Dari Moderator:
Hindari Media TV Swasta yang "mengompori" dan "mengadu-domba" ummat Islam. 
Sebelum marah dan ingin perang dgn Malaysia, coba kontak warga Malaysia yg kita 
kenal tentang hal yang kita tidak senang. Apa benar mereka begitu.

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu 
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah 
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal 
atas perbuatanmu itu." [Al Hujuraat 6]

Wassalam

Konfrontasi Indonesia
versus Malaysia di berbagai media, baik cetak ataupun elektronika termasuk di
dunia maya internet, terkadang tak jelas jluntrungannya. Nuansa emosional
sangat kentara menyelimuti kedua belah pihak.

Sedemikian emosionalnya,
bahkan sudah menjurus kearah mencari-cari perkara atau kasus yang bisa
dijadikan alat konfrontasi untuk menaikan andrenalin kemarahan kedua belah
pihak. Saking terlalu bersemangatnya, jadinya terkadang jadi terasa seperti 
ajang adu domba yang berebut pepesan kosong.

Kasus terakhir adalah
soal lagu “Terang Bulan” yang
dikaitkan dengan lagu kebangsaannya Negara Malaysia yang berjudul “Negaraku”.

Berkait dengan itu, Remy
Syladomenulis sebuah artikel yang menyoroti masalah itu. Tulisannya
itu diberinya judul “Indonesia-Malaysia : Sesama Penyolong Jangan
Saling Mendahului” dimuat di surat kabar harian Kompaspada tanggal 6
September 2009.

Remy mengharapkan,
dengan tulisannya itu dapat dijadikan bahan renungan agar gairah klaim-klaiman
Indonesia terhadap Malaysia itu tidak lantas melupakan peribahasa ”semut di 
seberang laut tampak gajah di depan
mata tak tampak”. Sehingga, harapannya, dalam klaim- klaiman yang sedang
panas sekarang ini, jangan pula melahirkan pemeo baru ”Sesama pencuri jangan 
saling mendahului”.

Berikut ini adalah copy pastedari artikel tersebut.

Selamat membaca !.

*

Kompas ikut
membikin ramai klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia, mencantumkan judul 
lagu”Terang Bulan” sebagai ciptaan orang Indonesia.
Sebelumnya beberapa
brodkas TV stel yakinmencocokkan lagu kebangsaan Malaysia”Negaraku” dengan lagu 
”Terang Bulan”.

Malahan seseorang yang
mengaku anak Sjaiful Bachri, pemusik Indonesia yang pernah ”lari” ke Malaysia, 
sebagai pencipta”Terang Bulan”.

Salah satu, jika bukan
satu-satunya media pers Indonesia pada 1957 yang memuat berita tentang ”Terang 
Bulan” menjadi lagu kebangsaan
Malaysia adalah majalah MusikaNo 1
Th I September 1957.

Majalah yang dipimpin
Wienaktoe itu menurunkan berita berjudul ”Negaraku”
sebagai berikut : ”Melodi lagu ’Terang
Bulan’ jang kesohor itu achirnja dengan resmi diterima sebagai lagu kebangsaan
Malaya pada hari kemerdekaan tanggal 31 Agustus 1957 j.l. dengan diberi nama
dan tekst baru’Negaraku’. Pihak RRI dan Pemerintah Indonesia untuk
menjatakan penghargaannja, telah melarang diputar dan dimainkan atau
diperdengarkan melodi tsb pada setiap kedjadian biasa”.

Kalau kita membaca Het Nationale Volksliedoleh Margreet
Fogteloo & Bert Wikie (AW Bruna
Uitgevers BV Utrecht), jelas diuraikan bahwa ”Negaraku” yang dulu di Indonesia 
dikenal sebagai ”Terang Bulan” adalah ciptaan orang
Perancis bernama Pierre Jean de Béranger (1780- 1857).

Siapa sebenarnya orang
ini ?. Ensiklopedia pertama yang terbit setelah Indonesia merdeka, Ensiklopedia
Indonesia, 1954, oleh TS Mulia dan KAH Hidding mencatat nama Pierre Jean de
Béranger sebagai pencipta sejumlah lagu rakyat (Pr chanson populaire, Ing. folk 
song, Bld, volkslied).

Di antara ciptaannya
yang terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Perancis di sini,
Februari-Agustus 1811, sampai digegaskannya Bandung sebagai Parijs van Java,
1925, adalah Chansons morales et autres, Chansons nouvelles, Chansons inédites.

Selama itu, pengaruh
kebudayaan Perancis di Indonesia, jadi bukan di Malaysia, memang besar.

Di Manado, yang sekarang
disebut katrili, dan merupakan
kesenian tradisional, berasal dari kata bahasa Perancis quadrille. Lalu, di 
Bandung, teater tradisional longsermerupakan serapan kata bahasa
Perancis, aba-aba seorang sutradara mengucapkan kata longeruntuk bergerak lalu. 
Dan, jangan lupa kereta sadodi Batavia berasal dari bahasa
Perancis dos à dos, artinya duduk
saling memunggung.

Tetapi, di antara
tokoh-tokoh seni Perancis yang pernah lama mukim di Indonesia, bukan Malaysia,
adalah penyair terkemuka perkusor Simbolisme abad ke-19, Arthur Rimbaud.

Pada 1876 penyair ini
tinggal di Salatiga sebagai serdadu batalion I infanteri. Tentang dirinya di
Salatiga bisa dibaca dalam Het Koninklijk
Negerrlands-Indisch Leger 1830- 1950oleh Zwitzer & Heshusius (Staatsuitvegerij 
’s-Gravenhage).

Salah seorang sahabat
Rimbaud, René du Bois, bahkan menetap di lereng gunung Ungaran sampai tua, dan
termasuk yang dikunjungi Mata Hari (Margareha Geertruide Zelle) sang ’polyglot 
harlot’ yang dieksekusi mati oleh
otoritas Perancis pada Perang Dunia I sebagai mata-mata.

Maunya, dengan sekelumit
gambaran ini, jangan sampai gairah klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia
lantas melupakan peribahasa ”semut di
seberang laut tampak gajah di depan mata tak tampak”. Sebab, kita juga
punya kebiasaan nyolong.

Sebagai pembuka ingatan,
perhatikan dua lagu yang dianggap memiliki pathos kebangsaan, yaitu lirik ”Dari 
barat sampai ke timur berjajar
pulau-pulau”, dan ”Kulihat Ibu
Pertiwi sedang bersusah hati”.

Yang pertama mengingatkan lagu Perancis
ciptaan Rouget de Lisle. Memang hanya bagian depan, bagian yang sama
dimanfaatkan Beatles juga.

Tetapi yang kedua, ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”, adalah 100% 
pencurian
atas lagu gereja ”What a Friend We Have
in Jesus”. Tidak tahu apa ilusi grup
musik perempuan asal Surabaya, Dara Puspita, pada 1960-an menyanyikannya
menjadi ”Ibu Pertiwi sedang bersusah”.

Lagu himne ini aslinyadiciptakan oleh Horatius Bonar
pada lirik dan Charles Crozat Converse pada musik, dan dicatat hak ciptanyapada 
1876 lewat Biglow
& Main.

Harapannya, dalam klaim-
klaiman yang sedang panas sekarang ini, jangan pula melahirkan pemeo baru 
”Sesama pencuri jangan saling mendahului”.

Sebab, ujungnya kalau
urusan marah-marah ini dibeberkan dengan kasus-kasus plagiatyang ternyata tidak 
sepi di Indonesia, malunya harus
ditanggung bersama.

Sekadar contoh lain
untuk mengingatkan itu, pada 1971 Markas Besar Angkatan Darat, ditandatangani
oleh Brigjen Soerjadi, telah membuat malu memberi piagam kepada Ismail Marzuki
sebagai komponis yang disebut mencipta lagu ”Auld Lang Syne”.

Periksa Lagu-Lagu
Pilihan Ismail Marzuki, oleh WS Suwito, Titik Terang, Jakarta.

Tentu saja ini ngawur
yang menyedihkan. Lagu ”Auld Lang Syne”
itu nyanyian tradisional Skot yang digubah oleh Robert Burn dan dicatat
penciptaannya melalui Preston & Son, London, 1799.

Sebelum itu, Ismail
Marzuki disebut juga sebagai pencipta lagu ”Als
die orchideeën bleien” dan ”Panon
Hideung”.

Padahal, lagu yang
pertama, yang kemudian berlirik bahasa Indonesia ”Bunga anggrek mulai timbul”, 
adalah ciptaan Belloni, pemimpin orkes
Concordia Respavae Crescunt, yang dinyanyikan oleh Miss Lie pada 1922.

Yang kedua, ”Panon Hideung” adalah lagu tradisional
Rusia, diaransemen di Amerika oleh Harry Horlick & Gregory Stone dan masuk hak 
ciptapada 1926 di bawah Carl
Fischer, Inc, lalu diperkenalkan di Indonesia, melalui Bandung pada tahun yang
sama oleh pemusik Rusia bernama Varvolomeyev.

Termasuk Presiden RI
Soekarno, pada 1961 membuat kesalahan memberikan Piagam Widjajakusuma kepada
Ismail Marzuki, yang menyebut dalam piagam itu bahwa lagu ”Hallo- hallo 
Bandung” adalah ciptaan Ismail Marzuki.

Padahal, lagu itu
aslinya ciptaan seorang prajurit Siliwangi bernama Lumban Tobing yang
dinyanyikan bersama peleton Bataknya dari long march Yogya-Bandung di zaman
revolusi.

Tentang kematiannya bisa
dilihat lukisannya di Museum Siliwangi, Jl Lembong, Bandung.

Lagu ”Hallo-hallo Bandung” ciptaan Lumban
Tobing ini hanya sama judul, tapi beda melodi dan lirikdengan lagu
Belanda nyanyian Willy Derby pada 1929, ketika radio NIROM (Nederlands Indische 
Radio Omroep
Maatschappij) beroperasi di Bandung.

Versi baru rekaman ini
dinyanyikan lagi oleh Wieteke van Dort di TV Belanda dalam De
Stratemakeropzeeshow, 1972, dan dicetak teksnya pada 1992 dalam De Wduwe van
Indië.

Nah, ”Terang Bulan” juga tersua dalam De Wduwe van Indiëdalam dua teks, yaitu
bahasa Indonesia gaya KNIL dan bahasa Belanda.

Kita baca teks yang
pertama saja :

Terang boelan
terang boelan di kali
Boewaja timboel
katanja lah mati
Djangan pertjaja
orang lelaki
Brani soempa
dia takoet mati.

Asal saja teks lama di
atas tidak jadi ejekan kepada kita, Indon, sebagai ”brani soempa, dia takoet 
mati”. Kalau ada tuduhan begitu, rasanya
elok diingat teriakan Bung Karno dulu, ”Ganyang
Malaysia!”

*
Catatan Kaki :
Artikel Remy Syladoyang berjudul “Indonesia-Malaysia
: Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului” dapat dibaca langsung di
sumbernya dengan mengklik disini
*
Tulisan ini juga
dapat dibaca di Kompasianadengan
mengklik disini  atau di Politikanadengan mengklik disini
*




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke