Assalaamu alaikum,

mas Ade Armando ini cukup unik, karena di satu sisi dia memang jelas berada
dalam 'jaringan/jejaring' teman-teman muslimnya yang liberal terutama
keterlibatan beliau dalam mengelola majalah Madina sebagai pemred bersama
Farid Gaban (owner milis Jurnalisme), Hikmat Darmawan (seorang praktisi dan
pemerhati media, sempat aktif di MP Bookpoint) dan Ihsan Ali-Fauzi sebagai
tim redaksi. tapi di sisi lain, beliau ternyata tidak 'terlalu' sama atau
sepaham dengan teman-teman muslim liberalnya setidaknya dalam kasus
poligami--beliau seorang praktisi--dan soal pornografi, yang buat
mayoritas--jika tidak semua--lini liberal-pluralis, tema2 ini setali tiga
uang dengan tema syariat islam. apapun, itu pilihan seorang Ade Armando yang
pertama saya kenal di sebuah milis ketika berdiskusi (berdebat?) seputar
pengucapan 'selamat natal' kepada ummat nasrani. saya berseberangan dengan
dia yang yakin bhw pengucapan ini tidak apa-apa.

nah, buat saya, ketika mas Ade terkesan gegabah menyatakan bahwa HTI
termasuk komponen ummat/bangsa yang menolak RUUP ini, terlihat bahwa mas Ade
tidak terlalu jeli dalam mengkonfirmasi langsung ke pihak terkait dalam hal
ini HTI melainkan semata mengandalkan 'kredibilitas' media. padahal belum
lama berselang kita semua tahu bahwa dalam konteks liberal vs 'wahabi',
sebuah media massa cetak besar melakukan kesalahan fatal dalam mengolah
sebuah reproduksi gambar dengan mengklaim satu hal padahal faktanya adalah
sebaliknya yang bagusnya (entah disengaja atau tidak sedari awal) pihak
media keesokannnya lalu meralat hal ini. dan bagusnya (lagi) media lain
terutama elektronik turut serta dalam 'kesalahan' yang sama dalam
menampilkan repro gambar tersebut. 'kesalahan bersama'? allaahu a'lam ...

hemat saya sih, dalam posisi seperti mas Ade yang sangat kompeten dalam
bidang komunikasi dan pengalaman dalam bidang jurnalisme, tentu bukan suatu
yang janggal untuk setidaknya melakukan precautionary measures (tindakan
pencegahan/hati-hati) untuk tabayyun/confirmasi ke pihak HTI untuk
memastikan hal ini. apalagi sempat dalam acara debat di sebuah tv swasta,
pihak HTI yang hadir sebagai salah satu satu narasumber bersama ibunda
Khuzaimah dari MUI jelas menunjukkan keberpihakannya dalam masalah RUUP ini,
hanya saja, sang jubir HTI, ust Rakhmat S Labib, memberi sejumlah catatan
kritis akan kelemahan RUUP ini dari sudut pandang Islam bagi HTI. mungkin
sikap ini yang dimanipulasi oleh media yang kemudian jadi rujukan mas Ade
...

ala kulli hal, bi idznillah, RUUP ini harus segera disahkan karena sudah
terlalu banyak korban anak bangsa dan masa depannya, meski tidak sedikit
pihak yang mendramatisir persoalan untuk sekadar memastikan bahwa pronografi
tetap bisa eksis dan 'menguntungkan' mereka, in whatever ways possible ...!

keep up the good work for RUUP mas Ade! untuk hal ini kita setali tiga uang.
you have my full support!

salam,
satriyo


On 9/24/08, hidayat <...> wrote:
>
>
> 
>



-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28

Perang Ideologi di Balik Undang-Undang

Hari Minggu lalu (21 Sept), saya hadir di diskusi yang dilaksanakan MTP
(Masyarakat Tolak Pornografi) di Gedung Mess SDM Pertanian, Pasar Minggu.
Hadir pada diskusi itu, pembicara Ade Armando, Fery (Ketua Jangan Bugil di
Depan Kamera), Tasmi (mantan Redaktur Tabloid Lipstik) dan Adi dari Ikadi.

Yang menarik dari Ade, ia menyatakan, karena dukungannya terhadap RUU
Pornografi, ia dikecam kawan-kawannya yang liberal. Ia juga mengkritik
sikap HTI (dan PDIP) yang tidak setuju dengan RUU ini. Pernyataan Ade
tentang HTI ini kemudian menimbulkan diskusi diantara kawan-kawan yang
hadir, benarkah HTI menolak RUU ini? Ade menyatakan bahwa ia mendapat kabar
ini dari pernyataan resmi HTI yang ditandatangani Ismail dan juga dari
berita dari Media Indonesia. Ketika dikonfirmasikan bahwa berita di
Hidayatullah.com, menunjukkan HTI mendukung RUU ini, Ade menyatakan bahwa
dalam hal ini ada yang bohong.

Fery mengungkapkan bahwa tren pornografi kini beralih dari web, email, mail
list, ke "Social Networking", yang ia contohkan seperti Friendster, Hi5 dan
lain-lain. Kenapa demikian? Kata dia, karena kini orang-orang penggemar
porno tidak hanya ingin sekedar melihat, tapi ingin berbuat intim lebih
jauh. Berkomunikasi pribadi atau aksi-aksi lain yang lebih serius. Ia juga
mengungkapkan data dari Google Trend, dimana Indonesia menempati
urutan teratas untuk pencarian kata-kata yang berkonotasi porno/aktris porno
dll.

Sedangkan Tasmi, mengungkapkan tentang pengalamannya mengelola tabloid yang
cenderung ke porno, Tabloid Lispstik. Tabloid Lipstik mingguan yang ia
kelola oplahnya saat itu pernah mencapai 100 ribu. "Jadi sebulan bisa sampai
400 ribu,"terangnya. Kini ia betul-betul tobat dan menyatakan bahwa ketika
ia meninggalkan tabloid itu, mingguan itu kemudian ambruk. Ia juga pernah
diperiksa polisi gara-gara tabloid ini. Kemudian ia bebas, karena tidak
jelasnya penyidikan kepolisian. Ia mengungkap bahwa industri media
pornografi memang menggiurkan. Para pemain-pemain di industri ini,
menurutnya yang takut kalau RUU Pornografi ini diundangkan. Bukunya "Sebelum
Cahaya itu Datang", tentang rusaknya dunia pornografi akan segera
diluncurkan. *nh

-- 
"berbuat adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."
"(ulil albab) yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik."

.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke