"Ketika Perang Teluk meledak 1991, pemikir dan pendekar humanis ini
menggelar doa mingguan bersama bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Lebih
dari 1500 peserta yang hadir dalam doa bersama itu kali pertama diadakan.
"Selama berabad-abad kita telah hidup bersama dalam suasana saling diam dan
benci," komentarnya kepada Daily News tahun 1991. "Salah satu hal yang
positif dari seluruh krisis teluk adalah bahwa tiga komunitas datang bersama
dan menemukan begitu banyak persamaannya dalam iman dan kitab suci
masing-masing." Jika fakta ini telah berlaku di Amerika, dipelopori oleh
seorang beriman seperti Hathout, mengapa di Indonesia kita masih saja gagap
untuk mengucapkan selamat natal kepada sahabat Kristen kita?"

Demikian kutipan dari opini seorang muslim senior negeri ini yang tengah
mengomentari kepergian seorang tokoh muslim asli Mesir warga Amerika yang
berpulang pada 25 April lalu di Pasadena. Bila kita perhatikan, tampak jelas
pencampuran (talbis) antara yang Haq dan Bathil, antara saling menghormati
sesama pemeluk keyakinan walau berbeda iman dengan ikut merayakan apa yang
diyakini oleh keyakinan lain!

Dengan terlebih dahulu mencap alm. Hassan Hathout sebagai 'pemikir dan
pendekar humanis', muslim senior ini menggunakan momen doa bersama pasca
pecahnya perang Teluk tahun 1991 yang diprakarsai salah satunya oleh
Hathout, untuk kembali mengangkat sebuah fatwa final dari MUI di bawah
kepemimpinan alm. Buya Hamka. Apakah gelar profesor yang ia sandang tidak
mampu membuatnya berfikir jernih dan membedakan antara 'doa bersama' yang
artinya adalah sejumlah orang dari keyakinan yang berbeda berkumpul dan
berdoa menurut keyakinan masing-masing pada saat yang sama di tempat yang
sama karena satu alasan yang tidak berbeda? Bagian mana dari kisah doa
bersama itu yang lantas pantas dan dapat menjadi landasan untuk ikut campur
keyakinan lain, wa bil khusus mengucapkan selamat natal?

Apakah kematangan usia dan pengalaman hidup yang ia lalui dan segala
pencapaiannya itu tidak dapat membuatnya menggunakan landasan iman dan
tauhid untuk dapat melihat dengan jernih?

Apakah ada agenda lain dalam benaknya untuk tidak henti mengutarakan suatu
pendapat nyeleneh yang jelas sesat?

Laa haula wa laa quwwata illa billah ...! Inna lillaahi wa inna ilaihi
raajiuun ...!

salam,
satriyo

PS: lebih lengkap opini dimaksud bisa lihat di sini:
http://www.republika.co.id/koran/28/48336/Pendekar_Lintas_Imam_Itu_Telah_Tiada_I

-- 
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke