setelah membaca tulisannya bu rahima kembali teringat
dibenakku bagaimana kehidupanku di mesir lima tahun
yang lalu,,,sangat menyenangkan dan kangen untuk pergi
ke mesir kembali.
mesir kapan aku kembali ke pangkuanmu?
--- Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bismillahirrahmaanirrahiim
>
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
>
> Puasa bersama-sama di Mesir ini, sangat mengasyikkan
> sekali. Dimana-mana, lantunan AlQuran kedengaran,
> acara televisipun banyak yang menarik.
>
> Bukan tidak ada acara televise yang menggoda.
> Wah,..sinetron-sinetron luar biasa bulan Ramadhan
> ini, dipilih yang bagus-bagus, dengan artis-artis
> yang luar biasa terkenalnya.
>
> Tinggal kita saja memilih acara mana yang akan kita
> putar.
>
> Di Mesir, acara buka di hidangan disebut
> Maaidaturrahmaan, selalu diadakan disepanjang
> tempat, dipinggir-pinggir jalan(kota). Belum pernah
> saya merasakan bagaimana buka bersama dengan mereka
> itu, tapi menurut mahasiswa/I juga masyarakat
> Indonesia yang sudah pernah merasakan katanya,
> makanannnya enak-enak dan mewah, selalu ada ayam
> atau daging kari. Tak ketinggalan kurma dan juice
> tamar Hind(juice asam Jawa), atau juice lainnya ciri
> khas Mesir terbuat dari kacang Soya
>
> Untuk kalangan masyarakat Indonesia, sebahagian
> masyarakat sehabis shalat magrib berbuka, kemudian
> shalat Isya dan Tarawih di mesjid mesir bersama-sama
> orang Mesir, rata-rata jumlah rakaat tarawihnya 8+3
> witir ., dan satu Juz satu malam. Yah
asyik
> sebenarnya sih shalat sambil mendengarkan hafalan
> AlQuran panjang-panjang, kalau kita mengerti
> artinya, apalagi bacaan orang Mesir yang ahlinya itu
> enak sekali, bisa berlinang-linang air mata kita
> dibuatnya atas lantunan AlQuran itu. Dimana sehabis
> shalat Isya, ada juga setelah 4 rakaat shalat
> tarawih, ada ceramah singkat hanya 5 menit, paling
> lama 10 menit. Isi ceramahnya hanya AlQuran hadits
> tok.
>
> Kalau dikita kebanyakan bicaranya ketimbang
> ayat-ayat dan haditsnya. Sulit sekali rasanya meniru
> cara berceramah orang Mesir ini, sebab di Indonesia,
> kalau tak ada leluconnya, sepertinya ngantuk
> dengerin ceramahnya(katanya sih).Subhanallah, di
> Mesir justru jarang ditemukan jamaah yang ngantuk
> saat Da'i berceramah, padahal kagak ada sama sekali
> ketawanya tuh.
>
> Apakah dikarenakan orang Mesir lebih suka mendengar
> kalam Allah dan rasulNya ketimbang kalam manusia,
> atau dikarenakan memang sudah kebiasaan Da'i Mesir
> berceramah just kalamullah wasunnah rasulullah,
> sedikit aja penjelasannya. Atau dikarenakan bagi
> orang Mesir, dikarenakan AlQuran hadits adalah
> bahasa Arab, mereka sudah cukup mengerti, jadi tak
> perlu lagi ada banyak penjelasan penafsiran?
> Allahu'alam.
>
> Bagi sebahagian masyarakat Indonesia, terutamanya
> kalangan masyarakat kedutaan, biasanya shalat
> tarawihnya bersama-sama shalat di mesjid Indonesia
> Cairo. Baik Imam ataupun penceramahnya adalah dari
> kalangan mahasiswa Indonesia itu sendiri. Sehabis
> tarawihan, biasanya ada makan makanan ringan berupa
> bakso, siomay, mie ayam, empek2 dan lainnya,
> ditambah buahan, kerupuk dan kadang minuman es
> buah, dan selalu ada teh hangatnya.
> Disanalah masyarakat Indonesia baik mahasiswa, home,
> local staff bersilaturrahmi, saling cerita dan ada
> juga yang tadarrusan, baik Bapak-bapak ataupun
> Ibu2nya.
> Mengasyikkan memang, keakraban jauh lebih kuat dan
> kental ketimbang kita berada dinegeri Indonesia itu
> sendiri. Dengan mahasiswa yang ada di mesjid saja,
> sudah bagaikan saudara sendiri. Ibu-ibu biasa saja
> tiduran dimesjid, kalau sudah selesai shalat.
> Anak-anak mulai tingkat SD-SMA, sudah bagaikan kakak
> beradik sendiri, sebab mereka dari pagi-sore, sejak
> dari TK-SMA hidup bersama terus.
>
> Suasana kekeluargaan memang seperti tiada
> tandingannya saja, mirip persaudaraan zaman
> rasulullah dahulu kali. Soal bantu membantu itu hal
> yang biasa tanpa pamrih. Makanya, ketika pulang dan
> hidup di Indonesia, dengan masyarakat baru,
> terkadang mereka kesulitan, sebab banyak yang
> berhitung dalam pengeluaran materi, sementara di
> Kairo(khusus kalangan Do'I tempat domisili saya
> dikalangan kedutaan), saya tidak tahu kalangan
> mahasiswa didaerah lain,tidak seperti itu.
> Ikhlas-ikhlas saja. Pinjam meminjam uang itu biasa,
> meski dalam jumlah besar, 1000 dollar 2000 dollar
> bahkan lebih, tetap dibayar, sehingga kepercayaan
> itu tetap terjaga.
>
> Saya sering meminjamkan uang sama tetangga, teman di
> Indonesia, sulit sekali kembalinya, ini membuat saya
> kurang percaya lagi. Padahal uangnya ada, bukan
> tidak ada, dicari-cari kebutuhan lain. Saya heran,
> apa tidak takut tuh hitungan diakhirat kelak,
> bukankah hutang bisa menggantung amalan diakhirat
> kelak, sebelum terbayar? Kenapa masyarakat kita
> jarang menyadari hal yang satu ini, padahal ini luar
> biasa penting diketahui, karena dia akan menggantung
> nasib kita kelak diakhirat. Orang sudah berbuat baik
> begitu mengapa kepercayaannya dihilangkan, kenapa
> tak sedikitpun rasa takut pada Illahi. Apakah begitu
> kurangnya pengajaran agama pada masyarakat kita?
> Allahu'alam.
>
>
> Saya aja, jangankan jumlah besar, uang hanya 50
> piesnter tak sampai 1000 rupiah saja, karena tukang
> jualan ngak ada kembalian, saya sampai jantungan
> kalau tak terbayarkan, saya selalu bayar secepatnya,
> takut lupa. Orang-orang Mesir salut sama masyarakat
> Indonesia yang ada di Mesir dalam hal ini. Sekecil
> apapun hutang dikedai, pasti dibayar, makanya mereka
> sangat percaya kalau kita hutang dulu, bila tak ada
> uang kecil pembayar belanjaan. Anak-anak saya
> semuanya terbiasa, tanpa saya ajarkan, mereka selalu
> ingat sendiri kalau ada hutang dikedai, siang
> hutang, malam langsung dibayar, karena tukang jualan
> sering tak ada kembalian saja.
>
> Dan di Sekolah Indonesia Cairo sendiri, anak-anak
> dibiasakan jajan, tanpa penjual dikoperasi itu.
> Ambil jajanan, letakkan uangnya di kotak uang, tanpa
> ada pengawasan sama sekali. Uang bukan kurang, malah
> sering berlebih bila diperiksa. Mungkin sekalian
> sedeqah kali.
>
> Yah..begitulah suasana kondisi masyarakat Indonesia
> yang ada di Mesir ini. Anak-anak sudah mengenal
> korupsi itu jelek, sehingga mereka sangat
> menjauhinya. Kalau saja ada ngambil barang yang
> bukan haknya, dibilangnya wah..itu orang korupsi.
> Tak heran, sangat jarang kita-kita kehilangan
> barang, uang Hp di Mesir ini. Padahal HP tergeletak
> dimesjid entah dimana-mana letaknya, begitupun tas,
> ratusan dollar uang ada didalamnya, ngak hilang,
> kecuali kalau ada orang Mesir masuk, pernah sekali
> kehilangan. Sejak itu tak dibolehkan lagi orang
> Mesir masuk, pintu selalu dijaga.
> Saya tidak sampai setahun di Indonesia, bisa-bisanya
> HP dalam tas yang terkunci hilang, sampai dua kali
> lagi. Wah
gawat banget saya pikir. Anak-anak saya
> sampai bilang :"Mama, kenapa di Indonesia tidak aman
> yah,..kenapa banyak kejadian, gempa tiap sebentar,
> banjir, penculikan anak, macam-macamlah yang mereka
> saksikan sendiri. Akhirnya mereka ngak betah hidup
> di Indonesia dalam ketakutan melulu.
>
> Yah..begitulah realita,..padahal aku ingin sekali
> pulang selamanya hidup di Indonesia itu, alamnya
> cocok untuk kondisi tubuhku yang sudah menua ini.
> Cuaca stabil, alamnya indah, namun kuakui sering
> tidak aman dan yah..mati lampulah air matilah..serba
> sering mendapat kesulitan. Padahal kita kaya. Sumber
> Tenaga listrik, sungai begitu banyaknya, di Mesir
> cuman satu2nya sungai yang diharapkan, yakni sungai
> Nil, tetapi jarang kekurangan air, jarang mati
> lampu, bahkan apa saja bisa hidup dalam satu waktu,
> bisa televise hidup, Ac, masak air, nasi, menggosok,
> dllnya, tetapi ngak ada putus skringg.
>
> Beda dengan di Indonesia, dengan kapasitas 1300 aja,
> belum bisa Ac. Terbatas pemakaiannya. Bahkan ada
> disebahagian rumah, baru dihidupkan tv, lampu sudah
> mati. Jd, harus satu-satu hidupnya. Yah..begitulah
> negaraku. Kukira uang banyak di habiskan oleh
> pemerintah, terutama untuk menggaji para diplomat
> yang ada diseluruh dunia ini, berapa dollar harus
> Negara membayar untuk itu? Rumah, telpon, kesehatan,
> uang refresentatif(mengundang orang makan), dan
> sekolah anak, entah lagi yang lain, saya tak tahu,
> dibayarkan oleh Negara. Coa saja dikalikan setiap
> Negara yang ada diplomat Indonesianya didunia ini,
> berjumlah 20 orang saja, dikalikan dengan gaji
> minimal 3000 dollar(gaji bersih, diluar lainnya,
> pembayaran kesehatan, telpon, rumah, dllnya itu,
> yang kadang cukup besar), dikalikan puluhan negara,
> berapalah habis uang Negara untuk itu saja? Aku
> sering berfikir, mungkin saja uang Negara habis ke
> sini, atau juga korupsi besar-besaran. Allahu'alam.
> Orang Sumatera
> Barat bilang,..Entahlah Yuang (buyuang)..entahlah
> Piak
(Upik).
>
> Wassalamu'alaikum. Cairo, 18 Ramadhan 2008, Rahima.
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
>
>
>
=== message truncated ===