---------- Forwarded message ----------
From: arkhad dabasyir

Seminar Krisis Ekonomi Indonesia : Keberhasilan 53 Tahun Mafia Berkeley? 
(Bagian I)



KESIMPULAN DAN RANGKUMAN 

Berbeda dengan kebiasaan, saya akan mulai dengan kesimpulannya sebagai berikut. 

  a.. Para akhli ekonomi kelompok tertentu yang secara konsisten menganut faham 
mashab pikiran tertentu, yang dikenal dengan sebutan “Berkeley Mafia” berhasil 
menguasai kendali kebijakan ekonomi sejak tahun 1966. Kendalinya putus selama 
sekitar 2 tahun ketika Gus Dur menjabat Presiden. 

  b.. Kelompok Berkeley Mafia tidak menjadi anggota partai politik. Maka mereka 
tidak mencerminkan ideologi partai politik yang manapun juga. Ideologi mereka 
adalah ideologi mekanisme pasar yang sangat condong pada liberalisme yang 
sebebas mungkin dan kapitalisme partikelir. Itulah sebabnya sejak awal mereka 
sudah menganut faham korporatokrasi; hal ini digambarkan sangat jelas dan 
ilustratif oleh John Pilger yang mengutip Jeffrey Winters dan Bradley Simpson. 

  c.. Berjayanya kelompok Berkeley Mafia dan stabilitas serta kontinuitas 
kekuasaannya dalam bidang ekonomi diperkuat dengan kenyataan bahwa 
partai-partai politik di Indonesia tidak mempunyai pikiran-pikiran bagaimana 
menyelenggarakan negara yang baik. Semakin menuju pada demokratisasi yang 
disebut era reformasi, orientasinya semakin hanya mencari kedudukan dan 
kekuasaan. Ini terlihat sangat jelas kalau kita amati apa dan bagaimana yang 
sekarang ini sedang berlangsung dalam proses pemilu, baik legislatif maupun 
pemilihan presiden. 

  d.. Hasil dari kebijakan ekonomi kelompok Berkeley Mafia sejak tahun 1966 
ternyata sangat merugikan negara dan bangsa, seperti yang akan diceriterakan 
selanjutnya. 

  e.. Kaitan antara kelompok Berkeley Mafia dan lembaga-lembaga keuangan 
internasional yang menurut John Pilger dan Jeffrey Winters de facto didikte 
oleh Kementerian Keuangan AS sangat kuat. 

  f.. Dengan meledaknya krisis keuangan di AS yang dilandasi oleh rusaknya 
moralitas dan akal sehat membuat para tokoh fundamentalisme mekanisme pasar, 
kapitalisme partikelir dan Washington Concensus berganti haluan dalam 
pikirannya secara drastis, seperti yang digambarkan dalam cover story majalah 
Newsweek tanggal 2 Maret yang lalu. 

  g.. Pemerintah-pemerintah AS, Eropa, Jepang dan China telah selesai 
merumuskan kebijakan dan langkah-langkahnya untuk menghadapi dan menanggulangi 
resesi dan depresi ekonomi global. Mereka juga ditopang dengan dana sangat 
besar yang dimiliki oleh pemerintahnya. 

  h.. Masih sangat tidak jelas bagaimana Tim Ekonomi Indonesia meminimalkan 
dampak dan pengaruh resesi dan depresi global yang trend-nya terlihat dengan 
jelas dari angka-angka BPS terakhir, yang tertuang dalam buku kecil berjudul 
“Makro Ekonomi Indonesia”, terbitan Lembaga Penelitian Institut Bisnis dan 
Informatika Indonesia (LPE-IBII) yang dapat diperoleh dengan cuma-cuma bagi 
yang berminat. 

  i.. Kebijakannya hanya dalam bentuk stimulus fiskal yang dikatakan sebesar 
Rp. 73,1 trilyun, tetapi banyak yang dalam bentuk pengurangan pajak dan bukan 
pengeluaran langsung. Kecuali itu, kalau digabung dengan SILPA tahun 2008, 
netonya hanya Rp. 13,1 trilyun atau sekitar 0,19% dari PDB. Tingkat suku bunga 
diturunkan, tetapi hanya dalam bentuk BI rate yang merupakan indikasi yang 
masih bertengger sangat tinggi menurut ukuran dunia, yaitu sekitar 6%. 
Kebijakan Gubernur BI ini dinetralisir oleh Menteri Keuangan yang menerbitkan 
SUN dalam denominasi dollar AS sebesar US$ 3 milyar dengan tingkat suku bunga 
antara 10 sampai 1 %. 

  j.. Harapan perbaikan dalam pola pikir yang mewujud pada kebijakan dan 
tindakan nyata bisa diwujudkan dengan kampanye besar-besaran dalam mengemukakan 
pikiran-pikiran yang teknokratik dan sarat dengan pengetahuan yang didasarkan 
atas akal sehat, nalar dan jiwa yang waras. 

  Kita masih mempunyai banyak akhli yang mampu melakukan ini. Tetapi media 
massa kita menjadi sangat tidak peka pada pikiran-pikiran konstruktif yang 
memang lebih sulit dicerna ketimbang berita-berita dan gossip yang sensasional. 

  k.. Aka merupakan tantangan besar bagi elit muda Indonesia yang sebagian 
hadir dalam ruangan ini untuk berinovasi tentang bagaimana memasyarakatkan 
pikiran-pikiran yang baik dan konstruktif. 


MEKANISME PASAR BUKAN SEGALA-GALANYA 

Tidak dapat disangkal bahwa akhli ekonomi kelompok tertentu yang dikenal dengan 
nama “Mafia Berkeley” mempunyai kepercayaan yang bagaikan agama, bahwa 
mekanisme pasar dengan sendirinya dan senantiasa mewujudkan ketertiban dan 
keadilan. 

Sangatlah jelas bahwa krisis keuangan yang meledak di AS dilandasi oleh 
ideologi dan paham pasar bebas yang ekstrem. Dalam rangka ideologi dan paham 
ini, keserakahan menjadikan demikian banyak orang pandai di Wall Street dan 
para pimpinan hedge funds tidak waras lagi. Malapetaka buatan manusia ini 
sekaligus membuktikan bahwa kemampuan mekanisme pasar mengatur dirinya sendiri 
yang didasarkan atas mengemukakan kepentingan dirinya sendiri (seperti yang 
digambarkan oleh Adam Smith) sama sekali tidak benar. 

Esensi yang paling dasar dari mekanisme pasar memang benar, tetapi dibutuhkan 
moralitas dan pengaturan seperti yang sebelumnya telah ditulis oleh Adam Smith 
dalam bukunya yang berjudul “The Theory of Moral Sentiments.” Kebanyakan akhli 
ekonomi tidak memahami buku ini yang harus dilihat sebagai satu kesatuan dengan 
bukunya yang lebih terkenal, yaitu : “An Inquiry into the Nature and the Causes 
of the Wealth of Nations.” Yang memahaminya Perdana Menteri China Wen Jiabao, 
yang dikemukakannya dalam wawancara dengan Fareed Zakaria di majalah Newsweek. 

Dengan runtuhnya sistem komunis, di semua negara kegiatan produksi, distribusi 
dan konsumsi didasarkan atas mekanisme pasar. Namun demikian berbagai bangsa 
mengenal kadar campur tangan pemerintah yang beragam, dari yang sangat bebas 
sampai yang intervensinya oleh pemerintah sangat banyak. 

Penentuan seberapa besar regulasi oleh pemerintah yang optimal banyak 
ditentukan oleh ideologi yang dihayati dan kepercayaannya pada kemampuan 
alokasi dan regulasi mekanisme pasar seperti yang digambarkan oleh Adam Smith. 

MEKANISME PASAR, KAPITALISME PARTIKELIR DAN “MAFIA BERKELEY”. 

AS adalah negara yang sangat condong pada kepercayaan cukup ekstrem terhadap 
efisiensi dan keadilan yang dapat diperoleh dari bekerjanya daya regulasi pasar 
bebas. 

Pengaruh mashab pikiran AS terhadap Indonesia sangat besar melalui 
lembaga-lembaga keuangan internasional dan korporasi besar. Sejak Presiden 
Soeharto berkuasa, kendali ekonomi selalu ada di tangan para akhli ekonomi dari 
satu kelompok mashab pikiran yang kita kenal dengan sebutan Mafia Berkeley. 

Kekuasaan mereka terganggu sekitar 2 tahun dalam era Gus Dur sebagai Presiden 
RI. Namun demikian, mereka berhasil menyusup ke dalam pemerintahan melalui 
badan-badan ciptaannya yang dipaksakan kepada Gus Dur, yang sebelumnya tidak 
pernah dikenal dalam struktur ketata-negaraan Indonesia. Dua Lembaga ini yalah 
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang ketuanya Emil Salim dan sekretarisnya Sri 
Mulyani, dan Tim Asistensi pada Menko EKUIN yang diketuai oleh Widjojo 
Nitisastro dengan Sri Mulyani sebagai sekretarisnya. Dua lembaga ini bubar 
karena tidak dibutuhkan lagi ketika Megawati menjadi Presiden yang langsung 
saja menyerahkan kekuasaan ekonomi kepada kelompok Mafia Berkeley lagi. Jelas 
bahwa lembaga-lembaga tersebut dipaksakan untuk mengimbangi Tim Ekonomi yang 
tidak akan terlampau patuh pada trio Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF. 

KARAKTERISTIK MAFIA BERKELEY 

Di Indonesia ada satu kelompok ekonom dari satu mashab pikiran ekonomi tertentu 
yang merupakan kelompok yang sangat kompak. Mereka membentuk 
“keturunan-keturunannya” dari generasi-generasi berikutnya yang garis 
kebijakannya selalu konsisten, yaitu selalu sejalan dengan 3 lembaga keuangan 
internasional yang sampai sebelum krisis sedang berlangsung, mereka didikte 
oleh Menteri Keuangan AS. Para anggota kelompok ini tidak perlu harus pernah 
belajar di Universitas California di Berkeley. Faktor pengikatnya adalah 
ideologi dan kepercayaan yang sama. 

Garis kebijakannya dapat digambarkan sebagai fundamentalisme mekanisme pasar 
dan kapitalisme partikelir. 

Mereka juga terkenal dengan sebutan “teknokrat”. Tetapi dalam kiprah dan sepak 
terjangnya sama sekali bukan teknokrat yang bebas nilai dan bebas ambisi 
politik. Mereka mati-matian mempertahankan kedudukannya sebagai penentu 
kebijakan ekonomi, siapapun Presidennya. Ibu Megawati yang putri kandung Bung 
Karno juga berhasil diyakinkan bahwa pengendali kebijakan ekonomi terbaik 
adalah kelompok mereka, walaupun pikiran-pikirannya sangat bertentangan dengan 
pikiran-pikiran Bung Karno. 

Dalam satu sidang CGI, Menko Perekonomian Pemerintah Megawati Soeranoputri 
mengatakan bahwa beliau bukan anggota partai politik. Kalaupun harus menyebut 
“partai”, maka boleh dikatakan “Partai UI di Depok”, yang pengurus-pengurus 
terpentingnya adalah Prof. Widjojo Nitisastro dan Prof. Ali Wardhana. 

PONDASI KEBIJAKAN TIM EKONOMI INDONESIA 

Kekuasaan dan landasan atau pondasi kebijakannya yang konsisten selama 53 tahun 
berawal pada Pemerintah Soeharto yang urut-urutan kronologis sejarahnya sebagai 
berikut. 

Kebijakan ekonomi pemerintah Soeharto diawali dengan konperensi di Jenewa 
antara Tim Ekonomi Indonesia yang dipimpin oleh Prof Widjojo Nitisastro 
bersama-sama dengan para ekonom dari UI, yang dalam suasana konperensi di 
Jenewa itu lahir sebutan “Berkeley Mafia”. Tidak jelas siapa yang menemukan 
istilah ini. Ada yang mengatakan pemimpin counterpart delegasi Indonesia, David 
Rockefeller. Istilah ini dikemukakan dengan nada yang sangat menghargai 
terhadap "the top economists of Indonesia". 

Inzinkanlah saya mengutip gambaran yang diberikan oleh John Pilger, yang pada 
gilirannya mengutip kata-kata Jeffrey Winters sebagai berikut : “Dalam bulan 
November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya 
dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa 
yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan Indonesia. Para 
pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang 
seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : 
perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical 
Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, 
Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang 
meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut 
"ekonoom-ekonoom Indonesia yang top". 

"Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan 'the Berkeley Mafia', karena 
beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat 
untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai 
peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang 
hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan 
menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam 
….. pasar yang besar". 

Di halaman 39 ditulis : "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, 
sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey 
Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan 
mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah 
mempelajari dokumen-dokumen konperensi. 'Mereka membaginya ke dalam lima seksi 
: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar 
lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase 
Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan 
yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para 
pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, 
mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada 
dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya 
tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global 
duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat 
dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya 
sendiri. 

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry 
Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua 
Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. 
Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat 
hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang 
tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto 
membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara 
rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on 
Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, 
Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank 
Dunia". 

Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John 
Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi 
yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia 
selanjutnya. 

Kalau baru sebelum krisis global berlangsung kita mengenal istilah 
"korporatokrasi", paham dan ideologi ini sudah ditancapkan di Indonesia sejak 
tahun 1967. Delegasi Indonesia adalah Pemerintah. Tetapi counter part-nya 
captain of industries atau para korporatokrat. 

TONGGAK-TONGGAK KEBIJAKAN EKONOMI SELANJUTNYA 

Setelah kaki-kaki korporatokrasi ditancapkan yang oleh Jeffrey Winters 
dikatakan "pengambil alihan ekonomi Indonesia dalam 3 hari", berbagai istilah 
dan pengertian yang tidak lazim diciptakan dengan maksud memperlancar 
terjerumus dan terjeratnya Indonesia ke dalam utang, yang dijadikan alat 
penekan untuk memaksakan kebijakan yang pro korporatokrasi. 

Perwujudannya yalah organisasi yang khusus diciptakan buat negara-negara 
pemberi utang yang bernama Intergovernmental Group on Indonesia (IGGI), yang 
kemudian berganti nama menjadi Consultative Group of Indonesia (CGI). 
Koordinatornya Bank Dunia, yang bersama-sama dengan Bank Pembangunan Asia dan 
IMF merupakan trio pemberi utang juga. 

Bentuk-bentuknya antara lain adalah sebagai berikut : 

  a.. Anggaran negara (APBN) yang jelas defisit disebut berimbang, yang ditutup 
dengan utang luar negeri, tetapi tidak disebut utang. Sebutannya dalam APBN 
"Pemasukan Pembangunan". 

  b.. Utang luar negeri dari IGGI/CGI dan 3 lembaga keuangan tidak disebut 
"loan" atau utang, tetapi disebut “aid” atau bantuan. 

  c.. Jumlah defisit APBN dihitung tanpa memasukkan cicilan utang pokok sebagai 
pengeluaran. Yang dihitung hanya pengeluaran uang untuk membayar bunga. 

  Memang kebiasaan internasional seperti ini supaya bisa membandingkan dengan 
negara-negara lain. Tetapi kalau jumlah utang ditambah bunga sudah sekitar 25% 
dari APBN, gambarannya lantas menyesatkan, dan perlu memberikan catatan khusus. 

  d.. Anggaran pembangunan dibiayai sepenuhnya dari utang luar negeri yang 
katanya untuk menghindari crowding out di dalam negeri. Tetapi ketika krisis 
dengan enaknya membuat utang dalam negeri, yang ditambah dengan kewajiban 
membayar bunga menjadi ribuan trilyun rupiah dalam bentuk BLBI ditambah 
obligasi rekap, yang sebenarnya dapat ditarik kembali sebelum bank-bank yang 
mempunyai obligasi rekap ini dijual dengan harga murah. 

  e.. Boediono sebagai Menteri Keuangannya Presiden Megawati menyatakan dengan 
yakin beban utang akan merata dan selesai dalam waktu 8 tahun setelah melakukan 
apa yang olehnya dinamakan reprofiling. Sekarang kedodoran dengan beban sangat 
luar biasa beberapa tahun mendatang, seperti yang diberitakan oleh media massa. 
Tetapi tidak perlu khawatir. Toh bisa ditutup dengan utang baru. Dan karena 
gurunya, Larry Summers dan Tim Geithner sudah mencetak uang besar-besaran, 
mungkin muridnya juga akan melakukan hal yang sama. 

  f.. Demikian juga dengan ukuran tentang jumlah utang luar negeri, apakah 
sudah melampaui batas yang aman. Tadinya dinyatakan dalam rasio antara ekspor 
neto dengan pembayaran cicilan utang pokok + bunga utang luar negeri yang 
disebut Debt Service Ratio (DSR). Ketika sudah menjadi sangat tinggi, ukurannya 
diubah menjadi dalam persen dari PDB. 

  g.. Dalam menghitung ukuran tentang ambang batas yang aman, dalam DSR cicilan 
utang pokok dihitung sebagai faktor. Tetapi dalam menghitung Defisit dalam APBN 
cicilan utang pokoknya tidak dihitung, karena sudah menjadi sangat besar. 

  h.. Subsidi BBM dinyatakan sebagai identik dengan pengeluaran uang tunai oleh 
pemerintah, padahal tidak ada uang tunai yang dikeluarkan untuk memperoleh 
minyak mentah kecuali yang harus diimpor. 

  i.. Sekarang ini yang digembar-gemborkan menurunkan BBM tiga kali. Tetapi 
menaikkannya tiga kali tidak disebut. Menaikkannya dari Rp. 2.700 sampai Rp. 
6.000. Menurunkannya hanya sampai Rp. 4.500 saja, tetapi dijadikan bahan 
kampanye dalam iklan yang sangat mahal. 

  j.. Harga BBM harus ekivalen dengan harga minyak mentah yang 
  dibentuk oleh NYMEX. Tetapi sekarang ini, dengan kurs yang berubah dan harga 
minyak mentah yang sudah berubah pula, harga BBM masih tetap saja dipertahankan 
seperti apa adanya. 


Oleh Kwik Kian Gie


Seminar Krisis Ekonomi Indonesia : Keberhasilan 53 Tahun Mafia Berkeley? 
(Bagian II)


APA HASIL AKHIR DARI KEBIJAKAN EKONOMI OLEH TIM EKONOMI PEMERINTAH YANG 
SENANTIASA TERDIRI DARI SATU KELOMPOK MASHAB PIKIRAN, DAN BERGANTUNG PADA 
KAPITALISME PARTIKELIR SERTA KEPERCAYAAN MUTLAK PADA KEAMPUHAN MEKANISME PASAR? 

Dimulai dengan pertemuan yang ditulis sangat ilustratif, dan kebijakan yang 
terus menerus sangat liberal atas pendiktean 3 lembaga keuangan internasional, 
maka saat ini, setelah hampir 64 tahun merdeka, kondisi bangsa kita dapat 
digambarkan sebagai berikut : 

      • Selama Orde Baru PDB memang meningkat dengan rata-rata 7% per tahun, 
yang sangat dibanggakan oleh Tim Ekonomi dan diagungkan oleh trio lembaga 
keuangan internasional dan oleh para korporatokrat di seluruh dunia. 

      PDB adalah penjumlahan dari seluruh produksi barang dan jasa di 
Indonesia, tanpa mempedulikan bagaimana pembagiannya. Maka sekedar sebagai 
ilustrasi, misalnya PDB yang dalam tahun tertentu mencapai Rp. 5.000 trilyun, 
sangat mungkin dibentuk oleh 99% dari produsen di Indonesia, yang sebagian 
besarnya pengusaha asing. 

      Jadi kalau perusahaan tambang asing mengeduk sumber daya mineral yang 
sangat mahal harganya, dan pemerintah hanya memperoleh royalti dan pajak, nilai 
dari sumber daya mineral yang sangat mahal itu milik perusahaan tambang asing, 
tetapi di dalam statistik kita masuk ke dalam Produk Domestik Bruto. Kalau yang 
milik perusahaan asing dikeluarkan, namanya Produk Nasional Bruto (PNB). PNB 
tidak pernah dipakai sebagai indikator ekonomi yang penting oleh Tim Ekonomi 
Pemerintah yang memegang kekuasaan dan kendali ekonomi sampai saat ini. 

      Pada waktu mineral yang sangat besar nilainya itu diboyong ke negerinya, 
dalam statistik kita dicatat sebagai ekspor yang merupakan komponen dari PDB. 

      Bagaimana pembagian dari PDB yang terus menerus meningkat itu? Walaupun 
tidak dapat dijadikan gambaran yang akurat tentang pembagiannya, sebagai 
indikasi dapat dikemukakan sebagai berikut. 

      Data tahun 2003 menunjukkan bahwa jumlah seluruh perusahaan 40,199 juta. 
Yang berskala besar 2.020 perusahaan atau 0,01%. Yang tergolong UKM sebanyak 
40,197 juta perusahaan atau 99,99%. 

      Andil UKM yang 99,99% dari seluruh perusahaan dalam pembentukan PDB hanya 
56,7%, sedangkan Usaha berskala besar dan raksasa yang hanya 0,01% itu andilnya 
sebesar 43,3% 

      Andil UKM dalam penyerapan tenaga kerja sebesar 99,74%. Alangkah tidak 
adilnya, karena sekian banyak orang hanya terlibat dalam UKM yang tentunya 
pendapatannya juga minimal.
        
      • Negara kita yang kaya dengan minyak telah menjadi importir neto minyak 
untuk kebutuhan bangsa kita. 90% dari minyak kita dieksploitasi oleh 
perusahaan-perusahaan minyak asing. Pembagian hasil minyak yang prinsipnya 85% 
untuk Indonesia dan 15% untuk kontraktor asing kenyataannya sampai sekarang 70% 
untuk bangsa Indonesia dan 30% untuk perusahaan asing. Minyak milik rakyat 
Indonesia harus dijual kepada rakyat yang memilikinya dengan harga yang 
ditentukan oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX); tidak oleh para pemimpin 
bangsa sesuai dengan kepatutan dan daya beli rakyat, seperti yang direncanakan 
sejak semula oleh para pendiri bangsa kita.
        
      • Negara yang dikaruniai dengan hutan yang demikian luas dan lebatnya 
sehingga menjadikannya negara produsen eksportir kayu terbesar di dunia 
dihadapkan pada hutan-hutan yang gundul dan dana reboisasi yang praktis nihil 
karena dikorup. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yang 
diselundupkan ke luar negeri dengan nilai sekitar 2 milyar dollar AS.
        
      • Sumber daya mineral kita dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab 
dengan manfaat terbesar jatuh pada kontraktor asing dan kroni Indonesianya 
secara individual. Rakyat yang adalah pemilik dari bumi, air dan segala 
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya memperoleh manfaat yang sangat 
minimal.
        
      • Ikan kita dicuri oleh kapal-kapal asing yang nilainya diperkirakan 
antara 3 sampai 4 milyar dollar AS.
        
      • Hampir semua produk pertanian diimpor.
        
      • Pasir kita dicuri dengan nilai yang minimal sekitar 3 milyar dollar AS.
        
      • Republik Indonesia yang demikian besarnya dan sudah 62 tahun merdeka 
dibuat lima kali bertekuk lutut harus membebaskan pulau Batam dari pengenaan 
pajak pertambahan nilai setiap kali batas waktu untuk diberlakukannya pengenaan 
PPN sudah mendekat, dan sekarang telah menjadi Kawasan Bebas Total buat 
negara-negara lain, tetapi terutama untuk Singapura, sehingga bersama-sama 
dengan pulau Bintan dan Karimun praktis merupakan satelitnya negara lain. Tim 
Ekonomi menjadikan tidak datangnya investor asing sebagai ancaman untuk semua 
sikap yang sedikit saja mencerminkan pikiran yang mandiri.
        
      • Industri-industri yang kita banggakan hanyalah industri manufaktur yang 
sifatnya industri tukang jahit dan perakitan yang bekerja atas upah kerja yang 
mendekati perbudakan seperti yang dapat kita saksikan dalam film "The New 
Rulers of the World" buatan John Pilger.
        
      • Pembangunan dibiayai dengan utang luar negeri melalui organisasi yang 
bernama IGGI/CGI yang penggunaannya diawasi oleh lembaga-lembaga internasional. 
Sejak tahun 1967 setiap tahunnya pemerintah mengemis utang dari IGGI/CGI sambil 
dimintai pertanggung jawaban tentang bagaimana dirinya mengurus Indonesia? 
Mulai tahun lalu CGI memang dibubarkan, tetapi pembubaran itu hanyalah 
pura-pura. Kenyataannya APBN kita masih sangat tergantung pada utang luar 
negeri dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan negara-negara anggota CGI 
terpenting.
        
      • Utang dipicu terus tanpa kendali sehingga sudah lama pemerintah hanya 
mampu membayar cicilan utang pokok yang jatuh tempo dengan utang baru atau 
dengan cara gali lubang tutup lubang. Pembayaran untuk cicilan utang pokok dan 
bunganya sudah mencapai 25% atau lebih dari APBN setiap tahunnya.
        
      • Dalam pemerintahan Megawati 3 jet tempur AS tipe F-18 mengepung 1 F-16 
di atas Bawean Jawa Timur tanpa izin memasuki wilayah RI, yang mengawal kapal 
perang induk yang juga masuk ke dalam wilayah RI tanpa izin. Ketika pilot kita 
memperingatkan, pesawat F-18 mengeluarkan senjatanya. Setelah pilot kita 
mengatakan tidak mau baku tembak, dan hanya mau menjelaskan, dijawab singkat 
oleh pilot AS, bahwa setelah mendarat dan pada waktunya, dia akan minta izin. 
Minta izin setelah kejadian. Sungguh pelecehan dan penghinaan terang-terangan 
dan luar biasa, karena TNI kita memang hanya mempunyai F-16 ketika itu.
        
      • Dalam pemerintahan SBY-JK, kapal nelayan Indonesia tidak sengaja 
tersesat ke dalam wilayah Auatralia. Seluruh isi kapal dipindahken ke geladak 
kapal perang Australia. Kapal nelayan kita digranat berkali-kalik, dan setiap 
granat meledak, orang-orang Australia yang ada di geladak kapal itu bersorak 
sorai, dan para nelayan kita menangis. Tragedi ini berlangsung terus sampai 
kapal nelayan Indonesia tenggelam. Adegan ini ditayangkan di TV Indonesia tanpa 
pemerintahnya berdaya melindungi atau membela para nelayan kita yang naas dan 
sangat mengenaskan itu.
        
      • Dalam pemerintahan Megawati telah dirintis membangun industri 
pertahanan dengan 4 industri strategis yang sudah kita miliki. Study-nya 
dilakukan oleh experts China yang dibiayai oleh pemerintah China sebagai hibah. 
Mereka bekerja keras dan sudah praktis selesai dengan studi tahap pertama. 
Mereka mengatakan bahwa PT Dirgantara mesin-mesinnya sangat bagus, bisa dipakai 
untuk membuat banyak hal. Dengan PT PAL, PINDAD, PT Dirgantara dan Karakatu 
Steel, Indonesia sudah bisa mulai membangun industri pertahanan yang sangat 
lumayan tanpa investasi lagi. 

      Begitu pemerintahan diganti oleh pemerintahan SBY-Kalla, Kepala dari 
Executing Agency-nya, Menteri BPPT memanggil saya dan wakil Dubes China, Tan 
Wei Wen untuk menjelaskan bagaimana riwayatnya. Setelah mendengarkan ceritera 
kami, seorang Deupty muda hanya memberi komentar : "Why China, why not USA?". 
Habislah riwayat perintisan ini, dan sekarang Krakatau Steel mau dijual. Entah 
apa nasibnya PT Dirgantara. Yang jelas Indonesia tidak mempunyai industri 
pertahanan yang memadai. 

POKOK-POKOK KEBIJAKAN DALAM MENGHADAPI KRISIS GLOBAL 

Sejak tahun 2008 meledak krisis balon derivatif keuangan di AS yang demikian 
besar dan demikian dahsyatnya, sehingga seluruh dunia sekarang ini sedang 
mengalami proses yang menyakitkan dan sangat tidak menentu. 

Kondisi ekonomi Indonesia seperti yang tergambarkan di atas tentu tidak dapat 
menghadapinya dengan mantab, karena tidak ada dana, Kecuali itu, rupanya 
kondisi keuangan negara juga jauh lebih parah daripada yang diketahui oleh 
masyarakat. 

Maka tindakan-tindakannya hanya sporadis dan compang-camping. Mari kita 
telusuri sebagai berikut. 

      • Rp. 60 trilyun APBN 2008 tidak dapat diserap yang berarti kontraktif. 
Tapi digembar-gemborkan tahun 2009 akan ada stimulus fiskal Rp. 73,1 trilyun, 
yang per saldo hanya Rp. 13,1 trilyun saja atau US$ 1,062 milyar (kurs Rp 
12.000 per dollar AS). Ini hanya 0,19% saja dari PDB yang Rp. 7.000 trilyun. 
Katanya akan bisa dicapai macam macam. 

      AS yang jumlah stimuls fiskalnya hampir 10% dari PDB-nya, Presiden Obama 
ngomongnya tidak sesombong Tim Ekonomi kita. Dengan jumlah stimulus fiskal 
sebesar US$ 900 milyar, Presiden Obama hanya berani mengatakan akan menciptakan 
lapangan kerja sebanyak 3 sampai 4 juta orang dalam 2 sampai 3 tahun ke depan. 
Pemerintah Indonesia dengan stimulus fiskal neto sebesar Rp. US$ 1,062 milyar 
mengatakan akan menciptakan lapangan kerja sebesar 3 juta orang juga, yang 
tidak dirinci selama berapa tahun. Mungkin dalam setahun?
        
      • Dikatakan cadangan devisa cukup banyak, tetapi menerbitkan obligasi 
dalam dollar dengan suku bunga antara 10 sampai 11% dalam denominasi dollar AS. 
Kalau kita menaruh uang kita dalam deposito rupiah di bank dalam negeri, 
maksimal hanya mendapat 9%.
        
      • Sekarang Gubernur BI mengatakan rupiah akan stabil, karena akan 
mendapat rembesan dollar AS dari uang yang dicetak secara besar-besaran oleh 
pemerintah AS. Lho, mereka selalu menganggap mencetak uang adalah kebijakannya 
orang yang tidak waras. Sekarang mengandalkan pencetakan uang oleh pemerintah 
AS untuk menstabilkan nilai rupiah. 

      Di AS sendiri dan di Eropa kebijakan dan tindakan ini dinilai sangat 
kontroversial dan menyulut perdebatan yang sedang berlangsung.
        
      • Dalam waktu dua bulan, nilai rupiah merosot dari sekitar Rp. 9.000 
menjadi Rp. 12.000 atau 33%. Di tahun 1969 1 dollar = Rp. 378. Thai Bath ketika 
itu 20 per US$. Sekarang Thai Bath 36 per US$, tapi rupiah sudah 12.000 per 
US$. 

      Dalam kurun waktu yang sama, Thai Bath terdepresiasi sebesar 80%, tetapi 
rupiah terdepresasi sebanyak 3.075%. 

Inilah secara singkat hasil dari kebijakan Tim Ekonomi yang kiprahnya selalu 
didasarkan atas Fundamentalisme Mekanisme Pasar, dan anti BUMN serta anti 
Campur Tangan Pemerintah yang mencukupi. 

GURUNYA SUDAH KENCING BERDIRI, MURIDNYA MASIH TIDUR; TIDAK MAU MENCETAK UANG 
SEPERTI LARRY SUMMERS, TIM GEITHNER DAN BERNANKE? 

Sebelumnya Robert Mugabe, Swiss dan Inggris sudah mencetak uang juga. 

Robert Mugabe yang mencetak uang diikuti oleh Swiss, Inggris dan sekarang oleh 
Amerika Serikat. Indonesia tidak ikut-ikutan, tetapi senang dengan prospek akan 
mendapat rembesan dollar AS hasil cetakan ini supaya rupiah diperkuat nilainya. 
Negara bangsa apa sih Indonesia ini di mata para penguasa ekonomi kita? 

Menjadi sangat menarik juga, apa sikap mereka sekarang, ketika di AS, Eropa dan 
negara-negara Barat yang sumber dan pusatnya kapitalisme partikelir dan 
mekanisme pasar ternyata tidak alergi dan tidak mengharamkan BUMN, tidak 
mengharamkan nasionalisasi dan juga tidak mengharamkan campur tangan pemerintah 
yang mendalam? 

Newsweek tanggal 2 Maret 2009 memuat cover story yang berjudul “The Reeducation 
of Larry Summers”. Oleh penulisnya, Michael Hirsh dan Evan Thomas, Larry 
Summers diminta untuk menjelaskan bagaimana dia telah berubah? Bagaimana dia 
mengedukasi dirinya sendiri sejak era bebas-bebasan di tahun sembilan puluhan, 
di mana Summers menjadi bagian dari pemerintahan dengan dunia keuangannya yang 
menjadi sangat liar, lepas kendali dan menjadi malapetaka seperti ini? 

Summers ditanya bagaimana dia mengedukasi dirinya sendiri karena seperti kita 
ketahui, dengan apa yang dinamakan bail out plan yang mendekati US$ 900 milyar, 
Larry Summers (Ketua Economic Council Presiden) dan Timothy Geithner (Menteri 
Keuangan) tidak mempunyai hambatan sedikitpun untuk menjadikan perusahaan 
swasta menjadi BUMN 100%. 

Larry Summers menjawabnya dengan mengutip Keynes yang pernah mengatakan : 
“Kalau situasi dan kondisi berubah, saya mengubah pendapat saya.” 

Pernyataan ini tentu dapat dibenarkan, walaupun sulit dipahami karena dia di 
masa lalu dalam kedudukan yang ikut membiarkan menjadi hancur leburnya dunia 
keuangan sekarang ini, karena selalu hakul yakin akan kemampuan mekanisme pasar 
dan kapitalisme partikelir. Sekarang terpaksa harus menasionalisasi banyak 
perusahaan swasta besar dan harus banyak melakukan regulasi, bahkan mencetak 
uang. 


RELEVANSINYA LARRY SUMMERS BUAT INDONESIA 

Mengapa Larry Summers relevan buat Indonesia? Karena dia sebagai Menteri 
Keuangannya Presiden Clinton demikian besar perannya memaksa Indonesia menuruti 
apa saja yang dikatakan oleh IMF. Saya sendiri yang harus berhadapan dengannya, 
karena ketika itu saya menjabat Menko EKUIN yang sangat menentang kebijakan 
tertentu dari IMF. 

Larry Summers yang didampingi oleh Tim Geithner beserta 4 staf lainnya di tahun 
2000 menegur saya sebagai Menko EKUIN, mengapa saya selalu saja tidak setuju 
dengan kebijakan IMF yang sangat mendasarkan diri pada mekanisme pasar. Mengapa 
saya menentang kebijakan IMF dalam hal obligasi rekapitalisasi perbankan dan 
cara menghitung CAR beserta penyelesaiannya? 

Beliau dan staf mengetahui semua pikiran dan kebijakan saya secara mendetil 
yang tidak mungkin diketahui kalau tidak mengikuti rapat-rapat yang saya 
pimpin. Dan Larry Summers beserta staf tidak pernah hadir. Apa artinya? Ada 
agen mereka yang pejabat tinggi Indonesia mengikuti rapat-rapat koordinasi 
Menko EKUIN-nya. 

PAUL KRUGMAN DAN IMF 

Tentang IMF ini, dalam bukunya terbaru yang berjudul “The Return of Depression 
Economics and the Crisis of 2008” di halaman 115 Paul Krugman menulis tentang 
kebijakan IMF menangani krisis di Indonesia tahun 1997 sebagai berikut : 

“Banyak orang berpendapat bahwa sebenarnya IMF dan Departemen Keuangan Amerika 
Serikat yang de facto mendiktekan kebijakan IMF yang menyebabkan krisis, atau 
paling tidak salah menanganinya (mishandled) yang membuat krisis semakin parah. 
(KKG : Menteri Keuangan AS ketika itu Larry Summers). Apakah mereka benar? 

Marilah kita mulai dengan bagian yang termudah : dua hal yang IMF jelas 
melakukan kesalahan. 

Pertama, ketika IMF diminta bantuannya oleh Thailand, Korea dan Indonesia, 
mereka segera mendiktekan kebijakan fiskal yang ketat, yaitu menaikkan pajak 
dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk menghindari defisit anggaran. 
Sangat sulit dimengerti mengapa IMF melakukan ini karena di Asia (berbeda 
dengan di Brasil setahun kemudian), tidak ada seorangpun kecuali IMF yang 
menganggap defisit anggaran sebagai masalah yang penting. Upaya untuk memenuhi 
target pengetatan anggaran tersebut mempunyai dampak negatif ganda untuk 
negara-negara yang bersangkutan; di mana arahan IMF ini dilaksanakan, dampaknta 
memperburuk resesi melalui pengurangan permintaan. Kalau tidak dilaksanakan, 
karena IMF gembar-gembor, mengakibatkan kepanikan bahwa perekonomian 
seolah-olah tidak terkendali. (KKG : Sekarang Larry Summers bersama-sama dengan 
Bernanke, Gubernur Bank Sentral AS menurunkan suku bunga sampai mendekati nol 
persen. 

Kedua, IMF menghendaki reformasi “struktural”, yaitu perubahan-perubahan dalam 
bidang-bidang yang tidak ada hubungannya dengan kebijakan fiskal dan moneter 
sebagai persyaratan untuk memperoleh pinjaman dari IMF. Beberapa dari reformasi 
ini seperti penutupan bank-bank sangat diragukan relevansinya dalam 
menanggulangi krisis keuangan. Kebijakan lainnya, seperti penghapusan pemberian 
monopoli kepada para kroni-kroninya sang Presiden tidak ada hubungannya sama 
sekali dengan mandat atau kewenangan IMF. Pemberian monopoli dalam perdagangan 
cengkeh memang hal yang buruk, contoh yang paling mencolok dari crony 
capitalism. Tetapi apa hubungannya ini dengan pelarian rupiah ke dalam dollar?” 

Demikian Paul Krugman tentang IMF. Dengan krisis ini rasanya IMF dibubarkan 
saja, secara regional diciptakan lembaga keuangan seperti ini. Negara-negara 
ASEAN-Plus sudah punya. 

Belum lama ini dalam konperensi tingkat tinggi Uni Eropa, IMF disuntik dana 
sebesar US$ 500 milyar oleh Uni Eropa, tetapi lebih dari US$ 450 milyar akan 
dipakai oleh Uni Eropa sendiri. Jadi IMF de facto sudah menjadi lembaga 
keuangan regional. 

Maka kalau Mafia Berkeley masih ingin tetap berkuasa, harus mulai 
berbaik-baikan dengan China, Jepang dan Korea Selatan. Menirulah Larry Summers. 
Katakan kepada negara-negara ini : “Since circumstances change, we, Partai UI 
in Depok change also.” 

Oleh Kwik Kian Gie


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------


===
Paket Umrah Mulai US$ 1.490
Paket ONH Plus 2009 (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi lengkap di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam? Kirim email ke [email protected]

Dapatkan buku-buku Islami di DemiMasa Online Bookstore http://www.demimasa.co.id

Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 
http://agusnizami.wordpress.comYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke