Posted by: "dina_rana" [email protected]   dina_rana 
Wed Jun 24, 2009 8:26 pm (PDT) 



Selama ini berita dan analisis yang bertebaran di berbagai media massa dan blog 
bersumber dari Barat. Bagaimana kalau kita kali ini membaca apa yang tertulis 
dalam berita headline koran Kayhan (koran berbahasa Persia dg oplag terbesar di 
Iran) edisi kemarin?

=Gelombang Amarah Rakyat Terhadap Mir Husein Musawi=
(Kayhan 24 Juni 09)

Puluhan orang tewas dan terluka, harta benda rakyat rusak dalam skala besar, 
kebakaran di mana-mana, dan rusaknya ratusan mobil pribadi masyarakat adalah di 
antara hasil dari aksi pelanggaran hukum dan keegoisan Mir Husein Mousavi 
selama dua pekan terakhir ini. Mousavi, kandidat presiden dari kubu ekstrim dan 
aliansi kubu "Musharekat" (Kebersamaan) , "Karguzaran" (Kaum Pekerja), dan 
"Mujahidin", awalnya melangkahkan kaki ke dalam kancah persaingan pemilu 
kepresidenan ke-10 di bawah supremasi hukum. 

Setelah kalah hampir 25 juta suara rakyat Iran, dia pun segera melupakan semua 
klaim-klaim dan slogan-slogannya sendiri terkait supremasi hukum dan 
memunculkan wajahnya yang asli; yang selama masa kampanye selalu ditutupinya 
dengan slogan-slogan penuh kemegahan. Kandidat yang tegas mengklaim diri 
sebagai reformis itu, keesokan hari pasca pemilu 22 Khurdad –tanpa memberikan 
bukti dan dokumen apapun dan dalam kondisi ketika lebih dari 40.000 wakilnya 
hadir di tempat-tempat pemungutan suara untuk mengawasi jalannya 
pemilu—menyerukan dibatalkannya 40 juta suara rakyat Iran [yang masuk ke kotak 
suara]. 

Dia bahkan tak puas dengan sekedar memberi seruan seperti ini, namun juga 
memberikan pernyatan-pernyataa n yang tajam dan provokatif; yang disampaikannya 
secara terus-menerus: dia menyerukan agar pendukungnya bergabung dengan 
kelompok-kelompok illegal. Aksinya yang melanggar hukum ini berujung pada 
berkumpulnya massa tanpa izin di lapangan Azadi pada tanggal 25 Khurdad. 
Berkumpulnya massa secara illegal ini terjadi setelah sehari sebelumnya Mousavi 
sudah bertemu dengan Rahbar [Ayatullah Khamenei], dia sudah menyampaikan 
tuntutan dan keluhannya dan Rahbar juga telah mengatakan kepadanya bahwa cara 
untuk menindaklanjuti semua tuntutan itu hanya bisa dilalui melalui proses 
hukum.

Namun Mousavi tanpa menghiraukan anjuran yang mencerahkan dan logis itu, malah 
mengirim para pendukungnya untuk berkumpul secara illegal di Lapangan Azadi. 
Dia juga hadir di tengah massa dan memberikan orasi yang tajam dan provokatif 
melawan lembaga-lembaga hukum negera. Setelah orasi itu sejumlah perusuh dan 
pendukung ekstrim Mousavi menyerang masyarakat tak berdosa. Mereka merusak 
ratusan bis kota dan angkutan publik lainnya, membakar bank-bank, memecahkan 
kaca-kaca rumah, dan akhirnya, melakukan kejahatan di TK "Away-Baran" (Nyanyian 
Hujan).

Kejadian di TK itu diawali dengan serbuan para perusuh –seusai mendengar orasi 
Mousavi—ke markas Basij [tentara sukarela] yang terletak di awal jalan Muhammad 
Ali Jenah. Beberapa ibu dan kaum perempuan yang ada dekat lokasi itu ketakutan 
dan segera berlindung dalam TK tersebut. Para perusuh membakar TK itu, sehingga 
beberapa dari orang yang ada di dalam TK gugur syahid. Kejadian itu masih belum 
membuat puas para perusuh yang menggunakan penutup wajh berwarna hijau itu. 
Mereka melanjutkan serangan dengan membunuh dan melukai beberapa orang lain 
yang mereka temui di kawasan itu.

Menurut data resmi, Tragedi 25 Khurdad itu menewaskan minimalnya 7 orang tak 
berdosa, 36 luka, dan perusakan masif harta benda milik masyarakat. Lelaki 
pengklaim `supremasi hukum' ini setelah tragedi ini tetap tak mau mematuhi 
hukum dan berkeras kepala untuk terus mengeluarkan pernyataan-pernyata an 
provokatif. Dia bahkan menyalahgunakan toleransi yang diberikan pemerintah 
Islam dan dengan cara menuduh pemerintah, dia sudah memutarbalikkan posisi: 
siapa yang menuduh, siapa yg menuntut [artinya: sebenarnya, yang berhak 
menuntut adalah pemerintah, karena Mousavi sudah memimpin kerusuhan; tapi 
Mousavi malah melemparkan tuduhan-tuduhan sehingga pemerintah yang diposisikan 
sebagi pihak yang dituntut].

Sikap yang patut disesalkan ini masih tetap dipertahankan Mousavi, bahkan 
setelah khutbah Rahbar yang penuh pencerahan, kasih sayang, dan nasehat. Para 
perusuh yang mendukungnya melancarkan kejahatan lagi di kawasan Tehran barat 
pada hari Sabtu 30 Khurdad. Para perusuh pada hari Sabtu malam, melakukan aksi 
perusakan di sepanjang jalan antara Engelab Square hingga Lapangan Azadi. Dalam 
kerusuhan yang dikomandoi orang-orang bersenjata itu, mereka merusak fasilitas 
publik umum dan harta benda pribadi masyarakat, merusak beberapa masjid, dan 
bahkan membakar masjid Lulagar di perempatan jalan Azerbaijan dan Navab. 
Beberapa pelaku sholat dalam aksi itu gugur syahid. 

Aksi-aksi teror para perusuh yang membawa bahan peledak dan senjata api itu 
menewaskan 10 orang dan melukai 100 lainnya. Selain itu, beberapa jam sebelum 
terjadinya kerusuhan 30 Khurdad, seorang teroris telah memanfaatkan kekacauan 
situasi yang dibuat Mousavi. Dia berencana menaruh bom di Marqad Imam Khomeini 
[kompleks makam Imam Khomeini, di pinggiran Tehran, yang ramai diziarahi 
orang]. Namun atas kewaspadaan petugas keamanan, aksinya diketahui. Orang itu 
tidak berhasil masuk ke dalam Marqad Imam, lalu lari dan meledakkan bom yang 
dibawanya, sehingga selain menodai kesucian Marqad Imam, beberapa peziarah 
terluka, dan si teroris itu sendiri tewas.

Menyikapi semua tragedi berdarah ini, Mousavi tetap saja berkeras kepala dan 
duduk di `kursi penuntut' dan dengan mengeluarkan Maklumat-nya yang ke-6, dia 
menyebut bahwa aksi-aksi kerusuhan itu adalah akibat `aspirasi rakyat yang 
dibungkam' [oleh penguasa]. Dia bahkan dalam situs pribadinya menulis agar para 
korban yang menderita kerusakan/kerugian [akibat aksi demo] agar memberikan 
nomor telepon mereka; untuk dihubungi oleh tim Mousavi yang akan 
menindaklanjutinya secara hukum. Padahal sebagian besar korban jelas-jelas 
menyatakan bahwa Mousavi adalah dalang pelaku kejahatan dan tragedi yang 
terjadi selama dua pekan terakhir ini. Karena itu pula lebih dari 2000 surat 
pengaduan masyarakat dibuat oleh masyarakat kepada kepolisian.

Mousavi, mau tidak mau, harus mengakui bahwa dialah yang bertanggung jawab atas 
kejahatan ini, antara lain terbunuhnya sekitar 20 warga tak berdosa, ratusan 
orang terluka, 200 bank terbakar, 200 mobil yang terbakar, 300 
bangunan/fasilitas umum rusak. Sardar Radan, wakil komandan kepolisian Iran 
mengumumkan bahwa dalam kerusuhan selama 2 pekan terakhir, 400 anggota polisi 
terluka. Radan mengatakan, orang-orang yang mengundang rakyat untuk berkumpul 
dan melakukan aksi demo secara illegal, merekalah yang harus bertanggung jawab 
atas segala kerusakan yang terjadi. 

Kejahatan yang menimbulkan kemarahan masyarakat terhadap Mir Husein Mousavi 
semakin hari semakin membesar. Mousavi tidak bisa hanya dengan dalih "pada 
kejadian itu [dirinya] sedang ikut rapat parlemen" berlepas diri dari kesedihan 
para korban, atau aksi kekanak-kanakan `penyalaan lilin', dan melepaskan diri 
dari tanggung jawab atas tragedi yang telah terjadi. Dia harus memberikan 
jawaban atas pertanyaan ini: apakah jika bukan karena aksinya yang melanggar 
hukum, akan tercipta kondisi yang berujung pada semua kejahatan dan anarkisme 
ini?

Berita dan bukti-bukti yang terperinci telah menunjukkan bahwa di tengah-tengah 
para perusuh dalam beberapa hari terakhir ini, telah dibagi-bagikan uang dalam 
jumlah sangat besar dan sebagian orang telah diindentifkasi terlibat dalam 
mengorganisir para penjahat dan preman untuk menciptakan ketidakamanan di 
jalanan. Semua aksi ini terjadi di bawah persetujuan Mousavi; sejumlah 
signifikan dari mereka adalah anggota resmi tim pemilu Mousavi dan anggota 
kelompok reformis yang dekat dengan Mousavi.

Mousavi terus berusaha mencitrakan bawah semua kerusuhan ini dilakukan oleh 
rakyat; meski jumlah pelakunya hanya ribuan orang dan tidak melibatkan 13 juta 
suara yang memilih Mousavi dalam pemilu. Mereka tidak saja tidak ikut serta 
dalam kerusuhan itu, bahkan juga dengan berbagai cara (antara lain mengontak 
media-media massa) menyatakan diri tidak terlibat dalam aksi-aksi anarki 
tersebut. Argumen-argumen para ahli hukum terkait tanggung jawab hukum, sipil, 
dan politik Mousavi atas berbagai kejahatan yang terjadi beberapa waktu 
terakhir, bisa Anda baca dalam Kayhan edisi hari ini. *

(Terjemahan dari Persia oleh Dina Y. Sulaeman)
http://dinasulaeman .wordpress. com



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke