Bismillaahirrahmaanirrahiim
 
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
 
Beberapa hari ini, karena badanku kurang sehat, aku tak dapat menulis dengan 
kosentrasi penuh. Dah mulai berangsur sembuh, aku mengikuti berita di televise 
dan internet, permasalahan di Indonesia yang sedang hangat-hangatnya terjadi. 
Pro dan kontra pemilihan cawapres oleh Bapak presiden SBY dengan memilih 
Boediono (SBY berbudi), yang terkenal pakar Ekonomi di Indonesia. Bermacam 
ragam tanggapan, setuju dan tak setuju atas keputusan SBY ini, terutama dari 
kalangan partai Politik yang ikut berkoalisi dengan Parta Demokrat, seperti 
PKS, PAN, PPP, PKB.
 
Katanya, PKS dan PAN meradang(PPP dan PKB sudah merestui perkawinan 
SBY-Boediono yang katanya tanpa restu itu).
 
Para elite petinggi Partai yang berkoalisi itu bukan hanya karena sosok 
Boediono yang bukan dari pakar Politik saja, tetapi karena sebagai partai yang 
berkoalisi SBY seakan tidak menghargai dan non communication.
 
Dengan alasan agar tak sakit hati apabila SBY memilih calon pengantinnya bukan 
dari elite politik yang berkoalisi tersebut(SBY memang ahlinya berdiplomasi, 
dan pandai menjawab, meski tak banyak bicara, seperti calon pengantinnya juga 
yang terkenal sangat irit bicara, maklumlah prinsip ekonomikan memang begitu, 
dengan modal yang sedikit-dikitnya, target yang akan dicapai adalah hasil yang 
sebesar-besarnya, hemat pangkal kaya).
 
Saya sering berfikir, dan benar seperti komentar yang saya baca di kompas, 
kalau pasangan SBY-Boediono, adalah perkawinan yang tanpa restu, JK-Wiranto 
yang katanya perkawinan suka sama suka, cinta suci, sementara Megawati-Prabowo 
adalah pasangan yang karena kawin paksa, syukurnya kawin paksa bukan karena 
Kawin by Accident, tapi kepaksa aja, karena ngak punya pilihan lain bagi 
Megawati, habis satu-satunya yang melamarnya untuk jadi pasanganya cuman 
Prabowo sih. Dan dengar-dengarnya sih, saya dengar di televise penjelasan 
Prabowo, kalau belom kawin saja mereka sudah mempermasalahkan masalah harta 
gono gini, alias bagian Menterinya nantik bagaimana. Syukur ngak dibicarakan 
masalah harta warisan, sebab, kalau harta warisan yang dibicarakan, gimana 
kalau sudah kawin dan berumah tangga menempuh bahtera lautan luas ini, 
sedangkan blom mati aja sudah berebut harta warisan, gimana tuh..?
 
Tarik ulur tali, dah sering terjadi antara Mega-Prabowo, pada akhirnya Prabowo 
mau mengalah untuk cawapres dan capresnya Mega. Maksud niat hati sih, prabowo 
hendaknya Mega sebagai ratu, dia jadi rajanya, yah sesuai dengan undang-undang 
Islamlah, yang jadi pemimpin itu tetap lelaki, yang jadi Nakhoda kapalnya 
tetaplah si gentlement. Namun sayangnya pinangan dan tawaran semacam ini tidak 
bisa diterima oleh Mega, yah jelas aja, dari hasil perolehan suarakan Mega jauh 
lebih unggul dari Prabowo? Yah..ini namanya istri yang banyak penghasilannya, 
maunya Mega sih, dialah yang lebih mendominasi mengatur Negara ini. Akhirnya 
sang pengantin pria mengalah juga sih, tetap mereka jadi kawin dan bersanding 
untuk melawan dua pengantin lainnya yang tak jauh kalah hebatnya pula.
 
 Namun Mega cukup berbangga diri karena merasa dirinyalah yang tercantik dalam 
perkawinan itu, karena hanya dia satu-satunya Permaisuri, alias bidadari, 
selainnya semua bidadara.
 
PKS-PAN yang semulanya tidak setuju pada pilihan SBY terhadap calon 
pengantinnya, akhirnya disetujui juga, pemimpin Parpol mereka menghadiri pesta 
perkawinan yang cukup meriah dihelat di kota Bandung, kota yang merupakan 
sejarah khusus dan kedekatan secara pribadi pada SBY. Cukup banyak partai yang 
mendukung pasangan yang cukup terkenal dengan istilah "SBY berBudi" ini(Soesilo 
Bambang Yudhoyono bersama Boediono).
 
Ternyata Nih, Boediono rupanya pengantin yang sudah sejak masa remaja diincar 
oleh SBY untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun karena sikon(situasi dan 
kondisi) dari para tetangga dan juga keluarga serta situasi yang menjadi 
reality menyebabkan SBY terpaksa kawin dengan JK. Yah…namanya juga perkawinan 
bukan pilihan utama dan terutama sih, meski mereka mampu selama 5 tahun 
mengelola RT, pada akhirnya tiba masanya mereka bubar, alias bercerai juga. 
Yah…mirip kawin kontrak jadinya sih, kawin yang terpaksa karena keadaan, telah 
selesai berlalu kondisi itu cerai deh…
 
SBY boleh dikatakan pintar juga tuh mempergunakan kondisi. Saat kepaksa dia 
tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala RT. Rasanya berjalan lumayan 
aman-aman saja RT mereka.meski tetap ada kerecokan sedikit, yah..namanya 
manusialah mana ada yang sama persis pendapatnya. Disaat SBY merasa kuat, 
akhirnya dia memutuskan untuk akan kawin dengan pasangan yang dah lama jadi 
pacarnya, akhirnya JK dah merasa nih, JK langsung minta cerai sebelum SBY 
mendeklarasikan calon pengantinnya, desas desus keratakan RT dah dirasakan oleh 
JK, makanya cepat-cepat JK cari pasangan lain yang dirasanya sesuai dan 
mendukungnya sebagai kepala RT juga. Pilihan jatuh pada Wiranto, karena 
satu-satunya juga Partai yang mau menjadi pengantinnya JK sih, yang menang 
dalam pertarungan kontes kecantikan wajah dan iming-iming perencanaan janji 
membangun Negara ini, oleh para elite bulan April yang lalu.
 
Perkawinan JK-Wiranto boleh dikatakan mulus, tidak mendapat banyak tantangan 
dari pihak keluarga apalagi tetangga. Perkawinan dasar suka sama suka, dan 
disetujui oleh banyak pihak. Sementara SBY kurang disetujui, namun SBY memang 
keras pada pilihannya, karena ia tau betul pilihannya tersebut dah lama menjadi 
pacarnya, cuman belum sampai kawin, dia dah dipinang oleh JK. Yah..saat itu 
mungkin keadaan yang memaksa SBY terpaksa menunda dulu perkawinannya dengan 
Boediono, dia harus kawin dulu dengan pilihan ortunya yakni JK. Dah merasa 
mapan, barulah SBY merani meminang Boediono, yang dah pasti mendapat tantangan 
berat dari pihak keluarga. Namun SBY merasa kuat tetap saja pilih, akhirnya 
pihak keluarga mengalah dan merestui juga perkawinan tersebut.
 
Kita lihat lah nantik, pasangan perkawinan mana yang akan menang dalam babak 
pertandingan seru. Dan dari hasil kemenagan perkawinan tersebut, mana sih yang 
benar-benar memperhatikan anak-anak mereka. Yang tidak akan rela membiarkan 
anak-anaknya melarat, meraung kelaparan. Orang tua mana yang rela anaknya 
dililit hutang melulu. Hidup dikolong jembatan melulu, sekolah aja susah minta 
ampun, apalagi kalau sakit bayaran mahal. Sementara sang ayah enak-enak duduk 
dikursi goyang, kemana-mana dengan mobil Mercedes, anak-anak jalan terseok-seok 
buat cari pelepas dahaga dan lapar. 
 
Dari ketiga perkawinan tersebut, punya plus dan minusnya. Hanya sebagai anak 
bangsa, kita melihat mana resiko buruknya yang terendah. Apakah kita memilih 
perkawinan suka sama suka seperti JK-Wiranto, atau perkawinan terpaksa seperti 
Mega-Pra, atau kita memilih pasangan perkawinan yang mulanya tidak direstui 
SBY-ber Budi?
 
Kalau kita lihat masing-masing pemimpin punya sisi negative dan positifnya. 
Kalau Mega terkenal katanya sih, mempunyai tujuan untuk mensejahterakan ekonomi 
rakyat kecil, SBY ingin pemerintahan yang bersih dari Korupsi, nepotisme dan 
Kolusi(yang merupakan dalang dari kemiskinan rakyat Indonesia bertahun-tahun 
lamanya). Atau JK yang terkenal mampu turun langsung kelapangan disaat krisis. 
Namun, mampukah JK memberantas dalam utama kehancuran bangsa Indonesia yakni 
KKN ini, sebagaimana lumayan mampunya SBY dalam mengatasi krisis KKN ini? 
Allahu'alam. 
 
Sebenarnya sih, ini menurut pendapat sementara saya pribadi antara SBY dan JK 
merupakan pasangan yang serasi dalam membangun Negara ini dalam hal 
pemberantasan KKN. 
 
Indonesia ini belum maju, kalau dalang utamanya tidak dituntas habis-habisan. 
Sama seperti sumur, harus dibuang dulu air kotor, atau air keruhnya baru diisi 
dengan air yang jernih. Kalau Korupsi tidak dituntas habis, sulit bangsa ini 
akan maju, karena sama saja dengan menghitung lipatan meter kain sarung, balik 
kesitu-situ juga, tak pernah tuntas. Atau yang mengambil air dari sumur yang 
masih kotor juga.
 
Maunya kita ummat Islam ini sih, hanya satu-satunya yang bisa membuat Negara 
Indonesia ini aman, baik dan maju, yah kembali sebagaimana pemerintahan MADANI, 
pemerintahan masa Rasulullah. Namun, apakah ini bisa terealisasikan meski 
mayoritas bangsa Indonesia adalah ummat Islam, namun ummat yang sedikit, non 
muslimnya cukup kuat dan memegang peranan penting. Mereka sedikit, tetap kuat, 
sementara kita banyak, tapi bagaikan buih dilautan, kurang berarti apa-apa.
 
Kalau dalang utama penyakit kronis bangsa Indonesia ini belum tuntas dan habis 
betul, yakni KKN, sulit bangsa Indonesia ini akan maju. Jadi, So,…terserah 
pilihan kita masing-masing..pasangan perkawinan manakah yang pantas kita pilih 
untuk saat ini? Minimal 5 tahun mendatang….
 
Wassalamu'alaikum. Rahima Sarmadi Yusuf. Biaro, Bukittinggi 17 Mei 2009.
 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke