01 September 2008 Halaqoh Dakwah

*Pengantar DOS*

Sekitar dua minggu yang lalu saya menerima kiriman tulisan ini, sebuah
tulisan yang indah tentang bentuk keilmuan Islam dan menjadi inspirasi
berharga buat saya yang masih dalam tahap belajar. Karena belakangan ini
saya sibuk berat, pemuatan tulisan ini menjadi agak tertunda.

Tulisan ini saya pandang sejalan dengan pemikiran saya selama ini tentang
betapa pentingnya kita, jamaah ini, untuk kembali kepada akar tarbiyah,
seperti yang dikatakan oleh ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah. Untuk
kembali kepada pembinaan umat. Pembinaan itu diawali dengan penanaman ilmu,
sebagaimana Imam Syahid -biizniLlah- Hasan Al Banna rahimahullah
mendahulukan faham sebelum yang lainnya di dalam rukun bai'ah. Berkata
Syaikh Qaradhawi hafidzhahullah, "...ilmu itu mendahului amal, bahkan ilmu
itu adalah petunjuk iman dan jalan akidah yang benar (Menuju Kesatuan Fikrah
Aktivis Islam, hal 27).

Di dalam Quran pun Allah juga menjelaskan pentingnya ilmu,

"...dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al
Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati
mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi
orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (Al Hajj: 54).

"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran." (Az Zumar: 9)

Sehingga ilmu menjadi sebab diangkatnya derajat orang-orang yang dikehendaki
oleh Alllah dari kalangan hambaNya.

"...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (Al
Mujaadilah: 11)

Begitu pentingnya pula ilmu, sehingga bahkan ada ancaman untuk orang-orang
yang berbicara/berfatwa tentang dien ini tanpa ilmu (naudzhubillah min
zalik).

Katakanlah, "Rabb-ku hanya mengharamkan kekejian, baik yang nampak ataupun
yang tersembunyi, dosa, dan aniaya tanpa alasan yang benar, dan kalian
mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah
untuk itu dan kalian berkata tentang Allah tentang apa-apa yang tidak kalian
ketahui." (Al A'raaf: 33)

Allah telah menyandingkan berbicara (agama) tanpa ilmu dengan perbuatan
syirik (yang tidak terampuni dosanya). Banyak manusia berfatwa satu sama
lain tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mereka berkata ini halal,
haram, wajib atau tidak wajib padahal mereka tidak mengetahui sedikitpun
tentang itu. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah akan bertanya kepada
mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka katakan? (Panduan Lengkap
Menuntut Ilmu, Syaikh Utsaimin rahimahullah hal 87, 88).

Memahami ilmu tentu saja tidak bisa dilakukan secara instan, butuh proses
dan waktu. Untuk bisa memahami Quran saja, perlu beberapa "langkah" sehingga
saya merasa jauh lebih aman untuk membaca tafsir ulama saja ketimbang
mencoba untuk memahami langsung, sambil tetap berharap suatu saat saya
diberi kemampuan untuk langsung memahami Quran. Buya Hamka rahimahullah
mengatakan: "Kalau ada orang yang berani menafsirkan-nafsirkan saja Al Quran
yang berkenaan dengan ayat-ayat hukum yang demikian, tidak berpedoman kepada
Sunnah Rasul, maka tafsirnya itu telah melampaui, keluar daripada garis yang
ditentukan oleh syariat. Selain itu beliau juga menjelaskan syarat-syarat
ulama untuk menafsirkan Quran, yaitu: mengerti bahasa Arab dan segala
perangkatnya, mengetahui tafsir ulama terdahulu, mengerti asbabun nuzul,
mengerti nasikh dan mansukh, mengerti hadits yang berisi penjelasan Quran
terutama yang berkenaan dengan ayat yang tengah ditafsirkan, dan tahu pula
ilmu fiqh, untuk mendudukan hukum. (Mukaddimah Tafsir Al Azhar)

Tapi yang sangat mengherankan, banyak umat Islam yang sudah merasa cukup
"memahami" Quran dari terjemahan saja. Padahal hal itu sangat berbahaya,
akan dengan mudah bisa ditemui ayat-ayat yang kelihatannya "bertentangan
satu sama lain", akan terlihat ayat yang kelihatannya "tidak masuk akal"
karena kita tidak faham asbabun nuzul, kaidah khas-amm, nasikh-mansukh, dsb.
Trik-trik ini sering digunakan oleh kaum kafir/munafik yang menyerang
kesucian ajaran Islam. Karena itulah perlunya bimbingan ahli ilmu untuk
memahami Quran dan sunnah.

Mumpung ini bulan Ramadhan, di mana Allah menjanjikan ganjaran kebaikan yang
berlipat ganda, ayo kita optimalkan waktu untuk mencari ilmu, dengan benar.
Kalau murabbi kita tidak memiliki kafaah syariah yang kuat, mungkin sudah
saatnya untuk mengganti atau paling tidak mencari murabbi lain. Kalau selama
ini kita membaca buku-buku atau novel "islami" populer, mungkin sudah
saatnya untuk mulai membaca kitab-kitab warisan ulama yang muktabar. Kalau
selama ini PKS sibuk membicarakan pilkadal/pemilu sebagai ukuran kemenangan
dakwah, mungkin sudah saatnya untuk memikirkan kembali pengutamaan tradisi
keilmuan di kalangan kader dan simpatisan PKS. Kalau selama ini angka-angka
kuantifikasi kemenangan politik menjadi ukuran kemenangan dakwah, ada
baiknya kita coba melihat bagaimana kalau peningkatan kualitas keilmuan umat
yang kita jadikan sebagai ukuran kemenangan dakwah.

Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan menjadikan
orang itu faham terhadap agamanya (Shahih Bukhari kitab ilmu, shahih Muslim
kitab Zakaah).

Mari kita berlomba-lomba untuk menuju surgaNya, salah satunya dengan
sungguh-sungguh mencari ilmu, seperti yang sudah dijanjikan dalam hadits
mutaffaqun 'alaih,

Barang siapa yang menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan
memudahkan jalan baginya menuju surga.

"Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal; seseorang yang diberi harta oleh
Allah lalu dia habiskan hartanya itu untuk membela kebenaran, dan seseorang
yang diberi ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya."
(Shahih Bukhari kitab ilmu, shahih Muslim kitab ash-Shalaah).

Tentu saja setelah faham karena ilmu, jangan lupa amal yang disertai dengan
niat yang lurus. Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, semoga
kita bisa memaksimalkan pemanfaatan bulan yang penuh barokah ini untuk
menggapai ridha Allah, amien. Untuk akh Abu Nailah, jazakallahu khayran
katsira. – *DOS*

Halaqoh Dakwah

Oleh. Abu Nailah Hafidzah

Mengamati perkembangan halaqoh dalam jama'ah kita ini sangatlah menarik
untuk diulas. Berhubung banyaknya komentar baik itu yang menganggap bahwa
halaqoh kita ini merupakan sebuah manifestasi dari halaqoh Nabi SAW dan
ulama salaf, maupun adanya sinisme bahwa realitas yang terjadi pada halaqoh
jama'ah kita ini bukan merupakan format halaqoh keilmuan melainkan hanya
merupakan sarana kaderisasi kepartaian dalam jama'ah ini.

Menarik bila kita mengamati bagaimana sistem tarbiyah awal yang terekam
dalam berbagai kitab klasik. Bagaimana awal mula Nabi SAW memulai
mengajarkan agama ini sampai terbentuknya konstruk keilmuan Islam seperti
yang kita kenal sekarang. Dalam as Seyar wa al Maghazi karya Ibn Ishaq hal.
139 terekam bagaimana awal mula halaqoh dakwah ini dimulai dari keluarga
Beliau SAW lalu Abu Bakr. Kemudian berturut-turut Abu Bakr mengajak
teman-teman dekatnya untuk bergabung seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman
bin Auf, az Zubair bin al Awwam, Talha dan Sa'd bin Abi Waqqas (ibid, hal.
140). Kemudian dari hasil Tarbiyah awal ini muncullah Ibn Mas'ud yg kemudian
dipercaya oleh Nabi SAW sebagai orang yang pertama dari kalangan sahabat yg
mengajarkan Qur'an di Mekah, disusul kemudian Khabbab membentuk halaqoh baru
mengajarkan Qur'an pada Fatima (saudara perempuan Umar bin Khattab) dan
suaminya, Sa'id bin Zaid (ibid, hal. 181-184). Kemudian Mus'ab bin Umair
yang oleh Nabi dikirim ke Madinah sebagai pengajar Qur'an disana (Ibn
Hisham, Sira jilid 1-2, hlm. 434). Semangat Tarbiyah ini semakin hari
semakin membesar, hingga sesampainya di Madinah kemudian Nabi SAW mendirikan
Suffa di kompleks Masjid Nabawi.

Ada yang perlu digaris bawahi disini. Bahwa ada satu ciri khas dalam sistem
pengajaran Nabi SAW, dan ciri khas inilah yang kemudian menjadi pondasi
semua Keilmuan Islam. Ciri khas pengajaran Nabi ini sangatlah berkaitan
dengan Otentitas dan Otoritas dalam ajaran Beliau SAW. Ciri khas ini lahir
dari Tradisi Kesaksian. Hal ini telah menjadi kebiasaaan para Sahabat dalam
mentransmisi ajaran dan sunnah Beliau SAW. Sebagian dari mereka membuat
kesepakatan menghadiri majelis (Halaqoh) Rasulullah secara bergiliran,
memberi tahu apa yang mereka dengar dan saksikan (lihat Shahih Al Bukhori,
Bab. At Tanawub fi al 'Ilm). Kemudian jika sahabat itu mendapat informasi
dari tangan kedua, Ia akan menceritakan pada orang selanjutnya siapa sumber
aslinya mencakup semua cerita yang terjadi. Dari sinilah lahir sistem Isnad.

Dalam buku Studies in Early Hadith Literature, karya Prof. MM Al Azami, hal.
183 diceritakan, bahwa menjelang abad Pertama Hijiriah, kebiasaaan ini mulai
mekar yang akhirnya menjadi cabang ilmu tersendiri. Perlu diketahui juga,
bahwa istilah 'Ilm, pada abad-abad awal hanya dinisbahkan pada kajian di
bidang keagamaan (syariah). Para ulama tafsir pun menafsirkan istilah 'Ilm
adalah keilmuan agama. Oleh sebab itu tak heran dalam mempelajari agama ini
maka muncul tradisi al rihlah, yakni mendatangi sumber-sumber informasi yang
otoratif atas ajaran agama ini. Hal ini menunjukan bahwa Tradisi Isnad
merupakan salah satu pondasi syarat utama dalam konstruk keilmuan. (lihat
dalam ar Rihlah hlm.89 karya Al Khatib).

Lebih lanjut MM Al Azami dalam bukunya, The History of Quranic Text from
Revelation to Compilation, hal. 198 menjelaskan bahwa dari tradisi Isnad ini
kemudian telah melahirkan sistem metode pengajaran antara lain:

A. Samaa', cara ini seorang guru membaca di depan muridnya, yang mencakup
cabang bentuk berikut ini: bacaan lisan (hafalan), bacaan teks, tanya jawab
dan pendiktean.

B. 'Ard, dalam sistem ini seorang murid membaca text didepan guru

C. Munaawalah. Menyerahkan teks pada seorang termasuk memberi izin
menyampaikan isi riwayah tanpa melalui cara baca.

D. Kitaabah. Suatu bentuk korespondensi:guru mengirim hadits dalam bentuk
tertulis pada ilmuan lain.

E. Wasiyyah. Mengamanahkan seorang dengan buku hadits, kemudian yang diberi
amanah dapat disampaikan pd pihak lain atas wewenang pemilik aslinya. Selama
3 Abad pertama, metode pertama dan ke dua sangat umum dipakai, kemudian
disusul dgn sistem munaawalah, kitaabah, dan akhirnya wasiyyah. Periode
selanjutnya muncul 3 metode baru yakni:

F. Ijaazah. Meriwayatkan hadits atau Kitab atas wewenang ilmuan yang memberi
ijin khusus yang diutarakan untuk tujuan ini tanpa membacakan buku itu.

G. I'laam. Memberi tahu seorang mengenai kitab tertentu dan isi
kandungannya.

H. Wijaadah. Cara ini menyangkut penemuan naskah tanpa membacanya di depan
pengarangnya atau mendapatkan ijin untuk meriwayatkannya.

Demikianlah gambaran bagaimana awal halaqoh dan metode pengajarannya
terbentuk. Maka dari sinilah kita faham bahwa halaqoh-halaqoh yang
dimaksudkan oleh para ulama salaf itu adalah menghadiri dan belajar keilmuan
secara intensif pada ulama atau guru yang mempunyai otoritas keilmuan secara
jelas dan telah diakui kredibilitasnya oleh ulama lainnya. Dari
halaqoh-halaqoh pula para imam ulama salaf menyebarkan ajarannya. Kita
mengenal misalnya Imam syafi'i yang punya halaqoh yg besar baik di Basrah
maupun di Iraq,dll. Dan dari halaqoh-halaqoh para ulama ini pulalah lalu
berkembang menjadi pusat-pusat institusi keilmuan Islam terkemuka didunia
seperti Al Azhar, Ummul Quro', dll.

Paparan sejarah Halaqoh diatas menunjukan bahwa Otoritas dan Otentitas
keilmuan memegang kunci dalam sistem pengajaran Islam. Rasulullah SAW dalam
hadits riwayah Tirmidzi menegaskan menganai hal ini secara gamblang:

Siapa saja yang mengatakan sesuatu mengenai al Qur'an tanpa landasan ilmu
(bi-ghayri 'ilm) atau dengan opininya sendiri (bi-ra'yihi), maka ia telah
memesan tempat duduknya di neraka. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW
mengatakan:

Siapa saja yang mengatakan sesuatu tentang al Qur'an berdasarkan opininya
sendiri kalaupun pendapatnya itu betul, maka sesungguhnya ia telah melakukan
kesalahan (fa ashaba faqad akhtha'a). (Hadits riwayat Imam Abu Dawud).

Hadits diatas menunjukan bahwa semua pemahaman atau penafsiran dalam
keilmuan Islam itu ada kaidah-kaidah keilmuannya, ada aturan mainnya, tidak
semua orang berhak membuat pemahaman atau penafsiran kecuali ia faham dengan
kaidah-kaidah tersebut dan punya otoritas keilmuan atasnya. Alangkah
rusaknya agama ini bila semua orang berhak berbicara tanpa mengindahkan
kaidah-kaidah keilmuan di dalamnya, apa gunanya istilah Haq dan Bathil dalam
agama ini bila semua orang bebas berimprovisasi atas ajaran-ajaran Agama
ini. Perlu ditekankan bahwa dari kaidah-kaidah keilmuan inilah kita bisa
menilai mana pemahaman yang benar dan mana yang salah. Kita bisa tahu bahwa
pemahaman Ahmadiyah itu sesat, Al Qiyadah itu bathil.

Sekarang marilah kita melihat pada diri kita, apakah halaqoh yang kita
lakukan selama ini telah memenuhi kualifikasi sebagai sebuah halaqoh
keilmuan dalam Islam? Apakah para Murobbi yang membina telah mempunyai
qualifikasi otoritas secara keilmuan?. Apakah Halaqoh yang kita jalani
selama ini telah benar-benar membuat kita mengerti dan faham akan konstruk
keilmuan dalam Islam yang maha luas dan mengagumkan ini.

Mari kita berkaca pada diri kita sendiri. Alangkah benarnya kata Ust. Ahmad
Sarwat di Eramuslim, bahwa mempelajari keilmuan Islam itu tidak bisa
mengandalkan halaqoh-halaqoh dalam tiap-tiap jama'ah minal muslimin
ini<http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/8802081135-ngaji-lepas-sesat-kah.htm>,
namun perlu keseriusan dan intensitas dengan melirik kembali
intitusi-intitusi pendidikan keilmuan Islam secara total. Sebab dengan
mengerti dan faham secara kafaah atas keilmuan ini maka kita pun akan faham
dan menyikapi secara arif dan bijak akan hal-hal mana yang bagian agama ini
yang termasuk qat'i dan mana yang furu' serta mana yang khilafiyah. Sehingga
niscaya tidak akan kita dengar lagi suara saling hujat-menghujat yang tolol
antar aktivis harakah dakwah.

Faidah lain, bila kita konsern lebih mengutamakan belajar di institusi
institusi keilmuan daripada mengandalkan halaqoh dalam tiap-tiap jama'ah
minal muslimin yang ada adalah keniscayaan hilangnya ta'ashub dan taqlid
buta terhadap masing2 harakah/jama'ah, sehingga persatuan Jama'ah Muslimin
pun akan menjadi kuat dan peradaban Islam pun hadir kembali.

Sudah saatnya jurusan-jurusan keilmuan Islam menjadi pilihan favorit bagi
para pelajar Muslim, sejajar dgn keilmuan spt teknik,sosial, ekonomi. Sebab
dari sinilah Peradaban Islam akan hadir kembali, melalui tradisi keilmuan.
Sudah saatnya kita tanamkan pada anak-anak kita kebanggaan atas keilmuan
Islam yg oleh Al Atif dan Al Attas disebut seluas skala wujud 'ru'yatan
islam lil wujud', sehingga jurusan-jurusan keilmuan Islam tidak lagi menjadi
pilihan pinggiran dan anak-anak kita pun bisa bangga berkata dihadapan orang
banyak

"Lihatlah... Aku ini adalah Mahasiswa Fakultas Syariah!"

*Wallahu'alam*




-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke