--- On  Sat, 3/7/09, Billy N. <[email protected]
<http://us.mc434.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
> wrote:


From: Billy N. <[email protected]
<http://us.mc434.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
>
Reply-to: [email protected]
<http://health.groups.yahoo.com/group/sehat/>
To: e-Sehat <[email protected]
<http://health.groups.yahoo.com/group/konsulsehat/> >
Date: Sat, Mar 7, 2009 at 10:48 AM
Subject: [sehat] hati-hati pada dokter?

halo rekan-rekan...

Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru
meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti
tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai
'caveat venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah). Link-nya di
situs Kompas:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/03/04/16255199/kontroversi.puyer.dan\
.polifarmasi
<http://www.kompas.com/read/xml/2009/03/04/16255199/kontroversi.puyer.da\
n.polifarmasi>

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit
demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di
salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk
UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya
tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak
mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak
demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah
'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada
petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an &
pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' .
Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil
trombositnya tetap sama, 82 ribu.

Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu
baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya
tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang
harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia
nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini
disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari
padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya
obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat
untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah
saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia
rekomendasikan, katanya 'bagus & pintar', ditambah lagi dia dokter tetap
di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab
macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya
minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.

Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite &
nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta
perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya
langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron  suntik, obat
mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi.
Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga
Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung.
Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah
ngomong kalau dia sudah punya banyak.

Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang
saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak.
Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.

Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?',
saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya
malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa
saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat
itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station &
diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh
kepala perawat.

Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang
tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung.
Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat
yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang
'bengong'.

Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD
juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal
& sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia
ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit
dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia
hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu
terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya hitung.

Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak
komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya
ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi
membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata
pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa
diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk
membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli
yang sudah 'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada
pasien
sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam
hanya
untuk menunggu dokter visite.

Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh
saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang
juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak
dia perlukan & jadi racun di tubuhnya.

Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang
dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu
kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula,
sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit
dalamnya.

Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan
masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat
ke LN. Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan
semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.

rgds
Billy

Kunjungi http://konsulsehat.web.id <http://konsulsehat.web.id/>
------------ --------- --------- --------- --------- --------- ---------
--   


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke