Dari Moderator:
Diskusi ini sebaiknya diteruskan secara japri.
Saya tidak ingin membahas demokrasi atau apa.
Yang jelas Islam itu sangat menekankan agar ummat Islam memilih pemimpin yang 
saleh. Karena pemimpin yang kafir akan menyesatkan/menindas mereka.

Dalam satu hadits Nabi memerintahkan para sahabat yang bepergian untuk
mengangkat satu orang jadi pemimpin. Meski cuma berdua, satu harus diangkat 
jadi pemimpin.

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat 
siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir 
menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah 
mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua 
kekuatan kepunyaan Allah. “ (An Nisaa 4:138-139)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan 
Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi 
sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai 
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya 
Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim " (QS. Al-Maidah: 51)

"Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan
saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan 
kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi 
pemimpin, maka mereka itulah orang2 yang zalim" (At Taubah:23)

"Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang2 kafir menjadi wali 
(teman atau pelindung)" (An Nisaa:144)

"Janganlah orang2 mukmin mengambil orang2 kafir jadi pemimpin, bukan orang 
mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah 
sedikitpun..." (Ali Imran:28)

Lihat ayat2 di atas.

Jangan sampai dgn berbagai alasan, akhirnya kita membiarkan orang2 kafir 
menjadi pemimpin kita sehingga bisa menindas ummat Islam. Ingat zaman Orba 
ketika kaum kafir dan sekuler menindas ummat Islam. 400 Muslim dibantai di 
Tanjung Priok, begitu pula di Lampung. Kaum wanita dilarang memakai jilbab.

Jadi jangan sampai ada ummat Islam yang dengan berbagai dalih akhirnya justru 
membiarkan orang2 kafir jadi penguasa negeri ini.

Apakah jika ummat Islam semuanya Golput kemudian pemerintahan dikuasai orang 
kafir dan sekuler Khilafah langsung berdiri di Indonesia? Apa bukan akhirnya 
justru malah ditangkapi dan dipenjara?

Jangan2 nasibnya kembali pada masa Soedomo jadi Pangkobkamtib di mana ummat 
Islam ditindas atau di Mesir di masa Hosni Mobarak sekarang di mana aktivis 
Islam ditangkapi dan dipenjara dan rakyat Palestina akhirnya banyak mati 
terbantai karena Presiden Mesir tidak mau menolong bahkan menutup pintu 
perbatasan sehingga ummat Islam Palestina tidak bisa melarikan diri ke Mesir

Wassalam
----- Forwarded Message ----

From: Syahri Mahmud <[email protected]>
To: Mulyono <[email protected]>
Sent: Monday, March 16, 2009 9:04:35 AM
Subject: Re: [syiar-islam] FW: Golput Bukan Jawaban: Sebuah Analisis menarik (4 
Muslim mohon disebarluaskan)


ada pertanyaan yang harus kita renungkan dan coba untuk dijawab :
1. Apakah Allah SWT menurunkan aturan tentang politik, pemerintahan, hukum, 
ekonomi, peradilan, sosial budaya, perang, internasional?
2. Kalau ya, apakah aturan Allah itu wajib dilaksanakan atau tidak?

untuk menjawab pertanyaan berikut, kita harus menjawab dulu pertanyaan 1 dan 2, 
setelah mendapat jawabannya, maka imanilah jawaban tersebut.

3. kalau wajib, bukankah aturan yang selain itu adalah haram?
3. kalau wajib, apakah ada calon pemimpin bangsa ini (pres/wapres) yang 
menyatakan bahwa jika ia terpilih akan menjalankan aturan Allah tersebut?
4. jika ya, mari kita sama2 pilih dia
5. jika tidak ada calon pemimpn (pres/wapres) yang ingin menerapkan aturan 
ALlah tersebut, bukankah kita berdosa jika memilih dia?

wallahu a'lam







________________________________
From: Mulyono <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, March 13, 2009 4:12:24 PM
Subject: [syiar-islam] FW: Golput Bukan Jawaban: Sebuah Analisis menarik (4 
Muslim mohon disebarluaskan)

Dari milis sebelah, sepertinya belum terkirim ke syiar-Islam
Bagus juga ini artikel......selamat meinimbang2......

..........................................


GOLPUT atau Pesimis?
ada tulisan menarik, bisa dibaca langsung di
http://inci73. multiply. com/journal/ item/179/ GOLPUT_atau

(anon.)

Satu hal yang sangat berguna bagi kita adalah pemahaman yang baik tentang
undang-undang pemilu kita. kalo kita baca Pasal 200 dan seterusnya dalam
undang2 tersebut, maka sebenarnya tidak ada ruang bagi golput untuk menyebut
diri sebagai bentuk perlawanan..

Dalam pasal2 tersebut diterangkan bahwa seberapa persen pun suara yang masuk
maka jumlah
kursi di DPR akan tetap terisi penuh. hal ini dilakukan dengan
cara membagi jumlah kursi yang tersisa pada partai2 yang lolos electoral
trasehold (2,5%, bukan zakat hehe) menurut prosentase perolehan suara
mereka. Dengan kata lain, walaupun hanya 10% dari pemilih potensial yang
memberikan suara dalam pemilu, kursi DPR tetap saja akan terisi penuh, n gak
kosong. kalo, yang menang dari 10% tersebut adalah orang2 yang korup, maka
merekalah yang bakal memegang tongkat komando kebijakan negara ini. kalo
yang menang dari 10% tersebut adalah orang2 yang anti terhadap Islam, maka
sudah tentu semua kebijakan akan menjadi musibah bagi muslim negeri ini.

Begitu juga dalam pemilihan Presiden, yang berhak mencalonkan adalah mereka
yang memiliki 20% perolehan suara pemilu. jadi yang dapet 20% suara dari 10%
orang yang ikut pemilu tetap berhak mengajukan capresnya. dan capres yang
memenangkan 51% suara dari 10% orang yang
ikut
pemilu tetap berhak menjadi
Presiden RI wallaupun 90% lainnya golput.
Inilah romantika demokrasi, preview nya adalah Mesir, Husni Mubarak
memenangkan pemilu yang hanya diikuti tidak lebih dari 30% pemilih potensial
karena calon2 legislatif dari opisisi seperti kelompok Ikhwanul Muslimin
habis ditangkapi dan dipenjarakan, selain itu para pendukung kelompok ini
juga dipersulit bahkan dilarang ikut menconblos di banyak TPS negeri itu.
alhasil Husni Mubarak tetap jadi presiden seluruh Mesir walau cuma beberapa
persen dimenangkan.
Itulah demokrasi dan kita dituntut harus tetap cerdik mensikapi sistem
demokrasi ini, kalo dulu Ust. Anis Matta membuat buku Menikmati Demokrasi
mungkin sekarang sudah saatnya kita membuat Modul Bagaimana Menjadi Matador
Demokrasi yang Sukses. saya rasa manuver petinggi2 di pusat sudah
memperlihatkan penguasaan
medan yang sangat baik.
Kembali ke pokok permasalahan, pilihan golput sebagai perlawanan saat ini
menunjukkan masih rendahnya PQ ummat ini. seperti kata Pak Mico, bahwa
setiap pilihan akan dimintai pertanggung jawaban termasuk memilih untuk
merelakan kepemimpinan ummat ke tangan para durjana.
Jadi alih-alih melakukan perlawanan, mereka yang golput malah harus
mengikuti apapun kebijakan dari orang2 yang mereka biarkan untuk menang
dalam pemilu walaupun yang mereka biarkan menang itu adalah Rahwana
sekalipun.

Saya pernah tertawa dan menangis saat membaca opini para pendukung golput
dari sebuah blog. si penulis mengatakan bahwa semakin banyak orang yang
golput maka Indonesia akan segera hancur, lalu saat itulah Khilafah
islamiyah akan didirikan. dari situ saja kita bisa menebak nebak seberapa
baik dan canggih PQ (Political Quotient) dari saudara2 kita.
Apakah golput akan menghasilkan perbaikan? Dalam
perspektif terbatas bisa
saja itu tejadi tapi pada kondisi Indonesia sekarang, sudah seharusnya
berfikir berkali-kali. Karena boleh jadi golput malah menguntungkan
partai-partai curang. Mengapa demikian? Karena eh karena dengan golput
parpol culas bisa:

1. Mengurangi biaya pembelian suara. Kelompok yang golput bisa jadi
menguntungkan parpol yang terbiasa tebar uang dan hadiah... Daerah-daerah
yang dipetakan kurang prospektif dari segi potensi atau tidak lebih
menguntungkan dalam jangka panjang, tidak akan terlalu serius diurusi karena
keterbatasan dana. Bisa jadi ada namun tidak terlalu signifikan.. Biarlah
daerah yang kurang potensial tersebut dinina bobokan dengan pasukan golput
saja, agar tidak banyak memberi pengaruh pada perolehan suara.

2. Fokus pada daerah-daerah strategis dan potensial. Karena alasan
budget juga, parpol cenderung memfokuskan pada daerah-daerah kaya potensi.
Masyarakat daerah
tersebut yang masih menengah kebawah akan menjadi sasaran
money politics. Sedangkan yang menengah ke atas didekati dengan rekrutan
menjadi caleg atau iming-iming proyek dimasa kemenangannya. Intinya jangan
sampai ada golput dan pilihan partai lain di daerah tersebut karena fokus
anggaran partai sudah ditetapkan. Oleh karena itu secara umum, parpol yang
memiliki budget raksasa adalah mereka yang paling berpontensi memenangkan
perang gaya ini.

3. Memudahkan memupuk kekayaan dalam jangka panjang, minimal 5 tahun
kedepan. Hasilnya tentu saja kekayaan yang berlimpah dari kesempatan
bereksporasi dalam lima tahun kedepan, menyiapkan pemilu berikutnya.
Sebagian kecil bisa saja dibagi agar pimilih merasakan dan mengurangi
potensi golput masa berikutnya serta memupuk loyalitas pemilih, sebagian
besar yang lain adalah logistik partai dan kekayaan orang-orangnya.

Mikir-mikir lebih jauh akan ada juga keuntungan
untuk
partai atau kelompok
dengan agenda deislamisasi atau islamophobi. Dengan besarnya golput terutama
dari muslim Indonesia maka dapat:

1. Mengurangi keterwakilan muslim dalam pengambilan kebijakan

2. Mengurangi peran-peran muslim dalam kehidupan berbangsa secara umum

3... Mempreteli satu demi satu regulasi bernafaskan syariah

4. Memudahkan jalan untuk mengembalikan Pancasila sebagai azas tunggal

5. Memudahkan jalan melemparkan Islam dari ranah publik

Hal lain yang perlu diingat adalah TNI dan Polri sudah barang tentu berada
pada pihak yang memenangkan pemilu (itu kata undang undang). Mereka siap
mengamankan apapun kebijakan yang berkuasa. Dan dukungan internasional juga
akan mengalir bila lima agenda diatas mulai terformat dan bergerak. Toh,
kata temen saya Mas Ucup, entah yang memilih itu 100% atau cuma 50%,
hasilnya akan tetap legitimate untuk menjadi penguasa.

Menakar resiko muslim
Indonesia bila golput sukses:

Dari 222 juta rakyat (menurut sensus 2006) = 170 juta pemilih. Dengan
hitung-hitungan bodoh aja maka, bila persentase muslim Indonesia adalah 86%
maka jumlah pemilih muslim adalah 170 juta x 86% = 146 jutaan, sedangkan non
muslim adalah 170 juta x 14% = 24 jutaan. Dengan pendekatan pessimistic non
scientific, anggap saja 40% dari muslim itu golput. Dengan data dari
persentase golput pilkada lalu, terlihat daerah-daerah yang mayoritas
penduduknya muslim ternyata memiliki angka golput yang tinggi, rata-rata
40%, sedangkan daerah yang mayoritas non muslim seperti Bali, NTT, Maluku,
dan Papua malah memiliki angka golput yang rendah dengan rata-rata 20%.

Maka prediksi bila golput sukses dan berdasarkan hasil rata-rata maksimal
total suara yang didapat partai Islam dalam beberapa pemilu sebelumnya,
sekitar 20%, yang ikut memilih di pemilu mendatang 60% karena selebihnya
golput.
Didapatlah perhitungan kotor sebagai berikut: Suara partai islam =
20% x (60%x146 juta) = 17.52 juta atau hanya 10%. Suara muslim di partai
sekuler = 80% x (60%x146 juta) = 70.08 juta atau hanya 40%. Sisa suara
adalah mereka yang golput dan non muslim. Nah, kalo saya tebak sih, dalam
pemilu legislatif angka golput non muslim bakal sangat rendah atau bahkan
mendekati nol persen. Hal ini terkait dengan isu keterwakilan mereka dan
juga agenda-agenda lainnya. Dan kemungkinan besar bahkan bisa jadi pasti
mereka tidak akan menjatuhkan hak pilih ke caleg muslim, ini sebuah misteri
idealisme. Jadi anggap saja dari 24 juta pemilih itu semua memberikan
suaranya pada wakil mereka. Jadi presentasenya adalah sekitar 14%, melampaui
suara gabungan partai Islam.

Hasilnya memang
sungguh mengerikan, partai Islam 10%, partai sekuler (yang
didalamnya udah pasti ada nonI) dan partai non Islam 40%+14%, sisanya
sekitar 36% adalah suara umat Islam yang tak terpakai. Didalam 36% itu ada
mereka yang tak kebagian money politik, ada mereka yang katanya protes dan
menunjukkan bentuk perlawanan, ada yang katanya pemilu itu haram dan oleh
karena itu tak ikut pemilu demi syariat Islam. Untuk yang terakhir ini tak
bisa banyak berharap akan hadirnya Syariat, karena kondisinya saat itu sudah
semakin membingungkan. Walaupun dengan dalih hasil sebuah survey yang
mengatakan 72% orang Indonesia ingin syariah Islam, tetap saja faktanya akan
terlihat di pemilu ini. Bila
afiliasi muslim Indonesia masih pada ideology-ideologi sekuler dan
materialistic sebagaimana sebagian dari mereka memilih partai non Islam
dan sebagian lainnya memilih golput karena alasan
materialistis, maka sudah barang tentu hasil survey tersebut hanya
kamuflase. Bisa jadi survey dilakukan hanya untuk membesar-besarkan isu
hingga terjadi radikalisme yang diharapkan atau bisa jadi sebagai alasan
dana asing bisa masuk lebih banyak dengan tujuan deislamisasi. Atau bisa
jadi ada error di survey tersebut. Siapa tau? Di pemilu 2009 inilah
hasil-hasil survey itu akan terbongkar kebenarannya atau kebobrokannya.
Dimana kaum golput adalah tumbalnya. Bila si baik yang menang, maka mereka
ikut menang dan menikmati hasil tanpa perjuangan. Lalu bila si bejat yang
menang, maka mereka juga yang terlibat mengantarkan nya ke tampuk kemenangan
tanpa perlawanan yang katanya melawan.

Nah, saudara saudara seiman. Kalau memang kita serius menginginkan akan
adanya perbaikan. Mulailah mendaftar kalo belum terdaftar, urus semua
kelengkapan pemilih kita. Lalu mulai cari daftar caleg yang ada.
Lihat-lihat
dan kenali mereka dan tawaran serta program mereka. Cari informasi lebih
dalam tentang mereka. Kalau memang otak ini sudah mumet, serahkan ke
hati-hati kita masing-masing. Bukankah Allah SWT akan selalu mengabulkan
doa-doa kita. Yakinkah? Jangan lupa kesholehan lahiriyah bisa jadi sebuah
parameter. Selain itu kita lihat juga orang-orang yang menawarkannya dan
atau disekitarnya, apakah juga kesolehan itu tampak? Selama kampanye ikutin
yang kita sreg dengannnya, itung-itung wisata 5 tahunan. Yang sangat penting
mulailah sholat istikhoroh sampai hari pemilihan tiba. InsyaAllah, Allah SWT
akan memberikan yang terbaik atas usaha kita itu. Yakinkah? Pergi ke TPS,
coblos aja kalo sudah yakin.

Kalo belum biarkan Allah SWT mengilhami, karena
janji Allah SWT bagi
mereka yang istikhoroh pasti terjadi. Kalo belum dapat
juga, lihat aja wajah-wajah mereka, pilih yang bisa menyejukkan kita... Nah,
kalo gak ada juga, ya udah lipat lagi tuh surat suara. Tapi pilihan terakhir
ini amat sangat tidak disarankan, karena udah nanggung tuh hehehehe.
Terakhir jangan lupa masukin ke kotak suara, jangan dibawa pulang. Jadi
inget artikel yang pernah saya baca, hati yang bersih akan memuluskan jalan
keluar sebuah masalah. Allah SWT menganugerahkan hati sebagai salah satu
alat selain kepala yang sering hang ini.

[Non-text portions of this message have been removed]






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai US$ 1.490
Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam? Kirim email ke [email protected]! 
Groups Links




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke