Assalamu'alaikum wr wb, Ada rekan yang mungkin dari Salafi dengan memakai nama Abu memprotes saya karena tidak mengkafirkan Syi'ah.
Lah bagaimana mau mengkafirkan Syi'ah sementara Raja Arab Saudi sendiri menerima mantan presiden Iran yang Syi'ah dan juga mayoritas ulama Arab Saudi juga tidak menentang datangnya jema'ah haji dari Iran jika mereka memang kafir? Para ulama MUI juga menerima ulama Syi'ah di Bogor dalam “Konferensi Internasional Pemimpin Umat Islam Untuk Rekonsiliasi Irak” di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat (Jabar). Lihat berita dari Antara di bawah. Wewenang memfatwakan apakah satu aliran sesat itu ada di tangan Majelis Ulama seperti MUI. Bukan di perorangan seperti saya...:) Islam itu pertengahan. Tidak ekstrim. Tidak terlalu permisif, dan juga tidak terlalu gampang mengkafirkan aliran lain yang tidak sekelompok dengannya. Kalau ada kelompok ini, namanya khawarij. MUI juga tidak memfatwakan Syi'ah sesat. Hanya menyatakan mereka berbeda dan meminta ummat Islam untuk waspada. Fatwa MUI saya muat di bawah. Di bawah ada berita dan pendapat ulama tentang Syi'ah. Mohon dibaca seksama sebelum memberikan tanggapan. Wassalam Raja Saudi: Umat Islam Seluruh Dunia Harus Satu Suara Hadapi Yahudi dan Kristen http://eramuslim.com/berita/int/8605172225-raja-saudi-umat-islam-seluruh-dunia-harus-satu-suara-hadapi-yahudi-dan-kristen.htm?religion Laporan BBC menyebutkan, yang menarik dari konferensi ini adalah ketika Raja Abdullah memasuki ruangan konferensi dan berjalan berdampingan dengan mantan presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani. Keduanya juga duduk berdampingan di panggung kehormatan. Ini, tulis BBC, menjadi pesan bahwa kerajaan Saudi yang Sunni sudah bersikap terbuka dengan Muslim Syiah. === http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1175097041&date=7-2008 Ustadz Menjawab > Aqidah Sholat Berjama'ah dengan Imam Orang Syi'ah Assalamu''alaikum Wr. Wb Ust. Ahmad yang dirahmati Allah swt. Saya seorang awam dalam beragama Islam, khususnya dalam hal mazhab. Tetapi teman-teman saya mengatakan bahwa saya dari kalangan Ahlussunnah wal jamaah, karena solat saya bersedkap. Yang ingin saya tanyakan, apakah seorang Ahlussunnah boleh berjamaah dengan seorang Imam dari kalangan mazhab selain Ahlussunnah, misalnya Imam sholat yang bermazhab Syi''ah. Demikian pertanyaan dari saya. Mohon maaf bila tidak berkenan. Semoga Ust. Ahmad dilimpahkan rahmat dan barokah yang banyak oleh Allah SWT. Ilahi Amin Malik jawaban Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Prinsip dalam hukum sahnya shalat berjamaah terletak pada sahnya shalat sang imam itu sendiri. Kalau imam itu dianggap sah dalam shalatnya, maka sah juga bagi orang lain untuk bermakmum di belakangnya. Sebaliknya, bila imam dinilai tidak sah dalam shalatnya, maka tidak sah bagi orang lain untuk bermakmum di belakangnya. Misalnya imam shalat tanpa menutup aurat, atau tanpa bersuci dari hadats, atau tidak menghadap kiblat, atau sebab-sebab teknis lainnya, maka tidak sah bila kita bermakmum di belakangnya. Sedangkan masalah perbedaan kelompok antara imam dan makmum, selama kelompok yang diikuti si imam itu tidak keluar dari agama Islam, tidak ada masalah. Sebab kelompok si imam tetap masih di dalam barisan umat Islam, meski ada berbedaan pandangan. Kecuali bila kelompok yang diikuti oleh imam adalah kelompok yang nyata jelas telah keluar dari Islam, di mana kelompok itu berikut si imambenar-benar tervonis sebagai non muslim secara resmi oleh lembaga resmi umat Islam, maka tentu saja hukumnya haram untuk kita menjadi makmum kepadanya. Sedangkan kelompok syiah, meski sebagiannya ada yang dipertanyakan statusnya, lantaran ada yang mengingkari kenabian Muhammad SAW, tetapi umumnya masih berada di dalam garis barisan umat Islam. Kita tidak boleh gegabah main vonis bahwa kelompok syiah itu bukan termasuk bagian dari umat Islam. Mengingat di dalam kelompok syiah memang begitu banyak berkembang berbagai keyakinan, mulai dari yang dekat dengan ahlusunnah hingga yang paling bertentangan. Tetapi secara umum, syiah tetap termasuk bagian dari umat Islam. Sebagian pengamat menyebutkan bahwa jumlah pemeluk syiah sekitar 13% dari total jumlah umat Islam sedunia. Kalau jumlah umat Islam saat ini 1, 5 milyar, maka paling tidak ada 195.000.000 orang yang dianggap syiah. Lalu bagaimana pertanggung-jawaban kita di hadapan Allah nanti, bila kita kafirkan 195 juta orang itu? Apakah kita siap mempertanggung-jawabkan vonis kafir yang dengan ringan kita lontarkan kepada mereka? Mengapa kita mengkafirkan kelompok, bukankah seharusnya kita meneliti secara kasus per kasus, atau orang per orang? Sebab siapa yang bisa menjamin bahwa 195 juta orang itu pasti kafir? Memang tidak tertutup kemungkinan bahwa di antara 195 juta orang itu adalah yang ingkar kepada kenabian Muhammad, juga tidak tertutup kemungkinan ada juga yang ingkar kepada Al-Quran Al-karim yang kita miliki. Akan tetapi benarkan tindakan kita ketika menggeneralisir bahwa 195 juta orang itu semua adalah pengingkar nabi dan Al-Quran? Siapa yang menjamin hal itu? Sebaiknya kita tidak terlalu mudah menjatuhkan vonis kafir kepada sesama umat Islam. Apalagi kita juga bukan hakim yang punya wewenang dan keahlian untuk itu. Ada baiknya kitaterlampau termakan hasutan orang yang mewajibkan kita harus mengkafir-kafirkan sesama muslim. Sebab mengkafirkan tanpa data dan fakta nyata justru akan membalikkan kita kepada tuduhan kita sendiri. Nauzubillahi min zalik. Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc === Berikut Fatwa MUI tentang Syi’ah: http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=8 Faham Syiah Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut : Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya : # Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis. # # SyiÆah memandang “Imam” itu ma ’sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan). # Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”. # SyiÆah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/Pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan ummat. # Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib). # Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal JamaÆah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (Pemerintahan)“, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada ummat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran SyiÆah == Hingga saat ini Republik Islam Iran masih terdaftar sebagai anggota Organisasi Konferensi Islam. Silahkan baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Organization_of_the_Islamic_Conference http://www.oic-oci.org/oicnew/member_states.asp Islamic Republic of IRAN Member Since 1969 == http://www.antara.co.id/arc/2007/4/3/dua-tokoh-syiah-iran-tak-hadiri-konferensi-di-istana-bogor/ Bogor (ANTARA News) - Dua tokoh Syiah dari Iran yakni Ketua Mahkamah Agung Ayatullah Sayyid Mahmoud Hasyemi Syahrudi dan Ayatullah Mohammad Ali Attaskiri dipastikan tidak menghadiri “Konferensi Internasional Pemimpin Umat Islam Untuk Rekonsiliasi Irak” di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat (Jabar). ANTARA News yang berada di Istana Bogor, Selasa sore melaporkan, selain kedua tokoh Syiah Iran tersebut, delegasi dari Irak yakni Mahmood Al Sumai Dai (Sunni), Sayyid Qodruddin Al Qubbanji (Syiah) juga belum dapat dikonfirmasikan akan hadir. “Delegasi Irak masih menunggu izin presiden mereka untuk dapat hadir pada pertemuan ini,” kata sumber Departemen Luar Negeri (Deplu) RI. Sementara itu, dua tokoh Syiah dari Iran yang telah hadir dan bergabung dengan ulama Syiah dan Sunni dari berbagai negara adalah Sheikh Muhammad Mehdi Taskiri, dan Muhammad Mahdi Al Asifi. Presiden Republik Indonesia (RI), Susilo Bambang Yudhoyono sendiri, pada pukul 16.25 WIB telah tiba di Istana Bogor guna membuka konferensi tersebut. Hingga berita ini dilaporkan pukul 17.05 WIB, delegasi ulama yang sudah datang berasal dari 10 negara yakni Iran, Yordania, Libanon, Malaysia, Mesir, Pakistan, Suriah, Turki –yang tokohnya yakni Ekmeleddine Ihsanoglu saat ini menjabat Sekjen OKI (Organisasi Konferensi Islam)–, Arab Saudi dan tuan rumah Indonesia. Delegasi Indonesia di antaranya adalah Ma`ruf Amin (MUI), Mahfur Usman (NU), Syafii Maarif (Muhammadiyah), Yunahar Ilyas (Muhammadiyah) dan Jalaludin Rahmat (tokoh Syiah). Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

