Di negeri yang dikaruniai Allah, sumber daya alam yang berlimpah ruah, bencana 
alam silih berganti diantaraya tsunami Aceh, gempa bumi Jogyakarta, jebol  
tanggul situ gintung, tanah longsor cianjur, banjir bandang dan rob dibeberapa 
kota. Juga bencana lumpur lapindo yang terjadi di jawa timur, propinsi yang 
banyak pondok pesantren dan tentunya banyak para alim ulama terlahir dan 
tinggal di sana.  Sungguh ganjil pula di propinsi tersebut, beribu-ribu umat 
muslim yang begitu percaya "manfaat" sebuah batu  yang menjurus kesyirikan. 
Juga akhir-akhir ini terjadi musibah jatuhnya pesawat-pesawat militer. 

Ironis pula pemimpin yang mengutarakan bahwa rakyat "mulai" sejahtera namun 
bisa terlihat adanya anak/bayi kurang gizi, ibu yang tega melempar bayinya ke 
sumur hanya karena "lelah" dengan penyakit bayinya atau ada suami yang tega 
membunuh anak dan istrinya karena merasa tidak sanggup/putus asa  untuk 
membiayai hidup keluarga. Juga masih banyak rakyatnya yang makan cuma sanggup 
sekali dalam sehari. Namun kurang tampak "keprihatinan" dikalangan pemimpin 
negeri, alih-alih sebagian beralasan mereka sebagai pemimpin memang "layak" 
untuk bepenampilan jauh diatas rata-rata rakyatnya agar dapat "diterima" 
dikalangan pemimpin negara lainnya. Kadang kita iri dengan "keprihatinan" yang 
ditampakkan, sebagai contoh Ahmadinejad.

Kita terkenal dengan bangsa yang ramah, namun kini terlihat dibeberapa tempat 
begitu bringasnya  waktu berdemo, pelaksanaan pilkada, usulan pemekaran wilayah 
atau terlihat pada satpol pp yang begitu tega "melaksanakan" perintah tanpa 
hati dan tanpa peduli manusia yang dihadapi mereka,  sehingga bisa terlihat 
sebagi contoh Choiriyah yang tewas melepuh akibat tersiram kuah baso panas.

Penegakkan hukum yang masih lemah, "tebang-pilih" dan berdasarkan "pesanan". 
Mereka tidak menyadari bahwa mereka sebagai penegak keadilan di dunia ini. 
Posisi polisi yang belum juga  "dicintai" rakyat nya sehingga masih dibenarkan 
pomeo bahwa kalau rakyat minta bantuan polisi karena kehilangan sesuatu maka 
"biaya" nya akan lebih besar dari nilai kehilangannya. Pejabat negara yang 
diantaranya mereka muslim, namun karena mereka tidak merasakan kehadiran Allah 
dalam hidupnya  sehingga mereka tega melakukan korupsi,  kolusi dan nepotisme 
serta penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Dapatkah kita mendapatkan petunjuk Ilahi dari kejadian-kejadian diatas ?

Menurut pendapat saya , petunjuk Ilahi tersebut adalah merupakan "teguran" 
kepada pemimpin tertinggi bangsa. Allah tidak akan sia-sia menurunkan bencana 
kepada suatu negeri / kaum agar pemimpin negeri / kaum tersebut dapat 
memahaminya.

Sehingga  bagi umat Islam dalam memilih pemimpin negeri harus berlandaskan 
Al-Qur'an dan Hadits. Pemilu atau pilpres adalah bagian dari ibadah ghairu 
mahdah.

Ada sementara orang terjebak dalam memahami ibadah. Dikiranya ibadah itu 
hanyalah ibadah mahdah saja. Ibadah mahdah (atau ibadah khusus) adalah ibadah 
yang syarat rukunnya telah ditetapkan sesuai dengan syariat.

Kita harus ingat  bahwa hakekat manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk 
beribadah.  Sesuai firman Allah, Aku tidak menciptakan jin dan manusia 
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Az Zariyat 56). Maka segala bentuk 
tindakan, hati, pikiran, semuanya, seharusnyalah untuk beribadah kepada-Nya. 
Dan segala tindak tanduk kita akan bernilai ibadah jika diniatkan untuk 
beribadah. 

Sedangkan membedakan urusan agama (ibadah) dengan urusan dunia itu adalah 
konsep sekuler, yang dianut oleh kaum liberalisme. Dan itu bukan konsep ibadah 
dalam islam. Kita harus menentang keras pemikiran kaum liberalisme seperti yang 
diungkapkan oleh Ulil Abshar-Abdalla, Rizal Mallarangeng dan Denny J.A dll 
bahwa wilayah agama dan negara itu harus dibedakan. Pendapat mereka seperti 
tercantum
http://islamlib.com/id/artikel/islam-bukan-wewenang-negara/
Saat sekarang ini peran kaum liberal sangat besar di tim sukses SBY/Boediono. 
Hal ini merupakan potensi bahaya jika mereka nanti ikut dalam "kekuasaan".

Selain ibadah mahdah, ada ibadah ghairu mahdah (ibadah umum). Ibadah ghairu 
mahdah bisa bercampur dengan perbuatan-perbuatan duniawi kita. Ibadah ghairu 
mahdah dapat terkandung (bahkan menjiwai) di dalam kita berhubungan dengan 
antar umat manusia (muamalah). Selain ibadah mahdah yang memang telah 
diperintahkan-Nya, alangkah ruginya orang islam jika melakukan 
kegiatan-kegiatan duniawinya tanpa berniat ibadah kepada Allah swt. Padahal 
Allah sendiri telah menjamin nilai pahalanya.
Ibadah ghairu mahdah (umum) ada hujahnya di dalam al Qur'an dan/atau sunnah 
Nabi saw. Tetapi tata-cara, syarat rukun pelaksanaannya tidak diatur. Ada yang 
berupa kebaikan-kebaikan amal, fadhilah, keutamaan-keutamaan, dan amalan sunnah 
seperti dzikir, sholawat, dsb. Ada juga yang berupa kegiatan-kegiatan duniawi 
yang diniatkan ibadah, seperti bekerja, makan minum, berkunjung, arisan, dll. 
Hal itu diperbolehkan sepanjang itu tidak melanggar aturan syara'.

Amandemen UUD 1945 khususnya Pasal 1 ayat (2) menetapkan kedaulatan berada 
ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar dan Pasal 6A ayat 
(1) menetapkan "Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara 
langsung oleh rakyat", menurut pendapat saya terlampau dini utntuk diterapkan. 
Rakyat dapat menentukan pilihan sangat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi dan 
pendidikannya. Khususnya pemilih umat islam haruslah berpegang teguh 
berdasarkan Al-qur'an dan Hadist. Nah karena pemahaman dan penguasaan terhadap 
al-qur'an dan hadist masih lemah maka diperlukan peranan/bimbingan ulama. 
Pendapat saya tentang kedaulatan rakyat bisa dikunjugi, 
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/25/kedaulatan/ 

Alhamdulillah, akhirnya salah satu ulama, Ketua MUI, KH Cholil Ridwan 
memberikan bimbingan agar umat islam tidak salah memilih pemimpin dengan dasar 
Al-Qur'an dan Hadist. Beliau memaparkan dalam satu wawancara yang dimuat oleh 
majalah Sabili edisi terbaru No. 25 TH XVI 9 RAJAB 1430 hal 18 s/d 25.
Salah satu cuplikan bimbingan beliau, (hal 22 kolom 2 bawah)
"Ketiga (capres/cawapres no 3) , ada usul fiqih yang menyebutkan pilihlah "yang 
paling sedikit mudharatnya (bahaya dan negatifnya)". Kita lihat kandidat ini, 
background keluarga dan dirinya adalah Muslim. Keluarga besar dan dirinya juga 
sudah ibadah haji, istri dan keluarga besarnya yang muslimah sehari-hari 
menutup aurat (berjilbab). Meski begitu umat Islam juga harus memahami bahwa 
kandidat ini bukan yang ideal, yang akan memperjuangkan tegaknya syariah Islam 
di Indonesia. Tetapi dibandingkan dua kandidat lainnya, yang ini memiliki 
kebaikan lebih yang tercermin dari perilaku dan ketaatannya dalam menjalankan 
ajaran Islam. Dilihat dari sudut keburukan, kejelekan paling sedikit. Dilihat 
dari sudat kebaikan, kebaikannya lebih banyak."

Edisi SABILI kali ini memuat banyak bimbingan dan informasi seputar pilpres , 
begitu juga media-media Islam lainnya, Insyaallah  telah bersepakat akan 
memberikan bimbingan dan arahan bagi pembaca khususnya umat muslim dalam 
mengikuti pilpres 2009 ini.

Sehingga semakin jelaslah koalisi yang terjadi pada pasangan SBY/Boediono, 
semata-mata adalah koalisi "petinggi-petinggi" partai dengan basis masa Islam 
bukanlah mencerminkan kepentingan Islam. Perlu diambil langkah-langkah penting 
agar mengembalikan kepercayaan kader/anggota partai dengan menyadari 
"kekeliruan" lebih awal.

Kenyataan saat ini ditataran kader/anggota partai-partai mayoritas berbasis 
masa muslim, yang berkoalisi dengan SBY/Boediono terdapat 4 jenis "pilihan" 
langkah mereka yakni

- 100% mendukung pilihan partai
- Jauh dalam lubuk hati mereka condong untuk memilih pasangan JK/Wiranto namun 
dalam pilpres nanti tetap memilih sesuai pilihan partai.
- Dari luar mereka terlihat mendukung pilihan partai namun dalam pilpres nanti 
memilih pasangan JK/Wiranto.
- Diam, dan dalam pilpres nanti memilih pasangan JK/Wiranto.

Jadi petinggi partai-partai mayoritas berbasis masa muslim membimbing 
kader/anggota menjadi tidak satu kata dengan perbuatan.

Marilah, kita sebagai umat Islam dalam kehidupan bernegara, berpegang teguh 
pada Al-quran dan hadits. Jikalau pemahaman masih kurang gunakanlah bimbingan 
para Ulama agar kita dalam kehidupan dunia ini tidak tersesat dan tercipta 
kehidupan negara yang diridhoi Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang. 
Negara yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofurun. amin

Marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah, saling menghormati pada umat non 
muslim dan bertoleransi tidak berlebihan dalam rangka persatuan Indonesia.


Wassalam


zon
http://mutiarazuhud.wordpress.com

(mohon sebar luaskan kepada milis terkait, agar dapat digunakan bagi umat Islam 
Indonesia dan juga kabarkan kepada umat Islam lain yang tidak memiliki akses 
internet dan belum sempat membaca media sabili dll)

Kirim email ke