HAKIM YANG MULIA dan PENGEMIS YANG HINA

Alkisah di negeri dunia, Pak Hakim yang selalu dihormati dan dimuliakan  
bertemu dengan Pak Pengemis, terjadilah percakapan antara mereka.

Pak Hakim berkata, "Hai engkau, Pak Pengemis. Aku lihat engkau meminta-minta di 
setiap sudut kota ini. Padahal engkau meminta-minta bukanlah dalam keadaan 
lapar ataupun menderita. Badan engkau cukup kuat untuk bisa bekerja keras. Aku 
lihat pakaianmu sangatlah hina, tetapi uang yang kau dapat ada di atas upah 
minimum negeri dunia ini," dengan wajah menghina.

"Ya, benar, pakaianku yang aku pakai ini sangatlah hina, tetapi uang yang aku 
dapat adalah uang yang halal. Pemberian dari orang yang tidak kupaksa untuk 
memberikannya, mereka dengan ikhlas memberikan kepadaku dengan harapan di 
dadanya sebagai amal untuk ke kampung surga di dunia akhirat," jawab si Pak 
Pengemis dengan bangganya.

Singkat cerita, Pak Hakim dan Pak Pengemis berhijrah ke dunia akhirat.

Penjaga negeri akhirat sedang mengatur dan memerika dokumen perjalanan para 
pehijrah, dan tibalah waktunya Pak Hakim dan Pak Pengemis.

Berkatalah Penjaga negeri akhirat kepada Pak Hakim, "Hai engkau Pak Hakim, 
kemanakah tujuanmu pergi."

"Aku hendak ke kampung surga di negeri akhirat, "jawab dengan lantang dan 
bangganya Pak Hakim ini.

"TIDAK BISA, engkau tidak bisa ke kampung surga di negeri akhirat ini," dengan 
beringasnya jawaban penjaga itu.

"Kenapa aku tidak bisa, bukankah aku sebagai Pak Hakim yang mulia sewaktu aku 
di negeri dunia," jawab Pak Hakim dengan keheranan.

"Benar, pakaianmu adalah mulia sewaktu di negeri dunia, tetapi engkau sendiri 
yang menanggalkan kemuliaanmu, engkau memberi keadilan dengan dasar suap, siapa 
yang bisa membayarmu, maka keadilan ada di tangan yang membayarmu," jawab si 
Penjaga negeri akhirat dengan nada yang sangat marah.

"Maka, tempatmu adalah sebagai penduduk di kampung neraka di dunia akhirat 
ini," jawab si Penjaga dengan tertawa-tawa.

"AH.. AH.. AH.., SI YANG MULIA DI NEGERI DUNIA, TETAPI YANG HINA DI NEGERI 
AKHIRAT," tertawalah dengan kerasnya si Penjaga. "AH.. AH.. ALAMATMU ADALAH DI 
KAMPUNG NERAKA DI NEGERI AKHIRAT INI."

Pak Pengemis setelah mendengar jawaban dari Penjaga tersebut semakin takut, 
berkatalah ia di dalam hatinya, "Bagaimana mungkin aku yang hina di negeri 
dunia bisa masuk ke dalam kampung surga di negeri akhirat. Sedangkan Pak Hakim 
yang mulia pun tidak bisa masuk."

Seakan dapat membaca pikiran si Pak Pengemis, berkatalah Penjaga ini, "TIDAK 
wahai Pak Pengemis, engkau dapat masuk ke dalam kampung surga di negeri akhirat 
ini, tempat dambaan setiap penghuni negeri dunia. Benar, engkau adalah yang 
hina di negeri dunia, tetapi engkau mendapatkan uang yang halal. ENGKAU ADALAH 
YANG HINA DI DUNIA, TETAPI ENGKAU AKAN MENJADI PENDUDUK KAMPUNG SURGA DI DUNIA 
AKHIRAT INI," jawab si Penjaga dengan lemah lembutnya dan senyuman yang indah.

Refleksi dari pekerjaanku
Saturday, March 21, 2009, ditempat kerjaku, PN.PSP.


Kirim email ke