Penulis : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin 

 
Potret
Yahudi, di mata umat Islam, memang demikian kelam. Sejak jaman baheula
(dahulu) hingga kini, kejahatan dan keculasannya teramat sulit untuk
dilupakan. Saking banyaknya, bisa jadi daftar riwayat kekejiannya bakal
memenuhi lemari sejarah.


Orang-orang Yahudi memandang bahwa mereka adalah umat pilihan
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka merasa diistimewakan dan dilebihkan
atas seluruh umat pada zamannya, yaitu semasa Nabi Musa 'alaihissalam.
Disebutkan
oleh Abul Fida` Ismail Ibnu Katsir rahimahullahu dalam Tafsir-nya,
bahwa dilebihkannya mereka atas umat-umat yang lalu pada masanya, yaitu
dengan dikaruniai keutamaan diutusnya para rasul Allah Subhanahu wa
Ta'ala dari kalangan mereka, diturunkan kitab-kitab suci kepada mereka,
dan diberinya mereka kerajaan. 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman berkenaan dengan keutamaan yang telah 
diberikan kepada mereka:


"Hai
Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas
segala umat." (Al-Baqarah: 47)



Kata al-yahudu (ÇáúíóåõæÏõ
), menurut Ibnu Manzhur dalam Lisanul 'Arab, secara etimologi berasal dari kata 
hadu (åóÇÏõæÇ)
yang bermakna mereka telah bertaubat. Sepadan dengan itu, Ibnu Katsir
rahimahullahu dalam Tafsir-nya mengungkapkan pula bahwa al-yahud adalah
para pengikut Musa 'alaihissalam. Mereka adalah orang-orang yang
berhukum pada Taurat di zamannya. Kata al-yahud itu sendiri adalah
at-tahawwudu (
ÇáÊøóåóæøõÏõ) yang memiliki makna at-taubah. Sebagaimana Musa 'alaihissalam 
berkata:



"Sungguh kami telah bertaubat kepada-Mu." (Al-A'raf: 156)


Maka,
penamaan mereka dengan al-yahud lantaran sikap taubat mereka. Adapun
secara nasab, mereka digariskan kepada anak keturunan Ya'qub
'alaihissalam.



Al-Qur`an
sendiri banyak membongkar keculasan watak Yahudi. Walau mereka telah
mendapatkan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun karunia
tersebut tidak disyukuri sebagaimana mestinya. Bahkan mereka
menunjukkan sikap pembangkangan, arogan, dan durhaka kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala.

Mereka semestinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala namun
justru menjadikan 'Uzair sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Lihatlah, bagaimana mereka berpaling dari apa yang mereka janjikan
untuk bertauhid. Allah Subhanahu wa Ta'ala membuka kedok watak mereka
yang sebenarnya:



"Dan
(ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu):
Janganlah kalian menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu
bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta
ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat, dan
tunaikanlah zakat. Lantas kalian tidak memenuhi janji itu, kecuali
sebagian kecil dari kalian, dan kalian selalu berpaling." (Al-Baqarah:
83)



Kemudian,
nyata sekali kebatilan agama Yahudi setelah mereka menjadikan 'Uzair
sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagaimana orang-orang Nasrani
menjadikan Al-Masih sebagai anak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Firman
-Nya:



"Orang-orang
Yahudi berkata: 'Uzair itu putera Allah'. Dan orang-orang Nasrani
berkata: 'Al-Masih putera Allah'. Demikian itulah ucapan mereka dengan
mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.
Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka bisa berpaling."
(At-Taubah: 30)



Tak
cuma itu. Mereka pun melakukan penyimpangan tauhid dengan menjadikan
para ulama (al-ahbar) dan orang-orang ahli ibadah (ar-ruhban) sebagai
sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.



"Mereka
menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain
Allah, dan (mereka juga mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal
mereka hanya diperintah menyembah Ilah yang Esa, tidak ada Ilah (yang
berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka
persekutukan." (At-Taubah: 31)


Menjelaskan
ayat di atas, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan menyatakan, bahwa para alim
dan ahli ibadah tersebut merupakan kalangan Yahudi dan Nashara. Yahudi
dan Nashara telah menjadikan para ulama dan orang-orang ahli ibadah
dari kalangan mereka sebagai tuhan (sesembahan) selain Allah Subhanahu
wa Ta'ala. (I'anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 120)


Termasuk
yang menyebabkan mereka menjadi musuh Islam, adalah sikap Yahudi yang
gemar mengubah ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seperti disebutkan
Ibnu Katsir rahimahullahu saat memberi penafsiran terhadap ayat:



"Dan
di antara orang-orang Yahudi amat suka mendengar
(perkataan/berita-berita) bohong dan amat suka mendengar
perkataan-perkataan orang lain yang belum datang kepadamu. Mereka
mengubah-ubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya…"
(Al-Ma`idah: 41)



Maka
kata Ibnu Katsir rahimahullahu, bahwa yang dimaksud orang-orang Yahudi
adalah mereka yang merupakan musuh-musuh Islam dan pemeluknya secara
menyeluruh. Mereka mengubah-ubah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
menafsirkannya dengan tafsir yang bukan sebagaimana dimaksudkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta'ala.



Sisi
lain, kaum Yahudi pun melakukan penolakan terhadap Al-Qur`an. Ketika
mereka diperintahkan untuk beriman kepada Al-Qur`an, mereka melakukan
tindak pembangkangan dan arogansi secara menantang. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:



"Dan
apabila dikatakan kepada mereka: 'Berimanlah kepada Al-Qur`an yang
diturunkan Allah', mereka berkata: 'Kami hanya beriman kepada apa yang
diturunkan kepada kami'. Dan mereka kafir kepada Al-Qur`an yang
diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur`an itu adalah (Kitab) yang hak;
yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: 'Mengapa kamu
dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang
beriman?'." (Al-Baqarah: 91)



Mereka
tak hendak memancangkan keimanan di dalam hati mereka terhadap
Al-Qur`an. Mereka sekedar mencukupkan diri sebatas pada Taurat dan
Injil. Padahal Al-Qur`an telah mencakup dan membenarkan kitab-kitab
yang datang sebelumnya, termasuk Taurat dan Injil yang ada pada mereka.
Inilah bentuk kesombongan Yahudi. Pantas bila kemudian mereka mendapat
laknat disebabkan sikap-sikap mereka yang tidak mau beriman dan
bersikap melampaui batas:



"Telah
dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa
putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu
melampaui batas." (Al-Ma`idah: 78)



Selain itu, mereka termasuk pula orang-orang yang mendapat murka dari Allah 
Subhanahu wa Ta'ala:



"Mereka
diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka
berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan
manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah." (Ali
'Imran: 112)



"…dan mereka mendapat kemurkaan dari Allah…" (Al-Baqarah: 61)



"Dan mereka mendapat murka setelah kemurkaan…" (Al-Baqarah: 90)



Kata
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu saat menerangkan ayat-ayat
di atas, bahwa (ayat-ayat tersebut) ini merupakan penjelas bahwasanya
al-yahud dimurkai atas mereka. (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim, hal.
117)



Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, dalam menjelaskan Yahudi sebagai
kaum yang dimurkai, mengutip pula hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam
At-Tirmidzi rahimahullahu. Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Muhammad
Nashirudin Al-Albani rahimahullahu. Disebutkan dalam hadits tersebut:



"Sesungguhnya Yahudi dimurkai atas mereka, dan sesungguhnya Nashara adalah 
orang-orang yang sesat." (HR. At-Tirmidzi no. 2953)



Itulah
sosok Yahudi. Digambarkan secara transparan melalui Al-Qur`an dan
As-Sunnah. Walau mereka telah memahami apa yang termaktub dalam kitab
mereka, namun mata hati mereka tumpul untuk menerima kebenaran. Tak
kalah sengitnya adalah sikap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin.
Permusuhan yang dilandasi keinginan mereka untuk menyatukan millah
(nilai syariat) sesuai dengan yang mereka kehendaki. 


"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu 
mengikuti agama mereka. Katakanlah:
'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)'. Dan
sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan
datang kepadamu, maka Allah tidak menjadi pelindung dan penolong
bagimu." (Al-Baqarah: 120)



Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan kepada Rasul-Nya, sesungguhnya
orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tidak akan pernah ridha (senang)
kepadanya kecuali setelah mengikuti agama mereka. Karena sesungguhnya,
mereka adalah orang-orang yang gencar menyeru (mengajak) orang-orang
agar masuk ke dalam agama mereka. (Lihat Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi
Tafsiri Kalam Al-Mannan karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir
As-Sa'di v dalam menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 120)



Dipertegas
oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu, bahwa seandainya engkau memberi
apa yang mereka minta, mereka tetap saja belum senang kepadamu.
Sesungguhnya, mereka akan merasa senang kala dirimu mau meninggalkan
Islam dan mengikuti (agama) mereka. (Al-Jami' li Ahkami Al-Qur`an,
2/507)



Mencermati
pernyataan para ulama di atas, memberi asupan berupa peringatan betapa
kerasnya tekad kaum Yahudi dan Nasrani untuk menggaet kaum muslimin
keluar dari agamanya. Penjelasan para ulama di atas tentu saja tidak
bisa hanya diperhatikan dengan memicingkan sebelah mata. Karena
pergulatan dakwah di dunia nyata, pemurtadan terhadap kaum muslimin
demikian marak.


Ini
merupakan bukti bahwa permusuhan yang mereka lancarkan kepada kaum
muslimin bukan sekedar faktor perebutan kekuasaan atau masalah
kepemilikan atas status wilayah, namun lebih dari itu lantaran masalah
agama. 



http://groups.yahoo.com/group/mualafindonesia/message/3314



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke