begitu hebatnya perjuangan org yg mengaku mulim untuk kejayaan
Jahudi..apakah manusia begini layak di percaya??..dan bagaimana statusnya di
muhamadiyah ..masih aktif sebagai pengurus da anggota?

=================

*
Melalui lembaga bernama LibForAll, Yahudi menanamkan lobi  dan menyebarkan
paham liberalisme di **Indonesia**. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini
ke 257*



*Oleh : Adian Husaini*



Sekali waktu, tengoklah situs www.libforall.org. Banyak informasi tentang
pemikiran dan gerakan liberalisasi yang bisa kita[image: Adian
Husaini]petik dari situs satu lembaga yang secara terbuka mengusung
nama "liberal
untuk semua" ini. Jumat pagi (20/2/2009), situs ini masih memampang catatan
prestasi LibForAll dalam menjalankan misinya di Indonesia. Berbeda dengan
sejumlah lembaga pendukung Yahudi dan Israel lainnya, organisasi ini pun
tidak segan-segan dan malu-malu untuk menunjukkan dukungannya kepada Israel.
Berbagai aktivitas dilakukan untuk membuat membangun gambaran positif
tentang negara Zionis Israel.



Disebutkan dalam situsnya, pada 12 Juni 2007, LibforAll menyelenggarakan
konferensi keagamaan di Bali, yang disebutnya sebagai "a historic religious
summit in Bali". Konferensi ini dibuat dengan tujuan menegaskan terjadinya
peristiwa holocaust (pembantaian terhadap Yahudi di Eropa), mempromosikan
toleransi beragama, dan menyingkirkan ideologi kebencian.



Pelaksana Konferensi adalah organisasi bernama Simon Wiesenthal Center yang
merupakan partner LibForAll. Acara dibuka oleh pidato mantan Presiden RI
Abdurrahman Wahid yang isinya mengecam keras penolakan terhadap peristiwa
holocaust. LibForAll menulis, bahwa acara itu diliput ratusan media di
berbagai penjuru dunia. Pesan yang disampaikan kepada dunia jelas, bahwa
sebagai satu negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia menolak
pemikiran-pemikiran yang mendiskreditkan Yahudi dan Israel.



Peristiwa holocaust memang menjadi salah satu tonggak penting berdirinya
negara Israel. Selama puluhan tahun, kaum Yahudi berusaha keras untuk
mencitrakan dirinya sebagai kaum tertindas. Masalahnya, masalah itu masih
tetap terselimuti kabut tebal, yang pelan-pelan mulai terkuak. Seorang
pastor Katolik, Richard Williamson, pada Januari 2009, membuat tindakan yang
mengejutkan dengan menyatakan, bahwa korban Yahudi di Tangan Nazi hanya
sekitar 200.000-300.000 orang, dan bukan 6 juta seperti klaim Yahudi selama
ini. Ia juga membantah adanya kamar gas untuk membantai kaum Yahudi
tersebut.



Seorang cendekiawan Yahudi, Norman G. Finkelstein membongkar praktik-praktik
bisnis holocaust melalui bukunya, The Holocaust Industry (2000). Meskipun
keluarganya menjadi korban Nazi, tapi Finkelstein berani memaparkan
konspirasi seputar Holocaust. Kaum Yahudi mengeruk keuntungan yang luar
biasa dari bisnis holocaust ini. Selama ini, Holocaust menjadi barang suci
yang tidak boleh disentuh. Padahal, bukti-bukti sejarah menunjukkan, angka 6
juta orang sangat sulit dibuktikan dalam sejarah. Banyak cerita-cerita palsu
seputar Holocaust yang selama ini disampaikan di publik, terutama kepada
masyarakat Amerika Serikat.



Ketika misteri Holocaust makin terkuak di dunia internasional, justru di
Indonesia, kelompok LibForAll dapat menggelar satu Konferensi yang mendukung
klaim kaum Zionis atas Holocaust. Tentu, bagi Israel, ini prestasi yang
membanggakan. Apalagi, pada bulan Desember 2007, LibForAll juga
memberangkatkan lima orang Indonesia ke Israel.  Situs harian Jerusalem Post
pada  8 Desember 2007 menurunkan sebuah berita berjudul Indonesian "Peace
Delegation Meet With Peres"   (Delegasi Perdamaian dari Indonesia Temui
Shimon Peres). LibForAll sangat membanggakan kedatangan delegasi
Indonesiayang keberangkatannya juga diatur oleh
Simon Wiesenthal Center.  Karena itulah, mereka diberi kesempatan istimewa
untuk bertemu langsung dengan Presiden Israel, Shimon Peres.



Melalui LibForAll, lobi-lobi Israel di Indonesia terus dijalankan. Sesuai
dengan namanya, organisasi ini sangat aktif  dalam melakukan proses
liberalisasi pemikiran Islam. Dua organisasi Islam terbesar menjadi sasaran
utama, yaitu NU dan Muhammadiyah. Situs LibForAll berisi banyak foto
kegiatan yang melibatkan tokoh-tokoh kedua organisasi tersebut. Tentu ini
adalah upaya propaganda LibForAll yang ingin membangun citra, seolah-olah
mereka sudah berhasil 'menguasai' dan 'mengatur'  kedua organisasi Islam
tersebut.



Kita memahami bentuk propaganda model LibForAll ini. Padahal, faktanya, baik
di tubuh NU maupun Muhammadiyah, resistensi terhadap Yahudi dan
Israelsangatlah tinggi. Apalagi, setelah pembantaian ribuan warga
Gaza oleh Israel, citra Israel sebagai negara biadab semakin tertanam secara
mendalam pada benak umat Islam Indonesia. Namun, LibForAll, melalui
situsnya, terus membanggakan kisah suksesnya dalam menanamkan lobi Yahudi
dan menyebarkan paham liberalisme di Indonesia.



Salah seorang yang dibangga-banggakan oleh LibForAll adalah yaitu Prof. Dr.
Abdul Munir Mulkhan, penasehat LibForAll yang juga guru besar UIN Yogya.
Dalam situsnya, LibForAll menulis peran penting Munir Mulkhan dalam
memberantas ekstrimisme di  Muhammadiyah. Prestasi Munir dalam menolak
ekstrimisme dan menjauhkan Muhammadiyah dari partai politik Islam, khususnya
PKS, disebut sebagai sebuah prestasi besar ( a landmark achievement). PKS
disebut identik dengan Hamas dan berafiliasi dengan kelompok radikal
Ikhwanul Muslimin. LibForAll menulis:



"The new year arrived on the heels of a landmark achievement by LibForAll
Advisor and Senior Fellow Dr. Abdul Munir Mulkhan (former Vice Secretary of
the Muhammadiyah, the world's second-largest Muslim organization, with 30
million members).  After a year-long campaign, Dr. Munir succeeded in
mobilizing his organization to officially reject extremism and distance
itself from Islamist political parties, which have penetrated the
Muhammadiyah through the so-called "Tarbiyah," or Islamic Education,
movement.  The heavily-funded group thus rejected, the PKS, is the
Indonesian political equivalent of Hamas, and is affiliated with the radical
Muslim Brotherhood."



Prestasi Munir Mulkhan ini ditulis juga dalam sebuah artikel di Wall Street
Jornal (10/4/2007)  berjudul "The Exorcist: An Indonesian man seeks "to
create an Islam that will make people smile" oleh Bret Stephens. Prof. Abdul
Munir Mulkhan dikenal sebagai aktivis lintas agama yang memang sangat
liberal. Ia sangat terobsesi untuk meletakkan nilai-nilai kemanusiaan
universal di atas ajaran-ajaran agama yang ada.



Sekedar contoh, simaklah isi sebuah buku karya Prof. Abdul Munir Mulkhan
berjudul Kesalehan Multikultural (2005) diterbitkan oleh Pusat Studi Agama
dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah. Dalam buku ini, secara tegas Munir
menolak Pendidikan Tauhid seperti yang dipahami kaum Muslim selama ini.
Sebagai gantinya, dia mengajukan gagasan  'Pendidikan Islam Multikultural'.
Munir menulis:

"Jika tetap teguh pada rumusan tujuan pendidikan (agama) Islam dan tauhid
yang sudah ada, makna fungsional dan rumusan itu perlu dikaji ulang dan
dikembangkan lebih substantif. Dengan demikian diperoleh suatu rumusan bahwa
Tuhan dan ajaran atau kebenaran yang satu yang diyakini pemeluk Islam itu
bersifat universal. Karena itu, Tuhan dan ajaran-Nya serta kebenaran yang
satu itu mungkin juga diperoleh pemeluk agama lain dan rumusan konseptual
yang berbeda. Konsekuensi dari rumusan  di atas ialah bahwa Tuhannya pemeluk
agama lain, sebenarnya itulah Tuhan Allah yang dimaksud dan diyakini pemeluk
Islam. Kebenaran ajaran Tuhan yang diyakini pemeluk agama lain itu pula
sebenarnya yang merupakan kebenaran yang diyakini oleh pemeluk Islam." (hal.
182-183).



Konsepsi seperti itu adalah  melihat masalah keagamaan dengan sudut pandang
humanisme. Bukan sudut pandang Kristen, Yahudi, Islam, atau agama-agama
lain. Bagi Islam, jelas bukan begitu cara memandang Tuhan dan agama-agama
yang ada. Nabi Muhammad saw diutus untuk menjernihkan berbagai ajaran para
nabi yang sudah diselewengkan oleh kaum Yahudi. (QS 2:75, 2:79). Berbagai
tindakan syirik juga mendapatkan kecaman keras dalam al-Quran. Kurang jelas
apakah pandangan Tauhid Islam selama ini? Mengapa Prof. Munir Mulkhan sampai
berani mengusulkan agar pendidikan Tauhid Islam itu diubah konsepnya? Aneh
juga, oleh PSAP, Munir dijuluki sebagai salah satu "Begawan
Muhammadiyah",  sehingga
penerbitan buku ini ditulis sebagai "Seri Begawan Muhammadiyah."



Berpegang pada konsep kesamaan Tuhan pada semua agama itu, Munir menafikan
konsep Tuhan pada masing-masing agama. Dia menulis:

"Bentuk-bentuk ritual yang sakral yang selama ini cenderung lebih
"memanjakan" Tuhan dan tidak manusiawi, perlu dikembangkan sehingga menjadi
ritus-ritus kultural yang sosiologis dan humanis. Tuhan yang Maha Tunggal
itu adalah Tuhan yang diyakini pemeluk semua agama di dalam beragam nama dan
sebutan. Surga dan penyelamatan Tuhan itu adalah surga dan penyelamatan bagi
semua orang di semua zaman dalam beragam agama, beragam suku bangsa dan
beragam paham keagamaan. Melalui cara ini, kehadiran Nabi Isa a.s. atau
Yesus, Muhammad saw, Buddha Gautama, Konfusius, atau pun nabi dan rasul
agama-agama lain, mungkin menjadi lebih bermakna bagi dunia dan sejarah
kemanusiaan... Tuhan semua agama pun mungkin begitu kecewa melihat manusia
menggunakan diri Tuhan itu untuk suatu maksud meniadakan manusia lain hanya
karena berbeda pemahaman keagamaannya." (hal. 190).



Lihatlah, ketika bicara tentang Tuhan, Munir hanya menggunakan fantasinya.
Padahal, dia sendiri tidak paham akan Tuhan. Dia mengharuskan Tuhan untuk
mengikuti logikanya sendiri. Seolah-olah, dialah yang mengatur Tuhan.
Padahal, sebagai orang yang mengaku Muslim, harusnya dia merujuk kepada
konsep-konsep yang dibawa oleh utusan Allah, Nabi Muhammad saw. Karena
dialah yang mendapatkan mandat dari Allah  untuk menjelaskan siapa Allah dan
bagaimana cara menyembah-Nya. Karena itulah, Nabi Muhammad saw mengajak kaum
Musyrik Arab untuk beriman kepadanya dan menjauhi dosa syirik. Amat sangat
jelas, apa misi Nabi Muhammad saw dan misi semua Nabi, yaitu untuk mengajak
manusia agar jangan menyembah tuhan selain Allah (QS 16:36).



Jadi, konsep pendidikan agama Multikulturalisme yang dibawakan oleh Munir
Mulkhan memang sangat bermasalah. Tapi, laksana virus, paham ini pun
disebarkan oleh berbagai kalangan. Sebagian sudah mulai melangkah lebih jauh
lagi dengan mengajukan konsep "Pendidikan Agama Berwawasan
Multikultural".  Itulah
judul sebuah buku yang ditulis seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi
Islam di Jawa Tengah, yang diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Azyumardi
Azra.



Misi buku ini juga sejalan dengan misi Free Mason, yaitu menghapus pemisah
antar manusia:  "Sebagai risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan
pada semua umat manusia, termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju
satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa
membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan, dan agama." (hal. 45).



Selain Munir Mulkhan, intelektual lain yang dibangga-banggakan oleh
LibForAll untuk melakukan proses liberalisasi di Indonesia adalah Prof. Nasr
Hamid Abu Zaid. Mulai 2007, LibForAll membuat sebuah proyek Tafsir Al-Quran
yang dipimpin Abu Zaid, yang juga penasehat LibForAll, sebagaimana Munir
Mulkhan. Tafsir ini akan menggunakan metode modern yang menolak metode
panafsiran literal dan membuang pemikiran-pemikiran ekstrimisme. Ditulis di
situsnya, bahwa Tafsir ini akan dikerjakan oleh sarjana-sarjana Quran
terkemuka di dunia dari Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
Tafsir Al-Quran ini nanti diharapkan dapat menjadi jembatan bagi kaum Muslim
untuk menjembatani antara tradisi Islam dengan nilai-nilai kebebasan
(freedom), kesetaraan, Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan globalisasi.

Situs LibForAll juga memberikan perhatian khusus kepada kasus yang menimpa
Abu Zaid pada bulan November 2007.  Ketika itu,  Abu Zaid gagal menghadiri
acara Annual Conference on Islamic Studies di Riau dan juga satu seminar
internasional di Malang. Oleh LibForAll, pihak-pihak yang menolak pemikiran
Abu Zaid dicap sebagai kaum ekstrimis.



Sebuah prestasi lain yang dibanggakan oleh LibForAll di Indonesia adalah
diterbitkannya buku berjudul 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara,   pada
Januari 2007. Buku ini dieditori oleh aktivis LibForAll, Ahmad Gaus dan
Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Peluncuran buku ini
berlangsung besar-besaran. Di situs LibForAll, ditampilkan tokoh-tokoh yang
menghadiri acara tersebut, seperti Abdurrahman Wahid, Din Syamsuddin, dan
Azyumardi Azra yang juga penasehat LibForAll.



Menyimak kiprah LibForAll di Indonesia, tampak bagaimana mereka menggunakan
kekuatan dana yang sangat besar untuk membangun citra positif Israel di
Indonesia. Dengan alasan memerangi ekstrimisme di kalangan Muslim, LibForAll
juga berhasil menggaet kalangan elite Muslim untuk mendukung upaya
liberalisasi Islam di Indonesia. Sebenarnya, jika dipikirkan, inilah politik
belah bambu yang sejak dulu diterapkan oleh penjajah kepada umat Islam.
Sebagian disanjung-sanjung dan diberi kenikmatan duniawi, sebagian lain
diinjak dan dimaki-maki sebagai kaum ekstrimis.

Melalui berbagai kiprah dan opini yang dibangunnya, tampak LibForAll hanya
memberikan pilihan kepada kita:  berteman dengan Shimon Peres atau Hamas.
Jika berteman dengan Peres, akan diberi julukan mulia sebagai "penyebar
perdamaian". Jika berteman dengan Hamas, akan segera mendapatkan cap "
ekstrimis".  Silakan pilih! [Depok, 20 Februari 2009/www.hidayatullah.com]

* *

*Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan
www.hidayatullah.com*


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke