Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
 
Ini adalah kali kedua seorang dan berapa orang temannya datang kerumahku 
Untuk menawarkan barang dagangannya ke rumahku.
 
Pertama sekali, penjual dari barang apa sih namanya, akupun tak jelas lagi, 
tapi untuk urut listrik di punggung itu lho.
 
Saat dia berada didepan rumahku, di pagar yang masih tertutup, tapi tidak 
terkunci, dia memanggil dari luar, saat saya sedang menyapu teras.
 
"Bu..bu…saya dari instansi kesehatan yang sedang ditugas belajarkan", katanya. 
"Oh yah, ngambil bidang apa dan strata apa dek" saya tanya lagi. Dia diam.
 
Kemudian dia bilang, :"Ini bu, saya mau nawarkan barang gratis koq Bu, coba deh 
Bu, banyak manfaatnya, dengan segudang obralan dan rayuan".
 
Setelah agak lama dia ngomong kesana kemari, saya tidak begitu tertarik 
meresponnya, karena sudah dari awal penampilannya mengatakan dia tugas belajar, 
saya sudah ngak yakin. Apalagi setelah saya Tanya, adek dari instansi kesehatan 
mana, dan ambil S1, S2, S3, atau es Teller, es Mambo?.
 
Dia jawab, saya hanya tammat SMP Bu, cuman sedang ditugaskan untuk menawarkan 
barang dagangan ini keliling daerah ini. 
 
Akhirnya saya bilang aja, kenapa tadi adek mengatakan kalau dari instansi 
kesehatan dan tugas belajar.
 
Akhirnya, dia merasa malu, kemudian tetap saja PD untuk menawarkan barang 
dagangannya. Saya diam aja. Kemudian terakhir, ambillah Bu, ini gratis untuk 
Ibu. Kalau Ibu beli di toko2 harganya 2 juta lebih Bu. Kalau di perusahaan kami 
harganya cuman 800 ribu, dan itupun waktunya terbatas. Nah, sekarang karena 
kesempatan ini hanya untuk beberapa orang, dan Ibu termasuk didalamnya, ibu 
gratis, cuman namanya pajak tetap harus dibayarkan Bu. Pajaknya 290 ribu saja. 
Oh yah, ini hanya untuk PNS saja Bu. Ibu PNS kan, kalau swasta tidak kami 
tawarkan kesempatan gratis ini Bu, komentarnya lagi.
 
Kemudian saya bilang, didaerah sini, siapa yang sudah ambil barangnya. "Itu Bu, 
si A, dan si C. Barang ini hanya untuk 4 orang saja, tinggal dua lagi, Ibu dan 
satu lagi akan saya kerumahnya setelah dari rumah Ibu ini".
 
Dengan kebohongan yang diberikannya pada saya, saya mencoba mensiasati kedok 
kebohongannya itu. 
 
Saya bilang, "Sekarang, mari kita ketempat Ibu/bapak yang berdua lagi, yang 
sudah ambil barang anda, dan keduanya memang PNS".
 
Pucat pasi wajahnya. "Ayo kita kesana sekarang, saya mau ketemu Ibu Bapak yang 
sudah beli barang anda, dan anda bilang mereka PNS itu".
 
Karena dia merasa malu, saya mencoba lagi melunakkan ancaman saya. Saya 
tawarkan saja kedia. "Sekarang begini, tinggal dua lagi anda bilang barang ini, 
tawarkan dulu satu barang lagi ketetangga saya yang PNS, kalau dia beli, maka 
saya akan beli satu lagi".
 
Sejam…dua jam…tiga jam,..sampai saat ini, orang tersebut ngak pernah datang 
lagi kerumah saya. Itu pertanda barangnya ngak dibeli tetangga saya. Dan saya 
tau betul, siapa-siapa tetangga saya, dan profesi mereka apa. Saya tahu persis 
tetangga saya bukan PNS, pedagang semuanya. Dan saya yakin, dia mencoba 
membohongi saya, namun amat disayangkan orang yang akan dibohonginya jauh lebih 
teliti dan berpengalaman dalam masalah menghadapi orang-orang yang suka bohong 
itu bagaimana.
 
Kali kedua, setelah sebelumnya banyak juga yang datang menawarkan barang hiasan 
dindinglah, decorasi rumahlah, dll, hanya saja, tidak sempat banyak cerita dan 
ngak saya beri kesempatan untuk masuk kerumah saya.
 
Kali yang kedua ini, mulanya datang seorang anak muda, mengetok pintu rumah 
saya.
Ketika itu, saya sedang menerima telpon dari kakak saya. Terpaksa saya tutup 
telpon itu, saya tanyakan ada apa? (dengan pintu terali besi rumah masih 
terkunci)
 
Dia Tanya, :" Ini Bu, kalau boleh Tanya, Ibu masak pakai penyedap rasa ngak?"
Saya jawab, kadang iyah, kadang tidak, emang kenapa rupanya?.
 
Kalau Ibu pakai penyedap, apa nama penyedapnya. "Royco" Saya bilang.
 
Wah,..selamat Bu,.Ibu dapat hadiah dari perusahaan Royco, tapi jangan bilang 
keteman-teman Ibu, kalau Ibu dapat hadiah gratis buatan German ini". Boleh saya 
lihat bukti bungkusnya, kalau Ibu memang masak pakai royco? Saya ambil saya 
bumbu tersebut. Oh yah, selamat Bu, ini barangnya penggorengan dari German, dan 
segala macam keunggulan barang tersebut di paparkannya. Saya jadi pendengar 
setia untuk kesekian kalinya.Kalau saya bilang tadi saya pakai bumbu Ajinomoto, 
ata sasa gimana? Oh..tetap dapat Bu, karena mereka tetap satu perusahaan.(Saya 
benar2 ketawa dalam hati, emang saya bodoh?)
 
Sekarang, penggorengan ini ibu ambil, gratis koq Bu, cuman kita tulis dulu 
data-data Ibu disini. Setelah itu dibilangnya lagi. Barang ini dari german Bu, 
memang pajaknya ngak dibayar, hanya saja, karena barang ini dari Jakarta 
dikirimnya, tentu ongkos kirim Ibu yang bayar. Harga barang ini 1 juta Bu, 
kalau Ibu beli sekarang, sampai pukul satu siang Ibu datang ke toko itu, maka 
Ibu dapat discount menjadi 688 rupiah, tapi karena barang ini gratis untuk Ibu, 
dan Ibu hanya dikenakan bayar ongkoe kirim saja, Ibu bayar 268 ribu. Katanya.
 
Apa saya jawab, harga penggorengan Tefal saja kagak segitu. Lagian mana merk 
germannya? Ini Bu, ditunjukkannyalah kotak tersebut. Saya bilang, kalau soal 
kotak mah, dari Amerika, dari India bisa dibuat orang. Jangankan itu, kertas 
ditempel saja di penggorengan itu, made in france, germany, bisa saja. Yang 
saya mau, kalau barang asli itu, di tuliskan lengket langsung, dicetak langsung 
di barang tersebut, bukan ditempel, made ini germannya. Lagian, mana ada 
penggorengan sampai harganya 1 juta. Saya Ibu RT yang sudah biasa beli 
alat-alat dapur, apalagi penggorengan, dan terbiasa barang luar negeri. Saya 
tau betul bagaimana bentuk kwalitas barang LN, apalagi German, France tersebut. 
Yang kamu lihatkan ini, barangnya cahya, segi bentuk saja tidak meyakinkan, 
bagaimana saya percaya ini made in German. Merknya saja ngak menyatu dengan 
barangnya.
 
Akhirnya, entah kenapa, masuk temannya satu persatu kerumah saya.Yang gilanya 
lagi, tanpa disuruh masuk dan duduk, mereka langsung duduk saja. Kemudian 
datang seorang cewek yang sudah duduk tadi bilang :"Bu,..boleh minta air 
minumnya Bu". (Saya ngak terlalu bodoh terus mengambilkan air minum untuknya, 
karena bisa jadi, saat saya kedapur, dia ambil barang2 berharga saya, yang 
kebetulan ada dilemari, dan bisa saja dibukanya, atau barang apa kek, yang bisa 
disantapnya).
 
Saya bilang saja, maaf, kebetulan air minum saya dah mo habis, lihat saja 
galonnya didapur itu, kan kelihatan oleh anda". Tapi saya haus sekali Bu, kalau 
mau minum, tuh, didepan mata ada botol aqwa kecil, tinggal diminum sajakan? 
(kebetulan memang ada satu botol air minum aqwa diatas meja itu). Bukan begitu 
Bu, maunya pakai Gelas. Katanya lagi. (Sialan banget ini orang, tambah ketahuan 
maunya apa).
 
Saya bilang aja langsung, "maaf, saya buru-buru. Saya mo pergi sebentar lagi".
Kata si cewek bawel itu lagi. :"Bu,..boleh makan kerupuknya Bu"(Kebetulan 
diatas meja itu banyak makanan dan buahan, salah satu diantaranya adalah 
kerupuk bayam). "Iyah,.silahkan". (dalam hati saya, tadi katanya haus sekali, 
koq lihat kerupuk dimakan juga, bukannya orang haus, belum mau makan apa-apa 
sebelum meneguk setetes air kemulutnya?). Tambah ketahuan saja belangnya saya 
pikir.
 
Sudah yah, saya mau buru-buru, saya tak akan ambil barang itu. "Ibu sudah yakin 
betul Bu, ngak menyesal nantik Bu, kata yang cowok". Oh..kagak, saya belum 
butuh penggorengan made in German"..saya bilang".
 
 
Ini dua, diantara sekian tawaran-tawaran barang kesaya. Belum lagi 
tawaran-tawaran berbisnis bareng di internet dllnya, dengan berbagai cara dan 
rayuan. Segala macam yang saya hadapi, namun alhamdulillah dengan kuasa dari 
Allah, dan kekuatan instink yang diberikan oleh Allah Ta'ala serta pengalaman 
dari hidup banyak bergaul bersama orang, bikin saya super hati-hati dalam 
melangkah masalah keuangan, tawaran-tawaran dan kebaikan terselubung orang 
kesaya ini.Saya butuh waktu untuk menilai seseorang jadi teman dan 
mempercayainya. Tidak segampang membalikkan telapak tangan. 
 
 
Terkadang manusia tatkala ada maunya, super baiknya sama kita, bila tak ada 
maunya, dia akan cuek. Orang semacam ini juga sangat sering saya hadapi. Hampir 
rata-rata untuk keuntungan pribadinya dia rela habis-habisan mencoba bik pada 
kita, sampai batas apa yang diinginkannya dapat, dia akan mencoba lari setapak 
demi setapak. Orang semacam ini juga pernah saya hadapi. Sangat jarang saya 
menghadapi orang yang benar-benar ikhlas ingin berbagi kasih, membantu kita 
semata-mata, seringnya ada "Udang dibalik Bakwannya". Bukan tak ada yang 
benar-benar baik dan ikhlas dalam berteman itu, ada juga, tapi sangat-sangat 
sedikit.
 
Wassalamu'alaikum. Rahima. Bukittinggi, 4 April 2009. 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke