Pertumbuhan jiwa manusia, selain karena bakat-bakat alam yang dibawa
sejak lahir, sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, termasuk
lingkungan pergaulan dan persahabatan. Demikian pendapat penganut
madzhab konvergensi atau interaksionisme yang merupakan sintesis dari
madzhab nativistik dan environmentalistik.

Di kalangan umat
Islam, terutama kaum sufi dan orang-orang yang menaruh perhatian dan
concern terhadap pendidikan moral umat, pengaruh positif-negatif dari
pergaulan dan persahabatan itu sudah cukup lama menjadi perbincangan.
Tak heran bila diskursus atau wacana tentang persahabatan itu (shuhbah)
selalu mewarnai karya-karya mereka. Suhrawardi, lewat bukunya 'Awarif
al-Ma'arif, menyebut persahabatan itu sebagai kecenderungan fitri
manusia dan merupakan salah satu dari sekian banyak nikmat dan anugerah
Allah SWT (Q.S. 3:103).

Persahabatan, kata Suhrawardi, dapat
diibaratkan seperti pintu yang akan mengantar manusia menuju sorga atau
neraka. Mengapa? Jawabannya, seperti diutarakan Ibn Abbas, karena
persahabatan dapat menimbulkan kebaikan dan keburukan sekaligus. ''Tak
ada yang dapat merusak manusia selain manusia itu sendiri,'' demikian
Ibn Abbas. Agar persaudaraan dan persahabatan itu melahirkan
kebaikan-kebaikan, duniawi maupun ukhrawi, maka dalam persaudaraan itu
harus ditegakkan nilai-nilai atau sifat-sifat yang terpuji. Di
antaranya adalah sifat saling tolong menolong dalam kebaikan (Q.S.
Al-Maidah, 2), saling berpesan dalam kebenaran (Q.S. Al-Balad, 17), dan
saling kasih mengasihi di antara mereka (Q.S. Al-Fath, 29).

Persaudaraan
dan persahabatan harus pula didasarkan pada kesamaan idealisme dan
cita-cita. Dalam kaitan ini, Ibnu 'Athailah, lewat kitab Hikam-nya
mengingatkan. Katanya: ''Jangan kamu bergaul dan berteman dengan orang
yang idealisme, cita-cita, sikap, dan prilakunya tidak mendorongmu ke
jalan yang benar, yaitu jalan Allah SWT.'' Ini mengandung makna bahwa
tidak setiap orang layak dijadikan sebagai teman atau sahabat.

Persaudaraan
yang sejati, menurut satu Hadits, adalah persaudaraan antara dua anak
manusia yang diikat oleh tali dan rasa cinta kepada Allah SWT. Lalu,
mereka hidup bersama karena Allah, berjuang bersama karena Allah, dan
mati bersama juga karena Allah. Inilah realitas persaudaraan yang
sungguh sangat sejati dan abadi.

Dalam kehidupan di mana
sekat-sekat antara kebenaran dan kebatilan semakin kabur (tasyabuh),
maka identifikasi tentang siapa kawan dan siapa lawan menjadi kabur
pula. Dalam keadaan demikian, petuah kaum sufi dalam wacana
persaudaraan menjadi relevan untuk direnungkan kembali. Semoga
persaudaraan dan persahabatan kita kekal dan abadi!! - ahi


http://www.republika.co.id/berita/49876/Makna_Persahabatan



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke