkara memenuhi keperluan hidup 
sehari-hari adalah mubah, karena demikianlah manusia diciptakan sebagai makhluk 
sosial. Manakala meminta pertolongan kepada malaikat, jin, syaithan ataupun 
dukun dengan tujuan untuk menjaga diri dari ditimpa musibah ataupun untuk 
mendatangkan keuntungan adalah haram dan syirik akbar, dapat menyebabkan 
pengamalnya masuk neraka selamanya. 
 
Menggunakan jimat atau tangkal yang diletakkan didalam pakaian ataupun ikat 
pinggang dan sebagainya, merupakan pengingkaran terhadap ikrar tadi bahkan 
sikap demikian telah menyebabkan seseorang menjadi syirik. Al-ustaz al-mufti 
Athiyah Saqr didalam kitab Fatawa al-Azhar bab al-tamaa im menjelaskan bahwa 
tidak mengapa menggunakan penangkal yang diambil dari ayat-ayat al-Quran, 
dengan i'tikad bahwa apa yang diambil dari ayat-ayat al-Quran itu tidak akan 
mendatangkan manfaat atau mudharat melainkan dengan izin Allah swt, dan agar 
menjaga ayat-ayat Allah swt dari penyalahgunaan. 
 
Menurut hemat saya, agar setiap orang yang beriman tidak menggunakan jimat 
apapun bentuknya, karena sikap demikian tetap membuka jalan kearah syirik, 
karena perantara untuk menjadi syirik itu sudahpun ada. Selain itu, 
permasalahan menggunakan jimat atau penangkal dari ayat-ayat al-Quran merupakan 
masalah khilafiyah para ulama salaf juga ada hadis Rasulullah saw yang 
mengharamkan menggunakan jimat seperti yang diriwayatkan oleh Abu Ya'ala 
al-Mushiliy bab Man Ta'allaqa Tamiimatan Falaa Atammallah didalam Musnadnya. 
Pelarangan menggunakan jimat ini juga dapat kita cermati dari kitab-kitab 
Fatawa Islamiyah bab Hukmu Zabihat Man Yu'alliq al-Tamaa im juga kita Mausu'ah 
al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah bab ke13 juz ke 14. 
 
Manakala meminta pertolongan kepada jin, syaitan ataupun malaikat untuk 
menjauhkan diri dari malapetaka ataupun untuk mendatangkan kebaikan, maka hal 
ini sudah termasuk syirik akbar. Demikian yang dijelaskan didalam kitab Fatawa 
lajnah al-daa imah li al-buhuts al-'ilmiyah wa al-ifta' bab al-isti'anah bi 
al-Jinn aw al-Malaikat juz 1, yang dikumpulkan oleh Ahmad bin Abd al-Razaq 
al-Duwaisy. 
 
"Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang 
berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. 
" (Q.S. al-Taubah : 31), "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah 
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang 
lurus (jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan). Dan 
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah 
agama yang lurus." (Q.S. al-Bayinah : 5) 
 
Jika telah diucapkan ikrar maka tidak ada yang patut dilakukan, melainkan 
menunaikan ikrar itu dengan sempurna. Yang demikian adalah lebih dekat kepada 
ridha Allah swt. 
 
Namun demikian tidak sedikit masyarakat kita yang mengingkari ikrar ini, 
walaupun dia terus mengulangi ikrar setia itu sebanyak tujuh belas kali sehari 
semalam. Banyak yang masih juga mendatangi para dukun untuk diminta 
perkhidmatan mereka. 
 
Allah Maha Melihat tentang apa yang mereka lakukan, akan tetapi Allah swt tidak 
pernah mengingkari sifatnya al-rahman dan al-rahiim. Dia tetap mengasihi 
hamba-hamba- Nya, Dia masih memberikan rezeki kepada hamba-hamba- Nya, Dia 
masih memanjangkan usia mereka agar satu masa nanti mereka kembali kejalan-Nya. 
Tetapi jika ajal itu sudah dihadapan mata, maka tidak ada taubat yang diterima. 
 
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Q.S. al-Fatihah : 6)
 
Muhammad bin Jarrir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amaliy Abu Ja'far 
al-Thabariy (Imam al-Thabariy) menjelaskan didalam tafsirnya "Jaami' al-Bayan 
fi Ta'wil al-Quran" daripada Ibnu Abbas beliau berkata : "Jibril as mengatakan 
kepada Muhammad saw "Katakan wahai Muhammad, Ihdinaa al-shiraat al-Mustaqiim" ."
 
Abu Ja'far menjelaskan bahwa makna 'Ihdinaa al-shiraat al-Mustaqiim' 
tetapkanlah kami untuk berada padanya. Al-Ustaz Muhammad Aliy al-Shabuniy 
menjelaskan didalam kitabnya Shafwat al-Tafasir jilid 1, bahwa maksud ayat : 
"Tunjukkan kami wahai Tuhan kepada jalan-Mu dan agama-Mu yang lurus, dan 
tetapkan kami dalam keadaan beragama Islam yang telah Engkau utuskan dengannya 
nabi-nabi-Mu dan rasul-rasul- Mu, dan telah Engkau utuskan dengannya utusan 
terakhir, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang berjalan diatas jalan 
orang-orang yang didekatkan kepadaMu".
 
Setelah kita berikrar akan taat setia kepada Allah swt dan rasul-Nya, maka pada 
ayat ke enam dari surat al-Fatihah kita diajarkan untuk berdoa memohon kepada 
Allah swt agar ditetapkan dijalan yang lurus dan senantiasa dalam keadaan 
beriman. Yang demikian itu merupakan bukti kasih sayang Allah swt (rahman dan 
rahiim) kepada orang-orang yang beriman, karena hanya dengan imanlah Allah swt 
memuliakan mereka serta meninggikan derajat mereka di dunia dan akherat. 
 
Dr. Yusuf al-Qardhawiy menjelaskan didalam sebuah artikelnya yang berjudul "Hal 
Nahnu Mukminuun?" bahwa sifat-sifat orang-orang yang beriman yang dijanjikan 
pertolongan serta kemenangan dan kejayaan dari Allah swt adalah seperti yang 
digambar didalam al-Quran berikut :
 
Sifat-sifat orang-orang yang beriman didalam al-Quran :
 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama 
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah 
iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) 
orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki 
yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan 
sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi 
Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia." (Q.S. al-Anfal : 2 – 4)
 
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) 
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang 
ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan 
mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; 
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Q.S. al-Taubah : 71)
 
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya 
(beriman) kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan 
mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. 
mereka Itulah orang-orang yang benar." (Q.S. al-Hujurat : 15)
 
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,(yaitu) orang-orang yang 
khusyu' dalam sembahyangnya, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari 
(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,Dan orang-orang yang menunaikan 
zakat, Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri 
mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini 
tiada terceIa.Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah 
orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat 
(yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. 
Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga 
Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Q.S. al-Mukminuun : 1 – 11)
 
Sekurang-kurangnya tujuh belas kali kita membacakan doa ini didalam solat 
sehari semalam. Kita memohon agar Allah swt berkenan menetapkan kita untuk 
senantiasa berada pada jalan yang benar (Islam). Allah swt pasti mengabulkan 
doa tadi karena demikianlah janji Allah swt kepada hamba-hamba- Nya, tetapi 
tentunya doa itu mesti diikuti dengan usaha yang sesuai. Bagi mereka yang 
bercita-cita dan berkeinginan untuk tetap berada diatas jalan yang benar, untuk 
mentaati segala ajaran-Nya, patuh setia terhadap setiap aturan mainnya, dan 
bukan sebaliknya menjadi pembangkang terhadap ajaran-ajaran- Nya. Kita tidak 
boleh membuat satu hukum ataupun pernyataan keagamaan selain dari yang 
diajarkan didalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya, dengan menghalalkan apa-apa 
yang telah diharamkan oleh-Nya maupun dengan mengajak orang lain bahkan bersatu 
dengan dengan musuh-musuh Allah swt untuk bersama-sama menentang-Nya.  
 
Seorang pelajar tidak cukup hanya berdoa untuk sukses dalam ujian, tetapi dia 
wajib mengulang dan membaca nota kuliahnya, dan tidak cukup hanya sebatas 
mengulang kaji pelajarannya tetapi dia juga harus bersungguh-sungguh dalam 
memahami notanya, entah dengan cara mendiskusikan dengan dosen ataupun belajar 
kelompok, kemudian mungkin menghafalnya. Kalau tidak demikian maka jauh 
panggang dari api. "Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan 
berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan 
sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak 
tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak 
dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah 
sia-sia belaka." (Q.S. al-Ra'd : 14)
 
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan 
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q.S. 
al-Fatihah : 7)
 
Inilah jalan-jalan yang kita mohonkan kepada Allah swt dalam setiap solat kita. 
Kita memohon agar diri dan seluruh orang-orang yang beriman senantiasa berjalan 
diatas jalan yang lurus yaitu Islam, karena demikianlah jalan-jalan yang benar 
yang telah anugerahkan berupa kenikmatan kepada mereka-mereka kekasih Allah swt.
 
Pada ayat terakhir dari surat al-Fatihah ini akan kita bagikan uraiannya kepada 
tiga bagian. 
 
Pertama : (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada 
mereka; Allah swt menjelaskan orang-orang yang diberikan nikmat oleh-Nya yaitu 
mereka yang digambarkan pada ayat berikut : "Dan barangsiapa yang mentaati 
Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang 
dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang 
yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang 
sebaik-baiknya. " (Q.S. al-Nisa : 69)
 
Allah swt menjelaskan bahwa mereka yang berhak mendapatkan janji Allah swt 
berupa kenikmatan surga adalah mereka yang mentaati, tunduk dan patuh kepada 
ajaran Allah swt dan rasul-Nya. Kemudian Allah swt mengklasifikasikan 
golongan-golongan yang berhak mendapatkan rahmat-Nya itu yaitu : 
 
1. Para nabi-nabi.
2. Orang-orang yang membenarkan setiap apa yang diajarkan didalam al-Quran.
3. Orang-orang yang mati dalam memperjuangkan agama Allah swt. 
4. Orang-orang yang senantiasa beramal saleh. 
 
Bahkan Allah swt menegaskan bahwa mereka itulah sebaik-baik orang yang bisa 
dijadikan kawan ataupun yang layak untuk diteladani. 
 
Siapakah mereka orang-orang yang membenarkan itu? Allah swt menjelaskan 
ciri-ciri mereka itu seperti yang dijelaskan pada ayat berikut: "Orang-orang 
yang telah kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan 
yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar 
kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (Q.S. al-Baqarah : 121)
 
Didalam kitab al-Quran dan terjemahannya yang dikeluarkan oleh departemen agama 
Republik Indonesia dijelaskan bahwa, yang dimaksudkan dengan orang-orang yang 
membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, yaitu mereka orang-orang tidak 
merobah dan mentakwilkan al-Kitab (al-Quran) sekehendak hatinya.
 
Manakala dijelaskan oleh Muhammad bin Jarir al-Thyabariy didalam tafsirnya 
bahwa mereka yang dimaksudkan dengan kalimat diatas adalah para sahabat yang 
beriman, patuh dan tunduk serta membenarkan apa yang ada pada al-Quran itu, 
walaupun sebahagian mufassririn menjelaskan bahwa, yang dimaksudkan dengan 
mereka itu ialah Bani Israil yang membenarkan ajaran Taurat serta meyakini 
kebenaran nabi Muhammad saw bahwa beliau adalah seorang utusan Allah swt.
 
Para sahabat berselisih faham kepada tiga pendapat mengenai penafsiran siapakah 
mereka yang telah membaca al-Kitab dengan sebenar-benar bacaan itu. 
 
1. Abdullah bin Abbas ra menjelaskan bahwa : mereka yang menghalalkan apa yang 
dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkan, dan tidak melakukan pemalsuan 
terhadapnya.  
 
2. Abdullah bin Mas'ud menjelaskan bahwa : mereka yang menghalalkan apa yang 
dihalalkan dan mengharamkan apa yang telah diharamkan, kemudian mereka 
membacanya seperti waktu diturunkan, serta tidak memalsukan ayat-ayatnya, dan 
tidak mentakwilkannya dengan sesuka hati.
 
3. Qais bin Mas'ud menjelaskan bahwa :  mereka yang mengikuti ajarannya, 
seperti yang dijelaskan oleh Allah swt didalam surat al-Syams ayat ke 2 yang 
bermaksud : "Dan apabila bulan mengikutinya" .
 
Dari ketiga penafsiran sahabat diatas dapat disimpulkan bahwa, mereka yang 
dikatakan sebagai orang-orang yang membaca al-Quran dengan sebenar-benar bacaan 
adalah mereka yang mengikuti apa yang diajarkan dengan menghalalkan apa-apa 
yang telah dihalalkan dan mengharamkan apa-apa yang telah diharamkan; 
membacanya dengan bacaan yang benar kemudian tidak mentakwilkan ayat-ayatnya 
dengan sesuka hati. Demikianlah gambaran golongan kedua yang dijanjikan akan 
mendapat rahmat Allah swt, yaitu mereka yang membenarkan ajaran-ajaran- Nya.
 
Kedua : bukan (jalan) mereka yang dimurkai, 
 
Demikianlah permohonan kita kepada Allah swt didalam solat kita, kita memohon 
dengan penuh pengharapan agar supaya kita dapat bersama golongan yang pertama 
yaitu mereka orang-orang yang diberikan rahmat oleh Tuhan mereka. Kemudian kita 
melanjutkan permohonan itu dengan berdoa agar tidak dimasukkan kedalam golongan 
yang kedua yaitu orang-orang yang yang dimurkai. 
 
Ketika rasulullah saw ditanyakan oleh para sahabat yang mulia, siapakah mereka 
yang dimurkai, maka Rasulullah saw menjawab al-Yahuud (orang-orang Yahudi). 
(H.R. Ahmad).
 
Mengapa Rasulullah saw menjelaskan bahwa yang dimurkai itu adalah Yahudi? Untuk 
menjawab pertanyaan ini dapat kita kaji gambaran akhlak Yahudi didalam surat 
al-Baqarah dari ayat ke 40 hingga ayat 142. 
 
Disebutkan didalam surat ini bahwa Yahudi senantiasa mengingkari nikmat Allah 
swt yang telah dianugerahkan kepada mereka. Adapun kenikmatan yang telah Allah 
swt anugerahkan keatas mereka itu adalah seperti berikut :
 
1.  Telah dimuliakan oleh Allah swt keatas seluruh umat.
2. Diutusnya para nabi untuk membimbing mereka, bahkan hampir semua nabi 
diutuskan untuk membimbing mereka. 
3. Diselamatkan dari angkara Fir'aun.
4. Diselamatkan dari tenggelam di laut merah.
5. Diturunkan makanan dari langit saat tersesat ditengah-tengah gurun pasir.
6. Dipancarkan air yang dapat diminum saat tersesat ditengah-tengah gurun pasir.
7. Dinaungi oleh awan saat tersesat ditengah-tengah gurun yang panas dan tandus.
8. Allah swt pilihkan tempat yang baik bagi mereka untuk membangun peradaban.
 
Sebab-sebab murka Allah swt keatas mereka :
 
1. Tidak mau beriman melainkan kalau sudah melihat Allah swt dengan mata kepala 
mereka sendiri.
2. Menukar serta memalsukan ayat-ayat Allah swt (Taurat) yang dilakukan oleh 
rahib-rahib mereka.
3. Mengajarkan kepada masyarakat apa-apa yang tidak pernah diajar didalam kitab 
Taurat.
4. Membunuh para nabi dan rasul.
5. Tidak bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah swt, terutama dalam 
perkara penyembelihan lembu.
6. Banyak alasan yang dibuat-buat untuk tidak melakukan perintah Allah swt.
7. Menjual ayat-ayat Allah swt dengan harga murah (meremehkan) .
8. Melakukan perintah yang berlainan dari apa yang disuruh oleh Allah swt.
9. Memiliki hati yang keras (sok lebih tau), bahkan lebih keras dari batu.
10. Selalu ingkar janji.
11. Berbuat zalim seperti membunuh, berbohong.
12. Rela dengan kehidupan dunia berbanding akherat.
13. Munafiq.
14. Selalu ingkar dengan apa yang diajarkan oleh Musa.
15. Tidak mau beriman sehingga gunung Thur hampir dicampakkan keatas mereka.
16. Mengatakan bahwa surga hanya milik mereka.
17. Tamak dengan kehidupan dunia.
18. Malaikat dijadikan musuh.
19. Tidak dapat menerima kebenaran al-Quran.
20. Ingkar dengan kenabian Muhammad saw.
21. Menyukai ilmu sihir.
22. Gemar memperolok orang-orang yang beriman kepada nabi Muhammad saw.
23. Tidak mengakui kebesaran Allah swt.
24. Berhasrat untuk mengembalikan orang-orang beriman agar menjadi kafir 
kembali.
25. Hasad dengki terhadap orang-orang yang beriman.
26. Suka berangan-angan tanpa ada dalil yang jelas (mereka akan masuk surga).
27. Berusaha menjauhkan umat dari berzikir mengingat Allah swt.
28. Mengatakan bahwa Allah swt memiliki anak-anak.
29. Menjadikan lembu sebagai sesembahan.
30. Menginginkan orang-orang yang beriman agar menyerupai mereka dalam setiap 
perkara.
31. Ingkar atas ajaran nabi Ibrahim as.
32. Membenci orang-orang yang memalingkan mukanya kearah mesjid al-Haram.
 
Sebagai hukuman keatas kaum ini yang keras kepala ini, maka Allah swt telah 
menceritakan didalam al-Quran-Nya bahwa mereka telah dijadikan kera-kera yang 
hina dan menjadi babi-babi (Q.S. al-Baqarah : 65 dan al-Maidah : 60).
 
Bukankah sangat dahysat akibat perbuatan ingkar mereka itu, Allah swt jadikan 
mereka kera-kera yang hina. Jika kera-kera yang ada di kebun binatang itu 
kelihatn lucu-lucu dan menggelikan, maka bagaimana dengan keadaan kera-kera 
yang hina itu? Jika kita melihat babi sudah cukup membuat perut gak enak dan 
kepala jadi pusing, maka bagaimana keadaannya jika manusia itu yang berubah 
menjadi babi? Na'udzubillah min zalik.
 
Allah swt tidak zalim terhadap seluruh makhluk yang telah diciptakan oleh-Nya, 
tetapi makhluk itu sendiri yang telah menzalimi diri mereka sendiri. (Q.S. Ali 
Imran : 117).
 
Mengapa Allah swt menceritakan kejadian ini didalam al-Quran? Padahal mereka 
semua sudah dimusnahkan oleh Allah swt ribuan tahun sebelum nabi Muhammad 
diutus menjadi seorang Rasul? Maka demikianlah jawaban Allah swt kepada umat 
ini : "Maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa 
itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi 
orang-orang yang bertakwa." (Q.S. al-Baqarah : 66) 
 
Ketiga : dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.  
 
Akhirnya kita memohon kepada Allah swt agar kita tidak dimasukkan kedalam 
golongan yang ketiga yaitu mereka orang-orang yang tersesat. 
 
Ditanyakan kepada nabi Muhammad saw, siapakah mereka yang tersesat itu wahai 
Rasulullah saw? Maka Rasulullah saw menjawab, mereka adalah al-Nashara 
(orang-orang Nasrani). (H.R. Ahmad) 
 
Mereka tersesat karena beranggapan bahwa nabi Isa as itu adalah anak Allah swt 
sebagaimana mereka beranggapan bahwa Sayidah Maryam as adalah isteri Allah swt. 
(Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan). Manakala Allah swt menafikan 
apa yang mereka sifatkan itu seperti yang dijelaskan didalam al-Quran : "Dia 
Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak 
mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala 
sesuatu."  (Q.S. al-An'am ayat ke 101).
 
Setelah Allah swt jelaskan terpesongnya akidah mereka yang menyebabkan mereka 
menjadi tersesat, maka Allah swt jelaskan juga akan karakter mereka yaitu 
perasaan hasad dan dengki terhadap kaum muslimin, seperti yang telah dijelaskan 
dialam al-Quran : "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu 
hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah 
itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan 
mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi 
pelindung dan penolong bagimu." (Q.S. al-Baqarah : 120) 
 
Demikianlah pesan-pesan al-Fatihah kepada seluruh umat Islam sehingga 
diwajibkan bagi mereka untuk membacanya pada setiap solat, dan tidak sah solat 
itu tanpanya, agar mereka mengingat-ingati ikar yang mereka ucapkan dan doa-doa 
yang mereka panjatkan.
 
Dan nilai-nilai yang disampaikan oleh Allah swt melalui al-Fatihah itu adalah 
supaya orang-orang yang beriman senantiasa memulai setiap pekerjaan dengan 
menyebut nama Allah swt karena mereka tidak akan dapat melakukan apa-apa 
melainkan atas kehendak Allah swt dan agar mereka merasa bahwa hanya Allah swt 
saja yang berkuasa dan bahwa dirinya adalah kecil dan hina; senantiasa 
bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan dengan mentaati segala 
perintah-Nya dan bukan menjadi pembangkang keatas segala ajaran-Nya; bersifat 
rahman dan rahiim dengan menyebarkan kebaikan dan kedamaian serta mencegah 
kemungkaran dan kehancuran; berwawasan jauh kehadapan dengan beramal soleh 
selama hidup, semata-mata untuk mempertanggug jawabkan apa yang telah 
dilaksanakan sebagai khalifah Allah swt di muka bumi; integritas total kepada 
al-Khaliq dengan tidak mentaati selain kepada Allah swt dan tidak meminta 
pertolongan selain kepada-Nya karena setiap pertolongan itu berasal
 dari-Nya tidak akan pernah terjadi melainkan atas izin-Nya; memohon kepada 
Allah swt agar senantiasa dihidupkan dalam keimanan dan masuk kedalam surga-Nya 
seperti mereka yang telah mendapatkan rahmat Allah swt dari para nabi-nabi, 
orang-orang yang membenarkan, pada syuhada dan orang-orang saleh; dan memohon 
untuk tidak bersikap seperti Yahudi sehingga dikutuk dan dilaknat, juga supaya 
diselamatkan dari sikap orang-orang Nasrani yang telah tersesat dan mereka 
bersama-sama Yahudi memerangi umat Islam dan akidahnya.
 
Jika umat Islam hari ini beramal dengan surat al-Fatihah dengan sepenuh jiwa, 
maka dapat dipastikan umat ini akan kembali kepada saat-saat kejayaannya 
seperti yang telah pernah dibuktikan oleh para sahabat dan tabi'in dahulu. 
Allah swt berjanji akan memenangkan mereka, menjaga mereka dan menolong mereka. 
Namun hari ini yang terjadi adalah umat Islam membaca surat al-Fatihah, tetapi 
mereka menjadi antek-antek Yahudi dan Nasrani; membenci para ulama saleh; 
menghukum orang-orang yang ingin menjaga kemurnian akidah dengan panggilan 
"penjaga akidah" seakan-akan penjaga akidah itu dalah musuh bebuyutan mereka; 
manghalalkan yang haram; mengikuti imam bukan karena benar tetapi karena 
ta'ashub membabibuta; membaca al-Quran tetapi tidak mentadabburinya; meyakini 
al-Quran adalah kitabnya tetapi membenci orang-orang yang ingin beramal 
dengannya dan menegakkan kalimat-kalimat- Nya; mengatakan Muhammad saw sebagai 
panutannya tetapi yang didengar perkataan orang-orang
 yang dikagumi olehnya saja. 
 
Oleh karena itu celakalah bagi mereka yang solat, karena lalai terhadap 
solatnya. Solatnya tidak dapat membentuk karakter kebaikan untuknya, bukan 
karena solat itu yang salah tetapi dirinya tidak memahami dan tidak beramal 
dengan nilai-nilai apa yang dilakukan ketika solatnya. Allah swt telah menjamin 
bahwa solat dapat menjaga manusia dari sifat mazmumah agar dirinya selamat di 
dunia dan akherat. Maka sungguh Allah swt sekali-kali tidak pernah menzalimi 
hamba-hamba- Nya jika ada yang masuk neraka, tetapi mereka sendiri yang 
mencelakakan diri mereka. Na'udzubillahi min dzalik
 
Allah swt inginkan kebaikan kepada seluruh umat manusia, karena seluruh umat 
manusia adalah khalifahnya yang mewakili Allah swt terhadap segala urusan 
dimuka bumi. Maka celakalah bagi yang merusak amanah itu dengan melakukan 
kerusakan; menyebarkan kesesatan; menjadi pembangkang. Dan beruntunglah bagi 
yang menjaganya. 
 
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang 
khusyu' dalam solatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan 
dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan 
orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka 
atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada 
tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang 
yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang 
dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara solatnya. Mereka 
itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga 
Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Q.S. al-Mukminun : 1 – 11)
 
 
Wallahu a'lam bi al-shawab
 
Masyhuri Mas'ud 
IIUM 
 














      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS

Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252 
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke