Khilafah Dalam Pandangan Barat

Jika Anda ingin berbicara tentang Khilafah dalam pandangan Barat, itu
artinya Anda akan berbicara tentang tamatnya dominasi negara-negara itu dan
tamatnya penjajahannya atas dunia, sekaligus Anda akan berbicara tentang
rancangan hadhârah (peradaban) yang amat kuat dasarnya (qawiyy al-autâd),
amat kokoh kesadaran akan harga diri dan identitasnya (shalb al-syakîmah)
yang akan bangkit menjadi tantangan internasinal (tahaddiy[an] ‘âlamiyy[an]
bagi hadharah Barat, bahkan akan menggusurnya. Artinya, Anda akan berbicara
tentang sebuah sistem universal yang baru; model ideologi yang akan
mengganti ideologi liberal-sekular Barat.



 Jika Anda berbicara tentang Khilafah, itu artinya Anda sedang berbicara
tentang sebuah mimpi buruk yang menghantui ketenangan Barat dan menjadikan
mereka terjangkiti insomnia pada saat tidur maupun terjaga. Artinya, Anda
berbicara tentang ‘Kerajaan Islam Universal’ –meminjam ungkapan para
pemimpin Barat –yang akan menaungi negeri-negeri Islam saat ini maupun di
masa lampau, yang akan membentang dari Eropa ke Afrika utara, ke Timur
Tengah, dan ke Asia Tenggara. Dimana hal ini akan kembali menjadikannya
mampu untuk memimpin dunia.



 Jika Anda berbicara tentang Khilafah, itu artinya Anda berbicara tentang
penerapan syari’at dan penyatuan negeri-negeri kaum Mulimin sekaligus
mencabut campurtangan penjajahan yang ada di sana. Inilah sebuah perkara
yang tidak akan ditoleransi oleh negara-negara Barat. “Memimpinnya syari’at
Islam di dunia Arab dan ditegakkannya satu kekhilafahan di seluruh
negeri-negeri kaum Muslim serta lenyapnya campur tangan Barat dari
negeri-negeri tersebut adalah perkara yang tidak akan ditoleransi oleh Barat
dan sama sekali tidak mungkin dibiarkan oleh mereka” .



 Menghancurkan Khilafah adalah sebuah cita-cita yang selamanya akan menjadi
tujuan Barat. Barat telah pernah mewujudkan cita-cita ini setelah perang
dunia kedua. *Lord Curzon,* menteri luar negeri Inggris pada masa runtuhnya
Khilafah mengatakan, “Kita telah menghancurkan Turki dan Turki tidak mungkin
akan kembali bangkit. Sebab kita telah menghancurkan dua kekuatannya; yakni
Islam dan Khilafah”. Saat ini, cita-cita itu kembali mengantui Barat setelah
kaum Muslim kembali menyatukan tekad untuk mengembalikan Khialfah ke atas
pentas negara.



 Berikut ini beberapa statemen, komentar dan analisa yang berkaitan dengan
ketakutan dan depresi Barat terhadap kembalinya Khilafah:



 *Putin*, Presiden Rusia, pada bulan Desember tahun 2002 mengumumkan,
“Terorisme internasional telah mengumumkan peperangannya atas Rusia dengan
tujuan merampas sebagian wilayah Rusia dan mendirikan Khilafah Islamiah”.
Pada kesempatan itu, Putin berbicara dalam sebuah acara dialog di sebuah
setasiun televisi yang disiarkan secara langsung (live). Pada keempatan itu
ia menjawab lima puluh pertanyaan yang terpilih diantara dua juta pertanyaan
via telepon dari penduduk Rusia.



 Situs, “Mufakkirah al-Islâm www.islamemo.com pada akhir 2002 M memberitakan
sebuah kabar dengan judul “Lembaga Inteljen Jerman Memperingatkan Berdirinya
Khilafah”. Dalam situs itu tertulis sebagai berikut: “Kepala Lembaga
Inteljen Jerman, August Hanning, melakukan penelusuran di beberapa negara
Arab yang dimulai dari wilayah Teluk dimana disana ia bertemu dengan
beberapa pemimpin lembaga-lembaga inteljen Arab. Set data Iraq dan kelompok
Fundamentalis Islam adalah merupakan topik yang paling menonjol bagi seorang
lelaki yang mengepalai salah satu dari kegiatan lembaga-lembaga inteljen
negara itu. Dalam kaitannya dengan kelompok fundamentalis Islam, para
pengamat inteljen Jerman mengkhawatirkan, mengantisipasi (dan meramalkan)
akan munculnya serangan yang meluas dari ribuan pendukung gerakan-gerakan
Islam di Uzbekistan, Tajikistan dan Kyrgyz dengan tujuan mendirikan Daulah
Khilafah Islamiah di wilayah tersebut. Para eksekutif Jerman memberikan
kepercayaan dan kredibilitas yang amat besar terhadap kehawatiran,
antisipasi (dan ramalan) lembaga-lembaga inteljen tersebut”.



 *Henry Kissinger* dalam sebuah pidatonya di India pada 6 November 2004 M
dalam Konfrensi Hindustan Times yang kedua, kepada para pemimpin ia
menyampaikan, “Ancaman-ancaman itu sesungguhnya tidak datang dari teroris,
sebagaimana yang kita saksikan pada 11 September. Akan tetapi, ancaman itu
sesungguhnya datang dari Islam fundamentalis ekstrim yang berusaha
menghancurkan Islam moderat yang bertentangan dengan pandangan pandangan
kelompok radikal dalam masalah Khilafah Islamiah”.



 Kissinger juga mengatakan, “Musuh utama, sejatinya adalah kelompok ekstrim
Fundamentalis yang aktif dalam Islam dimana dalam saat yang sama ingin
mengubah masyarakat Islam moderat dan masyarakat lain yang dianggap sebagai
penghalang penegakan Khilafah”. (Surat Kabar Newsweek edisi VIII November
2004)



 Surat kabar al-Hayât, pada 15/01/2005 M, mempublikasikan sebuah laporan
yang dipublikasikan oleh Reuters di Washinton. Laporan itu berisi
prediksi-prediksi berdasarkan pada hasil muyawarah yang dihadiri oleh seribu
ahli dari lima benua seputar ramalan masa-masa yang akan datang hingga 2020
M. Laporan itu bertujuan untuk mewujudkan kontribusi dari para intelejen dan
politisi untuk menghadapi tantangan-tantangan tahun-tahun yang akan datang.
Laporan itu menghawatirkan “masih terus berlangsungnya serangan terorisme”.
Laporan itu membicrakan tentang empat skenario yang mungkin akan terus
berkembang di dunia. Skenario ketiga yang diperingatkan oleh laporan itu
adalah al-Khilafah al-Jadîdah (Khilafah Baru Yang Akan Muncul). Demikian
laporan itu menyebutnya.



 Mantan perdana mentri Inggris, *Tony Blair*, di hadapan Konferensi Umum
Partai Buruh pada 16/07/2005 M mengatakan, “Kita sesungguhnya sedang
menghadapi sebuah gerakan yang berusaha melenyapkan negara Israel dan
mengusir Barat dari dunia Islam serta menegakkan Daulah Islam tunggal yang
akan menjadikan syari’at Islam sebagai hukum di dunia Islam melalui
penegakan Khilafah bagi segenap umat Islam”.



 Demikian pula pada September 2005 M, Blair dengan terang-terangan
mengatakan, “Keluar kita dari Iraq sekarang ini akan menyebabkan lahirnya
Khilafah di Timur Tengah”.



 Pada 06/10/2005 M, dengan terang-terangan Bush mengisyaratkan adanya
strategi kaum Muslim yang bertujuan mengakhiri campurtangan Amerika dan
Barat di Timur Tengah. Bush mengatakan, “Sesungghunya, ketika mereka
menguasai satu negara saja, hal itu akan menarik (menghimpun) seluruh kaum
Muslim. Dimana hal ini akan memungkinkan mereka untuk menghancurkan seluruh
sistem di wilayah-wilayah itu, dan mendirikan kerajaan fundamentalis Islam
dari Spanyol hingga Indonesia”.



 Mentri Dalam negeri Inggris, *Charles Clark*, dalam sebuah sambutannya di
Institute Heritage mengatakan, “Tak mungkin ada kompromi seputar kembalinya
Daulah Khilafah, dan tidak ada perdebatan seputar penerapan syari’at Islam”.




 Dalam sebuah pidatonya kepada bangsa Amerika, pada 08/10/2005 M, *George
W.Bush* mengatakan dengan tegas, “Para pasukan perlawanan bersenjata itu
menyakini bahwa dengan menguasai satu negara, mereka akan dapat menuntun
bangsa Islam dan menghancurkan seluruh negara moderat di wilayah-wilayah
itu. Dari situ, mereka akan mendirikan sebuah kerajaan Islam ekstrim yang
membentang dari Spanyol hingga Indonesia”.

 Pada 05/12/2005 M, menteri pertahanan Amerika, *Donald Rumsfeld*, dalam
sebuah komentarnya seputar masadepan Iraq –pada saat itu ia berada di
Universitas John Hopkins –mengatakan, “Iraq tak ubahnya adalah tempat
lahirnya Khilafah Islamiah baru yang akan membentang mencakup seluruh Timur
Tengah dan akan mengancam pemerintahan-pemerintahan resmi di Eropa, Afrika
dan Asia. Inilah rencana mereka. Mereka telah menegaskan hal ini. Kita akan
mengakui sebuah kesalahan yang amat menakutkan jika kita gagal mendengar dan
belajar”.



 Surat kabar Milliyet Turki, pada 13/12/2005 M, dengan mengutip dari The New
York Times menyebutkan bahwa, “Para pemimpin dalam pemerintahan Bsuh,
akhir-akhir ini terus menerus mengulang-ulang kata Khilafah seperti permen
karet. Pemerintahan Bush kini menggunakan kata Khilafah untuk menyebut
kerajaan Islam yang pada abad ke VII membentang dari Timur Tengah hingga
Asia Selatan, dan dari Afrika utara hingga Spanyol”.



 Seorang komentator Amerika, *Karl Vic* di surat kabar Washinton Post,
14/01/2006 M menulis sebuah laporan yang amat panjang dimana di dalamnya ia
menyebutkan bahwa “kembalinya Khilafah Islamiah yang selalu diserang oleh
presiden Amerika, George Bush, benar-benar sedang menggema di tengah-tengah
mayoritas kaum Muslim”. Karl Vic juga menuturkan bahwa, “kaum Musilin (saat
ini) memang benar-benar menganggap diri mereka bagian dari satu umat yang
akan membentuk esensi Islam, sebagaimana mereka melihat Khalifah adalah
sebagai sosok yang layak untuk mendapatkan penghormatan”. Sang komentator
ini memberikan isyarat bahwa, “Hizbut Tahrir yang bergerak berbagai negeri
lintas dunia itulah yang dengan terang-terangan menegaskan bahwa tujuannya
adalah mengembalikan Khilafah sebagaimana masa dahulu”.



 *Dr. Ahmad al-Qadidy*, seorang warga Tunisia yang berdomisili di luar
negeri, dalam sebuah tulisannya yang dimuat oleh surat kabar al-Syrq
al-Quthriyyah yang terbit pada Ahad 17/05/2006 M, dengan judul “Para Ahli
Amerika Memprediksikan Kembalinya Khilafah Pada 2020 M”, mengatakan, “Pada
halaman 83 dari sebuah laporan penting yang terbit pada hari-hari ini dari
yayasan “Robert Lafon” untuk publikasi Paris, dengan judul “Bagaimana
Pandangan Inteljen Amerika Terhadap Dunia Pada Tahun 2020 M?”, kita dapat
membaca paragraf berikut ini: “Islam politik mulai hari ini hingga 2020 M
akan mengalami penyebaran yang amat luas di pentas dunia internasional. Kita
memprediksikan akan adanya penyatuan gerakan-gerakan Islam Rasisme dan
Nasionalisme dan bergerak bersama untuk mendirikan sebuah kekuasaan yang
akan melintasi batas-batas nasional. Al-Qadidy melanjutkan ungkapannya, “Hal
inilah –dengan sangat akurat –adalah apa yang diperediksikan oleh para ahli
Amerika, khsusnya seorang sosiolog dan senior para ahli prediksi masadepan,
Alvin Toffler, pemilik buku “Shadamat al-Mustaqbal /Future Shock (Benturan
Masa Depan)”, Ted Gordon, tohoh senior ahli rancangan, Millennium Project
yang telah direalisasikan oleh organisasi PBB, seorang ahli, Jim Dewar, dari
yayasan Rand Corporation, Jad Davis, desainer semua program Shell Petroleum
Company, dan para ahli yang lainnnya yang tak diragukan lagi kemampuan
mereka dalam memprediksi masadepan. Ahmad al-Qadidy menambahkan, “Dan tentu
saja, para ahli dan pakar itu telah bekerja dalam beberapa waktu untuk
kepentingan agen pusat inteljen di Washinton. Mereka telah menghasilkan
sebuah laporan yang amat penting dan dapat dipercaya yang akan menggariskan
corak dunia setelah lima belas tahun sejak hari ini, sebagaimana yang mereka
lihat melalui berbagai indikasi yang ada di depan mereka.



 Pemimpin pasukan koalisi Salib yang bergabung di Iraq, *Richard Myers*,
mengatakan, “Bahaya sejati dan terbesar yang mengancam keamanan Amerika
Serikta (AS) sesungguhnya adalah ektrimesme yang bercita-cita mendirikan
Khilafah sebagaimana pada abad ketujuh Masehi. Kelompok ekstrimesme ini
telah tersebar di berbagai wilayah yang jutrsu lebih banyak dari pada di
Iraq. Akan tetapi, mereka juga bergerak di Iraq dan tersebar di dalamnya
serta selalu mendorong pasukan perlawanan untuk menggunakan
aktifitas-aktifitas fisik untuk melawan Amerika di Iraq.



 Pada 31/01/2006 M, situs al-Syâsyah al-I’lâmiyah al-‘Âlamiyah (Media
Monitors) menyebarkan sebuah artikel yang ditulis oleh *Nu’man Hanif*. Dalam
artikle ini terdapat sebuah kajian yang amat mendalam, pendapat yang kuat
dan pandangan kedepan mengenai akhir pertempuran antara Barat dan Islam.
Dimana, dengan pandangannya ini, Nu’man Hanif akan sampai pada satu
kesimpulan, bahwa, “Tidak ada pilihan lain bagi Barat kecuali menerima
kepastian hadirnya Khilafah”. Dalam sebuah artikelnya yang berjudul
“Khilafah; Tantangan Islam Kepada Sistem Dunia”, tertulis sebuah pernyataan,
“Dalam gerakan Islam ekstrim, terkait dengan legitimasi Daulah Khilafah,
terdapat semacam keyakinan agama yang mendominasi mereka bahwa Khilafah
adalah sebuah benteng yang akan mengembalikan kekuatan Islam dan sebagai
wasilah yang akan menantang dominasi Barat. Berdasarkan sumbernya dari
al-Quran dan sejarah Islam, Gerakan-gerakan Islam itu memang mengalami
perbedaan seputar metode menghidupkan Khilafah; dengan aktifitas jihad,
perbaikan atau politik. Akan tetapi, mereka –dengan seluruh khayalannya
–semuanya sepakat pada tujuan mengembalikan Khuilafah”.

 Nu’man Hanif mengatakan, “Khilafah, sesuai dengan definisinya dalam
pandangan Gerakan Islam Sunni, adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum
Muslim untuk menerapkan hukum-hukum Syari’ah Islam dan mengemban Rislah
Islam ke seluruh dunia”. Nu’man kembali mengatakan, “Gerakan Islam itu telah
sukses memberikan sebuah ideology alternatif pengganti ideologi
Libral-Skular Barat kepada mayoritas kaum Muslim dimana sample ini sesuai
dengan al-Quran. Sementara itu, menghidupakan kembali Khilafah adalah puncak
sample tersebut sekaligus satu-satunya sarana untuk menantang tatanan
internasional yang didominasi pihak Barat”.



 Nu’man juga mengatakan, “Pada faktanya, perkataan bahwa Islam politik telah
gagal dikarenakan ketidak mampuannya menyesuaikan diri dengan kemajuan Barat
dan kontruksi politik Barat, sesungguhnya tidak dapat dianggap sebagai vonis
kegagalan Islam politik. Namun, hal itu justru merupakan bukti lain bahwa
Islam dan tatanan politik Barat tidak dapat saling menyesuaikan sampai dari
akarnya. Dari sisi lain, berdirinya gerakan-gerakan Islam dengan menyuguhkan
frame Khilafah sebagai ganti politik dan sistem model Barat Skular saat ini,
sesungguhnya menjadi bukti kesuksesan Islam politik”.



 Nu’man kembali mengatakan, “Politik yang tegak diatas penyerangan terhadap
ide Khilafah dengan mengaitakannya dengan kekerasan politik gerakan jihad
sesungguhnya tidak akan dapat menggeser legalitasnya (Khilafah) yang digali
dari al-Quran. Barangkali dunia Islam tidak sepenuhnya setuju dengan
metode-metode mengangkat senjata gerakan jihad. Akan tetapi, tentu tidak
akan ada lagi perdebatan mengenai legalitas (disyari’atkannya) Khilafah di
dalam al-Quran. Sementara itu, gerakan Islam yang mengemban pemikiran
politik dan menjauh dari cara-cara kekerasan memiliki seruan yang lebih
dalam dan luas. Dimana ia menganggap dirinya sebagai penjaga ide
menghidupkan kembali Khilafah. Serangan apapun yang ditujukan kepada
Khilafah dianggap sebagai serangan kepada Islam”.



 Pada 05/09/2006 M, *George W.Bush* kembali membicarakan Khilafah. Bush
mengatakan, “Mereka itu sesungguhnya berusaha menegakkan kembali negara
mereka yang amat unggul, Khilafah Islamiah. Dimana, semuanya akan dipimpin
dengan ideologi yang sangat dibenci itu. Sistem Khilafah itu akan mencakup
seluruh negeri-negeri Islam yang ada saat ini”.

Dalam konfrensi pers di gedung putih yang terselenggara pada 11/10/2006 M,
Bush junior itu membicarakan tentang, “sebuah dunia dimana di dalamnya
kelompok ekstrim berupaya merekrut para intlektual untuk merevolusi
pemerintahan moderat dan mendirikan Khilafah sebagai gantinya”. Bush
menambahkan, “Mereka menginginkan kita pergi, mereka ingin merevolusi
pemerintahan dan mereka ingin membentangkan Khilafah Idiologis yang tidak
memiliki prinsip-prinsip kebebasan alami dalam keyakinannya.



 Situs pemberitaan Gedung Putih pada 20/10/2006 M, mempublikasikan sebuah
ungkapan George Bush, “Orang-orang fundamentalis itu bercita-cita mendirikan
Daulah Khilafah sebagai sebuah negara hukum dan menginginkan menyebarkan
akdiah mereka dari Indonesia hingga Spanyol”.



 Mentri pertahanan Amerika, Donald Rumsfeld, dalam sebuah acara
perpisahannya mengatakan “Mereka ingin menghancurkan dan menggoyahkan sistem
pemerintahan Islam moderat dan mendirikan Daulah Khilafah”.



 Dalam sebuah buku yang terbit pada 2007 M dengan judul, “Suqûth wa Shu’ûd
al-Daulah al-Islâmiyah (Runtuh dan Berdirinya Daulah Islam)”, karya seorang
dosen hukum di Universitas Harvard yang amat terkenal, *Prof. Noah Feldman*,
dikatakan, “Dapat ditegaskan bahwa meningkatnya dukungan rakyat (Islam)
terhadap sayri’ah Islam pada kali yang lain pada dewasa ini –meskipun pernah
mengalami keruntuhan –akan dapat mengantarkan pada wujudnya Khilafah
Islamiah yang sukses”. Dalam bukunya ini, Noah Feldman mengatakan bahwa,
ketika suatu kerajaan dan sistem pemerintahan itu telah mengalami
keruntuhan, maka sesungguhnya kerajaan dan sistem pemerintahan itu telah
runtuh dan tidak akan kembali, sebagaimana yang terjadi pada Sosialisme dan
Monarki yang berkuasa, kecuali dalam dua keadaan saja yang sedang terjadi
pada saat ini. Pertama, adalah sistem Demokrasi yang dulu telah pernah
mendominasi di kerajaan Romania, dan dalam keadaan negara tersebut adalah
Negara Islam”.



 Penulis ini mengamati sebuah fenomena besar, kuat dan terus berkembang dari
Marokko hingga Indonesia; yakni bangsa-bangsa Islam yang menuntut kembalinya
Syari’at Islam. Khusunya di negara-negara yang berpenduduk besar, seperti,
Mesir dan Pakistan. Penulis ini bertanya-tanya, “Mengapa orang-orang
sekarang menuntut kembalinya syari’ah Islam dan tertarik kepadanya? Padahal
pendahulu mereka, pada masa kontemporer ini telah membuangnya dan
mensifatinya sebagai warisan masa lalu yang telah usang”. Penulis ini
kembali mengatakan, “Penyebab yang tersembunyi adalah bahwa para penguasa
saat ini telah mengalami kegagalan dalam pandangan bangsa-bangsa itu.
Termasuk Barat. Dan sementara itu, bangsa-bangsa Islam saat ini sangat
membutuhkan keadilan”. Terlebih lagi, sampai saat ini, tidak ada jajaran
ulama’ atau para qadhi sejati sebagaimana dalam masa pemerintahan Islam.



 Pusat kajian strategi di Universitas Yordan pernah melakukan sebuah survey
yang disebar pada April 2007 M di empat negara besar di dunia Islam
(Marokko, Mesir, Indonesia dan Pakistan) seputar:

a) Dukungan penerapan syari’ah Islam di dunia Islam

b) Bersatu dengan negara-negara lain di bawah bendera seorang Khalifah atau
Khilafah

c) Menolak penjajahan asing dan politik negara-negara Barat secara umum

   1.

   Menolak penggunaan kekerasan melawan rakyat sipil
   2.


Hasil survey ini membuktikan bahwa prosentasi keseparakatan atas ide-ide di
atas mencapailebih 75% pada beberapa maslah. Di Marokko para pendukung
penerapan Islam, syari’ah dan Khilafah mencapai 76%, di Mesir 74%, di
Pakistan 79% dan di Indonesia 53%.(
http://www.hizb.org.uk./hizb/resources/issu…slim-word.html)



 Surat kabar al-Hayât, pada 28/07/2007 M, menyebutkan bahwa *Zalmay
Khalilzad*, delegasi Amerika Serikat di PBB, dalam pembicaraannya kepada
surat kabar Die Presse Austrian memperingatkan “bahwa, pergolakan di Timur
Tengah dan Hadharah Islam dapat menyebabkan terjadinya perang dunia ketiga”.
Zalmay menambahkan, “Bahwa Timur Tengah kini sedang melewati sebuah fase
transfomasi yang sulit menuju sebuaha ghâyah (puncak tujuan) yang akan
menampakkan kekuatan ekstrimisme dan mempersiapkan lahan yang subur bagi
terorisme”. Zalmay juga mengatakan, “Dunia Islam akan menggabungkan diri
pada sebuah aliran arus Internasional (al-tiyâr al-duwaly) yang sedang
mendominasi. Akan tetapi, hal itu tentu membutuhkan waktu yang cukup”.



 Zalmay Khalilzad menambahkan kembali, “Orang-orang kolot itu kini telah
memulainya. Akan tetapi mereka tidak memiliki kesepakatan pendapat terkait
posisi mereka. Sebagian mereka menginginkan kembali pada abad ke enam dan
ketujuh Masehi, pada abad dimana Nabi Muhammad di lahirkan”. Zalmay
Khalilzad kembali melanjutkan, “Masalah ini mungkin membutuhkan beberapa
dekade, sehingga sebagian mereka itu memahami bahwa mereka sesungguhnya
dapat tetap menjadi orang-orang Muslim dan dalam waktu yang sama juga dapat
bergabung dengan dunia yang baru”.



 Pada 24/08/2007 M, Presdiden Prancis, *Sarkozy*, mengatakan, “Rasanya tidak
perlu menggunakan bahasa kayu (kekerasan). Sebab, konfrontasi semacam ini
justru disukai oleh kelompok ekstrim yang bermimpi menegakkan Khilafah dari
Indonesia hingga Nigeria . Mereka tidak pernah menerima bentuk keterbukaan
apapun, mereka juga tidak pernah menerima modernitas dan keberagaman
apapun”. Demikian asumsi Sarkozy. Pada waktu ia juga mengatakan,
“Sesungguhnya tidak dapat diremehkan adanya kemungkinan konfrontasi antara
Islam dan Barat”.



 Ketua Dewan Duma (Parlemen Rusia), *Mikael Boreyev*, menegaskan bahwa
“dunia kini sedang menuju penyatuan menjadi lima negara besar; Rusia, Cina,
Khilafah Islamiah dan Konfederasi yang mencakup Amerika”. Mikael Boreyev
menambahkan, “dan ditambah satu lagi, yaitu India, apabila ia sukses
melepaskan diri dari kekuatan Islam yang amat kuat yang mengepungnya”.
Demikian Boreyev menuturkan. Pemuatan sebuah peta dunia pada sampul sebuah
buku berjudul, “Rusia Emperium Ketiga (al-Rusiya Imbrathuriyah
al-Tsâlitsah)”, karya Boreyev nampak sekali disana hanya terdapat sejumlah
negara. Sementara, Eropa akan berada dibawah Rusia yang diprediksikan oleh
penulis akan menjadi emperyor ketiga (Setelah masa Kekasisaran dan
Sosialisme). Boreyev, sebagaimana dirilis oleh surat kabar al-Khalîj
al-Imâratiyah, memprediksi negaranya akan kembali menjadi negara emperyor
dan akan mendominasi Benua Eropa yang diprediksikan akan segera terhapus
negaranya dan runtuh peradabannya. Boreyev memberikan sinyalemen bahwa ia
tidak bisa secara pasti meyakini bahwa Rusia akan menduduki benua Eropa.
Akan tetapi, ia yakin bahwa hadharah Eropa sedang menuju kehancuran. Dan hal
ini pasti akan di duduki atau diperangi oleh negara ini (Rusia) atau negara
itu (Khilafah Islamiah atau negara-negara besar lainnya). Ketua Dewan Duma
ini memprediksikan bahwa dengan datangnya tahun 2020 M, mayoritas
negara-negara di dunia (yang saat ini ada) akan mengalami kehancuran. Dia
memberikan isyarat bahwa nanti hanya akan ada lima negara besar, atau
emperyor, saja. Yakni; Rusia yang telah menggabungkan Eropa kedalamnya;
Cina, yang akan mendominasi negara-negara Timur Tengah dengan kekuatan
ekonomi dan militernya; Khilafah Islamiah yang akan membentang dari Jakarta
hingga Tangier dan mayoritas daerah Afrika selatan padang pasir; dan
Konfederasi yang menggabungkan benua Amerika Utara dan Amerika Selatan.
Boreyev melihat bahwa India juga mungkin akan menjadi negara besar jika ia
mampu menghadapi kekuatan Islam yang meliputinya.



 (sumber : majalah alwaie arab edisi khusus)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

===
Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik:
http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke 
[email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke