Bismillaahirrohmaanirrohiim, assalaamu'alaikum wr wb.
Saya, beberapa kali (lebih 3) mukim di suatu desa, daerah kost-kostan, daerah
KKN, kompleks kontrakan, dan dua kompleks perumahan menemukan/merasakan adanya
"pertemuan dua atau lebih?" para penganut perbedaan kecil (khilafiyah) dalam
menjalankan ritual agama kita. Misal, shubuh ada qunut/tidak, ba'da sholat ada
jabat tangan/tidak, ba'da sholat ada doa jahar yang dipimpin imam/tidak,
salam-salaman keliling/tidak, salam tarwih tiap 4 rokaat/2 rokaat, dan mungkin
masih ada ratusan khilafiyah lainnya dalam cara beribadah.
Saya yakin bagi yang telah luas ilmunya pasti akan menerima perbedaan cara yang
dilakukan saudara lainnya. Tapi, manakala yang satu golongan bersikeras agar
caranya-lah yang diakomodasi dalam pelaksanaan ibadah sholat di suatu
masjid/mushola, maka ini menyebabkan golongan lainnya yang tidak terakomodasi
menjadi merasa tersingkir, dan akhirnya pindah ke masjid/mushola lain.
Bagaimana cara terbaik agar yang "pro dan kontra" bisa rukun dan terakomodasi?
hormat saya,
faisol muhammad