Katagori : Artikel - Opini & Aspirasi

Oleh : Redaksi 30 May 2009 - 10:48 pm 


(swaramuslim.net) Ide
lama yang basi menyerang ideology Islam, penegakan syariah Islam,
Khilafah kembali muncul. Kelompok liberal Sabtu malam (18/05 )
meluncurkan buku berjudul “Ilusi Negara Islam”: Ekspansi Gerakan Islam
Transnasional di Indonesia. Buku setebal 322 halaman yang diterbitkan
atas kerja sama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute dan
Maarif Institute .



Menurut Gus Dur studi dalam buku ini dilakukan dan dipublikasikan untuk
membangkitkan kesadaran seluruh komponen bangsa khususnya para elit dan
media massa tentang bahaya ideologi dan paham Islam garis keras yang di
bawa ke Tanah Air oleh gerakan transnasional Timur Tengah.
memperjuangkannya.



Buku ini sendiri patut dipertanyakan baik secara metodelogi, substansi,
maupun pengusungnya (lihat keterangan pers Jubir HTI) . Inkonsistensi,
kebohongan dan generalisasi kelirupun bertebaran dalam buku ini. Ada
aroma kebencian dan kemarahan dari buku ini. 


Anehnya , Negara Islam dianggap ilusi, namun harus harus diwaspadai
secara serius sampai pada tingkat rekomendasi aksi. Padahal ilusi itu
sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya angan-angan ,
khayalan dan palsu. Lho, kenapa yang angan-angan dan khayalan harus
disikapi serius seperti itu ? 



Tentu juga bukan kebetulan kalau opini yang ingin dibangun bahwa
syariah dan khilafah itu mengancam, sejalan dengan opini yang
disampaikan oleh Bush – Sang Pembantai Kaum Muslimin. Pada tanggal 5
September 2006 Presiden George W. Bush mengatakan:“They hope establish
a violent political utopia across the Middle East, which they call
Caliphate, where all would be ruled according to their hateful
ideology”. [“Mereka berangan-angan untuk membangun utopia-politik
kekerasan di sepanjang Timur Tengah, yang mereka sebut dengan Khilafah,
dimana semua akan diatur berdasar pada ideologi yang penuh kebencian.”]





Sebenarnya perdebatan transnasional tidak relevan. Persentuhan
Indonesia dengan ideologi transnasional adalah hal yang tak terelakan.
Bukan hanya ideologi, Indonesia juga bersentuhan dengan hal lain baik
itu berupa agama, seni, budaya, bahasa, bahkan juga makanan yang
bersifat transnasional. Lima agama yang diakui (Islam, Kristen,
Katolik, Hindu, Budha) juga Konghu Cu, semuanya berasal dari luar
Indonesia. Termasuk pula gagasan-gagasan sistem politik seperti
demokrasi, bahkan istilah republik juga berasal dari Barat.



Masuknya Islam ke Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari watak
‘transnasional’ Islam. Adalah Sultan Muhammad I dari kekhilafahan
Utsmani yang pada tahun 808H/1404M pertama kali mengirim para ulama
(kelak dikenal sebagai Walisongo) untuk berdakwah ke pulau Jawa seperti
Maulana Malik Ibrahim (Turki), Maulana Ishaq (Samarqand) yang dikenal
dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra (Mesir),
Maulana Muhammad al-Maghrabi (Maroko) Maulana Malik Israil (Turki),
Maulana Hasanuddin (Palestina),Maulana Aliyuddin (Palestina) dan Syekh
Subakir dari Persia. 



Keberadaan ormas-ormas Islam besar di Indonesia seperti NU,
Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, juga tidak bisa dilepaskan dari
persinggungan dengan dunia Islam internasional. Watak transnasional ini
wajar saja mengingat Islam memang agama bagi seluruh manusia di dunia
(rahmatan lil ‘alamin). Tokoh-tokoh pendiri ormas itu sebagian besar
belajar di Timur Tengah dan menyebarkan pemikiran-pemikiran ulama dari
Timur Tengah yang menjadi pusat Islam saat itu. 



Penyakit Islamophobia dan Syariahphobia sepertinya telah membutakan
mata hati dan sikap rasional kelompok liberal dan pengusungnya ini.
Kenapa hanya Ideologi Islam dan kelompok Islam yang mereka anggap
sebagai ancaman dari luar dan bersifat transnasionalisme. Sementera
itu, ide-ide liberal dan sekuler seperti demokrasi , HAM, pluralisme,
ide gender, yang mereka usung yang sesungguhnya merupakan ide import
(dari Barat) dan juga berwatak transnasional, tidak dianggap ancaman. 



Padahal ide liberal dan sekuler ini bukan hanya mengancam, tapi telah
menjadi penyebab kehancuran Indonesia dan dunia Islam. Bukankah
penerapan ekonomi yang neo liberal di Indonsia dengan progam
pengurangan subsidi, privataisasi , investasi asing dan pasar bebas
telah menyebabkan kemiskinan dan perampokan kekayaan alam Indonesia. 



Atas nama HAM, kebebasan bertingkah laku mereka merusak moralitas
menjerumuskan para pemuda dalam kemaksiatan. Dengan alasan HAM,mereka
minta pornografi dan pornaaksi, pengakuan terhadap kelompok gay dan
lesbian dilegalkan. Sementara perda yang mewajibkan busana muslimah
dianggap melanggar HAM. 



Atas nama HAM juga mereka meracuni aqidah umat Islam. Dengan dalih
kebebasan beragama, kelompok liberal ini meminta agar Ahmadiyah jangan
dilarang. Pelarang sholat dua bahasa yang jelas-jelas bid’ah, oleh
kelompak liberal dianggap pelanggaran HAM. Tidak hanya itu ‘tafsir’
liberal yang mereka usung telah menghancurkan sendi-sendi Islam yang
mendasar yang menimbulkan keraguan terhadap kebenaran al Qur’an dan as
Sunnah. 



Kelompok liberal ini menganggap kelompok yang ingin menegakkan syariah
Islam sebagai garis keras. Sementara AS dan sekutunya yang dengan
alasan HAM dan penyebaran demokrasi, serta perang melarang terorisme
membunuh jutaan umat Islam di Irak, Afghanistan, Somalia, Sudan, dan
Palestina, tidak secara intensif mereka kritik . Bukankah dengan dalih
HAM (kebebasan menentukan nasib sendiri) Timor Timur lepas, dan hal
yang sama sedang mengancam Aceh dan Papua ? Jadi ideologi mana yang
sebenarnya berbahaya bagi bangsa ini ? 



Yang jelas kewajiban penegakan syariah Islam dan Khilafah adalah
perintah Allah SWT. Tidak mungkin hukum yang berasal dari NYA akan
mencelakakan manusia. Syariah Islam akan membebaskan Indonesia dari
penjajahan ideologi negara imperialis dan mensejahterakan rakyat . Hal
ini bukanlah perkara mimpi atau ilusi, tapi bisa dibuktikan secara
normatif maupun secara historis-empiris. 



Untuk membuktikan itu, cukuplah kita kutipkan surat Surat Raja Inggris
Goerge II kepada Kholifah Hisyam III : Keunggulan pendidikan di masa
Khilafah , membuat banyak pihak mempercayai keluarganya untuk dididik
dalam sistem pendidikan Khilafah. Termasuk Raja di Eropa yang mengirim
keluarganya untuk belajar di Daulah Khilafah, seperti yang tampak dalam
surat dari George II, Raja Inggeris, Swedia dan Norwegia, kepada
Khalifah Hisyam III di Andalusia Spanyol. Kutipan surat tersebut antara
lain : ” Setelah salam hormat dan takdzim, kami beritahukan kepada yang
Mulia, bahwa kami telah mendengar tentang kemajuan yang luar biasa,
dimana berbagai sekolah sains dan industri bisa menikmatinya di negeri
yang Mulia, yang metropolit itu. Kami mengharapkan anak-anak kami bisa
menimba keagungan yang ideal ini agar kelak menjadi cikal bakal
kebaikan untuk mewarisi peninggalan yang Mulia guna menebar cahaya ilmu
di negeri kami, yang masih diliputi kebodohan dari berbagai penjuru.”





Syariah Islam akan menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat yang
menjadi tanggung jawab negara. Berdasarkan syariah Islam pendidikan dan
kesehatan wajib gratis. Syariah Islam juga melarang barang-barang yang
merupakan pemilikan umum (al milkiyah al ‘amah) seperti emas, perak,
minyak, batu bara diserahkan kepada swasta apalagi asing . Milik rakyat
yang harus dikelola untuk kemaslahatan umat. 



Syariah juga akan mencegah setiap intervensi asing yang mengancam
disintegrasi umat dan negara. Sementara negara Islam Khilafah Islam
adalah instutisi yang menerapkan syariah Islam dan menyatukan umat
Islam sehingga menjadi negara adidaya global yang mensejahterakan
manusia. Sekali lagi kita pantas bertanya, apa yang sebenarnya
mengancam Indonesia : syariah Islam yang bersumber dari Allah SWT yang
ar Rahman dan ar Rohim atau ideology liberal dari penjajah yang rakus ?




Tentang kepastian tegaknya kembali Khilafah tentu kita lebih percaya
kepada hadist Rosulullah saw yang memberikan kabar gembira kepada kita
: “Masa kenabian akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah
menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah
kalian. Kemudian akan ada (masa) Khilafah Rasyid (yang mendapat
petunjuk) yang berjalan selaras dengan kenabian. Khilafah itu akan
tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki, kemudian
Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Setelah itu akan ada
(masanya) banyak pemimpin, dan itu akan tetap ada di tengah-tengah
kalian selama Allah menghendaki, kemudian Allah akan mengambilnya dari
tengah-tengah kalian. Setelah itu akan ada (masa) pemerintahan tirani,
dan akan tetap ada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki,
kemudian Allah akan mengambilnya dari tengah-tengah kalian. Kemudian,
akan muncullah (masa) Khilafah Rasyid (kembali) yang berjalan selaras
dengan kenabian.” Kemudian beliau (Rasulullah) terdiam.” (Musnad Imam
Ahmad (v/273)).(Farid Wadjdi/HTI)


      Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan 
Gratis.http://downloads.yahoo.com/id/firefox

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke