Dari milis sebelah, sepertinya belum terkirim ke syiar-Islam Bagus juga ini artikel......selamat meinimbang2......
.......................................... GOLPUT atau Pesimis? ada tulisan menarik, bisa dibaca langsung di http://inci73. multiply. com/journal/ item/179/ GOLPUT_atau (anon.) Satu hal yang sangat berguna bagi kita adalah pemahaman yang baik tentang undang-undang pemilu kita. kalo kita baca Pasal 200 dan seterusnya dalam undang2 tersebut, maka sebenarnya tidak ada ruang bagi golput untuk menyebut diri sebagai bentuk perlawanan.. Dalam pasal2 tersebut diterangkan bahwa seberapa persen pun suara yang masuk maka jumlah kursi di DPR akan tetap terisi penuh. hal ini dilakukan dengan cara membagi jumlah kursi yang tersisa pada partai2 yang lolos electoral trasehold (2,5%, bukan zakat hehe) menurut prosentase perolehan suara mereka. Dengan kata lain, walaupun hanya 10% dari pemilih potensial yang memberikan suara dalam pemilu, kursi DPR tetap saja akan terisi penuh, n gak kosong. kalo, yang menang dari 10% tersebut adalah orang2 yang korup, maka merekalah yang bakal memegang tongkat komando kebijakan negara ini. kalo yang menang dari 10% tersebut adalah orang2 yang anti terhadap Islam, maka sudah tentu semua kebijakan akan menjadi musibah bagi muslim negeri ini. Begitu juga dalam pemilihan Presiden, yang berhak mencalonkan adalah mereka yang memiliki 20% perolehan suara pemilu. jadi yang dapet 20% suara dari 10% orang yang ikut pemilu tetap berhak mengajukan capresnya. dan capres yang memenangkan 51% suara dari 10% orang yang ikut pemilu tetap berhak menjadi Presiden RI wallaupun 90% lainnya golput. Inilah romantika demokrasi, preview nya adalah Mesir, Husni Mubarak memenangkan pemilu yang hanya diikuti tidak lebih dari 30% pemilih potensial karena calon2 legislatif dari opisisi seperti kelompok Ikhwanul Muslimin habis ditangkapi dan dipenjarakan, selain itu para pendukung kelompok ini juga dipersulit bahkan dilarang ikut menconblos di banyak TPS negeri itu. alhasil Husni Mubarak tetap jadi presiden seluruh Mesir walau cuma beberapa persen dimenangkan. Itulah demokrasi dan kita dituntut harus tetap cerdik mensikapi sistem demokrasi ini, kalo dulu Ust. Anis Matta membuat buku Menikmati Demokrasi mungkin sekarang sudah saatnya kita membuat Modul Bagaimana Menjadi Matador Demokrasi yang Sukses. saya rasa manuver petinggi2 di pusat sudah memperlihatkan penguasaan medan yang sangat baik. Kembali ke pokok permasalahan, pilihan golput sebagai perlawanan saat ini menunjukkan masih rendahnya PQ ummat ini. seperti kata Pak Mico, bahwa setiap pilihan akan dimintai pertanggung jawaban termasuk memilih untuk merelakan kepemimpinan ummat ke tangan para durjana. Jadi alih-alih melakukan perlawanan, mereka yang golput malah harus mengikuti apapun kebijakan dari orang2 yang mereka biarkan untuk menang dalam pemilu walaupun yang mereka biarkan menang itu adalah Rahwana sekalipun. Saya pernah tertawa dan menangis saat membaca opini para pendukung golput dari sebuah blog. si penulis mengatakan bahwa semakin banyak orang yang golput maka Indonesia akan segera hancur, lalu saat itulah Khilafah islamiyah akan didirikan. dari situ saja kita bisa menebak nebak seberapa baik dan canggih PQ (Political Quotient) dari saudara2 kita. Apakah golput akan menghasilkan perbaikan? Dalam perspektif terbatas bisa saja itu tejadi tapi pada kondisi Indonesia sekarang, sudah seharusnya berfikir berkali-kali. Karena boleh jadi golput malah menguntungkan partai-partai curang. Mengapa demikian? Karena eh karena dengan golput parpol culas bisa: 1. Mengurangi biaya pembelian suara. Kelompok yang golput bisa jadi menguntungkan parpol yang terbiasa tebar uang dan hadiah... Daerah-daerah yang dipetakan kurang prospektif dari segi potensi atau tidak lebih menguntungkan dalam jangka panjang, tidak akan terlalu serius diurusi karena keterbatasan dana. Bisa jadi ada namun tidak terlalu signifikan.. Biarlah daerah yang kurang potensial tersebut dinina bobokan dengan pasukan golput saja, agar tidak banyak memberi pengaruh pada perolehan suara. 2. Fokus pada daerah-daerah strategis dan potensial. Karena alasan budget juga, parpol cenderung memfokuskan pada daerah-daerah kaya potensi. Masyarakat daerah tersebut yang masih menengah kebawah akan menjadi sasaran money politics. Sedangkan yang menengah ke atas didekati dengan rekrutan menjadi caleg atau iming-iming proyek dimasa kemenangannya. Intinya jangan sampai ada golput dan pilihan partai lain di daerah tersebut karena fokus anggaran partai sudah ditetapkan. Oleh karena itu secara umum, parpol yang memiliki budget raksasa adalah mereka yang paling berpontensi memenangkan perang gaya ini. 3. Memudahkan memupuk kekayaan dalam jangka panjang, minimal 5 tahun kedepan. Hasilnya tentu saja kekayaan yang berlimpah dari kesempatan bereksporasi dalam lima tahun kedepan, menyiapkan pemilu berikutnya. Sebagian kecil bisa saja dibagi agar pimilih merasakan dan mengurangi potensi golput masa berikutnya serta memupuk loyalitas pemilih, sebagian besar yang lain adalah logistik partai dan kekayaan orang-orangnya. Mikir-mikir lebih jauh akan ada juga keuntungan untuk partai atau kelompok dengan agenda deislamisasi atau islamophobi. Dengan besarnya golput terutama dari muslim Indonesia maka dapat: 1. Mengurangi keterwakilan muslim dalam pengambilan kebijakan 2. Mengurangi peran-peran muslim dalam kehidupan berbangsa secara umum 3... Mempreteli satu demi satu regulasi bernafaskan syariah 4. Memudahkan jalan untuk mengembalikan Pancasila sebagai azas tunggal 5. Memudahkan jalan melemparkan Islam dari ranah publik Hal lain yang perlu diingat adalah TNI dan Polri sudah barang tentu berada pada pihak yang memenangkan pemilu (itu kata undang undang). Mereka siap mengamankan apapun kebijakan yang berkuasa. Dan dukungan internasional juga akan mengalir bila lima agenda diatas mulai terformat dan bergerak. Toh, kata temen saya Mas Ucup, entah yang memilih itu 100% atau cuma 50%, hasilnya akan tetap legitimate untuk menjadi penguasa. Menakar resiko muslim Indonesia bila golput sukses: Dari 222 juta rakyat (menurut sensus 2006) = 170 juta pemilih. Dengan hitung-hitungan bodoh aja maka, bila persentase muslim Indonesia adalah 86% maka jumlah pemilih muslim adalah 170 juta x 86% = 146 jutaan, sedangkan non muslim adalah 170 juta x 14% = 24 jutaan. Dengan pendekatan pessimistic non scientific, anggap saja 40% dari muslim itu golput. Dengan data dari persentase golput pilkada lalu, terlihat daerah-daerah yang mayoritas penduduknya muslim ternyata memiliki angka golput yang tinggi, rata-rata 40%, sedangkan daerah yang mayoritas non muslim seperti Bali, NTT, Maluku, dan Papua malah memiliki angka golput yang rendah dengan rata-rata 20%. Maka prediksi bila golput sukses dan berdasarkan hasil rata-rata maksimal total suara yang didapat partai Islam dalam beberapa pemilu sebelumnya, sekitar 20%, yang ikut memilih di pemilu mendatang 60% karena selebihnya golput. Didapatlah perhitungan kotor sebagai berikut: Suara partai islam = 20% x (60%x146 juta) = 17.52 juta atau hanya 10%. Suara muslim di partai sekuler = 80% x (60%x146 juta) = 70.08 juta atau hanya 40%. Sisa suara adalah mereka yang golput dan non muslim. Nah, kalo saya tebak sih, dalam pemilu legislatif angka golput non muslim bakal sangat rendah atau bahkan mendekati nol persen. Hal ini terkait dengan isu keterwakilan mereka dan juga agenda-agenda lainnya. Dan kemungkinan besar bahkan bisa jadi pasti mereka tidak akan menjatuhkan hak pilih ke caleg muslim, ini sebuah misteri idealisme. Jadi anggap saja dari 24 juta pemilih itu semua memberikan suaranya pada wakil mereka. Jadi presentasenya adalah sekitar 14%, melampaui suara gabungan partai Islam. Hasilnya memang sungguh mengerikan, partai Islam 10%, partai sekuler (yang didalamnya udah pasti ada nonI) dan partai non Islam 40%+14%, sisanya sekitar 36% adalah suara umat Islam yang tak terpakai. Didalam 36% itu ada mereka yang tak kebagian money politik, ada mereka yang katanya protes dan menunjukkan bentuk perlawanan, ada yang katanya pemilu itu haram dan oleh karena itu tak ikut pemilu demi syariat Islam. Untuk yang terakhir ini tak bisa banyak berharap akan hadirnya Syariat, karena kondisinya saat itu sudah semakin membingungkan. Walaupun dengan dalih hasil sebuah survey yang mengatakan 72% orang Indonesia ingin syariah Islam, tetap saja faktanya akan terlihat di pemilu ini. Bila afiliasi muslim Indonesia masih pada ideology-ideologi sekuler dan materialistic sebagaimana sebagian dari mereka memilih partai non Islam dan sebagian lainnya memilih golput karena alasan materialistis, maka sudah barang tentu hasil survey tersebut hanya kamuflase. Bisa jadi survey dilakukan hanya untuk membesar-besarkan isu hingga terjadi radikalisme yang diharapkan atau bisa jadi sebagai alasan dana asing bisa masuk lebih banyak dengan tujuan deislamisasi. Atau bisa jadi ada error di survey tersebut. Siapa tau? Di pemilu 2009 inilah hasil-hasil survey itu akan terbongkar kebenarannya atau kebobrokannya. Dimana kaum golput adalah tumbalnya. Bila si baik yang menang, maka mereka ikut menang dan menikmati hasil tanpa perjuangan. Lalu bila si bejat yang menang, maka mereka juga yang terlibat mengantarkan nya ke tampuk kemenangan tanpa perlawanan yang katanya melawan. Nah, saudara saudara seiman. Kalau memang kita serius menginginkan akan adanya perbaikan. Mulailah mendaftar kalo belum terdaftar, urus semua kelengkapan pemilih kita. Lalu mulai cari daftar caleg yang ada. Lihat-lihat dan kenali mereka dan tawaran serta program mereka. Cari informasi lebih dalam tentang mereka. Kalau memang otak ini sudah mumet, serahkan ke hati-hati kita masing-masing. Bukankah Allah SWT akan selalu mengabulkan doa-doa kita. Yakinkah? Jangan lupa kesholehan lahiriyah bisa jadi sebuah parameter. Selain itu kita lihat juga orang-orang yang menawarkannya dan atau disekitarnya, apakah juga kesolehan itu tampak? Selama kampanye ikutin yang kita sreg dengannnya, itung-itung wisata 5 tahunan. Yang sangat penting mulailah sholat istikhoroh sampai hari pemilihan tiba. InsyaAllah, Allah SWT akan memberikan yang terbaik atas usaha kita itu. Yakinkah? Pergi ke TPS, coblos aja kalo sudah yakin. Kalo belum biarkan Allah SWT mengilhami, karena janji Allah SWT bagi mereka yang istikhoroh pasti terjadi. Kalo belum dapat juga, lihat aja wajah-wajah mereka, pilih yang bisa menyejukkan kita... Nah, kalo gak ada juga, ya udah lipat lagi tuh surat suara. Tapi pilihan terakhir ini amat sangat tidak disarankan, karena udah nanggung tuh hehehehe. Terakhir jangan lupa masukin ke kotak suara, jangan dibawa pulang. Jadi inget artikel yang pernah saya baca, hati yang bersih akan memuluskan jalan keluar sebuah masalah. Allah SWT menganugerahkan hati sebagai salah satu alat selain kepala yang sering hang ini. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

