Pilihan Allah
http://abinyaazka.wordpress.com/2009/10/22/pilihan-allah/
Jika menentukan bentuk fisik kita saja tidak bisa, apalagi
menentukan takdir kita. Hanya Allahlah yang berhak menentukan kelahiran
manusia, lingkungannya, keluarganya, serta pengalaman yang akan ia dapatkan
dalam hidupnya. Allah pulalah yang mengilhami kita kebijakan dan kebaikan. Iman
kita bahkan tidak bergantung pada karakter kita sendiri. Allah pulalah Yang
Maha Esa yang memberikan kita keimanan. Dialah yang mengarahkan, mengajarkan,
dan
melatih, sebagaimana jawaban Musa a.s. atas pertanyaan Firaun, “Musa berkata,
‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan
kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’”
(Thaahaa:
50)
Karena itu, orang beriman adalah orang-orang yang dipilih
oleh kemurahan Allah, “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang
Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka....”
(al-Qashash: 68) Orang-orang yang masuk neraka adalah
mereka yang pantas menerimanya karena mereka menentang Allah Yang telah
menciptakan diri mereka. Dengan kemurkaan Alah, mereka menerima apa yang pantas
bagi mereka. Hal ini sebagaimana orang-orang yang mengharapkan surga, dengan
disertai
usaha-usaha untuk mensyukuri rahmat dan karunia-Nya, Allah swt. melimpahkan
kemurahan dan rahmat-Nya. Orang-orang beriman harus bersyukur telah dipilih
Allah dan harus berterima kasih serta memuji Allah dengan segenap jiwa untuk
semua yang telah Dia berikan kepada mereka dengan kemurahan-Nya. Mereka harus
menghargai karena mereka terpilih di antara jutaan orang dan karena mereka
adalah hamba-hamba yang dirahmati Allah, dipilih dan dijauhkan dari kaum yang
menghadapi
kehancuran. Semua tingkah laku orang beriman harus mencerminkan penghormatan
terhadap
hak istimewa ini. Allah menggambarkan orang-orang yang menghadapi keruntuhan,
“Demi masa. Sesungguhnya, manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya
menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)
Adakah penghormatan yang lebih tinggi daripada diselamatkan
dan dimuliakan oleh Tuhan
seluruh alam?
[Non-text portions of this message have been removed]