Bismillahirrahmaanirrahiim

 

Assalamu'alaikum
Warahmatullahi Wabarakaatuh

 

Rencana
ada ditangan manusia, keputusan tetap ada pada kuasa Allah Ta'ala.

Setidak-tidaknya
kalimat diatas inilah yang pantas untuk kusadari atas kondisi yang kualami saat
ini.

 

Sungguh
diluar rencanaku, secepat ini aku akan kembali ke Indonesia lagi. Tepatnya 
hanya baru
10 bulan aku meninggalkan Indonesia,
kini dengan sesuatu dan lain hal, aku harus kembali lagi ke tanah air.

 

Ketika
di Cairo, aku pernah menyampaikan pada suamiku, kalau setiap pulang ke 
Indonesia dan
hidup sendirian tanpa keberadaan suami, bagiku adalah sebuah penderitaan yang
sangat berkepanjangan.

 

Kenapa
harus begitu? Iyah, ketenangan berada disamping suami, tidak ada seorangpun
yang dapat menggantikannya. Meski pada hakikatnya suamikupun di Kairo, pergi
jam 8 pagi, pulang jam 8, atau bahkan sering terlambat dari itu, jam 10, atau
jam 12 malam sekalipun. Hanya saja, meski dirumah di cairo, akupun sering 
sendirian, terkadang
bersama anakku, kalau anakku tidak kuantarkan ke play groupnya. Aku hanya
bertemankan sajadah bersembah dihadapan illahi, serta kitab suci AlQuran yang
selalu menemaniku, buku-buku serta computer yang selalu setia menemani
kesunyian didalam rumah.

 

Aku
memang tidak seperti kebanyakan ibu-ibu yang lain, yang menghadapi kesendirian
didalam rumah dengan pergi berkumpul-kumpul di mesjid Indonesia cairo,
bercerita, silaturrahmi, terkadang belanja barengan, dllnya. Aku lebih sering
menghabiskan waktuku didalam rumah, kecuali hari selasa, aku pergi kepengajian
mingguan Ibu-Ibu El Muttaqin, atau kalau aku memang dibutuhkan mereka seperti
mengajar bahasa Arab setiap hari Seninnya.Kalau tak perlu keluar rumah akan
keperluan yang nilainya ibadah, aku sangat malas keluar rumah. Belanja
keperluan dapur saja malas, kalau memang tak perlu sekali, apatah lagi untuk
yang lainnya. 

 

Keberadaan
suami disampingku tetaplah suatu hal yang sangat kubutuhkan, entah kenapa, aku
merasa damai saja berada disampingnya, terutama dimalam hari saat tidur, aku
sering berbantalkan lengannya. Pekerjaan rumah yang meletihkan, namun keletihan
itu sirna tatkala suamiku pulang dari kerja, melihat senyumannya, perhatiannya
yang sangat tinggi padaku bagiku sudah lebih dari cukup.Dan hal ini tak
kurasakan lagi selama aku di Indonesia.

 

Sering
anakku di Cairo,
tanyakan padaku :" Mama, kapan pulang ke Caironya lagi?" Ku jawab
saja :"Mama tidak tahu Nak, tanyakan saja Baba, mungkin kalau uang kita
ada, mama akan pulang, namun kita lihat dulu kakak Ila yang sekarang sudah kls
III SMP, mau UAN, mama akan menemami kakak, tak perlu pula harus mengajarinya,
biarkan kakak mandiri, cukup kakak tenang, kalau mama sekarang ada di
Indonesia"

 

Ketika
akan berangkat di Air
 Port, dengan terpaksa
sebahagian barangku, terutamanya baju-bajuku terpaksa ditinggal. Aku hanya bawa
baju yang melekat dibadan saja.Didalam pesawat, tidak biasanya aku tidak selera
makan, biasanya semua makanan dipesawat kumakan habis dengan lahapnya, karena
aku suka masakan dipesawat itu. Dan tidak untuk kali ini, tak satupun makanan
yang dapat kutelan, kecuali air dan roti, itupun tidak habis. Pikiranku masih
saja di Kairo, pada suami dan anak-anakku.

 

Anakku
yang bungsu Muhammad ikut bersamaku. Syukurnya kali ini dia sangat patuh dan
tidak merepotkan, tidak seperti perjalanan dipesawat 10 bulan yang lalu. Dia
sudah bisa pakai ikat pinggang sendiri, dan tahu kalau dipakai saat akan take
off dan landing. Anakku bilang :"Mama, Muhammad harus pakai ikat pinggang
ini, kalau tidak nantik Muhammad jatuh". "Iyah Nak, pakailah".
Dia sudah bisa makan sendiri diatas pesawat, tanpa harus kusuapin.

 

Sesampai
di Jakarta sore hari. Aku mengejarkan pesawat yang langsung berangkat hari itu
juga ke Padang.
Tapi dasar memang takdir, tak ada satupun pesawat, semuanya full. Terpaksalah
aku menginap di hotel dekat air port itu.

 

Di
Hotel, aku sudah tak tahan lagi menahankan air mataku. Aku menangis
sejadi-jadinya ingat suamiku. Suamiku menenangkan diriku dan mengatakan
"Mental Ima jangan lemah begitu, Ima harus bisa menghadapi semua ini
dengan tenang dan sabar".Anakkupun heran melihat aku menangis terisak-isak
begitu :"Mama kenapa menangis?" Tanyanya. Sementara anakku ini
senang-senang saja sejak awal keberangkatan, hanya sering panggil baba dan
abangnya saja.

 

Esok
sore, aku berangkat ke Padang
dengan pesawat Garuda Air Lines. Karena pesawat pada mahal semuanya. Kalau
dihitung-hitung, karena Garuda untuk anak-anak ada discountnya, sementara Lion,
Sriwijaya, Batavia
anak-anak harganya sama saja dengan dewasa. Hitung punya hitung hanya beda 100
ribu lebih mahal setelah dikalkulasikan, aku putuskan berangkat dengan Garuda
saja. Karena aku dah pernah naik Garuda sebelumnya, pelayanannya jauh lebih
baik dan mantap. 

 

Jarang
yang di delay, seringnya On Time, dimana pramugarinya lebih ramah, dapat makan
malam lagi. Kadang nasi, kadang mie ayam, serta roti lainnya. Pokonya
servicenya jauh lebih baik ketimbang pesawat lain. Hanya air minum, terkadang
air minumpun dijual pula dipesawat itu(kudengar dari salah seorang penumpang
saat aku menunggu di Air Port Jakarta,
yang mana kebetulan aku lama menunggu, dua orang penumpang laki-laki sedang
menunggu juga. Mereka kebetulan sering tugas pindah-pindah ke LN, bagian
Eksploitasi, juga Perminyakan, entah apalah akupun tak tahu pasti).

 

Sampai
di Padang, hari hujan. Aku langsung pesan taxi di air port BIM Sumatera Barat,
menuju ke hotel, sebab aku tak mungkin langsung ke BKT hari itu juga. Jam saat
itu sudah pukul 8 malam. Aku sebenarnya punya saudara di Padang itu, namun 
sudah menjadi kebiasaanku
tidak ingin merepotkan kakak-kakakku, dimana barangkupun banyak, anakku
lincahnya minta ampun, khawatir lari sana-sini, ada barang yang terpecah. Semua
anak-anakku adalah type yang tidak mau diam, lincah, gerak sana-sini, tidak
bisa diam, kecuali mau tidur saja tenangnya. Dirumah di Kairopun seperti itu.
Bola kaki, bola basket, badminton, dan segala macam bola dimainkan dirumah,
maklumlah di Mesir sulit cari halaman luas semacam di Indonesia, adanya adalah 
flat-flat
saja.

 

Dua
hari menginap di hotel di Padang
itu, Minggunya aku ketempat anakku yang sulung di pesantren Ar Risalah. Kuajak
dia makan siang dulu, cerita-cerita sembari memberikan pesanan dan oleh-oleh
serta hadiah untuk guru dan teman-temannya. Aku langsung ke Bukittinggi.

 

Sesampai
di rumah kami di Bukittinggi, kesunyian mulai lagi menyapaku. Tetapi harus
kucuekin saja. Aku harus kuat dan bisa menghadapi semua ini dengan tenang dan
sabar. Ku ambil sajadah, aku berwudhuk dan shalat, baca AlQuran saja. Aku mulai
beres-beres barang-barang dirumahku. Lumayan capek juga sih. Terkadang ngeri
juga aku hanya berdua saja dirumah sebesar itu. Aku hanya dilantai atas saja,
jarang kebawah, bahkan seharian pintu gerbangpun tak kubuka, aku benar-benar
berada didalam rumah saja bersama anakku.

 

Masak
berdua, makanpun berdua pula. Dia sangat manjanya karena hanya ada aku, mamanya
saja, makan buah rambutanpun minta disuapi, makan nasi disuapin, semua serba
dilayani, tak biasanya dia begitu. Biasanya pakai baju sendiri, makan sendiri,
main sendiri.

 

Suasana
di rumahku ini sangatlah tenangnya. Sekali-kali aku duduk diteras depan dan
belakang rumah, memandangi dua gunung Merapi dan Singgalang sekaligus. Lokasi
rumahku ini memang strategis, viewnya sangat indah sekali, ada sawah, kebun,
gunung, bukit, membuat hatiku semakin damai dan tenang.Aku berdua bersama
anakku yang baru berumur 4thn 4 bulan ini, saling bercanda, gayut-gayutan dan
duduk berdua diteras memandangi anak-anak lain bermain, terkadang kusuruh
anakku bermain bersama anak-anak lainnya, aku mengawasinya dari teras atas.

 

Yah,..aku
mulai betah dirumahku ini, meski sekali-kali sering datang kerinduan pada
suamiku dan anak-anakku, namun cepat saja kutepiskan, karena aku tak mau
mengeluarkan air mata lagi untuk kerinduan ini. Toh tak ada gunanya juga, tetap
saja mereka di kairo, aku di Indonesia.Ini realita hidup yang harus bisa
kujalani dengan tabah dan baik..

 

Sebenarnya
yang buat hatiku tenang adalah Allah Ta'ala yang kurasakan selalu dekat
bersamaku, serta kitab suci AlQuran yang selalu setia menemaniku. Kalau tidak
ada, tentulah kondisiku kacau balau, pikiranku suntuk, emosional, dan lainnya.
Namun aku sudah biasa banyak menghadapi kegetiran hidup, asam garam kehidupan
sudah puas kurasakan. Sungguh, tak ada satupun dalam hidupku 39 tahun umurku,
hanya Allah , shalat, dan baca AlQuran yang bisa mengobati segala problema dan 
keresahan
jiwa ini. 

 

Postingan
ini, baru bisa kukirimkan ke milist saat setelah 15 hr aku di Indonesia,
alhamdulillah sudah bisa online dari rumah. Sebelumnya aku di warnet, dan tak
berani bawa flash disk ke warnet, takut kemasukan virus. Saat aku di warnet,
anakku main-main kabel lap top pemilik warnet, lantas aku bilang padanya
:"Nak, jangan mainkan laptop orang, ntar rusak, nantik aja dirumah, kan 
Muhammad ada lap
topnya?"

 

Eh,
kagak taunya pemilik warnet dengarin omonganku pada anakku, lantas dia bertanya
:"Ibu punya lap top dirumah?" 

Iyah" Kujawab. "Kenapa Ibu tidak pasang langganan saja, bayarnya
perbulan 100 rb, bisa 24 jam, ketimbang Ibu harus ke warnet, kan mahal.
Akhirnya saya Tanya, bagaimana, dan pemasangan pertama berapa, alatnya berapa.

 

Yah,..800
ribu ditambah 100 ribu untuk langganan bulanannya, sudah siap pakai Bu.

"Hmmm…ok
deh, saya tanyakan sama suami dulu, kebetulan saya lagi chatting dengannya".
Suamiku langsung jawab :"Pasang saja internet dirumah". Alhamdulillah
sehabis Isya mereka datang, kebetulan jarak antara rumahku dan warnet dekat
sih, kalau ada apa-apa aku bisa langsung lapor.

 

Aku
bersyukur, selama aku di Indonesia,
banyak yang membantuku. Alhamdulillah, aku bisa cepat menyesuaikan diri dengan
lingkungan baruku. Hanya saja, aku jarang keluar rumah, kecuali hanya untuk
antar anakku TK. Dari dulu aku memang senang dirumah, shalat, baca AlQuran,
membaca dan didepan computer, sekaligus aku menulis thesisku. Enaknya di
Indonesia, pagi siang sore, aku bisa langsung lihat/dengar berita di televisi.
Kalau dulu, aku harus buka internet, baca kompas, detik, dllnya, hanya untuk
mengetahui kondisi Indonesia.
Sehari saja, aku tak baca atau dengar berita tentang kondisi Indonesia,
kepalaku bisa pusing. Alhamdulillah sudah dekat di Indonesia, tahu betul kondisi
bangsaku seperti apa. 

 

Yah…miris
juga sih, kalau lihat dan dengar kondisi bangsa Indonesia kini.Hanya saja, lihat
mereka hadapi ini semua aman-aman saja. Semakin krisis global, rumah makan,
tempat hiburan, Kentucky,
mall pun ngak pernah sepi pengunjung. Tetap ramai juga, meski krisis-krisis
begitu.

 

Biaro,Bukittinggi,
20 November 2008. Rahima.




      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
http://www.syiarislam.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke