Hidup ini sering bermasalah.
 
Rasanya, baru lepas dari satu masalah, datang lagi masalah lain.Belum selesai 
bencana akibat kebanjiran, datang lagi galodo, eh muncul lagi yang lain lagi 
Terkadang aku berfikir, masalah, musibah itu sebenarnya diakibatkan diri kita 
sendirikah, atau memang berupa ujian dari Allah Ta'ala agar kita semakin kuat.
 
Mungkin tergantung sikonnya kali yah….
 
Ada musibah, atau masalah itu disebabkan oleh dari dalam diri manusia itu 
sendiri. Bukankah Allah sudah berfirman :"Apa-apa saja yang menimpa/mengunjungi 
diri seseorang dari sebuah kebaikan, maka kebaikan itu berasal dari Allah 
Ta'ala, sedangkan apa-apa saja musibah yang menimpa diri seseorang akan 
kejadian musibah yang jelek/buruk, maka itu disebabkan oleh diri mereka 
sendiri.".
 
Sementara ada sebuah hadits, menyatakan, apabila Allah Ta'ala menyayangi 
hambaNya, maka hamba tersebut akan diujinya".
 
Para Nabi, sahabat juga tak kurang dari cobaan dan ujian.Tapi, coba kita 
renungkan cobaan para nabi dan sahabat semacam apa, hampir rata-rata  karena 
ujian atas ketabahan, bukan karena kesalahan mereka. 
 
Jadi, hakikatnya musibah yang terjadi pada diri kita, adalakalanya karena 
memang kelalaian kita, adakalanya karena memang Allah ingin menguji tingkat 
kesabaran dan keimanan kita.
 
Makanya juga, tak salah dalam sebuah hadits, dikatakan, Allah berfirman: "Aku 
menurut sangkaan hambaKu terhadapKu".
 
Kita berprasangka baik saja pada Allah Ta'ala atas segala musibah yang melanda 
kita, namun tetap kita harus intropeksi diri, karena bisa jadi musibah yang 
melanda kita, disebabkan oleh perbuatan diri kita sendiri. Bukankah Allah 
ta'ala berfirman :"Jikalau saja penduduk suatu kampung beriman, sungguh kami 
akan membuka pintu keberkahan dari atas langit dan dalam bumi".dan firmanNya 
lagi :"Jika kamu bersyukur, sungguh (ni'mat) Ku akan kutambahi atas kamu, tapi 
jika kamu kafir(tidak bersyukur), sesungguhnya azabku sangatlah pedih"
 
Ada manusia yang tak mau memandang kebelakang. Hal ini suatu prinsip yang 
salah, sebab bertentangan dengan perintah Allah Ta'ala sendiri :"Hendaklah 
seseorang melihat apa yang telah terjadi padanya, untuk kebaikan masa 
depannya'(Masa belakang dipandang kembali untuk dijadikan i'tibar, bukan 
dibuang begitu saja). Saya agak aneh sering mendengar ucapan seseorang dengan 
mengatakan :"Saya ngak pernah melihat kebelakang".Kesalahan-kesalahan masa 
lalu, memang harus di ingat agar tak pernah terulang kembali, agar tidak jatuh 
pada jurang atau lobang yang sama.kesalahan yang paling fatal adalah berbuat 
aniaya pada manusia lainnya, apalagi aniaya pada allah Ta'ala.
 
Mari sama-sama kita renungkan perkataan Imam Ibnu Al qayyim Al Jauziyah dalam 
bukunya "Memetik Manfaat AlQuran"(hal 77):" Ketika manusia berpaling dari hukum 
yang ditetapkan dalam Kitabullah dan As Sunnah, serta tidak hanya berhukum 
kepadanya, dan mereka beritikad tidak cukup untuk berpedoman kepadanya, lalu 
mereka berpindah kepada beberapa pendapat, qiyas, istihsan dan beberapa 
perkataan syaikh, maka fitrah mereka akan merusak, lalu hatinya menjadi gelap, 
pemahamannya kotor, dan akal mereka juga turut hancur. Beberapa perkara ini 
akan mengalahkan mereka, hingga anak kecil akan terdidik demikian. Lalu sampai 
ia berusia lanjut pun demikian keadaannya. Dan mereka melihat hal tersebut 
bukan suatu tindakan kemungkaran.
 
Akhirnya datang kepada mereka suatu pemerintahan yang menjadikan Bid'ah sebagai 
Sunnah, nafsu berkedudukan sebagai akal, hawa nafsu sebagai petunjuknya, 
kesesatan menduduki fungsi petunjuk, kemungkaran menduduki tempat kebaikan, 
kebodohan menduduki tempat ilmu, riya menduduki keikhlasan, kebatilan menduduki 
posisi kebenaran, dan kebohongan menduduki kebenaran atau kejujuran, 
penganiayaan menempati keadilan.
 
Apabila pemerintahan telah berkedudukan sedemikian rupa, dan keadaan telah 
dikuasai penuh, bendera-benderanya telah dikibarkan, tentaranya telah 
dipersiapkan, maka perut bumi(kematian), demi Allah, lebih baik daripada 
diatasnya, dan puncak gunung lebih baik daripada lembahnya. Serta bercampur 
dengan binatang buas lebih baik ketimbang berkumpul dengan manusia.
 
Bumi telah terguncang, dan langit gelap gulita. Kerusakan telah melanda bumi 
dan lautan, dikarenakan banyak penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang 
yang durhaka. Berkah telah lenyap dari muka bumi, dan kebaikan menjadi sedikit, 
beberapa binatang buas telah kurus, lalu kehidupan telah kotor karena kefasikan 
orang-orang yang dzalim. Sinar siang dan kegelapan malam telah menangis 
disebabkan beberapa perbuatan jahat dan kejam.
 
Amal perbuatan yang tanpa disertai dengan keikhlasan dan sesuai dengan Sunnah 
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, maka sama saja seperti musafir yang 
pergi kesuatu tempat dan mengisi tasnya dengan pasir yang amat berat, dimana ia 
tidak bisa memanfaatkannya sama sekali".
 
Hadapilah masalah itu dengan kepala dingin dan hati tenang. Bila saat emosi 
belum sanggup menenangkan hati, mari kita ambil air wudhuk, duduklah, atau 
berbaring, bacalah AlQuran, atau bacalah buku2 agama penenang hati. InsyaAllah 
amarah itu akan reda. Tetaplah berbaik sangka pada Allah ta'ala terhadap segala 
cobaan yang menimpa, namun tetap jugalah intropeksi diri, mungkin saja ada 
kesalahan yang kita perbuat, ada kita menganiaya/mendzalimi orang lain, atau 
ada harta orang lain yang kita makan secara aniaya, sebab rahmat Allah lebih 
besar ketimbang azabnya. Allah Tak mungkin mendzalimi hambaNya, kecuali hamba 
tersebutlah yang dzalim pada dirinya sendiri.
 
 Jangan pernah membuat masalah dengan  menghina, mengejek,  seseorang, karena  
Allah berfirman, orang yang suka menghina/mengejek orang lain, dia adalah 
seorang yang fasiq, bahkan orang fasik yang paling jelek, setelah mereka 
beriman. Barang siapa yang tidak bartaubat, maka orang yang suka menghina orang 
lain itu, adalah orang-orang yang berbuat dzalim.Ingat, do'a orang yang kita 
aniaya/dzalimi, tidak ada batas antara dirinya dan Allah Ta'ala.
 
Dan mari kita usahakan darah daging, makanan yang masuk kedalam perut kita 
adalah berasal dari yang halal. Karena mana mungkin do'a kita akan terkabulkan, 
kalau darah daging kita berasal dari hasil jerih payah yang haram. Haram itu 
bermacam-macam, makan dari hasil riba, makan dari hasil penipuan, korupsi, 
kecurangan, didapat dari jalan yang salah, jalan yang tidak sesuai dengan 
ketentuan AlQuran dan assunnah, dan lain sebagainya. Memang sulit yah hidup 
ini, dan selalu saja ada masalahnya. Namun, itulah kehidupan, tidak hidup 
namanya kalau tak bermasalah. Mayat yang sudah mati yang tak bermasalah lagi 
didunia ini, kecuali dalam alamnya yang lain kali, alam kubur.
 
Wassalamu'alaikum. Rahima, Bukittinggi 9 April 2009
 
 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke