Konsep jihad JI tak sama dengan para pelaku teror bom. Lalu mengapa JI
ditakuti?
.....
Pesantren Lukmanul Hakim boleh saja diam dalam kesunyian areal perkebunan
kelapa sawit. Namun, menurut Fauzan al Anshari, mantan Ketua Departemen Data
dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), organisasi yang pernah
dipimpin Abu Bakar Ba’asyir, JI sesungguhnya masih ada. Mereka tetap eksis
sampai sekarang. Bahkan mereka memiliki amir (pemimpin).
Sang amir yang disebut Fauzan ini bukan Abu Bakar Ba’asyir, sebagaimana
ditudingkan banyak orang, termasuk pemerintah Amerika Serikat. “Ustadz Abu tak
pernah diangkat menjadi amir JI menggantikan Ustadz Abdulah Sungkar,” kata
Fauzan saat berkunjung ke kantor SuaraHidayatullah Senin 10 Agustus lalu.
JI memiliki PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah), semacam Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga di kebanyakan organisasi.dalam PUPJI, kata
Fauzan, amir harus diangkat oleh Dewan Syuro. Dan, pengangkatan Ba’asyir oleh
Dewan Syuro belum pernah terjadi.
.....
Dalam PUPJI disebutkan bahwa JI adalah organisasi bawah tanah (tandzim sirri),
dengan amir Abdullah Sungkar, dan garis perjuangan dakwah dan jihad.
Terdokumentasinya PUPJI ini, kata Fauzan, adalah sebuah kesalahan besar.
Seharusnya, sebuah organisasi bawah tanah tak boleh mendokumentasikan apapun
perihal organisasi.
Pendapat agak berbeda dikemukakan oleh Abu Rusydan alias Thoriquddin alias
Hamzah, tokoh JI yang pernah berlatih di akademi militer mujahidin Afghanistan
di Sadda Pakistan, seangkatan dengan Mukhlas. Menurutnya setelah Abdullah
Sungkar wafat, JI sudah tidak memiliki wujud lagi.
“Secara lembaga, JI sudah tidak ada,” katanya kepada Suara Hidayatullah melalui
saluran telepon, Rabu, 12 Agustus.
Rusydan menegaskan bahwa JI tidak pernah mengangkat amir pengganti Ustadz
Abdullah Sungkar sesuai syariat Islam dan ketentuan PUPJI. Tidak ada juga
istilah “amir darurat”.
Kalau pun saat ini ada yang menyebut dirinya anggota JI, kata Rusydan, itu
sekadar sebutan perorangan kerena mereka memiliki sejarah dan pemikiran dasar
yang sama dengan JI. Mereka tidak berada dalam satu institusi. Mereka bergerak
sendiri-sendiri.
Konsep Jihad
Akan halnya peristiwa pengeboman yang kerap melanda Indonesia belakangan ini,
Rusydan menolak jika dikaitkan dengan JI. Memang, jihad adalah bagian dari
syariat Islam yang dijalankan JI. Namun, jihad offensif (menyerang) hanya boleh
dilakukan di wilayah perang seperti di Afghanistan, Mindanao (Filipina), dan
Poso (Indonesia). Itupun harus melalui keputusan lembaga, bukan aksi
sendiri-sendiri.
Rusydan mengakui, JI pada masa Sungkar telah mengirimkan 200 orang untuk
berjihad ke daerah-daerah konflik, termasuk Afghanistan dan Poso. “Kondisinya
pada saat itu berbeda dengan sekarang. Saat itu kaum Muslim butuh bantuan
saudaranya sesama Muslim karena sedang teraniaya,” kata Rusydan.
Abu Wildan, mantan anggota JI, sependapat dengan Rusydan. Menurutnya, teror bom
yang kerap melanda Indonesia beberapa tahun belakangan, melenceng dari ajaran
JI. Dalam ajaran JI, katanya, kekerasan itu hanya boleh dilakukan atas membela
hak kaum Muslim yang dirampas. Jika kekerasan itu dilakukan di negara yang di
dominasi kaum Muslim dan menimbulkan korban kaum Muslim juga, itu bertentangan
dengan ajaran JI.
Hal yang sama juga dikemukakan Fauzan Al Anshari. Menurutnya JI memiliki garis
perjuangan yang berbeda dengan para pelaku teror bom di Indonesia. “Garis
perjuangan JI adalah dakwah dan jihad,” katanya.
Namun, jihad yang mereka kembangkan bukan bersidat offensif. Jihad seperti itu
hanya boleh dilakukan diwilayah dimana kaum Muslim sedang berjuang untuk
membebaskan diri dari penjajahan kaum kafir. Selebihnya, mereka melakukan
dakwah.
Jadi, tidak tepat jika ada yang menyebut pelaku teror bom di Indonesia
belakangan ini adalah JI. Sebab, itu tidak sesuai dengan konsep jihad JI.
Dituding teroris
Pendapat yang sangat berbeda dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
atas dukungan pemerintah Amerika Serikat (AS). PBB telah mencantumkan Jamaah
Islamiyah sebagai organisasi paling berbahaya nomor urut 35 di dunia. Ba’asyir
disebut-sebut sebagai pimpinannya.
Tak jelas dari mana sumber kesimpulan itu. Fauzan menebak, kesimpulan itu
muncul karena rasa takut mereka kepada para veteran perang Afghanistan yang
banyak terdapat di JI. Para veteran itu dianggap sangat berbahaya bila
dibiarkan terus “bergerak”. Mereka bisa membesar dan semakin kuat.
Jadi, kata Fauzan, selama kesimpulan PBB itu belum dicabut, JI dan Abu Bakar
Ba’asyir akan terus dicap sebagai teroris. “JI tetap menjadi target Amerika
Serikat untuk dihancurkan,” kata Fauzan.
Selain itu, kata Fauzan, organisasi ini dituding hendak mendirikan Negara Islam
Raya yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, dan
sebagian Filipina.
Rusydan membantah tudingan ini. Menurutnya, JI tidak memiliki strategi
perjuangan yang sama dengan kelompok NII (Negara Islam Indonesia), yaitu ingin
mendirikan negara Islam. Strategi perjuangan JI adalah membangun masyarakat
islami, al-Jamaah al-Islamiyah. Titik perhatiannya pada dua bidang, yaitu
pendidikan dan dakwah.
Hal senada juga diungkap Fauzan. Katanya, tujuan utama gerakan JI adala
enegakan syariah Islam, bukan negara Islam. Enegakan syariat ini diperjuangkan
lewat dakwah kepada masyarakat.
Lagi pula, kata Fauzan, cita-cita penegakan syariat itu bukan hanya
diperjuangkan oleh JI, tapi juga diusung oleh banyak organisasi Islam di
Indonesia, termasuk MMI dan Ansharut Tauhid.
Fauzan menebak, ada sebuah kekuatan besar untuk menghabisi para veteran
Afghanistan yang banyak di Indonesia lewat isu JI. Peluang untuk itu terbuka
lebar karena JI sendiri merupakan gerakan tersembunyi (rahasia). Orang tidak
tahu siapa yang paling bertanggung jawab di JI.
Pendapat senada juga dikemukakan Rusydan. “Kalau kita ingin bicara JI, jangan
lepaskan dari sejarah terbentuknya,” ujarnya.
*Malhadi/Suara Hidayatullah
Dikutip dari artikel: “Rumah Lama yang Belum Roboh” majalah Suara Hidayatullah
edisi September 2009 hal 28-30
[Non-text portions of this message have been removed]