Assalamualaikum
Wr Wb

 

 

Bissmillahirrohmaanirrohiim

 

 

Dari
depan Kantor kelurahan Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi, saya menuju Lokasi
TPA yang luasnya lebih kurang 120 H, saya memutar lewat jalan belakang.

 

Siang
itu, sabtu tanggal 25 April 2009, diareal TPA, tepatnya pada lahan yang baru
dibuka untuk lokasi pembuangan akhir sampah, dibawah terik mata hari, saya
melihat dan menghampiri seorang anak laki laki yang sedang menarik gerobak
sampah ukuran sedang yang masih kosong tapi penuh dengan keranjang yang terbuat
dari anyaman bambu, dan dibelakang gerobak tersebut berjalan dua orang anak
laki laki sebayanya.

 

Nama
saya Ari kata yang menarik gerobak dan ini Adi dan ito, sambil merangkul
temannya, ketika saya mendekati dan turun dari honda tua, yang telah 
menghantarkan
saya dari Pulogadung sampai lokasi TPA, saya menyalami ketiga bocah tersebut
dan mengenalkan diri.

 

Saya
dan teman teman saya, baru akan berangkat menuju kesana, kata si Ari sambil
menunjuk lokasi pembuangan sampah dilokasi yang baru, sebentar lagi ada truk
datang pak, kata Ito.

 

Ketika
saya bertanya mas Ari, Mas Ito dan mas Adi tinggal dimana, disana pak, kata
mereka, sambil menunjuk dilereng bukit lokasi pembuangan sampah yang telah
ditutup tanah dan sudah mulai ditumbuhi rumput, kira kira jaraknya lk 2 km dari
lokasi pembuangan yang baru dibuka.

 

Teman
teman saya sudah disana kata Adi, maksudnya dilokasi pembuangan sampah yang
baru dibuka, dan yang lain tadi masih dirumah kata Ito, ketika saya tanya kok
cuma bertiga teman teman yang lain pada kemana.

 

Ketika
saya tanya kok tidak sekolah, sudah keluar pak, kelas berapa, mereka menjawab
serentak kelas lima, memangnya... sekolahnya bareng, tidak pak, kami lain 
kampung,
saya dari Purwakarta, kata Ari, saya dari jawa semarang pak, kata Ito, saya
dari Indramayu pak, kata Adi, ketika saya tanya asal daerah mereka yang sangat
lugu tersebut.

 

Saya
ikut bapak sudah dua tahun pak, kata Ari, ketika saya tanya disini dengan siapa
dan sudah berapa lama, ibu kami juga masih ada, kata si Ito, Bapak sama mamak
saya sudah disana pak. kata Ito lagi, maksudnya dilokasi pembuangan sampah yang
baru dibuka tersebut.

 

Tau
Sekolah Alam Tunas Mulia tidak..? mas, saya bertanya pada mereka, disana pak,
jawab mereka serempak sambil menunjuk kearah kampung yang berjarak lk 2 km dari
tempat kami berdiri, ketika saya tanya apakah mereka sebagai siswa sekolah 
Alam, kami
sudah berhenti pak, looooo... bukannya sekolah disana gratis tinggal masuk
saja, iya pak, saya tidak boleh sama bapak saya kata Ari, kok tidak boleh
sekolah emang alasannya apa mas, saya disuruh membantu bapak dan mamak saya
mencari barang barang yang masih bisa dijual.

 

Mas
Ito dan mas Adi kok tidak sekolah disekolah Alam itu kena apa...?, sama pak
saya disuruh bantu orang tua mengumpulkan barang bekas yang masih laku.

 

Terus kalo sudah dapat barang barang bekas,
jualnya kemana mas, ada boos yang datang kekami pak, ooooo..... sehari bisa
dapat berapa mas dari hasil menjual barang bekas, tanya saya ingin tahu 
penghasilan mereka dalam mencari barang barang barang bekas tersebut, kadang 
dapat Rp.10.000,- kadang juga Rp.
15.000,- tidak tentu lah pak, pernah dapat uang lebih besar dari segitu 
tidak..?, jawab mereka tidak pak.

 

Kenal
sama guru guru Sekolah Alam tidak mas, mereka menjawab kenal Pak, Pak Nadam itu
guru ngaji saya dulu, kata Ito, kok nggak ngaji lagi, kena apa..?, malu habis
sudah lama nggak sekolah juga nggak ngaji pak.

 

Masih
mau sekolah tidak..?, tanya saya pada mereka, mau pak, tapi tidak punya biaya, 
kata
mereka, bagaimana.. kalau bapak yang bilang sama orang tua mas Adi, Mas Ito, 
dan Mas
Ari, supaya diizinkan sekolah, iya pak, Bapak datang kerumah saya ya, kata Ito,
iya deh tanggal 31 Mei 2009, bapak dan teman teman Bapak mau berkunjung ke
Sekolah Alam Tunas Mulia, mamas mau datang ketemu Bapak lagi kan...?, mereka
menjawab serempak iya pak mau.

 

Saya
melepas ketiga anak putus sekolah tersebut berjalan menuju areal pembuangan
sampah Akhir yang baru dibuka, jalannya sangat becek tanah merah, ditengah terik
matahari, mereka berjalan mendorong gerobak sampah, sampai ujung jalan mereka
belok dan tidak tampak lagi karena tertutup bukit sampah.

 

Anak-anak
ini terpaksa setiap hari harus mengais ngais sampah untuk mencari kaleng dan 
besi tua dan atau botol juga
barang barang bekas lainnya, untuk membantu meringankan beban orang tua mereka,
karena orang tua mereka tidak mampu membiayai sekolah bahkan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari saja masih jauh dari cukup.

 

Mata
pencaharian mereka hanya mengandalkan dan berharap dari hasil mengais ngais
sampah yang baru turun dari truk.

 

Hasilnya
juga tidak memuaskan dan juga sangat pas-pasan karena baik barang yang didapat
dan harga jual barang yang didapat sangat rendah nilainya, sehingga pendapatan
tidak pernah mencukupi.

 

Karena mereka
asyik mengais ngais sampah akhirnya mereka tidak pernah terpikir masa depan
mereka harus bagaimana dan kemana untuk menyambung hidup.

 

Subhannalloh
betapa mulia hati Bapak Nadam, Ibu Widiyanti, dan Bapak Juarto, mereka pada
awalnya hanya perihatin dan merasa iba melihat anak anak pemulung Bantar gebang
ini, akhirnya karena serba keterbatasan ekonomi mereka, mereka bertiga
memutuskan untuk mengajar membaca Al-Qur'an.

 

Alloh
Maha kaya dan Maha melihat perjuangan hambanya, dan dua setengah tahun yang
lalu Alloh mengabulkan jerih payah dan perjuangan mereka bertiga yang pada
awalnya lebih kurang 2 tahun mereka mendirikan gubuk tidak jauh dari lokasi
gubuk gubuk para pemulung, sebagai tempat mengaji dan belajar sholat serta
belajar pelajaran umum lainya.

 

Dan
Alhamdulillah walau saat ini Sekolah Alam kelasnya baru berupa saung yang 
terbuat dari papan dan bambu, akan tapi baik
tanah maupun bangunan sudah milik sendiri, kata ibu Widi dan pak Nadam.

 

Wahai
saudara saudaraku yang dirahmati dan dimuliakan Alloh, saya mengajak dan
menghimbau, mari kita bahu membahu membantu meringankan beban dan perjuangan
Pak Nadam , Ibu Widiyanti dan Bapak Juarto, serta relawan guru guru yang lain,
sebagai bantuan berkesinambungan dari kita semua kaum Muslimin, sebagai tanda
persaudaraan sesama muslim dan sebagai tabungan diakhir hayat nanti, kami
sangat berterimakasih bila Bapak/ Ibu/ saudara/ saudari kaum muslimin berkenan
menyisihkan sebahagian rezekinya dalam :

 

No.
Rekening BCA 4411258887

No.
Rekening MANDIRI 1220005209807

Keduanya
atas nama Dedah Amniyati. (bendahara http://tahajjudcall.org /
[email protected])

 

Semoga
kelak perjuangan dan angan angan Pak Nadam dan Mbak Widi serta pak Juarto
beserta seluruh relawan, dapat terwujud sehingga anak anak pemulung Bantar
Gebang, tidak lagi menjadi pemulung melainkan, lebih baik dan lebih baik lagi
dalam mencari ridho Alloh, dan semoga kelak putra putri Sekolah Alam Bantar
Gebang menjadi penolong dan pejuang Agama yang Alloh ridhoi, Aamiin Yarobbal
Aalamiin.

 

Terimakasih
dan Mohon maaf bila tidak berkenan

 

 

Wassalamualaikum
Wr Wb

 

 

 

Mujiarto
Karuk




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke