---------- Forwarded message ----------
From: Litayanti <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 12 Nov 2008 17:56:08 -0800 (PST)
Subject: Fwd: [kpii-australia] UIN Logo Baru: Ke Mana [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]


--- fitsu aja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> To: kpii pengajian <[EMAIL PROTECTED]>,
>   rohis 49 <[EMAIL PROTECTED]>
> From: fitsu aja <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Wed, 12 Nov 2008 17:26:43 -0800 (PST)
> Subject: [kpii-australia] UIN Logo Baru: Ke Mana
> [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
>
> ----- Forwarded Message ----
> From: putri Gita <[EMAIL PROTECTED]>
> To: FUSHILAT 2004 <[EMAIL PROTECTED]>;
> LidYa neH <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, November 13, 2008 12:08:20 PM
> Subject: [Fushilat_2004] UIN Logo Baru: Ke Mana
> [EMAIL PROTECTED]
>
>
> UIN Logo Baru: Ke Mana Arahnya?
> Oleh : Redaksi13 Nov 2008 - 2:30 am
> Oleh: A. Taif A Nabeel *
> Logo Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang
> baru menghilangkan gambar Al-Quran dan Hadits.
> Gambar bola dunia dan partikelnya mirip simbol
> sekularisme dan atheis. Tapi mungkin hanya mirip.
>
> Kamis (21/8) malam, bulan lalu, logo lama UIN
> Jakarta resmi diganti dengan logo baru dengan
> dimeriahkan oleh penampilan musik orkestra Dwiki
> Darmawan dan penyanyi Ita Purnamasari di Auditorium
> Utama.
>
> Seperti yang diberitakan dalam UINJKT Online,
> peresmian logo baru ini juga ditandai dengan
> pembukaan kain selubung logo oleh Rektor Prof Dr
> KUmaruddin Hidayat di atas panggung yang didampingi
> mantan rektor Drs H Ahmad Syadzali serta para
> pembantu rektor. Direktur MarkPlus, Hermawan
> Kertajaya yang menghadiri acara tersebut mengatakan,
> penggantian logo UIN Jakarta sudah tepat dan
> menunjukkan nilai-nilai yang lebih universal. "Logo
> baru UIN Jakarta sekarang melambangkan proses
> horizontalisasi. Ini mencerminkan kemajuan,"
> katanya.
>
> Sementara Rektor dalam sambutannya menegaskan, logo
> baru UIN Jakarta diganti bukan tanpa alasan.
> Setidaknya, menurut rektor, ada dua alasan yang
> melandasi. Pertama, logo lama bersifat verbalistik
> yang lebih menonjolkan elemen geografis lokal dan
> elemen kenegaraan. Selain itu, logo lama tidak
> distingtif dan memadai untuk memberikan gambaran
> sebuah identitas baru bagi UIN Jakarta menuju world
> class university. Kedua, hasil kesepakatan rapat
> senat para guru besar.
>
> "Logo lama itu bergambar ada Monumen Nasional-nya.
> Sekarang, kita tidak lagi berdasarkan geografis
> lokal, baik Jakarta, Banten maupun Jawa Barat,
> tetapi dunia yang digambarkan dengan bola dunia.
> Jadi, kita ingin UIN Jakarta itu mendunia,"
> tegasnya.
>
>
> Arti LOGO
> Gambar logo baru UIN Jakarta terdiri atas empat (4)
> elemen, yakni bola dunia, partikel atom, kitab suci,
> dan tulisan "UIN". Bola dunia berwarna biru,
> melambangkan wawasan universal UIN Jakarta dan juga
> misi Islam sebagai rahmatan lil'alamin. Partikel
> atom berwarna emas menggambarkan keilmuan dan
> dinamika serta keajegan hukum alam (sunnatullah)
> yang diperintahkan Allah untuk selalu dibaca dan
> diteliti demi kesejahteraan umat manusia. Parikel
> itu juga dapat dilihat sebagai bunga lotus atau
> sidrah (sidrah al-muntaha), yakni lambang cita-cita
> setiap mukmin untuk menggapai pengetahuan kebenaran
> tertinggi (ma'rifah al-haq).
>
> Kemudian kitab suci berwarna putih dengan garis tepi
> berwarna kehijauan, melambangkan sumber inspirasi
> dan kaidah hukum serta moral bagi pengembangan UIN
> Jakarta. Sementara tulisan "UIN" berwarna biru
> melambangkan kedalaman ilmu, kedamaian, dan
> kepulauan nusantara yang berada di antara dua lautan
> besar, yakni sebuah wilayah yang mempertemukan
> berbagai peradaban dunia. Selain itu, terdapat juga
> garis putih horizontal yang membelah tulisan "UIN"..
> Garis ini merupakan pengikat UIN Jakarta sebagai
> universitas yang kuat.
>
> "Hilangnya Al-Quran
>
>
> Logo UIN LAMAPenjelasan official tentang arti logo
> baru di atas, tentunya tidak menutup adanya
> interpretasi lain.. Dan hal itu juga patut
> diperhatikan, utamanya bagi pejabat tinggi di
> lingkungan UIN yang berwawasan terbuka dan
> menghargai perbedaan.
>
> Banyak suara yang menganggap bahwa elemen kedua yang
> dijabarkan sebagai partikel atom itu mirip dengan
> Bintang David jika ditarik lancip. Namun saya
> sendiri kurang setuju dengan interpretasi seperti
> ini, sebab kita hanya diajarkan menilai apa yang
> terlihat dan bukannya menafsirkan niat yang
> tersembunyi dari gambaran logo itu. Karena hal ini
> justru akan menguatkan pola-pola tafsir batiniyah.
> Bagi saya, elemen yang "dipaksakan" sebagai partikel
> atom ini, justru menggambarkan 2/3 dari lambang
> sekularisme dan tertutup dengan gambar buku dan
> tulisan UIN yang dilatarbelakangi dengan bola biru.
> Jadi elemen "partikel atom" itu memang terkesan
> dipaksakan jika digambarkan sebagai sunnatullah,
> apalagi ditafsirkan dengan sidratul muntaha, tempat
> yang belum pernah diketahui oleh seorang manusia pun
> selain Rasulullah SAW saat mendapatkan perintah
> shalat di malam Isra' Mi'raj.
>
> Hal yang lebih sensitif lagi dari tampilan logo baru
> ini adalah dihapuskannya tulisan "Al-Quran al-Karim"
> dan digantikan dengan tulisan "UIN". Tentunya para
> pemerhati pendidikan Islam akan bertanya-tanya, ada
> apa dengan penghapusan tulisan "Al-Quran al-Karim"?
> Apakah karena tulisan ini adalah tulisan arab
> sehingga merasa risih dengan nuansa kearab-araban?
> Ataukah karena logo lama dinilai terlalu Islami dan
> ke-Quran-Quranan sehingga dikhawatirkan akan melibas
> keragaman budaya dan kearifan lokal? Ataukah karena
> kepercayaan diri sebagai generasi Quran mulai
> meluntur di lembaga pendidikan tinggi Islam ini?
> Tentunya tidak seorangpun bisa memastikan jawaban
> atas rentetan pertanyaan di atas.
>
>
>
> Simbol Sekularisme
>
> Simbol AtheismeNamun setidaknya pertanyaan-pertanya
> an itu adalah wujud rasa memiliki sekaligus ungkapan
> keprihatinan atas UIN yang menjadi aset terbesar
> umat Islam di Indonesia. Keprihatinan ini semakin
> menguat jika dikaitkan dengan ulah akademis beberapa
> guru besar UIN yang kurang simpatik. Sebagai contoh
> dalam ruang perkuliahan pasca sarjana, seorang
> profesor yang juga ditengerai gemar menjadi penghulu
> perkawinan lintas agama ini mengajarkan bahwa
> Kebenaran Agama adalah Palsu; Agama untuk Orang
> Bodoh?! Dan Thomas Alfa Edison pun Masuk Surga;
> Budha, Socrates juga Nabi; Rukun Iman cukup dua;
> Hadits-hadits itu membikin kita bingung; Tuhan juga
> memaafkan kaum atheis; Bersyukur pada Iblis; Tidak
> Pernah Ada Isra' Mi'raj; Lebih Mengutamakan Agama
> daripada Akal adalah Kafir; Siapa saja yang
> melakukan kebaikan, yg bermoral, itu adalah Islam!
> Jadi tidak harus bersyahadat; Anak-2 JIL itu bagus
> sekali, walau salah Tuhan akan memaafkan; Lauh
> Mahfuzh itu alam bawah
>  sadar; Tidak masalah jika orang mau pindah-pindah
> agama; Kisah-kisah dalam Al-Quran itu, umumnya kisah
> fiktif, dll.
>
> Sementara Guru Besar Sejarah dan Direktur Sekolah
> Pascasarjana UIN yang dikenal piawai menulis ini
> secara mengejutkan memberi apresiasi terhadap karya
> Farag Fouda yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
> Di sampul depan buku ini dia menulis:  Karya Farag
> Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan
> realitas sejarah pahit pada masa Islam klasik.
> Sejarah pahit itu bukan hanya sering tak terkatakan
> di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan dipersepsikan
> secara sangat idealistik dan romantik. Karya ini
> dapat menggugah umat Islam untuk melihat sejarah
> lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari
> ini dan masa depan .
>
>
>
> Science Symbol
>
> Nuclear SymbolPadahal buku yang aslinya berjudul
> al-Haqiqah al-Ghaibah ini sarat dengan cacian
> terhadap Sahabat, metodologi yang lemah dan bobot
> ilmiah yang rendah. Penulisnya sendiri telah
> dipandang murtad oleh sederet ulama terpandang dan
> akhirnya dia terbunuh di Mesir.
>
> Tradisi memberi sanjungan tinggi terhadap
> karya-karya yang mengelirukan dalam memahami Islam
> tidak hanya untuk buku Fouda, namun beliau juga
> memberikan sanjungan terhadap terjemahan karya
> Abdullahi Akhmed an-Na'im, "Islam dan Negara
> Sekular" yang mempertanyakan kelayakan Syariah dalam
> kehidupan bernegara, bahkan dipandangnya sebagai
> sumber hukum yang diskriminatif terhadap warga
> non-muslim. Namun di sampul depannya, beliau justru
> memberi apresiasi buku tokoh liberal asal Sudan ini:
> "Buku ini, tidak ragu lagi, merupakan kontribusi
> penting bagi diskusi dan perdebatan tentang tarik
> tambang syariah, sekularisme dan negara".
>
> Penyimpangan pemikiran di lembaga ini juga
> dimeriahkan oleh profesor perempuan, peraih
> penghargaan doktor terbaik di IAIN Syarif
> Hidayatullah 1996/1997 ini mengkampanyekan aturan
> syariah baru. Sebab syariah yang "lama" terbukti
> bias jender. Maka dia mengusulkan laki-laki juga
> terkena masa tunggu ('iddah) bila terjadi
> perceraian, bagian waris laki-laki sama dengan
> bagian perempuan, dll. Bahkan akhir-akhir ini dia
> juga mengkampanyekan halalnya homoseksual melalui
> artikelnya yang bertema "Allah Hanya Melihat Taqwa,
> bukan Orientasi Seksual Manusia".
>
> Penutup
> Logo baru UIN mengundang multi tafsir. Jika
> dikaitkan dengan beberapa mata kuliah yang menjadi
> kurikulum wajib di fakultas Ushuluddin dan corak
> pemikiran beberapa guru besar yang mengajar di
> lembaga ini, maka tidak berlebihan bila logo baru
> ini dipandang menjadi cerminan 2/3 logo sekularisme
> sekaligus menancapkan paham ini di lingkungan
> pendidikan ini. Mengamati fenomena ini tentunya
> sangat tragis, jika lembaga pendidikan yang tahun
> lalu baru merayakan HUT 50 tahun dan menjadi aset
> dan kebanggaan umat ini, terus membiarkan prilaku
> intelektual menyimpang kalangan guru besar maupun
> dosennya. Akankah seorang Ratu Adil akan datang dan
> menyelamatkan lembaga pendidikan tercinta ini? Kita
> tunggu saja. (hidayatullah)
>
> *) Penulis tinggal di Jakarta
>
> Tambahan Redaksi :
>
> Dari Kiri Kekanan Sceince Symbol-> Nuclear Symbol
> (1)-> Nuclear Symbol (2)-> Logo UIN
> Seperti yang disampaikan penulis, Logo Baru UIN: Ke
> Mana Arahnya?
>
>
> ________________________________
> Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya?
> Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
>
>
>

Kirim email ke