Dari Moderator:
Sungguh benar firman Allah SWT:

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu 
mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah 
petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka 
setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung 
dan penolong bagimu" [Al Baqarah:120]

Contohnya meski PKS berusaha setoleran mungkin dengan merekrut caleg non Muslim 
dan juga bintang iklan wanita yang tidak berjilbab untuk meyakinkan PKS sebagai 
"Partai Kita Semua", toh tetap saja orang2 Yahudi dan Nasrani menyenanginya.

Kenapa BJ Habibie dan Amien Rais gagal jadi presiden? Karena dianggap terlalu 
"hijau" (Islam), padahal kita melihat mereka biasa2 saja (tidak ekstrim).

Ketidak senangan itu bukan hanya dalam hati, tapi bisa mereka suarakan dengan 
lisan/tulisan bahkan dengan tangan. Contohnya ketika partai Islam, FIS, menang 
di Aljazair, FIS segera mereka tangkap dan singkirkan. Begitu pula Hamas yang 
menang pemilu di Palestina. Afghanistan yang menerapkan syariat Islam segera 
diserang oleh AS dan sekutunya.

Allah memerintahkan kita untuk hati2:

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi 
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) 
kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang 
kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu 
nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu 
tidak akan dianiaya (dirugikan)." [Al Anfaal:60]

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu 
orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya 
(menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. 
Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati 
mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat 
(Kami), jika kamu memahaminya." [Ali 'Imran:118]

Oleh karena itulah maka hendaknya kita selalu bersatu. Jangan bercerai berai 
dan selalu ribut mengenai masalah khilafiyah/furu'iyah sehingga akhirnya hukum 
Allah tidak pernah bisa kita tegakkan.

Wassalam

Selasa, 12/05/2009 16:02 WIB

Wacana Koalisi PD-PDIP Upaya Pecah Belah Koalisi Besar
M. Rizal Maslan - detikPemilu





Jakarta - Situasi dan kondisi sejumlah partai politik menghadapi Pemilu 
Presiden (Pilpres) 2009 dianalogikan seperti Kuda Troya. Selain terjadi konflik 
internal masing-masing parpol, juga adanya upaya memecah koalisi besar dengan 
wacana koalisi PDIP-PD.

"Kondisi parpol-parpol saat ini seperti Kuda Troya, di mana semua parpol 
mengalami konflik internal akibat kekuatan lain di luar partainya," kata 
pengamat politik dari Fisip UI, Bonni Hargens, dalam diskusi 'Mencermati 
Koalisi PDIP-PD: Orba Jilid 2' di RM Ayam Goreng Suharti, Jl Tendean, Pancoran, 
Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2009).

Bonni mengatakan, rencana koalisi PDIP-PD merupakan upaya memecah belah koalisi 
besar. "Jadi bukan semata-mata untuk membangun koalisi dengan PDIP saja. Kalau 
itu terjadi, ada apa di Teuku Umar?" jelasnya.

Menurut Bonni, kenapa PDIP mempertimbangkan untuk bergabung dengan PD, salah 
satu faktor melihat langkah Prabowo Subianto atau Partai Gerindra yang terlalu 
lama dan terkesan jual mahal. "Mungkin saja ini menjadi pertimbangan. Itu 
sangat logis, ini seperti shock theraphy, karena terlalu lama," ujarnya.

Bonni menjelaskan, saat ini PDIP menghadapi situasi yang sulit, apalagi Partai 
Golkar dan Hanura sudah jalan sendiri. "Tinggal PDIP dan Gerindra, tapi ini pun 
tidak ada kejelasan," imbuhnya.

Sementara itu Direktur Indo Barometer, M Qodari mengatakan, koalisi PDIP dengan 
PD masih taraf wacana dan belum kenyataan. Sebab, di PDIP itu ada tiga kubu, 
yaitu kubu yang ingin berkoalisi dengan PD, kubu yang menginginkan Megawati 
menjadi Capres dan kubu yang ingin mengusung Prabowo Subianto menjadi capres 
dan cawapresnya dari PDIP.

Qodari juga menyoroti kebiasaan SBY yang tidak pernah melakukan manuver untuk 
mengunjungi tokoh-tokoh kunci ini. Padahal selama ini, justru para tokoh kunci 
ini yang mendatangi Cikeas.

"Tapi SBY melalui utusannya datang ke Teuku Umar. Ini artinya ada kekuatan 
asing bukan di dalam negeri. Misalnya, luar negeri melihat SBY dikelilingi 
kelompok hijau semua, SBY sadar dan berupaya mengambil kelompok yang lain. Dan 
yang tersedia cuma PDIP dan Gerinda," ungkapnya.

Seharusnya, lanjut Qodari, SBY tidak tunduk pada kekuatan asing yang sangat 
Islam Phobia terhadap parpol berbasis agama, seperti PKS, PKB, PPP, PAN dan 
PBB. "SBY seharusnya menjelaskan kelompok atau parpol ini tidak seperti 
Taliban, Islam di Indonesia itu moderat dan damai," pungkasnya.
( zal / ken )






Satrio Arismunandar
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
Verba volant scripta manent...
(yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...)





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke