Motivasi, membangun ataukah menjebak?
Sebenarnya sudah dua bulan ini saya ingin menulis tentang topik di atas. Tapi rasanya kok agak berat hati, karena saya mempunyai banyak sekali sahabat yang bidang pekerjaannya kebetulan sama dengan topik tersebut. Ada sedikit kekhawatiran dalam hati kalau-kalau isinya nanti akan menyinggung perasaan beliau-beliau. Bagaimanapun juga, dalam bidang mereka sangat dibutuhkan keahlian untuk memotivasi orang lain. Lalu kebetulan dua minggu yang lalu iseng-iseng saya coba buka blog salah satu sahabat yang lain, ternyata beliaunya sudah ngobrolin topik itu duluan dalam tulisan yang judulnya "zona motivasi ke zona inspirasi". Dalam tulisannya, beliau mengajak kita untuk tidak berhenti pada zona motivasi dan segera bertransformasi ke zona inspirasi. Artinya, bahasan tersebut sebenarnya bukan hal yang asing lagi saat ini terbukti dari banyak orang-orang yang menyatakannya pada ranah publik. Akhirnya saya putuskan untuk memulai menulis bahasan tentang motivasi ini. Pada saat kita berbicara tentang motivasi, selalu akan berujung pada jargon "saya bisa", "kalau orang lain bisa, saya juga pasti bisa", dan lain sebagainya yang pada intinya mengafirmasi diri sendiri untuk lebih percaya diri dalam melakukan sesuatu. Menurut beliau-beliau para master motivasi, afirmasi inilah yang akan membangkitkan kemampuan manusia yang selama ini tak nampak dan tertimbun di alam bawah sadar kita. Mungkin motivasi bisa diibaratkan sebagai proses membuat saluran yang menghubungkan antara alam sadar dan alam bawah sadar manusia, sedemikian sehingga segala sesuatu yang terlihat berat dalam kacamata kesadaran manusia akan menjadi ringan dan dapat diselesaikan dengan sukses dan tepat waktu. Dalam sebuah perbincangan dengan seorang sahabat diskusi, beliau memberikan saran bahwa dalam memotivasi diri sendiri jangan hanya dengan memberikan rasa kebahagiaan apabila goal terwujud tapi berikan juga rasa sakit pada diri sendiri apabila goal tidak tercapai. Sehingga tanpa sadar kita tidak hanya akan berusaha meraih rasa bahagia tapi juga menghindari rasa sakit tersebut. Artinya ada dua spirit yang muncul yang akan menjadi turbo bagi proses perwujudan mimpi-mimpi kita. Sepulang dari mengikuti getar bersama Lingkar LoA di Kaliurang bulan Agustus 2008 lalu, saya merasakan begitu banyak pelajaran yang diberikan Allah bagi saya. Waktu itu saya datang terlambat sekali di acara dan juga harus pulang jauh di awal sebelum acara selesai sehingga menyebabkan saya melewatkan begitu banyak materi hebat dari banyak master trainer. Namun Allah memberikan hikmah dibalik semua itu. Allah menunjukkan bahwa satu hal saja yang bagi saya sangat tidak ternilai harganya, yaitu "apabila kita sudah menemukan Allah maka kita tidak akan butuh yang lain lagi". Yang ada dan yang kita butuhkan hanyalah Allah. Karena sejatinya yang ada juga hanya Allah. Pada titik inilah yang membawa saya pada pertanyaan atas teori-teori motivasi yang selama ini ada. Pada saat saya berteriak "saya bisa!", seharusnya saya bertanya "saya" yang mana nih? Karena kalau dimaksud "saya" adalah Aziz maka bagi saya hal itu kurang tepat, karena sebenarnya Aziz tidak ada dan tidak mampu berbuat apa-apa. Yang ada dan berkuasa berbuat apapun hanya Allah, bukan saya, bukan Aziz, bukan manusia. Saya hanya digerakkan saja oleh-Nya, bahkan sebenarnya saya hanya dinafaskan saja oleh-Nya. Bukan kita yang bergerak dan juga bukan kita yang bernafas. Segala sesuatu bersumber hanya kepada-Nya. Memang sih, apapun namanya, mau disebut sebagai sugesti, efek placebo, unconsciousness, atau apapun, layaknya sebuah mata uang, pada satu sisi afirmasi yang diulang-ulang akan menjadi penghubung antara alam bawah sadar dengan kesadaran kita dan berbuah menjadi sebuah keyakinan kuat atas kekuatan dan kepercayaan diri. Namun dalam persepsi saya pribadi keyakinan tersebut masih bersumber dari pikiran manusia, bukan dari hati. Keyakinan yang masih bersumber dari ego manusia bukan sikap tawakkal. Terbukti dari masih digunakannya pembeda dan penanda antara rasa bahagia dengan rasa sakit. Pikiran dan ego manusialah yang menyebutkan dan membedakan sesuatu sebagai rasa bahagia, rasa senang, rasa sedih atau rasa sakit. Padahal sesungguhnya semua rasa adalah satu dan sama. Manusia sendirilah yang memisah-misahkan, memperhadap-hadapkan satu sama lain, membuatnya sebagai sebuah standar ukuran dan kemudian memaksa manusia lainnya untuk memilih salah satu diantaranya. Inilah sisi lain dari motivasi yang saya sebut sebagai menjebak. Jebakan yang sangat tipis dan halus bahkan mungkin tidak akan terasa apabila kita tidak berusaha untuk membaca dan merasakannya sendiri secara pelan-pelan. Motivasi tidak hanya bersifat membangun, namun bisa bergeser menjebak manusia untuk meyekutukan Tuhannya tanpa sadar, bahwa yang berkuasa melakukan sesuatu adalah "saya" sang manusia sendiri bukan Allah. Jadi kira-kira mana yang akan anda pilih, "saya bisa!" atau "insyaallah saya bisa"? Banyuwangi, 22 September 2008 Aziz Fajar Ariwibowo see my blog : http://aziz-fajar.blogs.friendster.com/azizfajar/

