Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh

Tanggal 5 july,
pukul 2 siang, aku dan kedua anakku berangkat ke Padang, menuju Bandara. Dalam
perjalanan dengan travel bersama Pak supir dan istrinya, aku sempat mendapatkan
sebuah pelajaran penting, tentang kehidupan seorang sopir yang mana istrinya
rela meninggalkan pekerjaannya demi mengurus anak-anaknya yang masih kecil.
Sepertinya mereka berprinsip seperti diriku, tak akan pernah memberikan anak 
diasuh
oleh nenek/paman, atau keluarga, apalagi pembantu.

 

Mereka adalah kedua
orang tua yang berhasil mendidik kedua anaknya dengan akhlaq yang baik, mandiri,
prestasi gemilang. Anaknya masuk juara. Bahkan tahun ini sang anak juara umum
se Sumbar, berasal dari SMA N 1 Padang. Dan dapat bea siswa ke Universitas UI
di Jakarta, dimana sebelumnya sang ortu sempat mendapat hinaan karena
kemiskinan, apakah mungkin bisa menyekolahkan anak dengan kemiskinan mereka. 
Anak
mereka yang hanya dua orang itu dibiasakan hidup apa adanya, bahkan terbiasa
penuh kekurangan.

Sesampai di Air Port
Minangkabau, kami langsung check in. Aku memilih penerbangan Mandala, sebab
pesawatnya lumayan bagus. Meski masalah timbangan sangat ketat, dan aku
membayar kelebihan timbangan barang, meski tak banyak.

Sampai di Jakarta,
kami masuk terminal 3 yang khusus bagi penumpang penerbangan Mandala dan Air
Asia. Aku benar-benar kaget, tak ada orang-orang yang biasa menawarkan troli
angkat barang. Setelah kutanyakan kenapa tidak ada orang yang biasa menawarkan
diri angkat barang-barang. Ternyata memang seperti itu peraturan di terminal
baru tersebut, self service. Kutanyakan bagaimana kalau yang datang penumpang
yang lumpuh, atau kakek/nenek yang sudah tua, tentu dia membutuhkan orang untuk
angkat barang-barangnya. Yah..jawab petugas air port tersebut, ini sistemnya
system LN.

 

Kemudian aku mencari
Taxi untuk mengantarkan kami ke Hotel di Jakarta, yang sebelumnya sudah ku
booking. Ada tawar menawar, karena barangku banyak, dan kami bertiga, petugas 
mengatakan
harus naik mobil kijang dan bayarannya 150 ribu, atau dua taxi bayar satu taxi
50 ribu, atau Ibu mau naik taxi yang pakai harga. Sopir taxi menyarankan aku
naik mobil kijang. Kukatakan, tidak usah, saya tahu tempatnya hanya beberapa
meter saja dari Bandara ini. Saya pilih dua taxi yang ber tarif.

Kata sopir, ngak apa
Bu, kalau nantik bayarannya mahal? Tidak apa-apa sayang bilang, saya lebih
senang dan puas dengan cara pembayaran jelas seperti itu.

Alhamdulillah,
setelah beberapa menit kami sampai di hotel tujuan, dan ternyata hanya kena 20
ribu masing-masing, jadi hanya kena 40 ribu. Namun kubayar lebih, dan aku
ikhlas memberikan kelebihan semacam itu, ketimbang hatiku kesal merasa ketipu,
ngak ikhlas, pahalanya bakalan nggak ada, malah dosa, akibat ngomel. Ini semua,
karena aku tau persis lokasi yang kutuju, dan aku pernah naik taxi kesana, dan
tau pembayarannya berapa, sehingga tidak gampang ditipu begitu saja.

Besok siangnya kami
harus check out dari hotel, sementara pesawat ke Cairo berangkat pukul 11
malam, jadi dah ada di Bandara pukul 7 atau 8 malam. Kutanyakan anakku. Apakah
kita menambah bayaran hotel sehari lagi, atau gimana, karena nggak ada
pembayaran setengah di hotel itu. Anakku bilang, kita ke Bandara saja Mama,
sekalian Mama bisa belanja apa disana.

 

Pukul 8 malam, kami
check in. Mulanya agak sulit urusan, sebab aku berangkat dengan tiket one way,
padahal visa ku on arrival(hanya visa kedatangan saja). Aku tidak sempat lagi
urus visa di Jakarta, padahal pasfor sudah kukirimkan lewat adik kami (adik
kelas sama-sama di Cairo dulunya dan satu kamar dengan suamiku dulu semasih
lajang, adik inilah yang selalu membantu segala urusan aku, baik urusan tugas
belajar, atau apa, karena beliau bertugas di Depag pusat)di Jakarta yang juga
akan mengurus visa kami rencananya. Tapi karena waktu kepepet, tanggal
keberangkatan dah dekat, sementara urusan visa sekarang sangat sulitnya.
Sedangkan untuk yang pegawai home/local staff di kedutaan saja sulit apalagi
untuk mahasiswa baru. Tidak seperti 
dulu. Akhirnya suamiku bilang, urus visa on arrival saja. Suamiku tak mau
diundur lagi keberangkatanku, aku minta tanggal 8 saja beliau tidak mau.
Langsung aja dibilangnya. “Kenapa tidak sekalian tanggal 20 saja”.

 

Di Air Port Jakarta,
sempat hal ini ditanyakan. Syukurnya aku memiliki kartu istri local staff KBRI
Cairo, juga kartu pelajar sebagai mahasiswi program S3(tapi aku tak mengatakan
kalau aku sedang tugas belajar ke Mesir itu, aku tak bilang aku PNS. Karena,
kalau aku katakan mereka akan mempertanyakan pasfor ku, seharusnya pasfor
diplomat, dan aku memang sengaja tidak mau mengurus pasfor dinas seperti itu,
karena justru memiliki pasfor dinas, urusanku akan semaki sulit kelaknya).
Kalau setiap pulang harus melapor ke Deplu, dan kalau mau naik haji akan repot,
sementara kemudahan dari fasilitas pasfor dinas itu tentu ada. Kalau mau beli
mobil akan dapat mobil murah, tidak ada pajaknya, kalau mau umrah atau haji,
bisa visa ziarah(kunjungan), yang biayanya relative murah, dan bahkan timbangan
lebih dipermudah kalau naik penerbangan apa saja. Aku memilih pasfor biasa
saja, karena aku ingin bebas berapa lama di Mesir itu, dan kalau pulang tak
harus ke Deplu di Jakarta. Semua ada plus dan minusnya. Dan aku lebih memilih
yang tergampang saja urusannya, makanya pasforku pasfor biasa, bukan pasfor
dinas, meski aku sedang tugas belajar.

 

Sampai di Bandara
Kuwait, kami berangkat pukul2 siang waktu setempat. Seharusnya sampai di Cairo
pukul 4 sore. Namun, saat sejam lagi akan tiba di Bandara Cairo, pesawat mutar
balik. Dan anakku yang bilang :”Mama,..lihat tuh..pesawatnya mutar balik,
lihatlah dilayar televisinya”. Aku kaget, dan petugasnyapun memberikan
pengumuman, tapi tidak menyebutkan sebab putar balik tersebut. Setelah sampai
di Bandara Kuwait kembali, baru kami diberitahu, kalau ada kerusakan pada
sebelah sayap pesawat(kebakar). Pesawat kami di delay sampai pukul 10.30 malam.
Wah..para penumpang marah-marah, ada seorang ibu yang ngomongnya begini pada
pramugari :

”Dah tayyarah, walaa
syayyaarah”(ini pesawat atau bis?), “Ihnaa al insaan, walaa hayawaan”(“Kamu
memperlakukan kami ini sebagai manusia atau hewan”). Tadi kamu bilang delay
hanya dua jam, trus tambah sejam lagi, sekarang kamu bilang berangkat jam
10.30. 

 

Pesawat semacam apa
kamu ini?(wah..gila deh..kalau orang Mesir ngamuk, luar biasa lho,..ceweknya
lagi. Karena saya dah biasa dengan orang Mesir, tidak kaget, tapi bagi orang
baru ke Mesir seperti bintang KCB kemaren, akan kaget).

 

Watak orang Mesir
memang begitu kebanyakan, mirip watak orang Medan, ngomongnya keras, pandai
juga berbasa-basi, tapi tidak bersikap munafik, suka terus terang, apa yang
kelihatan diluar itu yang didalam. Harimau didalam yah harimau diluar, tidak
pandai mereka Harimau didalam, dinampakkan kucing diluarnya. Ganas didalam,
tapi diluar seolah-olah jinak. Saya jarang menemukan orang Mesir bersikap
semacam itu, yang sering saya lihat, kalau dia harimau yah harimau, kalau lagi
kucing yang kucing. 

 

Akhirnya kami
berangkat juga pukul 11 malam, dan tiba di Cairo pukul 1.30. Aku dijemput
pegutas KBRI, teman suamiku yang beliau bisa masuk kedalam air port, juga
dijemput oleh suami dan kedua anak lelakiku. lagi-lagi mulanya tiket dan visaku
dipertanyakan. Tapi syukurnya ada kartu mahasiswi  dan kartu KBRI yang 
menunjukkan bahwa aku
memang penduduk setempat, bahkan petugas mengacungkan jempol berkali-kali sama
aku, melihat kartu mahasiswa program S3. (bagus..bagus..bagus katanya), dan
lihat saya istri local staff, memang suami saya bekerja di Kedutaan di Mesir
itu, saya bukan seorang yang datang untuk cari kerjaan seperti TKW illegal.

 

Dalam berbagai
urusan, saya memang menempatkan sesuai dengan tempatnya. Untuk urusan tugas
belajar, kuliyah, bea siswa, saya tak pernah bawa-bawa nama suami sebagai
petugas local staff di KBRI Mesir itu, karena justru urusan akan ribet kelak,
pasti ujung-ujungnya mereka minta uang dari saya, urusan saya malah dipersulit.
Dan saya tak mau itu terjadi. Saya ingin berdiri sendiri dalam hal ini, saya
ingin berhasil urusan, karena memang itu hak saya mendapatkannya, nggak
perlulah harus bawa nama suami kerja dikedutaan segala, malah bikin repot dan
keluar uang banyak, saya ingin seperti mahasiswa biasa. 

 

Namun Dalam urusan
visa, imigrasi di Air Port, atau dalam perjalanan ke daerah-daerah di Mesir
itu, memang saya membawa nama suami dan pekerjaannya di kedutaan. Tujuannya
agar urusan lancar dan saya aman saja dalam perjalanan. Di Indonesia, kalau
saya tidak tunjukkan kartu mahasiswa atau kartu sebagai istri local staff,
bakalan antrian di air port panjang, saya akan dideretkan dengan ratusan para
TKW(TKW dari negeri Arab itu banyak sekali, setiap saya pulang naik penerbangan
Arab). Ampun antrian panjang begitu, mana bawa anak kecil, mana mereka tahan
antrian, makanya saya perlihatkan kartu KBRI, maka saya di masukkan dalam
barisan diplomat, urusan imigrasinya cepat selesai, dan cepat keluar air port.

 

Metode semacam ini,
menempatkan sesuatu pada tempatnya, adalah ajaran almarhum ayahku, yang beliau
meski seorang kepala bagian di sebuah kantor, namun kami diajarkan tak memakai
nama ayah kami, agar kami disegani masyarakat, atau disekolah agar nilai kami
tinggi. Kami dibiasakan mandiri, keberhasilan atas usaha sendiri, dan memang
itu hak kami, bukan karena dipandang kami anak si Anu seorang atasan atau
pejabat. Itu juga sebabnya, aku tak ingin kelak anakku sekolah dimana tempat
aku mengajar disana. Efeknya kurang baik terhadap anak-anak. Dulu pernah anakku
melihat suatu kecurangan terjadi pada guru dan anaknya yang sekolah di satu
sekolah dimana ortunya mengajar. Anak saya lihat sendiri, dan memang anaknya
tersebut juga menceritakan pada teman-temannya, kalau sang ortu memberikan
soal-soal yang akan diujikan saat ujian nantik, juga pas saat ujian sang anak
di kasih tau oleh ortunya akan jawaban soal. 

 

Anak saya sampai
bilang begini sama saya :”Mama,..kenapa 
Mama tidak mengajar disitu saja, kan biar mama kasih tau soal atau 
baying-bayangan
soal serta jawaban ujiannya, lihat tuh ortu si Anu..anaknya dikasih kunci
jawaban”. Duh..hatiku miris dengarnya. Dan aku juga tak ingin anakku sekolah
ditempat yang sama dimana aku mengajar, karena aku tak ingin dia manja, selalu
membanggakan ortunya sama teman-teman, karena ortunya jadi guru disana,
sehingga baik guru ataupun teman-temannya jadi sulit bergaul dengannya secara
rela, atau ikhlas.

 

Padahal ada pepatah
Arab mengatakan :”Laisal fata man yaquulu haa abi, walakinnal fata, man yaquulu
haa ana dzaa”(Tidaklah dikatakan pemuda, dengan mengatakan :Inilah Bapak
saya!”, tetapi dikatakan seorang pemuda, apabila dia mengatakan :”Inilah saya”).

 

(apa adanya saya,
saya berhasil, karena hak dan usaha kemampuan sendiri tanpa membawa-bawa
pangkat, jabatan ayahnya, tentu bantuan materil ortu tak pernah dilupakan,
nasehat ortupun begitu, serta pertolongan Allah yang terutama, asal jangan
pakai KKN, kita masuk dan berhasil disana, karena ortu kita berada disana, tapi
memang hak kita ada disana)

 

Begitupun dalam hal
pekerjaan sama suami, apabila kerjaan itu disuatu instansi, aku tak mau
sama-sama ditempatkan dalam satu lembaga. Ini dikarenakan sulit komunikasi
dengan pegawai lainnya. Meski kami sama-sama sekolah agama, saya katakan sama
suami, beliau bekerja di instansi lain, saya di tempat lainnya.  Dalam urusan 
kerja kantor, atau mengajar,
saya nggak mau mencampuri urusan kantor suami saya, dan begitupun sebaliknya,
saya tak ingin suami mencampuri urusan kerja saya. Tidak enak sama teman-teman
kalau suami ikut campur urusan kerja saya, seakan gimana gitu…kalau mau bantu
masih banyak yang akan dibantu oleh pasangan suami istri. Urusan RT saja
segudang. 

Saya hanya
mengingatkan suami akan jadwal makan siangnya, shalatnya, saat beliau dikantor.
Selain itu, tak berani saya mengganggu beliau disaat sibuk bekerja, apalagi
memberitahu atau menceritakan tentang kondisi anak saya yang sakit parah
sekalipun. Saya tunggu beliau pulang kantor dulu, saya selesaikan urusan yang
dapat saya selesaikan untuk mengurangi penyakitnya, kalau dah tak mungkin lagi
menunggu, saya panggil taxi, ke dokter. Hanya saja kalau dah harus operasi,
atau dijahit, jujur, darah saya lemah untuk ini, saya tak kuat lihat anak
berdarah-darah begitu, bisa-bisa saya yang pingsan dan dirawat inap, bukan anak
saya. 

 

Suami saya pulang
sampai larut malam, apabila memang itu urusan kantor, tak pernah saya sibuk
menanyakan kerjaan apa sih yang diurus sampai larut malam begitu. Cukup saya
tau, beliau memang sibuk bekerja sampai larut, saya percaya sama suami saya,
karena memang tak ada urusan saya dengan urusan kantor itu. Urusan saya dengan
kantor itu hanya masalah gaji akhir bulan, selain itu tak ada.

 

Disekolahpun begitu.
Saat saya menghadapi masalah dengan atasan, atau andaikan ada, dengan siapapun,
teman atau siapa kek disekolah tempat saya bekerja itu, suami tak pernah ikut
campur tangan menyelesaikan permasalahan itu. Beliau hanya kasih saran dari
rumah saja, sebaiknya saya begini dan begitu. Tak pernah beliau ikut turut
campur datang kesekolah menyelesaikan persoalan itu. Ini yang bikin saya serta
anak-anak mandiri. Membiasakan diri menyelesaikan permasalahan yang ada dengan
sendirinya, dengan banyak bersabar, tawakkal, baca AlQuran dan selesaikan
langsung dengan orang yang bermasalah itu sendiri tanpa bawa-bawa suami/istri
kakek nenek segala.

 

Anak saya yang
perempuanpun sudah terbiasa tatkala diasramanya menyelesaikan segala problema
yang ada dengan sendirinya. Kami selalu mengingatkan hanya Allahlah tempat
mengadu dan menggantungkan diri dimana dan kemanapun kita berada. Anak saya
yang kecil, umur 4 tahun pun dia berteman, kemudian  berantam sama temannya,  
dia selesaikan sendiri, maaf-maafan sendiri. 

Di kampung, orang memang
mulanya kaget saat anak saya berantem dengan anaknya, saya diam aja. Tak ikut
campur, padahal anak saya mengadu sampai dirumah, nangis karena dipukul
temannya. Saya tanyakan saja, kenapa dia dipukul, jangan-jangan anak saya juga
salah. Eh..keesokan harinya dah berteman lagi. Coba saja kalau saya terbawa
emosi, saya datangi itu anak, saya pukul balik, atau saya marahi ortunya, kan
pergaulan jadi tidak enak antar sesama teman, padahal sang anak esok harinya
baikan lagi, sementara kita para ortu dah tidak enakan. Sikap mandiri, tanggung
jawab atas perbuatan, serta tidak egois, harus ditanamkan sejak dini lagi.

Tanggal 8 dini hari
kami nyampai di Cairo, pas saat Pemilu paginya. Suami saya hanya tidur sejam,
karena habis jemput saya, jam 7 paginya kekantor lagi, karena beliau panitia
Pemilu. Sore hari saya di telfon, mo menyontreng apa tidak. Nama saya tetap
tercantum sejak awal Pemilu kemaren. Saya katakan sama suami, jam berapa
tutupnya. Jam 5 sore. Kalau sampai jam 5 sore saya tak datang, itu berarti saya
tak ikut memilih. 

 

Anak kami sempat
menanyakan sama saya. Kalau mama memilih, siapa Presiden yang Mama pilIh. Saya
jawab aja SBY. Kenapa? Untuk saat ini, sepertinya beliau yang pas. Kalau
ditanya betul criteria pemimpin yang diinginkan sesuai Islam, yah sulitlah
untuk saat ini. Trus mama koq nggak datang? Saya bilang aja, mama capek dan
ngantuk, mana panas luar biasa lagi kota Cairo ini. Dan Mama dah baca di
internet kalau SBY yang menang dalam perhitungan cepat.  Hanya diluar prediksi 
Mama, kalau JK Wiranto
jauh kalah dari Mega-Pra. Mama hanya intres pada dua pasangan saja. Meski
keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Pasangan yang satu lagi, mama ngak
minat sama sekali. Tapi heran juga bisa tinggi dapat suaranya di Indonesia.
Meski di Cairo sangat sedikit, hanya 1 % kalau Mama tidak salah. Anak-anak
kamipun mampu membedakan dan menilai dalam hal pilpres ini. Kadang mereka
berkomentar pedas juga sih sama sikon politik di Indonesia saat ini.

 

Wassalam. Cairo, 13
July 2009
Wasssalamu'alaikum.



Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.



"Laa tahtaqir Syaian mahmaa kaana shaghiiran"

(Jangan anggap enteng segala sesuatu meskipun ia kecil)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke