KH Cholil Ridwan menilai Kompas memang menjadi Alat Katholik atau Missi Zending.
   
  “Jadi apa-apa yang merugikan umat Islam pasti dimuat, termasuk tulisan yang 
menyerang MUI”, tegasnya.

Untuk kesekian kalinya Harian Kompas kembali memuat tulisan yang yang sangat 
tendensius tentang Majelis Ulama Indonesia (MUI). 
   
  Tulisan tendensius tentang MUI ini dimuat di Kompas edisi Senin, 8 September 
2008, halaman 44, di rubrik Bentara, melalui tulisan Sumanto Al Qurtuby dengan 
judul, “Mendesain Kembali Format Dialog Agama” . Sumanto menulis, “Menariknya, 
ma-sih menurut Rumadi, dalam peristiwa kekerasan berbasis agama ini, Majelis 
Ulama Indonesia (MUI) yang mestinya berperan sebagai pengayom umat, dalam 
banyak hal justru sering menjadi aktor utama (prime mover) dan inspirator 
kekerasan. MUI yang seharusnya menjadi pemersatu kelompok-kelompok keaga-maan 
yang terbelah justru menjadi ”polisi agama” yang ikut menggebuk 
kelompok-kelompok keagamaan yang divonis sesat dan menyimpang. MUI yang 
semestinya berfungsi sebagai penyejuk dan ”oase spiritual” bagi umat manusia 
apapun agama dan keyakinan mereka seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW 
justru ikut menjadi pembakar amarah massa dan penyulut kebencian. Pula, MUI 
yang seharusnya menjadi wadah dialog agama yang terbuka justru
 menjadi sarang kelompok konservatif yang anti-dialog dan pluralisme. Apa yang 
menimpa MUI ini tentu menjadi sebuah ironi mengingat sebagai institusi agama 
yang ”dihidupi” dari uang rakyat melalui APBN, tidak sepantasnya jika MUI 
terlibat dalam kekerasan agama yang mengorbankan rakyat itu sendiri”.

Pemuatan tulisan yang menyerang MUI ini tentu bukan karena unsur 
ketidaksengajaan. Berkali-kali harian yang diterbitkan oleh kelompok Katholik 
ini melakukan hal serupa.
   
  Sikap tersebut tampaknya memang sudah menjadi ideologi Kompas selama ini. 
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Ridwan menilai Kompas memang 
menjadi Alat Katholik atau Missi Zending. “Jadi apa-apa yang merugikan umat 
Islam pasti dimuat, termasuk tulisan yang menyerang MUI,'' tegasnya kepada SI. 
Seharusnya jika harian itu menggunakan kaidah jurnalistik yang benar, ada 
klarifikasi terlebih dahulu dari pihak-pihak yang akan dirugikan dari tulisan 
tersebut. 

Ia menjelaskan, kini banyak pihak menjadi kepanjangan tangan kepen-tingan Barat 
yang anti Islam. Mereka dibayar untuk melakukan itu. “Jadi kalau mereka tidak 
anti MUI, tidak menyerang MUI maka berarti mereka tidak melak-sanakan tugasnya. 
Mereka tidak akan dapat proyek baru lagi. Saya kira itu yang bisa kita 
pahami,'' tuturnya.

Menanggapi tulisan Sumanto yang menuding MUI sebagai sumber kekerasan, KH 
Cholil tidak bisa menerimanya. Ia kemudian mengilustrasikan rusuh musik di 
Bandung yang menewaskan 10 orang atau rusuh di Maluku Utara serta rusuh di 
berberbagai daerah yang tidak pernah dibicarakan.
   
  “Semata-mata mereka memang sudah antipati terhadap MUI. Dia orang Islam yang 
tidak pernah mau membela Islam. Tapi dia orang Islam yang menjadi kepanjangan 
kaki tangan Barat”, tegasnya seraya menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara 
fatwa MUI dengan kekerasan.
   
   
  Jejak Kekurangajaran.
   
  Dalam kasus eksekusi mati Tibo dan kawan-kawan, misalnya. Kompas hampir 
seratus persen menjadi corong mereka yang menolak eksekusi mati tersebut, 
sebagaimana tercermin melalui berbagai opini yang dipublikasikannya. 

Dalam pemberitaannya, Kompas hampir tidak pernah memberikan ruang bagi mereka 
yang pro eksekusi mati Tibo dkk. 
   
  Padahal, sudah jelas Tibo dkk membunuh ratusan santri Ponpes Wali-songo, 
Poso, dengan tangannya sendiri. Dalam hal Tibo dkk hanyalah wayang yang 
dimainkan aktor intelektual, itu lain persoalan. Yang jelas secara pidana Tibo 
dkk memang terbukti membantai ratusan orang.
   
  Keberpihakan terhadap mereka yang kontra eksekusi mati Tibo, menunjukkan 
bahwa sebagai media nasional Kompas tidak punya hati nurani. Harian itu bukan 
saja meng-abaikan amanat hati nurani rakyat yang menjadi mottonya, tetapi juga 
telah melukai rasa keadilan umat Islam 

Contoh lain, dalam kasus pro-kontra RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU 
APP). Kompas jelas-jelas meng-ambil posisi kontra RUU-APP. Berbagai pemberitaan 
yang berkenaan dengan itu memperlihatkan dengan jelas bahwa harian itu 
diskriminatif.
   
  Opini yang ditampilkan juga berpihak. Misalnya, Kompas edisi 29 Maret 2006 
menam-pilkan opini Siswono Yudhohusodho berjudul Negara dan Keberagaman Budaya. 
Siswono yang pada intinya menolak RUU APP karena meng-anggapnya salah satu 
produk hukum yang sangat beraroma Syari'at Islam. Menurut Siswono, ”...Sebagai 
konsekuensi negara kesatuan (unitarian) yang menempatkan seluruh wilayah negara 
sebagai kesatuan tunggal ruang hidup bangsa, sebuah RUU juga harus didrop bila 
ada satu saja daerah yang menyatakan menolaknya karena tidak cocok dengan adat 
istiadat dan budaya setempat. RUU APP sudah ditolak di Bali dan Papua”.
   
  Majalah Risalah Mujahidin menilai argumen Siswono jelas terlihat dungu. Ia 
tidak saja mengabaikan konsep demokrasi, tetapi mendorong munculnya tirani 
minoritas atas mayoritas. Bukankah Bali dan Papua minoritas ?. 
   
  Melalui opininya itu, Siswono sengaja menekankan supaya umat Islam yang 
mayoritas bila hendak membuat aturan bagi umat Islam, harus terlebih dulu 
meminta persetujuan masyarakat Bali dan Papua. Bila mereka menolak, berarti 
aturan itu harus juga ditolak sebagai konsekuensi dari konsep unitarian (negara 
kesatuan). Sebaliknya, bila orang Papua mau berkoteka, atau bila umat Hindu 
Bali mau menjalankan ritual musyriknya serta memaksakan penerapan 'Syariat 
Hindu’ kepada non Hindu di Bali, itu harus didukung dalam rangka melestarikan 
keluhuran budaya bangsa. 

Logika seperti itu, dipublikasikan Kompas tentu bukan tanpa maksud. Tidak bisa 
disalahkan bila ada yang menafsirkan hal itu dilakukan Kompas dalam rangka 
memprovokasi umat Islam Patut juga dipertanyakan, apa kualifikasi yang dimiliki 
Siswono sehingga gagasan dan logikanya layak ditampilkan di harian tersebut dan 
dalam rangka mewakili kalangan siapa?.
   
  Ketika wacana Perda Syari'at mengemuka, Kompas lagi-lagi menempati posisi 
strategisnya, yaitu menolak !.
   
  Koran ini selalu menggunakan orang Islam untuk menentang hal-hal berbau 
Islam. 
   
  Dalam hal perda ini, lihat saja mereka menam-pilkan Eros Djarot. Pada Kompas 
edisi 12 Juni 2006, Eros Djarot melalui opininya berjudul “Saatnya Duduk 
Bersama” menyimpulkan, perda bernuansa syari'at adalah bagian dari nafsu 
politik mem-bangun negara di dalam negara, dan Perda Syari'at adalah gambaran 
Indo-nesia yang amburadul. Perda Syari'at juga dinilai Eros sebagai “hukum 
lain” di luar hukum positif.
   
  Padahal orang tahu, Eros Djarot bukan pakar hukum, sehingga tidak mengerti 
bahwa menyerap hukum Islam ke dalam hukum positif adalah merupakan salah satu 
kaidah terbentuknya hukum positif.
   
  Tentu aneh dan janggal bila hukum positif di tengah masyarakat yang mayoritas 
Islam bersumber dari hukum-hukum yang diterbitkan oleh kolonialis dan 
imperialis. Apalagi, hukum Islam sudah diberlakukan bagi masya-rakat Islam di 
kawasan Nusantara ini jauh sebelum kemerdekaan NKRI.
   
  Eros Djarot juga bukan pakar sejarah, sehingga ia tidak tahu bahwa orang 
Islam di Indonesia telah menerima dan menerapkan hukum Islam di dalam 
masyarakatnya secara menyeluruh, dan diperbolehkan pemerintah kolonial Belanda, 
jauh sebelum kemerdekaan. Fakta ini diungkapkan oleh pakar hukum bangsa 
Belanda, LWC Van Den Berg (1845-1927). 

Sejak berkumandangnya wacana perda syari'at dan RUU APP, Kompas telah menjadi 
corong propaganda gerakan anti syariat dan anti Arab. Padahal, Arab dalam 
konteks sebagai etnik, bahasa dan nilai budaya, sudah menjadi salah satu anasir 
yang membentuk bangsa dan budaya Indonesia, sebagaimana Cina dan Hindu.
   
   
  Corong Sepilis.
   
  Harian Kompas kian terang menjadi corong kaum Sepilis (sekularis, pluralis, 
dan liberalis). Melalui media inilah kaum Sepilis mengaktualisasikan 
pemikirannya yang menyerang Islam dan kaum Muslimin. Hanya saja, sebagai corong 
Sepilis, dalam prakteknya Kompas juga tidak konsisten, karena hanya mau 
menerima opini dari satu warna saja yaitu warna sepilis. 

Paling sering Kompas mempublikasikan opini dari Ulil, Sukidi, Nur-cholish, 
Dawam, Gus Dur dan sejenisnya.
   
  Tidak terlihat Kompas punya itikad baik mau menyodorkan warna yang berbeda 
dengan menampilkan penulis yang terbukti mampu mematahkan argumen nama-nama 
tadi.
   
  Mungkin Kompas berpikir sedang memberikan kontribusi di dalam menciptakan 
Indonesia yang damai dan santun dengan mempublikasikan tulisan (opini) yang 
disumbangkan kaum Sepilis. 
   
  Patut diduga, diskresi itu justru membuat panas situasi. Jangan-jangan memang 
Kompas ini sedang memantikkan api yang bisa membakar situasi ketegangan 
horizontal di Indonesia.
   
   
  Gaya Kompas Mengobarkan Permusuhan.
  03 Oktober 2008.
  http://swaramuslim.com/more.php?id=6091_0_1_0_M
   
  *****
   
   
  Komunitas Katolik dari Vatikan Sant’Egidio mengundang Gubernur DI Yogyakarta 
Sultan Hamengku Buwono X untuk menghadiri pertemuan doa damai antaragama yang 
akan digelar di Pulau Siprus pada 16-18 November. 
   
  Pertemuan doa damai tersebut juga akan dihadiri oleh Paus Benediktus XVI dan 
merupakan salah satu upaya mempererat dialog antaragama.
   
  ”Selama ini Paus sangat mendukung kerja kami dalam dialog antaragama. Sultan 
diundang karena Indonesia termasuk negara yang sangat kami kasihi”, ujar 
Presiden Komunitas Sant’Egidio Vatikan Marco Impagliazzo seusai bertemu Sultan 
HB X di Gedung Jene, Keraton Yogyakarta, Minggu (12/10).
   
   
  Kilas Politik dan Hukum : Komunitas Katolik Vatikan Undang Sultan HB X.
  14 Oktober 2008.
  http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/14/0031279/kilas.politik.dan.hukum
   
  *****
   
  Partai Golkar akan menggelar Rapat Pimpinan Nasional IV pada 17-20 Oktober 
2008.
   
  Rapimnas bakal hangat karena sejumlah elemen Golkar berkeinginan agar dalam 
forum itu nama-nama calon presiden disuarakan. 
   
  Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Priyo Budi Santoso yang ditemui di 
ruang kerjanya di DPR, Senin (13/10), mengatakan, tidak mustahil nama-nama 
capres akan disuarakan daerah meskipun tidak diagendakan panitia pengarah.
   
  Selaku Ketua Umum Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), Priyo juga 
meminta agar wacana ini tidak ditutup apabila muncul di rapimnas. ”Dari 
pengalaman lalu-lalu, pemunculan nama-nama capres itu bisa menambah energi 
partai,” katanya.
   
  Dalam Majelis Permusyawaratan Organisasi MKGR, 12 Agustus lalu, MKGR sudah 
mengusulkan sejumlah nama. Namun, opsi utama capres dan atau calon wapres 
adalah Jusuf Kalla.
   
  Dorongan untuk mengajukan nama-nama capres ini mencuat setelah salah satu 
organisasi pendiri Partai Golkar, yaitu Sentral Organisasi Karyawan Swadiri 
Indonesia (SOKSI), 8 Oktober lalu mengusulkan Sultan Hamengku Buwono X. 
   
  ”Deklarasi SOKSI itu mengguncang Jusuf Kalla dan Golkar,” kata Zaenal 
Bintang, Ketua Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Partai Golkar.
   
  ”Berita soal SOKSI itu juga sempat membuat gusar kubu Kalla,” kata seorang 
petinggi Golkar lainnya. Soalnya, Kalla sebelumnya menyatakan kesediaannya 
melanjutkan duet dengan Susilo Bambang Yudhoyono.
   
  Usulan SOKSI itu juga mengguncang karena banyak kader SOKSI duduk di Pengurus 
Harian DPP Partai Golkar. Mereka adalah Ketua Umum SOKSI Syamsul Muarif, 
Tajuddin Nursaid, Firman Subagio, Ali Wongso Sinaga, dan Bobby Suhardiman. 
Sedikitnya ada enam gubernur dan 10 pimpinan DPD I Partai Golkar yang merupakan 
kader SOKSI.
   
  Posisi Syamsul sebagai Ketua DPP Partai Golkar yang membidangi masalah 
organisasi, kaderisasi, dan keanggotaan dinilai sejumlah kalangan sangat 
strategis karena merupakan kepercayaan Ketua Umum Golkar di bidang kepartaian. 
Sedangkan Priyo adalah kepercayaan Ketua Umum Golkar di DPR. 
   
  Dalam Rapat DPP Partai Golkar terakhir yang dipimpin Jusuf Kalla, Syamsul 
tidak hadir.
   
   
  Belum SBY-JK.
   
  Ketua Bidang Politik Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Senin, menegaskan, 
hingga kini Partai Demokrat belum berniat untuk mencari calon wakil presiden 
yang akan berpasangan dengan SBY. 
   
  Paket capres-cawapres baru akan diumumkan setelah ada hasil pemilu legislatif 
April mendatang. Cawapres yang dipilih adalah figur yang, antara lain, memiliki 
kecocokan dan kekompakannya dalam bekerja sama dengan SBY.
   
  Di Yogyakarta, pakar hukum tata negara dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 
B Hestu Cipto Handoyo, menyatakan, sebagian masyarakat DI Yogyakarta meminta 
Sultan HB X untuk mempertimbangkan secara cermat sebelum maju ke kancah 
nasional. Mereka bahkan meminta agar Sultan HB tetap di Yogyakarta supaya lebih 
terfokus dalam mengawal pembahasan RUU Keistimewaan DIY.
   
   
  Politik & Hukum : Isu Capres Hangat di Rapim Golkar.
  14 Oktober 2008.
  
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/14/00341781/isu.capres.hangat.di.rapim.golkar
   
   
   
  *****
   
   
  
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   


  
---------------------------------
  
  Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah
  klik
  http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org
    
---------------------------------
  

       
---------------------------------
  Nama baru untuk Anda!  
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke