sejuk...

> 
> Tulisan pak Syamsi Ali, Imam masjid di NYC.
> 
> Assalamu'alaikum,
> 
> 
> Mid-Night Run 
> 
> M. Syamsi Ali
> 
> Awalnya sebuah ide. Ide justeru datang dari seseorang yang
> baru belajar Islam. David Juan adalah seorang guru musik di
> sebuah sekolah umum di daerah Harlem , dan kini aktif
> belajar Islam di Islamic Forum for non Muslim. Pria
> keturunan Spanyol ini sangat lembut, tapi juga pintar dan
> tanggap terhadap segala isu yang didiskusikan di kelas. 
> 
> Sekitar dua bulan lalu, the Islamic Forum mendiskusikan
> makna ‘rahmatan lil’alamin’ dalam konteks resesi
> ekonomi dunia saat ini. Pembicaraan melebar ke berbagai isu,
> hingga bagaimana dan apa yang bisa dilakukan komunitas
> Muslim untuk meringankan beban sesama manusia yang kurang
> beruntung (unfortunates) . Tiba-tiba saja David mengacungkan
> tangan dan mengusulkan langkah konkrit. “Why you guys
> don’t go out one night to the streets of this great City?
> How fortunate we are”, katanya. “As we enjoy warm
> weather in side of our fancy rooms, there are out there,
> brothers and sisters suffering!”, katanya tanpa merinci. 
> 
> Mungkin karena David memang tinggal di daerah Harlem yang
> rata-rata under class, maka sentiment yang dimiliki terhadap
> mereka yang kurang beruntung ini sangat tinggi. Lalu saya
> tanyakan, kira-kira bentuk apa yang kita bisa lakukan
> sebagai aplikasi dari kepedulian kita? Dijawab dengan
> singkat “feed them, cloth them!”. 
> 
> Saya cukup tertantang dengan usulan David tersebut.
> Menarik, sederhana dan praktis. Maka saya ajak beberapa
> teman dan mendiskusikan lebih jauh bagaiman merealisasikan
> ide tersebut. Ternyata beberapa teman mengusulkan agar ide
> ini direalisasikan dalam sebuah bentuk sekali mendayung
> menuju dua pulau. Artinya, ide rahmatan lil’alamin
> tercapai, tapi juga kiranya digambarkan bahwa Islam itu
> membangun persahabatan dan kerjasama dalam hal-hal kebaikan
> secara sosial. 
> 
> Maka diputuskanlah bahwa ide ini akan dilakukan dalam
> bentuk gerakan sosial dengan membagi-bagi makanan dan
> pakaian kepada ‘homeless’ di kota New York ( Manhattan )
> di sebuah malam lewat malam. Program inipun dinamai
> ‘Mid-Night Run’. Selain itu juga diputuskan bahwa dalam
> rangka menjual ‘message’ (friendship dan cooperation)
> program ini akan ditawarkan kepada beberapa institusi non
> Muslim sekalin. 
> 
> Maka saya pun kontak beberapa institusi non Muslim; gereja
> dan synagogue, dan ternyata tanggapan mereka sangat positif.
> Bahkan beberapa gereja dan komunits Yahudi menelpon untuk
> ikut gabung pada program tersebut. Namun oleh panitia
> diputuskan bahwa untuk partama kali ini kita hanya mengajak
> 1 gereja dan 1 synagogue. Pilihan pun jatuh kepada St.
> Bartholomew Church dan JTS (The Jewish Theological Seminary)
> untuk diikutkan pada kali ini. 
> 
> Maka kali ini ada tiga institusi Muslim (Islamic Cultural
> Center of New York, Masdjid Al-Hikmah dan The Foundation of
> Islamic Support) dan dua institusi non Muslim di atas.
> Alhamdulillah, semua persiapan lancar. Pengumuman dilakukan
> di beberapa Islamic Center untuk melibatkan volunteer Muslim
> yang lebih banyak dan pengumpulan pakaian-pakaian baru atau
> bekas untuk maksud tersebut. Kenyatannya banyak yang juga
> memberikan donasi dalam bentuk keuangan untuk mensupport
> acara tersebut. 
> 
> Dalam rapat-rapat kami selama ini juga diikuti oleh tiga
> wakil dari institusi-institusi tersebut. Saya mewakili
> Islamic Cultural Center, Sheikh Amin Abdul Awwal mewakili
> The Foundation of Islamic Support dan Rabbi Burt Vitzoski
> mewakil The Jewsih Theological Seminary. Sementara gereja
> Marble tidak terlalu banyak mengambil peranan dalam
> persiapan. 
>   
> Di Sebuah Malam Dingin 
>   
> Sore itu, di masjid Al-Hikmah, masjid satu-satunya milik
> warga Indonesia di Amerika dan terletak di sebuah daerah
> kecil bernama Astoria , Queens , masih nampak sepi. Hanya
> beberapa orang yang memang hampir setiap hari, bahkan tidak
> jarang menginap di mesjid untuk mendekatkan diri kepada
> Allah SWT, nampak sibuk di dapur membuat goring-gorengan. 
>   
> Di hall way masjid nampak sebuah meja yang penuh dengan
> bahan-bahan makanan. Teman-teman di masjid Al-Hikmah
> menyampaikan bahwa sebentar lagi ibu-ibu akan datang ke
> mesjd mempersiapkan acara Mid-Night Run dengan membuat
> sandwiches. Rencananya akan menyiapkan minimal 150-an buah
> sandwich untuk program tersebut. 
>   
> Alhamdulillah, Magrib tiba satu per satu ibu-ibu itu tiba.
> Dengan segala kegesitan membuat sandwich yang ditata rapih.
> Sandwich itu dimasukkan ke dalam sebuah box yang bagus,
> lengkap dengan sebotol air dan sebuah pisang. Persis
> mempersiapkan perbekalan bagi seseorang yang akan melakukan
> perjalanan. Mungkin bagi yang tidak mengenal rencana pada
> malam itu terpikir jikalau masjid sedang akan ada hajatan. 
>   
> Tepat pukul 9:30 malam, kelompok Muslim berkumpul di depan
> Islamic Center New York menunggu kelompok yang lain.
> Menjelang pukul 10 malam, semua tekah hadir di tempat. Di
> mulai dengan rapat kecil, foto bersama dan kemudian
> dilanjutkan ke sasaran daerah pertama yang seringkali
> dipadati oleh para homeless di kota New York . Iringan mobil
> van yang di bawa oleh masing-masing kelompok, tapi ditumpagi
> secara acak, ibarat sedang menuju sebuah peperangan besar.
> Sebagian Yahudi menumpang di mobil milik masjid Al-Hikmah,
> sebagian Muslim menumpang di mobil mereka. Tentu dengan
> maksud agar terjadi perkenalan dan kedekatan pertemanan. 
>   
> Sasaran pertama adalah sebuah daerah yang nampak cukup
> elit. Saya pribadi terkejut ketika iring-iringan berhenti di
> daerah itu karena di sekelilingnya adalah hotel-hotel, dan
> bahkan restoran dan night clubs. Ternyata, di penghujung
> jalan itu ada lobang kereta bawah tanah dan di station
> itulah bersarang banyak homeless. Begitu perwakilan kita
> turun dan memberitahu satu orang di antara mereka, puluhan
> tiba-tiba menyerbu tapi dengan sangat teratur dan sopan.
> Saya terkejut ketika mereka menerima makanan, pakaian, dan
> segela kopi atau cikelat hangat, dengan sangat sopan
> menyampaikan terima kasih. “Thank you sir. God bless
> you!” terdengar ramai dari mereka. 
> Sasaran selanjutnya adalah sebuah pinggiran jalan dekat bus
> station di Times Square , yang lebih dikenal dengan 42nd
> street . Dareah yang ramai, lampu berkilap-kilap, city never
> sleep, tapi ternyata di bawah tanah pinggiran daerah itu
> penuh dengan para homeless. Mereka dari berbagai ragama
> manusia, African Americans, Hispanic maupun White dan bahkan
> Asian Americans. Yang mengejutkan saya di daerah ini adalah
> ketika seseorang mendekat meminta makanan, tapi sebelumnya
> dia memperhatikan sandwich yang disodorkan, lalu bertanya
> “What kind of Sandwich is this?”. Saya menjawab enteng,
> karenanya menyangkanya hanya iseng: “That is a beef
> sandwich. It there any problem?”. Seraya melihat ke saya,
> mungkin belum tahu kalau kami ini Muslim karena wajah-wajah
> kami barangkali disangkanya hanya bagian dari Asian
> American, Chinese, Korena, or else. Dia kemudian dengan
> serius bertanya lagi: “Is this halal?”. “Sir, I am a
> Muslim and I don’t eat pork”,
> jelasnya. 
>   
> Saya kemudian menjabat tangan beliau dan memanggilnya
> “brother”. Seraya tersnyum saya sampaikan bahwa
> mayoritas yang membagi-bagi makanan malam ini adalah Muslim
> brothers and sisters. “Don’t; worry brother, our food is
> halal”, jelasku. Dian nampak kegirangan dan berteriak,
> “Hi, these are my brothers!”, ,memberitahu teman-temanya
> yang hadir malam itu……. 
>   
> Nyambung!
> 

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Yahoo! Canada Toolbar: Search from anywhere on the web, and bookmark your 
favourite sites. Download it now
http://ca.toolbar. yahoo.com.

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo. com/

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke