HAKEKATNYA  BERSYUKUR
BERSYUKUR, MENSYUKURI  NI’MAT ALLAH SWT

A’udzubillaahi minasy syaithaanir rajiim.Bismillahirrahmanirrahiim. Assalamu 
‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara 
dan Adik-adikku yang insya Allah dirahmati dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu 
Wa Ta’ala. 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada hambanya agar selalu bersyukur, 
perintah tersebut tercatat didalam Al Qur’an sebagai berikut:

Dan  Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui 
sesuatu pun, dan Dia memberi kamu  pendengaran,  penglihatan  dan  hati, agar  
kamu  bersyukur. Qs.16: 78

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan 
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.. Qs.2: 152  
 

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebut-Nya (dengan 
bersyukur). Qs. 93:11       

Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Qs.Ali Imran (3): 
144 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu 
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu 
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Qs.14: 7.

KISAH-KISAH
Pada suatu hari, Allah SWT memerintahkan kepada Malaikat Jibril a.s untuk pergi 
menemui salah satu makhluk-Nya yaitu “Kerbau” dan menanyakan kepada si Kerbau 
apakah dia senang telah diciptakan oleh Allah SWT sebagai se-ekor kerbau. 
Malaikat Jibril a.s segera pergi menemui si Kerbau.

Di siang hari yang panas itu si Kerbau sedang berendam disungai yang berlumpur. 
Malaikat Jibril a.s. mendatanginya, kemudian mulai bertanya kepada si Kerbau, : 
“Hai Kebau, apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai se-ekor 
kerbau”. Si Kerbau menjawab: “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada 
Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya 
sebagai se-ekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri”. Mendengar 
itu Malaikat Jibril a.s. segera pergi menemui se-ekor kelelawar.

Malaikat Jibril a.s. mendatanginya se-ekor kelelawar yang siang hari itu sedang 
tidur bergantungan (bergelantungan) di dalam goa. Kemudian Jibril a.s. mulai 
bertanya kepada si kelelawar: “Hai Kelelawar, apakah kamu senang telah 
dijadikan oleh Allah SWT sebagai se-ekor kelelawar”. Jawab Kelelawar: “Masya 
Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku 
sebagai se-ekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya sebagai se-ekor cacing. 
Tubuhnya kecil, tinggalnya didalam tanah yang becek, berjalannya saja 
menggunakan perutnya”, jawab si Kelelawar. Mendengar jawaban itupun Malaikat 
Jibril a.s segera pergi menemui se-ekor cacing yang sedang merayap diatas tanah.

Malaikat Jibril a.s bertanya kepada si Cacing: “Wahai Cacing kecil, apakah kamu 
senang telah dijadikan Allah SWT sebagai se-ekor cacing”. Si Cacing menjawab: 
“Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah 
menjadikan aku sebagai se-ekor cacing, dari pada aku dijadikan-Nya  sebagai 
se-orang manusia. Apabila manusia tidak memiliki: “Imam, islam, ikhsan, 
bertakwa yang sempurna dan tidak beramal salih, tidak ta’at kepada Allah dan 
Rasul-Nya, tidak mempergunakan akalnya dan hatinuraninya, maka ketika manusia 
mati, mereka akan disiksa selama-lamanya di-neraka, lebih hina dari pada aku 
(cacing), lebih hina daripada binatang, karena binatang kalau mati semua lebur 
menjadi air dan tanah, sedangkan manusia kalau mati, (ruhnya, jiwanya, 
nafsunya) harus mempertanggungjawabkan pendengaran, penglihatan, akalnya, hati 
nuraninya dan segala perbuatannya didunia”. (Dikutip dari 1001 Kisah Teladan).  

 [7.179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari 
jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk 
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak 
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka 
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat 
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  
Mereka itulah orang-orang yang lalai.  Qs.7: 179

[95.5] Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), 
[98.6] Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik 
(akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah 
seburuk-buruk makhluk.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara dan Adik-adikku yang insya Allah 
dimuliakan oleh Allah SWT.    Kisah-kisah tersebut diatas sebagai gambaran 
bahwa binatangpun mempunyai rasa sukur. Kita ini sebagai seorang yang mengaku 
beragama Islam yang telah begitu banyak menerima kenikmatan, dari Allah antara 
lain nikmat iman, nikmat islam, rahmat, hidayah, inayah, sehat wal afiat, akal 
pikiran, hatinurani dan sebagainya dari Allah SWT, maka sudah selayaknya dan 
sebagai suatu kewajiban (wajib) kita bersyukur kepada Allah SWT, dan menyukuri 
segala nikmat yang kita terima dari Allah SWT, sebesar apapun nikmat yang kita 
terima, wajib hukumnya kita bersyukur kepada Allah yang Maha Pemberi Nikmat. 

Bagaimana caranya kita bersyukur, apa hanya cukup sekedar mengucapkan 
“Alhamdulillahi Rabbil’alamin”? Tidak. Untuk bersyukur kepada Allah, kita wajib 
menta’ati ajaran Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan segala perintah Allah dan 
Rasul-Nya, meninggalkan segala larangan Allah dan Rasulnya  dan semakin 
mendekatkan diri kepada Allah.

Untuk menekan hawa nafsu kita dan untuk ketenangan jiwa kita, kuncinya adalah 
kita selalu melihat kebawah, masih banyak sekali saudara-saudara kita yang 
tingkat social  ekonominya jauh dibawah dari kita, yang tingkat ke-imanannya 
jauh dibawah dari kita, yang tingkat ketakwaannya jauh dibawah dari kita, maka 
hati kita akan mudah tenang dan mudah menyukuri segala nikmat dari Allah SWT, 
dan semoga Allah selalu memberi petunjuk, hidayah-Nya kepada kita, dan hidayah 
itupun harus kita pupuk agar hidayah itu tidak menghilang dari jiwaraga kita.

Namun demikian, kita tidak boleh bangga, tidak boleh puas terhadap apa yang 
sudah kita dapat, kita harus berusaha terus dengan menempuh jalan yang diridhoi 
oleh Allah SWT, agar kita mendapat tingkat social ekonomi yang lebih luas, 
dengan ekonomi yang lebih luas, kita bisa meningkatkan iman yang lebih tinggi, 
tingkat derajat takwa yang lebih tinggi disisi Allah SWT. 

Kalau sudah tinggi tingkat social ekonominya jangan langsung sombong, sok 
pinter, sok benar sendiri, sok milikku sendiri dan sok-sok lainnya, namun harus 
tetap bersyukur karena segala sesuatu iti adalah milik Allah, kita harus tetap 
patuh dan tunduk menjalankan ajaran Allah dan Rasul-Nya (Al Qur’an dan  Al 
Hadis) dan dengan cara menjauhkan rasa bangga, membanggakan diri, sombong, 
iridengki, hasat-hasut, meremehkan orang, menjelekkan orang, riya, takabur, 
ghosib, adudomba, merasa diriku paling benar dan sebagainya, sifat-sifat inilah 
yang akan menjauhkan hidayah dan rasa syukur kita, yang akhirnya kita akan 
menjadi kufur nikmat, dan jauh dari hidayah Allah.  

Arti syukur sendiri masing-masing orang beda penafsirannya antara lain:
Syukur adalah suatu kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada 
seseorang akibat terima kasihnya kepada Allah SWT. Jika disimpulkan, apabila 
seseorang bersyukur dengan kelebihan yang diberikan kepadanya, maka Allah akan 
menambahnya, lalu bertambah pula syukurnya seseorang itu”.

Syukur itu bukan hanya dilakukan ketika menerima nikmat, namun dilakukan atas 
segala kenikmatan yang ada pada diri setiap orang dengan senantiasa selalu 
mengingat kepada Zat Pemberi nikmat yaitu Allah  Azza Wa Jalla.

Aku bersyukur bukan karena hanya sekedar membalas nikmat-Mu Ya Allah, aku 
bersyukur untuk menyatakan rasa terimakasihku kepada-Mu. Aku senantiasa ingat 
hari-hariku yang penuh kenikmatan dari diri-Mu, akhir dari segala yang kekal 
atas orang-orang yang bersyukur adalah Dzikir yang banyak (untuk selalu 
mengingat Allah Azza Wa Jalla kapan saja dan dimana saja)”.

Seandainya semua tubuhku mempunyai bahasa, mereka akan memuji-Mu dari kebaikan 
yang telah Engkau berikan. Pastilah kenikmatan akan bertambah karena rasa 
terimakasihku (syukurku).

Nimat Allah yang telah diberikan kepada kita sekalian sungguh sangat banyak 
sekali jumlahnya hingga kita tak dapat menghitungnya. Bila kita sebut semua 
dalam ucapan syukur kita kepada Allah, pastilah kita akan sibuk sekali 
menyukuri nikmat-nikmat Allah tersebut.

Ada dua sifat terpuji, bagi orang yang bersikap menyukuri nikmat: 
(A)-Memandang orang yang lebih tinggi dalam ilmu agamanya dan social 
ekonominya, yang dipergunakan, sebagai sarana untuk menta’ati 
ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya, (Al Qur’an dan Al Hadis), yang lebih 
salih daripada kita, yang kusuk dalam sholatnya, yang membayar zakat, yang 
banyak bersedekah, yang memenuhi hak-hak tetangga, yang tunduk, patuh dan tidak 
menyimpang dari hukum-hukum ajaran Allah dan Rasul-Nya, agar kita dapat  
mengikuti jejaknya.    

(B)-.Memandang orang yang lebih rendah dalam urusan duniawi, keimanan, 
kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya, memandang orang 
yang masih dibawah kita dibidang social ekonomi dan tingkat keimanannya agar  
kita mudah bersyukur kepada Allah SWT, atas kelebihan nikmat dan hidayah yang 
dianugerahkan kepada kita..

Oleh sebab itu, bila kita sedang mendapatkan kenikmatan dari Allah, hendaklah 
kita bersyukur dengan semakin bertaqarrub, semakin mendekatkan diri kepada 
Allah, agar supaya nikmat tersebut tetap diberikan kepada kita. Masalahnya bila 
kita menerima kenikmatan-kenikmatan dari Allah, namum kita malah menjauh dari 
Allah dan tidak menampakkan rasa syukur kepada-Nya, maka dikhawatirkan akan 
hilangnya nikmat tersebut dari tangan kita dan Allah akan melimpahkan beberapa 
ujian, cobaan, bencana,  musibah dan adzab kepada kita didunia maupun di 
akhirat..

Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada Allah ketika diberi nikmat dan 
karunia-Nya, niscaya dia akan dibelenggu dengan berbagai rantai ujian, cobaan 
dan musibah. 

Barangsiapa yang tidak menyukuri segala nikmat, maka benar-benar dia telah 
menyodorkan untuk hilangnya nikmat itu. 

Dan barangsiapa yang menyukuri nikmat, benar-benar dia telah mengikatnya nikmat 
itu dengan tali”.

Dengan demikian, apabila kita menerima nikmat dari Allah, hendaklah kita 
syukuri dengan cara yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, karena banyak orang 
yang menyatakan syukur dengan cara yang kurang tepat. Karena itu, dalam hal ini 
perlu ditegaskan bahwa cara bersyukur itu ada tiga macam, yaitu:

1-BERSYUKUR DENGAN HATI. 
Maksudnya adalah, ia merasa yakin bahwa segala macam kenikmatan itu datangnya 
dari Allah SWT. Firman Allah SWT yang artinya: “ Dan apa saja nikmat yang ada 
pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh 
kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”. Qs.An Nahl 
(16); 53  Rasa syukur itu dinyatakan dengan menyembunyikan kebaikan bagi 
manusia dan  selalu dalam mengingat Allah Ta’ala, sehingga tidak melupakan-Nya. 
Maksudnya dengan memperbanyak ucapan puji-pujian dengan  ucapan Hamdalah atau 
Tahmid , kalimat-kalimat tauhid dan  dzikir yang banyak, untuk mendekatkan diri 
kepada Allah. 

2-BERSYUKUR DENGAN HARTA YANG DIAMANAHKAN KEPADA KITA.
Harta apa saja yang kita miliki adalah suatu amanah dari Allah SWT, kita wajib 
bersyukur atas kita dipercaya diamanahi harta tersebut, sebagai rasa sukur kita 
wajib mengeluarkan sedekah, zakat kepada yang berhak menerimanya, dan harta 
tersebut harus dibelanjakan di jalan Allah, apabila kita tidak mau bersedekah 
dan mengeluarkan zakat, maka kita dianggap-Nya manusia tidak beriman dan 
manusia tidak bertakwa, sebagaimana firman Allah didalam Al Qur’an, Surat Al 
Baqarah, (surat ke 2) ayat 177 yang artinya sebagai berikut:  

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, 
akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari 
kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang 
dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir 
(yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan  
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan 
orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang 
sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah 
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. 
Qs.2: 177


3-BERSYUKUR DENGAN ANGGOTA BADAN.
Maksudnya mempergunakan seluruh anggota badan (tubuh) untuk melakukan 
perbuatan-perbuatan yang disesuaikan dengan kehendak Pemberi nikmat (Allah Azza 
Wa Jalla).  Dengan anggota tubuh dinyatakan dengan menggunakan nikmat-nikmat 
Allah  dalam menta’ati ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya (Al Qur’an dan 
Hadis) dan menghindari penggunaan nikmat-Nya untuk mendurhakai-Nya. 

Firman Allah SWT senagai berikut:
Dan  Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui 
sesuatu pun, dan Dia memberi kamu  pendengaran,  penglihatan  dan  hati, agar  
kamu  bersyukur. Al Qur’an, Surat An Nahl (surat ke 16) ayat 78 dengan ayat ini 
maka kita mengambil kesimpulan sebagai berikut:
 
(A)-Syukur atas pendengaran (telinga), 
Dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah (Al Qur’an), dan untuk  menutupi 
kejelekan-kejelekan sesama umat islam atau tetangga dari apa yang didengarnya.

(B)-Syukur penglihatan (mata), 
Dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan untuk menutupi 
setiap kejelekan yang engkau lihat dari seorang muslim dan tidak menggunakannya 
untuk melihat kejelekan sesama muslim untuk bahan ghosib dan atau untuk melihat 
maksiat.

(C-Syukur hati, 
Dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, tunduk dan patuh akan segala 
ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya. (Al Qur’an dan Hadis), dan bukan 
dibuat untuk  iridengki, hasat hasut, dendam, sakit hati, mengejek orang, 
meremehkan orang, ghosib dan sebagainya. 

Begitu pula akal dan hatinurani kita, apabila tidak dipergunakan untuk 
menta’ati dan mengamalkan hukum-hukum ajaran Allah dan Rasul-Nya (Al Qur’an dan 
Al Hadis), maka kita nanti kalau mati akan menjadi bahan bakar api neraka, dan 
manusia akan lebih hina dari pada binatang. Seperti Firman Allah SWT didalam Al 
Qur’an Surat Al A’Raaf, surat ke 7 ayat 179, yang artinya sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan 
manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami 
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya 
untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga 
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu 
sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah 
orang-orang yang lalai”. Al Qur’an, Surat Al A’Raaf (7) ayat 179.   

HAKEKATNYA BERSYUKUR ADALAH:
Hakekatnya bersyukur adalah bersyukur yang diimplementasikan didalam perbuatan 
sehari-hari dari dalam hatinurani (didalam jiwa) dengan niat yang ikhlas dan 
hanya untuk mencari ridho Allah semata, selalu berkeinginan untuk senantiasa 
mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang dibuktikan dengan 
menta’ati dan mengamalkan ajaran Allah dan Rasul-Nya (Al Qur’an dan Hadis): 
“Sholat yang khusuk, memperbanyak sholat sunnah, memperbanyak Dzikir, Takbir, 
Tahmid dan Tahlil, sholat tahajud, memperbanyak sedekah, membayar zakat dan 
dengan niat yang ikhlas, mencari ridho Allah, dengan kata lain selalu menambah 
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendek kata semakin bertaqorrub, semakin 
dekat kepada Tuhannya, Mempertebal iman dan takwa seseorang, agar hidayah, 
rahmat tidak menghilang dari jiwaraga kita, sehingga kita mati dalam keadaan 
husnul khotimah, dan membawa amal salih yang banyak, insya Allah..

Berdasarkan Al Qur’an, Surat Ibrahim (surat ke 14) ayat 7
Kufur nikmat, kalau seseorang semakin banyak nikmat yang diterimanya, tetapi 
manusia malah semakin jauh dengan Allah SWT, tidak mau bersedekah, tidak mau 
membayar zakat malah semakin pelit (kikir), semakin menumpuk hartanya dan 
semakin jauh dengan Allah SWT, tidak menta’ati dan tidak mengamalkan 
hukum-hukum ajaran Allah dan Rasul-Nya, berarti orang itu kufur nikmat, kufur 
nikmat akan mendatangkan bencana, musibah dan nanti di akhirat tempatnya di 
neraka, menerima azab yang sangat pedih, na’udzubillahi mindzalik.. 

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat, semoga menambah iman dan 
takwa bagi yang membaca, menghayati dan mengamalkannyaadidalam kehidupan 
sehari-hari, semoga selamat didunia sampai di akhirat kelak, semoga mendapat 
ridho dan derajat takwa yang tinggi disisi Allah Subhananu Wa Ta’ala, insya 
Allah. Amin. 

Kesempurnaan milik Allah, salah, khilaf, kurang dan lebihnya milik saya, semoga 
Allah swt mengampuni saya atas kesalahan yang tidak saya segaja. Allahu a’lam. 
Alhamdulillahi Rabbil’alamin. Billahi taufik wal hidayah.Wasalamu’alaikum 
warahmatullahi wabarakatuh. 
Sukarman.

Sumber bacaan: 
-Al Qur’an dan terjemahnya,  
-Al Ihya’ Ulumuddin Imam Al Ghazali. 
-1001 Kisah teladan. 



      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke