Insya Allah ini kisah nyata, sekitar 10 tahun yang lalu. Ada dua orang tetanggaku yang naik Haji.
Pertama: Dia adalah tetangga desa, masih satu kecamatan. Dan dia ini masih ada sedikit kekerabatan dengan saya. Dia seorang juragan kayu jati dan mebel yang kaya-raya, disegani tetangga, dan banyak sekali relasinya, karena dia adalah seorang mantan lurah (kades). Karena secara harta dia sudah mampu menunaikan ibadah haji, maka dia bersama istrinya berniat menunaikan ibadah haji. Maka dipersiapkannya dengan baik rencana berangkat ke Tanah Suci ini. Semua keluarga, saudara, kerabat, relasi, tetangga, semua diundangnya di hari keberangkatannya, untuk dimintai do'a restunya, atau istilah di desa sana 'berpamitan' mau naik haji. Pada hari keberangkatan itu, keramaian di rumahnya sungguh luar biasa seperti orang lagi hajatan. Semua keluarga, saudara, kerabat, relasi, tetangga, dan handai taulan datang semua. Parkiran mobil di halaman rumahnya tidak muat, sampai panjang di jalan raya depan rumahnya hingga membuat kemacetan yang luar biasa. Apalagi saat jam keberangkatannya, hiruk pikuk mobil yang akan berangkat mengantarnya ke asrama haji semakin menambah ruwetnya kemacetan. Singkat cerita, berangkatlah mereka ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Sudah bisa diduga, pada hari kepulangannya dari tanah Suci, jauh lebih ramai lagi yang datang menyambut kepulangannya. Sebagi tanda syukurnya, setiap yang datang diberikanlah sekedar oleh2 berupa korma, air zam-zam, sarung, peci, mukena sajadah, dll, entah benar dibeli dari Tanah Suci atau dari Tanah Abang, atau dari Pasar Klewer. Lengkap sudah mereka menjadi Pak Haji dan Bu Haji (sebutan di kampung sana Bu Haji, bukan Bu Hajjah). Kedua: Dia ini adalah tetangga desa juga, beda kecamatan masih satu kabupaten. Dia adalah orang tua dari teman sekolah saya. Dia adalah seorang petani dengan sawah garapan yang cukup luas / banyak. Dari hasil sawahnya, dia tidak kaya-kaya amat, tapi kalau untuk biaya sekolah anak-anaknya yang berjumlah 9 anak hingga perguruan tinggi masih sisa. Maka, ketika tabungannya dirasa cukup untuk menunaikan ibadah haji, dia mengajak istrinya untuk naik haji. Di hari kebrangkatannya, tidak ada acara khusus di rumahnya. Mereka diantar anak2nya ke asrama haji dengan satu mobil carry miliknya yang penuh sesak satu keluarga. Tetangga pun tidak banyak yang tahu kalau mereka berangkat ke Tanah Suci. Paling hanya satu dua tetangga depan rumah dan kiri kanannya saja. Pamitan pun hanya sekedar salaman dan minta dido'akan selamat dan bisa menjadi haji yang mabrur. Berangkatlah mereka ke tanah Suci. Ketika meraka sedang di Tanah Suci, saudaranya yang dari jauh datang untuk silaturrahmi ke rumahnya. Oleh anaknya dijawab: "Bapak Ibu sedang pergi, menghadiri undangan" Di hari kepulangannyapun tidak ada acara penyambutan, kecuali hanya beberapa tetangga saja yang datang mengucapkan selamat. Beberapa lama kemudian: Orang yang pertama, terutama istrinya seringkali marah dan sewot, kalau orang2 memanggilnya tidak dengan sebutan "Bu Haji" Sedangkan Pak Haji-nya ketika menghadiri undangan halal bihalal di rumah saudaranya, dia yang duduk dekat MCnya memberikan pengarahan kepada MC yang membawakan acara, ketika MC itu salah sebut kepada penceramah yang belum haji dengan sebutan 'Bapak Haji'. Begini arahannya: "Mas, manggilnya apa adanya aja jangan ditambah2i, kalau dia belum haji ya jangan dipanggil Pak Haji" Orang yang kedua, di kesehariannya tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan Pak Haji, atau Bu Haji. Karena di awal2 dulu ketika beberapa tetangganya memanggilnya dengan sebutan "Pak/Bu Haji" dia mengelak: "Sudahlah seperti biasanya dulu saja, Pak Lek/Bu Lek, atau Pakde/Bude..." [Non-text portions of this message have been removed]

