Dari Moderator: Inilah keserakahan manusia yang sering membuat Allah murka. Bukannya membantu korban dan keluarganya, justru mempersulit mereka dengan menaikkan berbagai harga.
Sesungguhnya mereka akan mendapat balasan dari Allah. Wassalam Kejadian gempa di Sumbar, dan bencana lainnya, ternyata malah membawa 'berkah' bagi segelintir orang atau kelompok. Seperti kita baca di media atau melihat dengan mata kepala di televisi, betapa harga-harga melambung begitu cepat saat musibah tiba. Harga bensin eceran mendadak jadi Rp. 15000 per liter, harga kangkung dari Rp. 2000 menjadi Rp. 8000 per potong. Tiket pesawat juga tak mau kalah, harga normal sekitar Rp. 400.000 - 600.000 naik menjadi Rp. 1.000.000, bahkan lebih. Alasannya sih tidak melampaui batas atas, tetapi mereka lupa bahwa ini hari bencana, bukan hari wisata atau libur panjang. Hukum pasar memang tidak mengenalbencana. Pasar hanya mengenal suppy dan demand (penawaran dan permintaan). Dimana ada demand tinggi sementara supply rendah, maka otomatis harga membumbung tinggi, demikian pula sebaliknya. Mereka tidak peduliapakah bencana atau wisata, selama permintaan tinggi dan penawaran rendah, maka siapa yang berani bayar mahal, dialah yang menikmatinya. Pemerintah sepertinya tidak mampu lagi mengendalikan harga, karena selama ada free ridermemanfaatkan kesempatan itu, maka terjadilah kompetisi memperebutkan barang tersisa. Hukum pasar tidak mengenal belas kasihan. Siapa kuat modalnya, dialah pemenangnya, tidak peduli bahagiaatau derita. Etika dan moral menjadi nomor kesekian, karena kapan lagi menangguk untung besardari peristiwa langka ini. Pada saat seperti ini, semua orang berebut memperoleh barang yang diinginkan (tiket pesawat, bahan makanan, bahan bakar, dan sebagainya), dan harga tertinggi adalah pemenangnya. Sungguh menyedihkan memang, apabila pemerintah tidak mampu lagi mengendalikan harga pasar. Hukum rimba kembali berlaku, siapa kuat, dialah pemenangnya. Kita hanya bisa berdoa dan berjuang sekeras mungkin, hanya untuk memperoleh sisa-sisadan belas kasihanyang tak kunjung tiba. Oleh karena itu, akankah kita masih berkiblatpada pasar ?. Silakan merenungkan sendiri. * Pasar Tidak Mengenal Bencana http://politikana.com/baca/2009/10/06/pasar-tidak-mengenal-bencana.html *** Berbagai musibah mungkin saja terjadi kepada kita, kapanpun dan kepada siapapun semua orang, apakah musibah tsunami, gempa bumi, banjir dll. Ketika musibah itu terjadi ada sejumlah permasalahan besar didalamnya, diantaranya ada takdir, ada kesabaran, ada pahala, ada tuntutan agar hamba menyadari bahwa yang mengambil adalah yang memberi (menganugerahkan), ada pula semacam peringatan agar hamba menjaga serta memelihara keseimbangan alam (beserta isinya) yang diciptakanNya untuk kita semua. Kita sering berkata, bahwa ”segala puji hanyalah bagi Allah, Tuhan penguasa (dan pencipta) semesta alam.” Allah telah mengabarkannya bahwa alam semesta diciptakan tidak dengan main-main dan tidak pula sia-sia. Alam semesta ini diciptakan dengan qadha dan qadar, dengan keteraturan dan perhitungan. Ini benar, karena dalam syariah-syariah yang turun, disana terdapat seruan untuk terorganisir, tertata dan tertib. Namun seruan itu sendiri sering tidak kita indahkan, bahkan kita abaikan dan kita langgar. Ketika suatu musibah itu terjadi, kita sering menerimanya bahwa itu semua merupakan penebusan dosa dan kesalahan, sekaligus pahala dan ganjaran disisi Tuhan, dan jika kita menyadari bahwa semua ini adalah hikmah yang dapat dipetik dari musibah itu, maka tentunya kita harus menghadapinya dengan tenang dan suka cita. Hikmah lainnya, yaitu ‘dihancurkannya kesombongan dan keangkuhan manusia‘ yang sering kali melampaui batas, sehingga kita sebagai manusia sadar bahwa dirinya tidak serba mampu, pintar dan hebat, kita sangatlah kecil dihadapan Yang Maha Kuasa. Sebuah musibah akan dapat membukakan hati dan menggugah empati sesama manusia, hikmahnya semakin merekatkan rasa cinta kasih dan silaturrahim, serta mampu pula mengeluarkan nilai-nilai ubudiyah doa yang selama ini terpendam, saling mendoakan kepada yang sedang tertimpa. Selayaknya dan manusiawi sekali bila orang-orang merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab dan mencintai orang yang sedang tertimpa musibah dan mendapatkan cobaan/ujian, masing-masing membantu semaksimal kemampuan kita. Kemudian diantara hikmah lain yang bisa dirasakan manusia ketika mendapat kan musibah yaitu dicabutnya sumbu perseteruan, maka tiba-tiba orang-orang yang saling bermusuhan diantara mereka lebur dengan sendirinya, kemudian mereka menjadi kawan yang sangat setia, saling membantu. Dan masih banyak hikmah-hikmah lainnya dibalik sebuah musibah. Sesungguhnya musibah musibah itu menampakkan keajaiban2dan kesenangan2 yang benar-benar tidak disadari oleh kita sebagai hambaNya, kecuali setelah semua itu terkuak, ternyata sangat luar biasa. Mari kita coba renungkan Nice Word karya WS Rendra (Alm) yang tercecer, yang saya sendiri ndak tahu judulnya : …Seringkali aku berkata ketika orang memuji milikku, Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, Bahwa mobilku hanya titipanNya, Bahwa rumahku hanya titipanNya, Bahwa hartaku hanya titipanNya, Bahwa putraku hanya titipanNya, Tetapi, Mengapa aku tak pernah bertanya, Mengapa Dia menitipkan padaku ? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ? Dan kalau bukan milikku, Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini ? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan miliku ? Mengapa hatiku justru terasa berat, Ketika titipan itu diminta kembali olehNya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdo’a, Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, Lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah …. semua “derita” adalah hukuman bagiku, Seolah … keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika, Aku rajin beribadah, Maka selayaknyalah derita jauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku, Kuperlukan Dia seolah mitra dagang, Dan bukan kekasih, Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai dengan keinginanku, Gusti, Padahal tiap hari kuucapkan, Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah, “Ketika bumi dan langit bersatu, maka bencana dan keberuntungan sama saja“… * Hikmah Dibalik Musibah http://politikana.com/baca/2009/10/05/hikmah-dibalik-musibah.html ***** [Non-text portions of this message have been removed]

