Kontribusi yayasan ini tidak kecil. Walau fasilitasi seadanya, tapi ia mampu 
menyebarkan manfaat kepada banyak orang. Yayasan Lemorai berada di garda 
terdepan membina para muallaf asal Timor Timur

 
Timor Timur memang telah terpisah dari NKRI. Namun hal itu menyisakan persoalan 
tersendiri bagi umat Islam. Sebab, banyak saudara-saudara semuslim di sana yang 
hampir saja kehilangan eksistensi akibat konstelasi politik yang terjadi. 
Satu-satunya cara terbaik agar akidah mereka terjaga adalah dengan berhijrah ke 
berbagai daerah di Indonesia.

Karena itu pulalah di kawasan Dusun Babakan Mulya RT 01/06 Desa Gunung Manik, 
Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, berdiri Yayasan Lemorai 
Timor Timur Indonesia. Lemorai sendiri berarti perkumpulan muallaf asal Timor 
Timur. 

Adalah H Hasan Basri Roberto Freitas yang menjadi pionirnya. Ketika terjadi 
pemisahan provinsi Timor Timur yang kini menjadi Republik Timor Leste, ia 
melihat banyak kaum Muslimin dan muallaf di sana yang berada di persimpangan 
jalan. Karena itu, untuk menjaga akidah mereka, ia merasa bahwa mereka perlu 
dihijrahkan ke berbagai daerah.

Jawa Barat merupakan satu daerah tujuan yang dirasa kondusif bagi pembinaan 
Muslim dan muallaf Timor Timur. Selain karena banyak lembaga keislaman yang 
peduli terhadap mereka, berdiri juga banyak pesantren di sana. Hasan Basri 
sendiri telah banyak menyalurkan anak muallaf Timor Timur itu ke berbagai 
daerah di Indonesia dan dititipkan ke berbagai pesantren. Kanwil Depag Jawa 
Barat dan NU Jabar sendiri cukup memberi kemudahan kepada para mereka, setelah 
mendapat rekomendasi dari MUI Timor Timur (1998). 

Yayasan Lemorai resmi merjalankan aktivitasnya per 27 Desember 2000. Lembaga 
ini berkembang dengan fasilitas sederhana. Tapi, itu tak menjadikan syiar 
dakwah Islam surut. Dengan kondisi terbatas, pihak yayasan kini sedang 
mengupayakan penyempurnaan pembangunan masjid, pembangunan asrama putra, asrama 
putri dan gedung lain yang dibutuhkan guna proses pendidikan agama yang 
dilakukan di sana. Gedung untuk pesantren pun dilengkapi dengan gedung buat 
laboratorium komputer dan bahasa serta satu unit gedung untuk konveksi. 

“Di sini ada sekitar 54 orang anak yang dididik layaknya sebuah pesantren. 
Jumlahnya 35 orang putra dan 12 orang putri. Mereka tidak hanya berasal dari 
Timor Timur saja. Tapi ada beberapa daerah, seperti dari NTT, Poso dan 
Sulawesi,” ungkap Hasan Basri kepada Sabili beberapa waktu lalu.

Luas tanah yang dimiliki sekitar 3000 M2. Untuk masjid yang dibangun sekitar 
tahun 2004-2005 seluas 7x11 meter. Ada pula Panti Asuhan Yatim Piatu Lathiful 
Muhtadin serta rencananya dibangun pesantren Lemorai. Sebagai langkah, para 
santri belajar di masjid. Karena itu, pembangunan asrama putra pun menjadi 
sebuah kebutuhan yang mendesak. 

Selama ini, pembangunan gedung tersebut hanya mengandalkan donatur perorangan. 
Untuk kebutuhan sehari-hari selama sebulan dibutuhkan sekitar 7 juta rupiah. 
Sementara itu, bantuan yang didapat dari para dermawan yang menyisihkan 
rezekinya hanya sebesar 1,2 juta rupiah. “Kita selalu yakin dengan Allah. Allah 
akan mencukupkan segala kebutuhan itu asalkan kita semua istiqamah berjuang di 
jalan-Nya,” ujar Hasan, optimis. 

Menurut Siyaman Abdullah, seorang pengajar di sana, ia beserta dua orang 
ustadzah Timor Timur dan Sulawesi yang mengajar anak didik putri bahu-membahu 
membina mereka untuk memahami Islam secara utuh. Mereka diberi pendidikan 
tentang tauhid, akidah, bahasa Arab, hapalan al-Qur’an serta pelajaran Islam 
lainnya. 

Proses belajar-mengajar yang dijalankan memang berbeda dari yang lain. Usai 
Shubuh para santri dididik untuk mampu menghapal al-Qur’an. Mereka belajar 
sampai pukul 12 siang di SD dan SMP setempat. Lalu dilanjutkan pemberian materi 
sampai menjelang Ashar, kemudian Maghrib sampai Isya. Mereka menerima materi 
bahasa Arab atau pelajaran Islam lainnya. 

“Selain itu mereka pun mengikuti ekstrakurikuler, seperti olah raga, cara 
menanam sayuran serta anak-anak putra disuruh membantu pembangunan. Sementara 
santri putri diperbantukan untuk menyediakan makanannya,” tambah Siyaman 
Abdullah. Ia mengakui pula, anak didiknya kini ada yang telah mampu menghapal 
1-2 juz al-Qur’an.

Saddam Hussein, salah seorang santri di sana menuturkan, dirinya sangat senang 
dan menikmati suasana belajar di sana. Ia yang tadinya tidak paham dengan soal 
keislaman dapat memahami ajaran Islam itu. “Pokoknya walau dalam kedaan 
terbatas, tetapi saya pribadi ternyata mampu belajar secara baik,” ujarnya, 
penuh semangat.

Yayasan Lemorai Timor Timur ini sendiri dibina langsung oleh Ustadz Aan Zuhana. 
Tidak sekadar menjalankan program internal saja, Lemorai juga melakukan 
berbagai kegiatan, antara lain: program baca al-Qur’an setiap Kamis malam dan 
berbaur dengan warga sekitar. Bahkan setiap Sabtu malam digelar kegiatan dakwah 
dan tabligh keliling di berbagai tempat dengan menghadirkan dai-dai dari luar 
daerah. 

Berbagai kegiatan insidentil juga turut menyemarakkan kegiatan yayasan ini. 
Sekadar contoh, pelaksanaan pemotongan hewan qurban yang bekerja sama dengan 
FUUI beberapa waktu lalu. Lebih-lebih menurut Hasan Basri,  ada beberapa daerah 
yang dekat dengan tempat tinggalnya, yaitu Haur Ngombong dan Mulia Bakti yang 
dikenal rawan pemurtadan dan Kristenisasi.

Letak Lemorai kurang lebih 30 km dari Kota Bandung dan 15 km dari pusat kota 
Kabupaten Sumedang. Namun, keberadaannya cukup membawa perubahan bagi kehidupan 
masyarakat. Akhirnya, masyarakat sedikit demi sedikit mulai mau mempelajari 
Islam secara baik dan beribadah secara benar. Bahkan, bupati atau pejabat, 
seperti Kapolres Sumedang mau datang berkunjung ke sana. Padahal, hal itu 
sebelumnya tidak pernah terjadi.


Amar, salah seorang tokoh muda di sana, cukup positif menanggapi kehadiran 
yayasan itu. Mulanya, ia menganggap Muslim Timor Timur bersikap eksklusif. 
Ternyata sangkaan itu salah besar, sebab mereka ternyata mau membaur dengan 
masyarakat asli. 

Meski memiliki masjid besar, namun mereka tetap melakukan shalat Jumat di 
masjid Jami yang ada di daerah itu. Tidak itu saja, mereka juga bisa memberikan 
kontribusi positif bagi warga. Mereka mampu membuat jalan masuk yang tadinya 
hanya lorong-lorong dan membangun lapangan bola voli bagi warga.

 “Paling tidak kami bisa menciptakan ukhuwah islamiyah di tempat kami. Terus 
terang, mereka (Muslim Timor Timur—red) adalah orang yang baik untuk diajak 
bekerja sama, terutama di saat melakukan dakwah Islam kepada masyarakat 
sekitar,” tegas Amar.

Karenanya yayasan ini membutuhkan dukungan dari berbagai ormas dan lembaga 
Islam yang ada. Karena, apa pun dukungan yang diberikan tentu akan diterima. 
Yang tak kalah penting adalah mengupayakan agar perjuangan para muallaf Timor 
Timur terlihat dan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan Islam itu sendiri.

Yayasan Lemorai Timor Timur Indonesia hanyalah bagian kecil dari Islam itu 
sendiri. Mereka patut mendapat perhatian dari siapa pun yang peduli terhadap 
saudara mereka  sesama Muslim. Semoga perjuangan Hasan Basri Roberto Freitas 
bermanfaat bagi orang banyak. Yang tak kalah pentingnya juga adalah menjaga, 
membentengi dan membina akidah Islamiyah para muslim dan muallaf Timor Timur 
agar menjadi Muslim yang kaffah. Saat ini adalah waktu terbaik untuk 
melakukannya.

Deffy Ruspiyandy


http://sabili.co.id/index.php/200904051510/Jaulah/Pembina-Muslim-Timor-Timur.htm




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke