Assalamu 'alaikum wr. wb.

Islam Liberal menurut saya itu tidak ada, yang ada adalah Jaringan Sesat,
Jaringan Kafir, Jaringan Munafik dst.

Islam Liberal dan Kaum Musyrikin Mekkah



  Sebelum kebangkitan Muhammad saw. sebagai utusan Allah swt., masyarakat
Makkah setidaknya menyimpan dua ideologi; *

Pertama* sisa agama Ibrahim yang masih mempertahankan tawhid (keesaan Allah
swt) atau lebih populer dengan sebutan "al-hanifiyah",

dan *Kedua*, kaum musyrikin yang terkenal dengan ideologi paganismenya.
Mereka mempertuhan batu dan benda. Namun ketika mereka menyembah berhala
dari patung-patung itu, tidaklah serta merta bahwa mereka tidak meyakini
adanya Tuhan. Dari pengakuan sebagian mereka, bahwa patung-patung itu mereka
sembah sebagai perantara (mediator) yang menghubungkan antara mereka dengan
Allah. Begitulah keyakinan mereka seperti disebutkan Allah dalam Alquran :
"Dan tidaklah kami menyembah mereka melainkan untuk mendekatkan kami kepada
Allah."

Kepercayaan mereka tidak sebatas pada pengakuan adanya Tuhan saja. Kaum
musyrikin Makkah juga percaya bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan alam
semesta. Hal ini juga tergambar dari pemberitaan Allah dalam Alquran : "Jika
engkau tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi,
niscaya mereka menjawab : Allah." Kepercayaan mereka ini dalam bahasa
`Aqidahnya ialah "*Tauhid Rububiyah*", yang berarti keyakinan pada Allah
sebagai pencipta alam, yang menghidupkan, mematikan, dan yang memberi
rezeki. "."

Tetapi dalam kondisi seperti ini mereka masih dicap sebagai kafir dan
musyrik. Sebab mereka tidak mengilahkan Allah swt dalam `ubudiyah.

Mereka tidak tunduk kepada aturan yang ditetapkan oleh Allah. Mereka tidak
menjadikan Allah sebagai *al-Hakim *dan *al-Syari`* (pembuat hukum dan
legislator). Mereka membuat cara, ajaran, dan nilai sendiri dalam
mendekatkan dirinya kepada Allah dengan cara membuat tuhan-tuhan kecil untuk
memperantarai mereka dengan Allah.

Mereka lebih patuh kepada peraturan yang mereka buat sendiri untuk
menggantikan hukum yang telah diturunkan Allah. Tauhid inilah (*Tauhid
Uluhiyyah*) yang membedakan seorang mukmin dengan musyrik.

Bencana besar yang menimpa umat Islam dewasa ini adalah terperosok dalam
kemusyrikan yang mungkin tak disadari akibat keawaman. Anda jangan mengira
bahwa musyrik itu hanya orang yang menyembah Tuhan dengan cara ritual agama
di luar Islam.

Atau orang yang percaya kepada roh-roh halus dan meminta bantuan kepada
kekuatan ghaib seperti jin dan syaitan. Atau orang yang menyimpan ilmu
hitam. Bukan itu saja yang disebut musyrik. Tetapi tidak kalah dari apa yang
disebutkan itu, adalah musyrik dalam soal pemikiran.

Seseorang yang meyakini kebenaran pemikiran orang kafir yang bertentangan
dengan ajaran Islam, juga sudah menjadi musyrik. Orang yang menerima ajaran
Karl Marx, Lenin, Darwin, dan pemikir-pemikir barat lainnya, sebenarnya
sudah menjadi musyrik. Karena pemikiran mereka itu tidak berbeda dengan
faham, aliran, atau dalam bahasa Alqurannya disebut *millah*.

Di zaman modern ini banyak kaum intelek kita yang terkagum-kagum dengan
pemikiran yang datang dari barat, untuk menggantikan Islam. Jika ditelusuri,
awalnya dari sejak masuknya penjajah ke negeri-negeri muslim. Imperialis
barat, bukan hanya merampas kekayaan alam negeri-negeri muslim, tetapi juga
merampas akidah mereka, mencuci otak mereka, menghapus identitas mereka,
menghilangkan rasa kebanggaan pada jati diri mereka. Untuk kalangan
tertentu, program imperialis itu boleh dibilang berhasil. Mereka itu
betul-betul membeo dan mengekor ke barat, bukan hanya dalam soal-soal
teknologi yang masih bisa ditolerir, tetapi sampai ke pemikiran, opini,
paradigma, bahkan sampai budaya, seperti cara berpakaian, cara makan, dan
sejenisnya.

Pada awal kemerdekaan banyak sekali kaum terpelajar kita –terutama mereka
yang pernah dididik di barat- termakan oleh faham sekularisme. Agama (Islam)
dituduh biang keterbelakangan, kemiskinan, dan kekebodohan. Pendidikan ala
barat dengan segala kurikulum dan perangkatnya memang membentuk pola
berpikir manusia yang sekuler. Kenapa barat bisa menjajah (tentu dalam
bahasa mereka tidak disebut menjajah, tetapi bahasa-bahasa yang menipu,
seperti membangun, membantu mencerdaskan, atau dalam bahasa arabnya mereka
sebut "*isti`mar*" (membangun) padahal yang tepat ialah "*istikhrab*"
(menghancurkan)- adalah karena mereka meninggalkan agama. Kenapa umat Islam
menjadi terjajah? Dalam pandangan mereka karena masih mempercayai kebenaran
agama sebagai doktrin untuk mengatur kehidupan, atau karena terlalu fanatis
(berpegang) pada agama.

Setelah bangsa-bangsa muslim itu merdeka, doktrin berikutnya, kenapa
negara-negara barat itu bisa maju dalam teknologi, pembangunan dan kehidupan
masyarakatnya? Itu disebabkan karena mereka memegang teguh sekularisme ;
memisahkan negara dari agama. Jadi, jika bangsa-bangsa muslim ingin maju
seperti barat, maka tidak ada jalan lain, kecuali harus meninggalkan agama,
sebagaimana halnya barat. Faham ini berkembang sedemikian rupa, sejalan
dengan agenda pemerintah di negeri-negeri muslim. Dimana penguasa-penguasa
itu memang anak asuh kaum imperialis barat; dididik di barat, bahkan hidup
juga di barat, bergaul dengan orang barat dan cara hidupnya juga
kebarat-baratan. Bila mereka ingin mempertahankan identitas dirinya, apalagi
keyakinan akidahnya, mereka akan dituduh terbelakang, tidak modern, dan
tidak dapat mengikuti perkembangan zaman.

Kekuasaan adalah sarana yang sangat efektif untuk menyebarkan sebuah faham,
terlepas benar atau salah faham tersebut. Ketika penguasa menganut faham
sekularisme (walaupun dalam bahasa sehari-sehari, faham itu seolah-olah
ditolak), maka dengan mudah faham ini menyebar ke masyarakat melalui
penanaman kurikulum pendidikan, pengaruh media massa, bahkan birokrasi.

Dalam tataran pemikiran, ada sekelompok cendekiawan yang gigih menyebarkan
faham-faham barat itu melalui buku, tulisan di media massa, diskusi dan
ceramah di kampus. Bahasa-bahasa yang mereka gunakan biasanya bahasa-bahasa
yang memukau, dan menjanjikan sesuatu yang baru nan indah, jika umat Islam
bisa keluar dari keislamannya, sebagaimana barat meninggalkan agamanya.

Umpamanya, sudah tidak mungkin lagi mempraktekkan ajaran Islam itu secara *
harfiyah* sebagaimana pada masa Rasul atau masa-masa sahabat dahulu.
Bukankah kita sekarang sudah berada pada zaman globalisasi yang dunia ini
sudah menjadi kecil, ibarat kampung. Interaksi budaya yang sedemikian kental
tak lagi bisa dihindari. Jika kita berkeras untuk mempraktekkan ajaran
Islam, bukankah berarti kita akan tersisih dari pergaulan internasional?

Juga mereka sering mempertanyakan model Islam yang mana yang ingin
diterapkan dalam dunia modern ini, apakah model Pakistan, model Saudi
Arabia, Iran, Afghanistan, atau yang mana? Pertanyaan mereka itu lebih
bernada sinis ketimbang mencari tahu model penerapan yang ideal.




* *

*Inferiority Complex*

Efek buruk yang ditimbulkan oleh penjajahan ialah sikap mental terjajah.
Merubah sikap mental ini bukan suatu yang mudah. Bila ia telah terwariskan
oleh suatu generasi, untuk membersihkannya bisa memakan waktu dua generasi
itupun bila pembersihan itu dilakukan secara serius. Sayyed Qutub menyebut
efek psikologis ini dengan istilah "*al-inhizam al-Nafsy*".(inferiority
complex) Pengaruh yang ditimbulkannya antara lain ialah keterkaguman pada
bangsa penjajah dan melihat apa yang ada pada dirinya semuanya buruk dan
rendah. Pada gilirannya menimbulkan sikap jiwa suka meniru apa saja yang ada
di pihak penjajah. Apa saja yang muncul, baik berupa model pakaian,
penampilan, potongan rambut, hingga model pemikiran, akan ditiru dan
dijiplak oleh orang-orang yang bermental terjajah tadi. Sekularisme lahir
dan menampakkan hasilnya di barat, maka bangsa-bangsa di Timur
berlomba-lomba menerapkan sekularisme. Bila di barat lahir sosialisme dan
marxisme, maka di Timur orang-orang yang bermental budak tadipun gigih
menuntut sosialisme dan marxisme. Bila di barat lahir liberalisme dan mereka
yakini sebagai ideologi yang dapat memakmurkan hidup, maka budak-budak barat
itupun juga berlomba-lomba meneriakkan liberalisme. Bahkan yang lebih parah,
mereka di sini membungkus liberlisme dengan pakaian agama. Mereka sebut
"Islam Liberal." Beberapa waktu silam ideologi marxis digandrungi oleh
sekelompok anak muda yang sedang bersemangat menuntut perubahan, lalu semua
yang ada ini harus diruntuhkan, namun dengan alternatif yang tidak lebih
baik dari sistem yang diruntuhkan. Kemudian mereka membungkus marxisme
dengan baju agama. Mereka sebut "Islam Kiri". Mungkin merasa barang
jualannya tidak laku-laku dan tidak mendapat pasaran, mereka merubah merek.
Barangkali mereka baru terpikir belakangan bahwa "kiri" dalam masyarakat
Islam itu adalah simbol kotoran. Masuk ke W.C mendahulukan kaki kiri.
Memegang sesuatu yang kotor seperti membasuh kotoran, gunakan tangan kiri.
Makan dengan tangan kiri adalah syaitan. Merekapun lama-lama merasa juga
bahwa ide dan ajaran yang dibawanya, bila mempertahankan simbol "kiri", akan
dikesankan orang Islam sebagai ide/ajaran yang kotor. Akhir-akhir ini mereka
menghusung label "Islam Liberal". Barangkali namanya lebih keren, karena
ideologi liberalisme paling tidak untuk sementara orang menarik, menjanjikan
perubahan dengan demokrasi. Sebenarnya inti faham/ajaran yang mereka
teriakkan itu semuanya sama, sejak dari sekularisme, post-modernisme,
pembaruan Islam, Islam kiri, Islam Liberal, dan esok entah apa lagi,
hakikatnya sama, bajunya saja yang berubah. Yakni sebuah pengingkaran
terhadap nilai-nilai Ilahiyah dan ajaran Islam yang telah diturunkan Allah
swt untuk menata kehidupan manusia di alam. Penyimpangan itu berawal dari
pengekoran terhadap barat akibat keterkaguman pada barat dan segala
produknya, terutama produk pemikiran. dari orang-orang yang bermental budak.
Namun mereka lupa, apapun merek yang mereka pakai untuk membuat simbol
ajaran dan filsafatnya, bau busuknya pasti akan tercium oleh umat Islam,
paling tidak oleh kalangan intelektualnya.




* *

*Perguruan Tinggi Islam menjadi target barat*

Dalam mempropagandakan ideologi sekulernya, Barat menempuh segala cara dan
menerobos segala lapangan. Tak saja pendidikan yang terkesan sekuler,
seperti Perguruan Tinggi umum, faham sekuler juga disusupkan ke
Perguruan-perguruan Tinggi Islam yang sehari-harinya mengkaji Alquran,
Hadits, Fiqh, pemikiran, dan lain-lain. Bahkan akhir-akhir ini bukan hanya
Perguruan Tinggi, hingga ormas-ormas besar Islam tak luput menjadi sasaran
sekulerisasi mereka. Tokoh-tokoh muda dari beberapa ormas besar Islam mereka
besarkan, mereka populerkan, hingga akhirnya kekuatan mereka tersebar
dimana-mana. Fenomena ini bukan terjadi secara kebetulan. Akan tetapi,
sesuatu yang sudah diprogram dengan baik dan direncanakan dengan matang.
Sehingga sekulerisme tidak hanya menembus dunia pendidikan sekuler, juga
memasuki kawasan Islam. Dengan begitu, bagian ummat yang tadinya diharapkan
sebagai benteng pertahanan Islam, juga dapat tersekulerkan oleh mereka.
Cara-cara mereka sungguh rapi dan halus tetapi menghasilkan sebuah produk
yang cukup menakjubkan.

Mereka mengawali dengan kerjasama di bidang Pendidikan dan Penelitian;
dengan pemberian beasiswa untuk belajar di negara-negara barat, sarang
orientalis Yahudi dan Kristen Fundamentalis. Barat sudah lama membaca
mentalitas orang-orang Timur yang terkagum-kagum pada barat. Belajar ke
Barat melahirkan kebanggaan tersendiri dalam kejiwaan orang-orang Timur. Hal
ini dimanfaatkan orientalis dengan berkedok ilmiah dan penelitian. Dengan
mudah mereka mendoktrin peneliti-peneliti muda yang belajar di
universitas-universitas mereka dengan faham dan ideologi mereka. Mahasiswa
yang tadinya di negerinya masih punya sedikit kebanggaan pada Islam, dan
keteguhan pada prinsip atas dasar Quran dan Hadits, digoyahkan keyakinannya,
dibuat menjadi ragu dan akhirnya menisbikan segala ideologi.

Prinsip-prinsip yang mereka tanamkan dengan berkedok penelitian dan ilmiah
tadi, di antaranya : *Kebenaran tidak bernilai mutlak*, akan tetapi relatif.
*Kebenaran tidak satu tetapi banyak*, tergantung dari sudut mana ia dilihat.
Sesuatu yang benar menurut sekelompok orang bisa saja dipandang salah oleh
kelompok lain. Demikian pula halnya agama. Agama tertentu dipandang benar
oleh pemeluknya, tetapi belum tentu benar oleh pemeluk agama lain. Jadi
kebenaran agama tidak bernilai mutlak. Kemudian, *setiap informasi tidak ada
yang kebal kritik*. Semuanya bisa dipertanyakan (baca : diragukan)
kebenarannya. Bila kaidah ini diterima, maka pada gilirannya, wahyu yang
merupakan informasi dari Allah-pun perlu dipertanyakan kebenarannya. Sebuah
sikap yang tidak berjarak dengan kekafiran. Celakanya, kaidah tersebut hanya
mereka gunakan ke luar (melihat Islam, sumber-sumber dan ajarannya), tidak
mereka gunakan ke dalam ideologi mereka sendiri. Padahal jika mereka gunakan
ke intern mereka, semua keyakinan, ideologi dan agama mereka, akan hancur
berkeping-keping dan sama sekali tidak mengandung asas rasionalnya. Karena
sumber-sumber keyakinan mereka sama sekali tidak dapat lagi dipertanggung
jawabkan validitasnya, apalagi rasionalitasnya.

Juga, *bila anda ingin melihat sesuatu dengan jernih, anda harus keluar dulu
dari bagian yang dilihat*. Jadi, bila anda ingin mengetahui secara obyektif
apakah Islam itu benar atau tidak, maka anda harus keluar dulu dari Islam.
Atau paling tidak anda harus menghilangkan segala macam rasa keberpihakan
kepada Islam. Kalau tidak demikian, maka analisa anda tetap dinilai
subyektif dan tidak jernih. Sikap ketidak berpihakan kepada agama Allah ini
banyak lahir dari sarjana-sarjana produk barat. Sebuah sikap yang tidak
menggambarkan keimanan orang muslim.

Begitu pula dengan prinsip "*kebebasan berpendapat*" yang mereka
agung-agungkan. Siapa saja boleh mengatakan apa saja dan berpendapat apa
saja. Jadi tidak ada sesuatu yang tabu, tidak ada koridor yang harus dijaga.
Tidak ada batas yang tak boleh dilanggar. Jika ini diterima, maka
konsekuensinya, maka seseorang bebas mengingkari apa saja yang diajarkan
Islam walaupun itu sudah merupakan sesuatu yang pasti (*qath`i*), konon lagi
yang *zhonni* dalam pandangan mereka. Seseorang sah-sah saja –menurut konsep
berpikir barat- menolak bahwa jilbab itu wajib, tidak percaya bahwa azab
kubur itu memang ada, kawin antar agama itu tidak dilarang, syari`ah itu tak
perlu diterapkan, dan ajaran-ajaran agama lainnya. Segalanya bebas dilabrak
hingga apa yang populer di kalangan Ulama sebagai "*Ma `Ulima minad-Dini
Bidh-Dhoruroh*." (sesuatu yang mesti diketahui dalam agama sebagai prinsip).

Mereka sering menisbikan pendapat Ulama atau ijtihad. Apa saja pendapat
Ulama yang tidak sesuai dengan selera mereka atau selera masa kini, langsung
mereka vonis bahwa itu hanya sekadar pendapat Ulama masa lalu yang belum
tentu relefan untuk diterapkan pada masa kini. Mereka lupa bahwa Ulama masa
lalu untuk sampai ke tingkat ijtihad, harus melalui jenjang dan tingkatan
keilmuan, yang jika dibandingkan dengan kualitas keilmuan mereka saat ini
yang nilainya nol. Mereka tidak banyak mengetahui tentang Alqur’an, tidak
mengerti Hadits, apa lagi kitab-kitab turas (klassik), tetapi mau
mengharungi samudera luas. Akhirnya merekalah yang tenggelam dalam lautan
hawa nafsu dan keangkuhan. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar
pelaksanaan ibadah haji dibuat bertermin (bertahap). Setahun itu dibagi
menjadi tiga kali haji. Sebuah pendapat yang *ngawur* mencerminkan kejahilan
orangnya. Dahulu ada yang mau merombak hukum waris. Akhir-akhir ini ada yang
mau merombak total terjemahan ayat-ayat Alquran.

Juga mereka sering menisbikan Hadits yang dalam pandangan mereka adalah
ketentuan yang *zhanny* (tidakpasti). Karena ketidakpastian itu, tidak
persoalan jika nash itu ditinggalkan. Bahkan nash yang qath`i pun sering
mereka labrak, dengan alasan bahwa dalam memberikan interpretasi atas nash
itu terbuka peluang yang lebar. Apa yang ada selama ini tak lebih sekadar
pendapat Ulama yang tidak bernilai mutlak. Mereka selalu mengulang-ulang,
bahwa memang benar ayat-ayat Alqur’an itu qath`i, tetapi tafsir atas ayat
itu sudah tidak qath`i lagi, akan tetapi zhanny. Dengan begitu membuka
peluang seluas-luasnya bagi mereka untuk berbicara apa saja menurut selera
dan hawa nafsu mereka atas nama Qur’an.

Beginilah cara-cara orientalis merusak pemikiran peneliti-peneliti muslim
yang belajar ke barat, khususnya yang mengambil bidang kajian "Islamic
Studies", "Studi Oriental" "Studi Timur Tengah", "Studi Kawasan", dan yang
sejenisnya. Bagi mahasiswa, biasanya sudah langsung terperangkap dalam
kaidah-kaidah itu. Ditolak susah, diterima agak berat. Tapi, akhirnya lebih
cenderung diterima, karena efeknya lebih ringan, ketimbang melawan arus
pemikiran si professor.

Ketika mereka kembali ke tanah air, pola berpikir seperti yang ditanamkan
oleh gurunya itu, mereka bawa kembali ke kampusnya dan mereka ajarkan,
bahkan mereka kembangkan dengan inovasi-inovasi baru. Sehingga tak jarang
ada "doktor-doktor" tamatan barat yang pikiran-nya lebih liberal dari
orientalis sendiri. Artinya, seorang orientalis mungkin belum sampai
meragukan masalah-masalah agama seperti yang diragukan dan diingkari oleh
muridnya. Mereka ini mengajarkan faham itu kepada mahasiswanya di tanah air.
Mereka menghasilkan para sarjana dan para doktor pula di Perguruan Tinggi
dalam negeri. Mereka yang mendapat doktor di dalam negeri ini tadi kembali
ke daerahnya menjadi dosen-dosen di Program Pascasarjana atau Program S1 di
Perguruan Tingginya, mereka juga melakukan hal yang sama, menyebarkan hal
serupa kepada mahasiswanya, memahami Islam dengan pola orientalis. Sehingga
dengan cara yang sistemik, faham sekuler dan pemahaman tentang Islam menurut
pola orientalis itu menyebar tidak terasa dan dengan cepat. Mereka yang
menjadi mahasiswa tadi setelah sarjana, juga menyebarkan faham serupa ke
masyarakat. Karena mereka akan menjadi rujukan di masyarakatnya, sebab
mereka tamatan Perguruan Tinggi Islam dan mengajarkan bidang studi Islam.
Lalu, seperti apa pemahaman Islam di Indonesia pada masa mendatang, bila
agenda barat itu berjalan mulus tanpa hambatan? Ini adalah tanggung jawab
penyelamatan Islam dan ummatnya di negeri ini dalam menghadapi arus
orientalisme dan pemikiran-pemikiran merusak.




* *

*Barat ketakutan pada Islam*

Salah satu sikap mental yang diderita oleh barat ialah ketakutan pada Islam
dan ummat Islam yang berpegang pada Islam. Sejak berakhirnya Perang Salib,
pihak barat senantiasa menyimpan rasa takut pada agama yang satu ini. Karena
dalam keyakinan mereka, Islam ini adalah agama yang menyimpan potensi
dahsyat, mampu menggerakkan ummatnya untuk melawan kekuatan apa saja. Ini
tidak pernah ada pada ajaran agama lain. Kemajuan teknologi persenjatan
modern tidak terlalu ampuh untuk menaklukkan umat Islam. Hal ini dipahami
betul oleh kalangan barat. Perang Salib mereka jadikan sebagai bahan
pelajaran yang berarti. Sebab itu mereka benar-benar mewaspadai Islam,
khususnya umat Islam yang nampak berpegang pada ajarannya. Biarpun ummat
Islam mati-matian memberi pengertian bahwa Islam adalah agama pembawa rahmat
bagi seluruh alam, namun tetap saja pola pikir barat itu tidak berubah.
Karena bagi barat, bukan mereka yang dituntut untuk mengerti Islam, karena
yang satu ini tidak akan pernah ada dalam benak mereka. Apa yang ada selama
ini hanya sebatas retorika dan basa-basi saja. Bagi barat adalah bagaimana
ummat Islam yang harus mengerti tentang barat. Artinya, ummat Islam itu
harus menyesuaikan dirinya dengan budaya, pola pikir, dan tatanan hidup
barat. Itu yang mereka tuntut. Sebelum ini berhasil, semua upaya dialog,
diskusi, tukar pikiran, saling pengertian, itu semua hanya sebatas retorika
belaka. Target mereka, tak lebih dan tak kurang, ummat Islam harus mengikuti
cara barat. Karena mereka adalah guru peradaban manusia. Semua bangsa-bangsa
di dunia ini adalah murid yang harus mendengar apa kata guru. Budak yang
harus patuh sama tuannya. Kalau kita menggunakan pendekatan Alquran, maka
itulah yang sudah disinyalir oleh Allah melalui firmanNya : "Mereka tidak
akan senang kepadamu, sebelum kamu mengikuti agama (*millah*) mereka."
(Al-Baqarah 120).

Jika ada satu dua dari orang-orang di barat yang bisa diajak bicara dan mau
mengerti tentang Islam dan ummatnya, itu tentu tidak mewakili filsafat hidup
orang barat secara umum.

Di dunia Islam, ketakutan pada Islam ini juga ada. Tentunya dari mereka yang
sudah diasuh oleh barat tadi, lama menyusu kepada barat. Sehingga walaupun
secara fisik atau lahiriyah (seperti identitas atau kartu tanda pengenal)
masih tertulis Islam, tetapi pola pikir, falsafah hidup, way of life, dan
mental, semuanya sudah mirip persis seperti orang barat. Apa yang dinilai
oleh barat baik, dia juga katakan baik. Apa yang dinilai oleh barat itu
buruk, ekstrim, dan menakutkan, dia juga akan ketakan seperti itu.
Kendatipun yang dinilai tadi itu adalah agamanya sendiri dan saudaranya.
Sampai ke tingkat itu barat berhasil mengikis kepribadian mereka,
meruntuhkan identitas mereka, menghancurkan rasa bangga pada jatidiri dan
agama mereka.

Mereka ini tak boleh dibiarkan hidup terombang-ambing. Mereka perlu diberi
suntikan ruhani agar kembali kepada kesadarannya bahwa mereka adalah umat
Islam yang memiliki acuan dalam hidup, mempunyai kerangka dalam berfikir,
dan panutan dalam beraktifitas. Menyampaikan teguran kepada mereka atau
kritik adalah sebuah kewajiban yang tak bisa ditangguh-tangguhkan demi
melaksanakan prinsip Amar Ma`ruf dan Nahyu Munkar.


* *

*Wallahu Bima Ta`maluna Bashir.*

 Written by Administrator    Saturday, 03 November 2007
http://daudrasyid.com/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=29


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Paket Umrah Mulai US$ 1.490
Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam? Kirim email ke [email protected]

Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore 
http://www.demimasa.co.idYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke