Tiada Keputusasaan bagi Orang Beriman
http://abinyaazka.blogspot.com/2009/11/tiada-keputusasaan-bagi-orang-beriman.html
Ada dua jenis keputusasaan. Pertama, muncul ketika berhadapan dengan kesulitan
atau rintangan. Yang demikian itu tidak terdapat pada diri orang beriman. Ia
harus selalu ingat bahwa Allah menjanjikan pertolongan kepada orang-orang
beriman. Al-Qur`an menyatakan bahwa cukuplah hanya Allah bagi orang-orang
beriman dan Dia menguatkan orang-orang beriman dengan bantuan-Nya.
Kedua, merupakan jenis keputusasaan yang lebih berbahaya, yaitu berputusasaan
dari pengampunan Allah setelah berbuat salah atau dosa. Keputusasaan ini lebih
berbahaya karena akan mengarah pada pikiran bahwa Allah tidak akan memaafkan
dosa seseorang dan ia akan masuk neraka.
Pikiran ini bertentangan dengan apa yang kita pelajari dalam Al-Qur`an.
Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa orang-orang yang menyesali perbuatannya.
Tidak pernah ada kata “terlambat” dalam mencari pengampunan-Nya. Allah menegur
hamba-hambanya,
“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (az-Zumar: 53)
Putus asa adalah godaan setan. Setan mencoba memengaruhi orang-orang beriman
dengan membuat mereka bingung dan kemudian menjerumuskan mereka untuk berbuat
kesalahan yang lebih serius. Tujuannya adalah agar orang-orang beriman tidak
merasa yakin dengan keimanan dan keikhlasan mereka, membuat mereka merasa
“tertipu”. Jika seseorang jatuh ke dalam perangkap ini,
ia akan kehilangan keyakinan dan akibatnya akan mengulangi kesalahan yang sama
atau bahkan lebih besar dari kesalahan sebelumnya.
Dalam kondisi demikian, orang beriman harus segera meminta ampunan Allah,
berpikir seperti yang Al-Qur`an ajarkan dan segera membentuk pola pikir yang
baru. Al-Qur`an menjelaskan apa yang harus dilakukan orang beriman dalam
kondisi itu, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah
kepada Allah.
Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-A’raaf: 200)
Jika seseorang ikhlas dalam keimanannya kepada Allah, Allah akan mengampuni
dosanya jika ia berbuat salah atau dosa. Bahkan jika ia berpaling dalam waktu
yang lama, ia masih mendapatkan kesempatan untuk bertobat. Perbuatan setanlah
yang menyebabkannya berputus asa. Allahlah satusatunya yang dapat memberikan
ampunan dan keadilan yang abadi dan yang menjanjikan kemenangan dan surga-Nya
kepada orang-orang beriman. Saran dari Nabi Ya’qub harus menjadi
panduan bagi semua orang beriman, “… janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang
kafir” (Yusuf: 87)
________________________________
Kunjungi Blog: abinya-azka
________________________________
[Non-text portions of this message have been removed]