Tuan-tuan yang dihormati,
 
Ini sekadar pendapat saya berpandukan ajaran Quran..
 
16:64. Dan Kami tidak menurunkan kepada kamu Kitab melainkan supaya kamu 
memperjelaskan kepada mereka apa yang padanya mereka memperselisihkan, dan 
sebagai satu petunjuk, dan satu pengasihan bagi kaum yang mempercayai.
Ayat diatas bermaksud Quran itu diturunkan supaya kita dapat memperjelaskan 
kepada orang yang memperselisihkan sesuatu (tentunya dalam urusan agama).  Ini 
menjelaskan bahawa perselisihan harus dibanteras supaya ummah tidak berpecah 
belah menjadi kelompok 'Syiah' dan 'Ahlu sunnah' yang berpecah pula kepada 
bermacam-macam mazhab yang berselisihan.
 
Justru, itulah fungsi Quran.  Jika ada yang memperselisihkan sesuatu, rujuk 
sahaja Quran untuk penyelesaiannya. Pendapat manusia berbeza-beza oleh itu 
pendapat tidak boleh dipakai dalam agama.
 
Mana yang terdapat dalam Quran, itulah yang benar diantara perkara yang 
diperselisihkan itu.  Jika tidak terdapat apa-apa yang diperselisihkan itu di 
dalam Quran, maka kesemua pihak yang berselisihan harus meninggalkan amalan 
mereka yang berselisihan itu kerana ia bukan dari ajaran Allah.
 
Quran juga mengatakan bahawa yang banyak perselisihan itu adalah bukan dari 
Allah, maka wajib ditinggalkan sahaja.  Beres kan!  Ayatnya berikut:
 4:82. Apa, tidakkah mereka merenungkan al-Qur'an? Jika ia daripada selain 
Allah, tentu mereka mendapati di dalamnya banyak perselisihan.

Jadi yang berselisihan itu semuanya ciptaan manusia dan patut hindarkan sahaja.

Sekadar untuk difikirkan.




________________________________
From: faisol muhammad <[EMAIL PROTECTED]>
To: syiar-islam <[email protected]>
Sent: Monday, December 1, 2008 5:19:18 PM
Subject: [syiar-islam] pak ustadz, Mohon Perpektif Sunnah


Bismillaahirrohmaan irrohiim, assalaamu'alaikum wr wb.

Saya, beberapa kali (lebih 3) mukim di suatu desa, daerah kost-kostan, daerah 
KKN, kompleks kontrakan, dan dua kompleks perumahan menemukan/merasakan adanya 
"pertemuan dua atau lebih?" para penganut perbedaan kecil (khilafiyah) dalam 
menjalankan ritual agama kita. Misal, shubuh ada qunut/tidak, ba'da sholat ada 
jabat tangan/tidak, ba'da sholat ada doa jahar yang dipimpin imam/tidak, 
salam-salaman keliling/tidak, salam tarwih tiap 4 rokaat/2 rokaat, dan mungkin 
masih ada ratusan khilafiyah lainnya dalam cara beribadah.

Saya yakin bagi yang telah luas ilmunya pasti akan menerima perbedaan cara yang 
dilakukan saudara lainnya. Tapi, manakala yang satu golongan bersikeras agar 
caranya-lah yang diakomodasi dalam pelaksanaan ibadah sholat di suatu 
masjid/mushola, maka ini menyebabkan golongan lainnya yang tidak terakomodasi 
menjadi merasa tersingkir, dan akhirnya pindah ke masjid/mushola lain. 
Bagaimana cara terbaik agar yang "pro dan kontra" bisa rukun dan terakomodasi?

hormat saya,

faisol muhammad

  


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke