HUKUM-HUKUM QURBAN

Oleh : M. Shiddiq Al Jawi

Pengertian Qurban

Kata kurban atau korban, berasal dari bahasa Arab qurban, diambil dari kata : 
qaruba (fi'il madhi) - yaqrabu (fi'il mudhari') - qurban wa qurbaanan 
(mashdar).Artinya, mendekati atau menghampiri (Matdawam, 1984).

Menurut istilah, qurban adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan 
diri kepada Allah baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya (Ibrahim 
Anis et.al, 1972).

Dalam bahasa Arab, hewan kurban disebut juga dengan istilah udh-hiyah atau 
adh-dhahiyah, dengan bentuk jamaknya al adhaahi. Kata ini diambil dari kata 
dhuha, yaitu waktu matahari mulai tegak yang disyariatkan untuk melakukan 
penyembelihan kurban, yakni kira-kira pukul 07.00 - 10.00 (Ash Shan'ani, 
Subulus Salam IV/89). 

Udh-hiyah adalah hewan kurban (unta, sapi, dan kambing) yang disembelih pada 
hari raya Qurban dan hari-hari tasyriq sebagai taqarrub (pendekatan diri) 
kepada Allah (Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/155; Al Jabari, 1994).  

Hukum Qurban
Qurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Imam Malik, Asy Syafi'i, Abu Yusuf, Ishak 
bin Rahawaih, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm dan lainnya berkata,"Qurban itu hukumnya 
sunnah bagi orang yang mampu (kaya), bukan wajib, baik orang itu berada di 
kampung halamannya (muqim), dalam perjalanan (musafir), maupun dalam 
mengerjakan haji." (Matdawam, 1984) 




Sebagian mujtahidin -seperti Abu Hanifah, Al Laits, Al Auza'i, dan sebagian 
pengikut Imam Malik- mengatakan qurban hukumnya wajib. Tapi pendapat ini dhaif 
(lemah) (Matdawam, 1984).




Ukuran "mampu" berqurban, hakikatnya sama dengan ukuran kemampuan shadaqah, 
yaitu mempunyai kelebihan harta (uang) setelah terpenuhinya kebutuhan pokok (al 
hajat al asasiyah) -yaitu sandang, pangan, dan papan-- dan kebutuhan 
penyempurna (al hajat al kamaliyah) yang lazim bagi seseorang. Jika seseorang 
masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka dia 
terbebas dari menjalankan sunnah qurban (Al Jabari, 1994) 




Dasar kesunnahan qurban antara lain, firman Allah SWT :




"Maka dirikan (kerjakan) shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah." (TQS Al 
Kautsar : 2)




"Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu 
bagi kamu adalah sunnah." (HR. At Tirmidzi)




"Telah diwajibkan atasku (Nabi SAW) qurban dan ia tidak wajib atas kalian." 
(HR. Ad Daruquthni) 




Dua hadits di atas merupakan qarinah (indikasi/petunjuk) bahwa qurban adalah 
sunnah. Firman Allah SWT yang berbunyi "wanhar" (dan berqurbanlah kamu) dalam 
surat Al Kautas ayat 2 adalah tuntutan untuk melakukan qurban (thalabul fi'li). 
Sedang hadits At Tirmidzi, "umirtu bi an nahri wa huwa sunnatun lakum" (aku 
diperintahkan untuk menyembelih qurban, sedang qurban itu bagi kamu adalah 
sunnah), juga hadits Ad Daruquthni "kutiba 'alayya an nahru wa laysa biwaajibin 
'alaykum" (telah diwajibkan atasku qurban dan ia tidak wajib atas kalian); 
merupakan qarinah bahwa thalabul fi'li yang ada tidak bersifat jazim 
(keharusan), tetapi bersifat ghairu jazim (bukan keharusan). Jadi, qurban itu 
sunnah, tidak wajib. Namun benar, qurban adalah wajib atas Nabi SAW, dan itu 
adalah salah satu khususiyat beliau (lihat Rifa'i et.al., Terjemah Khulashah 
Kifayatul Akhyar, hal. 422).




Orang yang mampu berqurban tapi tidak berqurban, hukumnya makruh. Sabda Nabi 
SAW :




"Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah 
sekali-kali ia menghampiri tempat shalat kami." (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al 
Hakim, dari Abu Hurairah RA. Menurut Imam Al Hakim, hadits ini shahih. Lihat 
Subulus Salam IV/91)




Perkataan Nabi "fa laa yaqrabanna musholaanaa" (janganlah sekali-kali ia 
menghampiri tempat shalat kami) adalah suatu celaan (dzamm), yaitu tidak 
layaknya seseorang -yang tak berqurban padahal mampu-- untuk mendekati tempat 
sholat Idul Adh-ha. Namun ini bukan celaan yang sangat/berat (dzamm syanii') 
seperti halnya predikat fahisyah (keji), atau min 'amalisy syaithan (termasuk 
perbuatan syetan), atau miitatan jaahiliyatan (mati jahiliyah) dan sebagainya. 
Lagi pula meninggalkan sholat Idul Adh-ha tidaklah berdosa, sebab hukumnya 
sunnah, tidak wajib. Maka, celaan tersebut mengandung hukum makruh, bukan haram 
(lihat 'Atha` ibn Khalil, Taysir Al Wushul Ila Al Ushul, hal. 24; Al Jabari, 
1994). 




Namun hukum qurban dapat menjadi wajib, jika menjadi nadzar seseorang, sebab 
memenuhi nadzar adalah wajib sesuai hadits Nabi SAW :




"Barangsiapa yang bernadzar untuk ketaatan (bukan maksiat) kepada Allah, maka 
hendaklah ia melaksanakannya." (lihat Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/157). 




Qurban juga menjadi wajib, jika seseorang (ketika membeli kambing, misalnya) 
berkata,"Ini milik Allah," atau "Ini binatang qurban." (Sayyid Sabiq, 1987; Al 
Jabari, 1994).




Keutamaan Qurban



Berqurban merupakan amal yang paling dicintai Allah SWT pada saat Idul Adh-ha. 
Sabda Nabi SAW :




"Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya Qurban yang lebih dicintai Allah 
selain menyembelih qurban." (HR. At Tirmidzi) (Abdurrahman, 1990)

Berdasarkan hadits itu Imam Ahmad bin Hambal, Abuz Zanad, dan Ibnu Taimiyah 
berpendapat,"Menyembelih hewan pada hari raya Qurban, aqiqah (setelah mendapat 
anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada shadaqah yang nilainya 
sama." (Al Jabari, 1994).

Tetesan darah hewan qurban akan memintakan ampun bagi setiap dosa orang yang 
berqurban. Sabda Nabi SAW :




"Hai Fathimah, bangunlah dan saksikanlah qurbanmu. Karena setiap tetes darahnya 
akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kaulakukan..." (lihat Sayyid 
Sabiq, Fikih Sunnah XIII/165)




Waktu dan Tempat Qurban 



a.Waktu

Qurban dilaksanakan setelah sholat Idul Adh-ha tanggal 10 Zulhijjah, hingga 
akhir hari Tasyriq (sebelum maghrib), yaitu tanggal 13 Zulhijjah. Qurban tidak 
sah bila disembelih sebelum sholat Idul Adh-ha. Sabda Nabi SAW :




"Barangsiapa menyembelih qurban sebelum sholat Idul Adh-ha (10 Zulhijjah) maka 
sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa menyembelih 
qurban sesudah sholat Idul Adh-ha dan dua khutbahnya, maka sesungguhnya ia 
telah menyempurnakan ibadahnya (berqurban) dan telah sesuai dengan sunnah 
(ketentuan) Islam." (HR. Bukhari)




Sabda Nabi SAW :




"Semua hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah) adalah waktu untuk 
menyembelih qurban." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)




Menyembelih qurban sebaiknya pada siang hari, bukan malam hari pada 
tanggal-tanggal yang telah ditentukan itu. Menyembelih pada malam hari hukumnya 
sah, tetapi makruh. Demikianlah pendapat para imam seperti Imam Abu Hanifah, 
Asy Syafi'i, Ahmad, Abu Tsaur, dan jumhur ulama (Matdawam, 1984). 




Perlu dipahami, bahwa penentuan tanggal 10 Zulhijjah adalah berdasarkan ru`yat 
yang dilakukan oleh Amir (penguasa) Makkah, sesuai hadits Nabi SAW dari sahabat 
Husain bin Harits Al Jadali RA (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud hadits no.1991). 
Jadi, penetapan 10 Zulhijjah tidak menurut hisab yang bersifat lokal (Indonesia 
saja misalnya), tetapi mengikuti ketentuan dari Makkah. Patokannya, adalah 
waktu para jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah (9 Zulhijjah), maka 
keesokan harinya berarti 10 Zulhijjah bagi kaum muslimin di seluruh dunia.

b.Tempat




Diutamakan, tempat penyembelihan qurban adalah di dekat tempat sholat Idul 
Adh-ha dimana kita sholat (misalnya lapangan atau masjid), sebab Rasulullah SAW 
berbuat demikian (HR. Bukhari). Tetapi itu tidak wajib, karena Rasulullah juga 
mengizinkan penyembelihan di rumah sendiri (HR. Muslim). Sahabat Abdullah bin 
Umar RA menyembelih qurban di manhar, yaitu pejagalan atau rumah pemotongan 
hewan (Abdurrahman, 1990). 

Hewan Qurban



a.Jenis Hewan




Hewan yang boleh dijadikan qurban adalah : unta, sapi, dan kambing (atau 
domba). Selain tiga hewan tersebut, misalnya ayam, itik, dan ikan, tidak boleh 
dijadikan qurban (Sayyid Sabiq, 1987; Al Jabari, 1994). Allah SWT berfirman :




"...supaya mereka menyebut nama Allah terhadap hewan ternak (bahimatul an'am) 
yang telah direzekikan Allah kepada mereka." (TQS Al Hajj : 34)




Dalam bahasa Arab, kata bahimatul an'aam (binatang ternak) hanya mencakup unta, 
sapi, dan kambing, bukan yang lain (Al Jabari, 1994). 




Prof. Mahmud Yunus dalam kitabnya Al Fiqh Al Wadhih III/3 membolehkan berkurban 
dengan kerbau (jamus), sebab disamakan dengan sapi.




b.Jenis Kelamin




Dalam berqurban boleh menyembelih hewan jantan atau betina, tidak ada 
perbedaan, sesuai hadits-hadits Nabi SAW yang bersifat umum mencakup kebolehan 
berqurban dengan jenis jantan dan betina, dan tidak melarang salah satu jenis 
kelamin (Sayyid Sabiq, 1987; Abdurrahman, 1990)




c.Umur




Sesuai hadits-hadits Nabi SAW, dianggap mencukupi, berqurban dengan 
kambing/domba berumur satu tahun masuk tahun kedua, sapi (atau kerbau) berumur 
dua tahun masuk tahun ketiga, dan unta berumur lima tahun (Sayyid Sabiq, 1987; 
Mahmud Yunus, 1936).

d.Kondisi




Hewan yang dikurbankan haruslah mulus, sehat, dan bagus. Tidak boleh ada cacat 
atau cedera pada tubuhnya. Sudah dimaklumi, qurban adalah taqarrub kepada 
Allah. Maka usahakan hewannya berkualitas prima dan top, bukan kualitas 
sembarangan (Rifa'i et.al, 1978) 




Berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW, tidak dibenarkan berkurban dengan hewan : 

  1.. yang nyata-nyata buta sebelah,

  2.. yang nyata-nyata menderita penyakit (dalam keadaan sakit),

  3.. yang nyata-nyata pincang jalannya,

  4.. yang nyata-nyata lemah kakinya serta kurus,

  5.. yang tidak ada sebagian tanduknya,

  6.. yang tidak ada sebagian kupingnya,

  7.. yang terpotong hidungnya,

  8.. yang pendek ekornya (karena terpotong/putus),

  9.. yang rabun matanya. (Abdurrahman, 1990; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq. 
1987).







Hewan yang dikebiri boleh dijadikan qurban. Sebab Rasulullah pernah berkurban 
dengan dua ekor kibasy yang gemuk, bertanduk, dan telah dikebiri (al 
maujuu'ain) (HR. Ahmad dan Tirmidzi) (Abdurrahman, 1990)




Qurban Sendiri dan Patungan



Seekor kambing berlaku untuk satu orang. Tak ada qurban patungan (berserikat) 
untuk satu ekor kambing. Sedangkan seekor unta atau sapi, boleh patungan untuk 
tujuh orang (HR. Muslim). Lebih utama, satu orang berqurban satu ekor unta atau 
sapi. 




Jika murid-murid sebuah sekolah, atau para anggota sebuah jamaah pengajian 
iuran uang lalu dibelikan kambing, dapatkah dianggap telah berqurban ? Menurut 
pemahaman kami, belum dapat dikategorikan qurban, tapi hanya latihan qurban. 
Sembelihannya sah, jika memenuhi syarat-syarat penyembelihan, namun tidak 
mendapat pahala qurban. Wallahu a'lam. Lebih baik, pihak sekolah atau pimpinan 
pengajian mencari siapa yang kaya dan mampu berqurban, lalu dari merekalah 
hewan qurban berasal, bukan berasal dari iuran semua murid tanpa memandang kaya 
dan miskin. Islam sangat adil, sebab orang yang tidak mampu memang tidak 
dipaksa untuk berqurban.

Perlu ditambahkan, bahwa dalam satu keluarga (rumah), bagaimana pun besarnya 
keluarga itu, dianjurkan ada seorang yang berkurban dengan seekor kambing. Itu 
sudah memadai dan syiar Islam telah ditegakkan, meskipun yang mendapat pahala 
hanya satu orang, yaitu yang berkurban itu sendiri. Hadits Nabi SAW :




"Dianjurkan bagi setiap keluarga menyembelih qurban." (HR. Ahmad, Abu Dawud, 
Tirmidzi, An Nasa`i, dan Ibnu Majah) 

Teknis Penyembelihan
Teknis penyembelihan adalah sebagai berikut :

  1.. Hewan yang akan dikurbankan dibaringkan ke sebelah rusuknya yang kiri 
dengan posisi mukanya menghadap ke arah kiblat, diiringi dengan membaca doa 
"Robbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii'ul 'aliim." (Artinya : Ya Tuhan 
kami, terimalah kiranya qurban kami ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar 
lagi Maha Mengetahui.)

  2.. Penyembelih meletakkan kakinya yang sebelah di atas leher hewan, agar 
hewan itu tidak menggerak-gerakkan kepalanya atau meronta.

  3.. Penyembelih melakukan penyembelihan, sambil membaca : "Bismillaahi 
Allaahu akbar." (Artinya : Dengan nama Allah, Allah Maha Besar). (Dapat pula 
ditambah bacaan shalawat atas Nabi SAW. Para penonton pun dapat turut 
memeriahkan dengan gema takbir "Allahu akbar!")

  4.. Kemudian penyembelih membaca doa kabul (doa supaya qurban diterima Allah) 
yaitu : "Allahumma minka wa ilayka. Allahumma taqabbal min ..." (sebut nama 
orang yang berkurban). (Artinya : Ya Allah, ini adalah dari-Mu dan akan kembali 
kepada-Mu. Ya Allah, terimalah dari....) (Ad Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984; 
Rifa'i et.al., 1978; Rasjid, 1990)




Penyembelihan, yang afdhol dilakukan oleh yang berqurban itu sendiri, sekali 
pun dia seorang perempuan. Namun boleh diwakilkan kepada orang lain, dan sunnah 
yang berqurban menyaksikan penyembelihan itu (Matdawam, 1984; Al Jabari, 1994).

Dalam penyembelihan, wajib terdapat 4 (empat) rukun penyembelihan, yaitu :

  1.. Adz Dzaabih (penyembelih), yaitu setiap muslim, meskipun anak-anak, tapi 
harus yang mumayyiz (sekitar 7 tahun). Boleh memakan sembelihan Ahli Kitab 
(Yahudi dan Nashrani), menurut mazhab Syafi'i. Menurut mazhab Hanafi, makruh, 
dan menurut mazhab Maliki, tidak sempurna, tapi dagingnya halal. Jadi, 
sebaiknya penyembelihnya muslim. (Al Jabari, 1994). 

  2.. Adz Dzabiih, yaitu hewan yang disembelih.Telah diterangkan sebelumnya.

  3.. Al Aalah, yaitu setiap alat yang dengan ketajamannya dapat digunakan 
menyembelih hewan, seperti pisau besi, tembaga, dan lainnya. Tidak boleh 
menyembelih dengan gigi, kuku, dan tulang hewan (HR. Bukhari dan Muslim).

  4.. Adz Dzabh, yaitu penyembelihannya itu sendiri. Penyembelihan wajib 
memutuskan hulqum (saluran nafas) dan mari` (saluran makanan). (Mahmud Yunus, 
1936)




Pemanfaatan Daging Qurban
Sesudah hewan disembelih, sebaiknya penanganan hewan qurban (pengulitan dan 
pemotongan) baru dilakukan setelah hewan diyakini telah mati. Hukumnya makruh 
menguliti hewan sebelum nafasnya habis dan aliran darahnya berhenti (Al Jabari, 
1994). Dari segi fakta, hewan yang sudah disembelih tapi belum mati, 
otot-ototnya sedang berkontraksi karena stress. Jika dalam kondisi demikian 
dilakukan pengulitan dan pemotongan, dagingnya akan alot alias tidak empuk. 
Sedang hewan yang sudah mati otot-ototnya akan mengalami relaksasi sehingga 
dagingnya akan empuk. 





Setelah penanganan hewan qurban selesai, bagaimana pemanfaatan daging hewan 
qurban tersebut ? Ketentuannya, disunnahkan bagi orang yang berqurban, untuk 
memakan daging qurban, dan menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, dan 
menghadiahkan kepada karib kerabat. Nabi SAW bersabda :




"Makanlah daging qurban itu, dan berikanlah kepada fakir-miskin, dan 
simpanlah." (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadits shahih)




Berdasarkan hadits itu, pemanfaatan daging qurban dilakukan menjadi tiga 
bagian/cara, yaitu : makanlah, berikanlah kepada fakir miskin, dan simpanlah. 
Namun pembagian ini sifatnya tidak wajib, tapi mubah (lihat Ibnu Rusyd, 
Bidayatul Mujtahid I/352; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq, 1987).




Orang yang berqurban, disunnahkan turut memakan daging qurbannya sesuai hadits 
di atas. Boleh pula mengambil seluruhnya untuk dirinya sendiri. Jika diberikan 
semua kepada fakir-miskin, menurut Imam Al Ghazali, lebih baik. Dianjurkan pula 
untuk menyimpan untuk diri sendiri, atau untuk keluarga, tetangga, dan teman 
karib (Al Jabari, 1994; Rifa'i et.al, 1978).




Akan tetapi jika daging qurban sebagai nadzar, maka wajib diberikan semua 
kepada fakir-miskin dan yang berqurban diharamkan memakannya, atau menjualnya 
(Ad Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984) 




Pembagian daging qurban kepada fakir dan miskin, boleh dilakukan hingga di luar 
desa/tempat dari tempat penyembelihan (Al Jabari, 1994).




Bolehkah memberikan daging qurban kepada non-muslim ? Ibnu Qudamah (mazhab 
Hambali) dan yang lainnya (Al Hasan dan Abu Tsaur, dan segolongan ulama 
Hanafiyah) mengatakan boleh. Namun menurut Imam Malik dan Al Laits, lebih utama 
diberikan kepada muslim (Al Jabari, 1994).




Penyembelih (jagal), tidak boleh diberi upah dari qurban. Kalau mau memberi 
upah, hendaklah berasal dari orang yang berqurban dan bukan dari qurban 
(Abdurrahman, 1990). Hal itu sesuai hadits Nabi SAW dari sahabat Ali bin Abi 
Thalib RA :




"...(Rasulullah memerintahkan kepadaku) untuk tidak memberikan kepada 
penyembelih sesuatu daripadanya (hewan qurban)." (HR. Bukhari dan Muslim) (Al 
Jabari, 1994)

Tapi jika jagal termasuk orang fakir atau miskin, dia berhak diberi daging 
qurban. Namun pemberian ini bukan upah karena dia jagal, melainkan sedekah 
karena dia miskin atau fakir (Al Jabari, 19984).




Menjual kulit hewan adalah haram, demikianlah pendapat jumhur ulama (Ibnu 
Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352). Dalilnya sabda Nabi SAW :




"Dan janganlah kalian menjual daging hadyu (qurban orang haji) dan daging 
qurban. Makanlah dan sedekahkanlah dagingnya itu, ambillah manfaat kulitnya, 
dan jangan kamu menjualnya..." (HR. Ahmad) (Matdawam, 1984).




Sebagian ulama seperti segolongan penganut mazhab Hanafi, Al Hasan, dan Al 
Auza'i membolehkannya. Tapi pendapat yang lebih kuat, dan berhati-hati 
(ihtiyath), adalah janganlah orang yang berqurban menjual kulit hewan qurban. 
Imam Ahmad bin Hambal sampai berkata,"Subhanallah ! Bagaimana harus menjual 
kulit hewan qurban, padahal ia telah dijadikan sebagai milik Allah ?" (Al 
Jabari, 1994).




Kulit hewan dapat dihibahkan atau disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. 
Jika kemudian orang fakir dan miskin itu menjualnya, hukumnya boleh. Sebab 
-menurut pemahaman kami-- larangan menjual kulit hewan qurban tertuju kepada 
orang yang berqurban saja, tidak mencakup orang fakir atau miskin yang diberi 
sedekah kulit hewan oleh orang yang berqurban. Dapat juga kulit hewan itu 
dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama, misalnya dibuat alas duduk dan sajadah 
di masjid, kaligrafi Islami, dan sebagainya. 




Penutup



Kami ingin menutup risalah sederhana ini, dengan sebuah amanah penting : 
hendaklah orang yang berqurban melaksanakan qurban karena Allah semata. Jadi 
niatnya haruslah ikhlas lillahi ta'ala, yang lahir dari ketaqwaan yang mendalam 
dalam dada kita. Bukan berqurban karena riya` agar dipuji-puji sebagai orang 
kaya, orang dermawan, atau politisi yang peduli rakyat, dan sebagainya. 
Sesungguhnya yang sampai kepada Allah SWT adalah taqwa kita, bukan daging dan 
darah qurban kita. Allah SWT berfirman :




"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai 
(keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang mencapainya." (TQS Al 
Hajj : 37) [ ]



DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman. 1990. Hukum Qurban, 'Aqiqah, dan Sembelihan. Cetakan Pertama. 
Bandung : Sinar Baru. 52 hal.




Ad Dimasyqi, Muhammad bin Abdurrahman Asy Syafi'i. 1993. Rohmatul Ummah 
(Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil A`immah). Terjemahan oleh Sarmin Syukur dan Luluk 
Rodliyah. Cetakan Pertama. Surabaya : Al Ikhlas. 554 hal. 




Al Jabari, Abdul Muta'al. 1994. Cara Berkurban (Al Udh-hiyah Ahkamuha wa 
Falsafatuha At Tarbawiyah). Terjemahan oleh Ainul Haris. Cetakan Pertama. 
Jakarta : Gema Insani Press. 83 hal.




Anis, Ibrahim et.al. 1972. Al Mu'jam Al Wasith. Kairo : Tanpa Penerbit. 547 hal.




Ash Shan'ani. Tanpa Tahun. Subulus Salam. Juz IV. Bandung : Maktabah Dahlan.




Ibnu Khalil, 'Atha`. 2000. Taysir Al Wushul Ila Al Ushul. Cetakan Ketiga. 
Beirut : Darul Ummah. 310 hal.




Ibnu Rusyd. 1995. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Beirut : Daarul 
Fikr. 404 hal.




Matdawam, M. Noor. 1984. Pelaksanaan Qurban dalam Hukum Islam. Cetakan Pertama. 
Yogyakarta : Yayasan Bina Karier. 41 hal. 




Rasjid, H.Sulaiman. 1990. Fiqh Islam. Cetakan Keduapuluhtiga. Bandung : Sinar 
Baru. 468 hal.




Rifa'i, Moh. et.al. 1978. Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar. Semarang : Toha 
Putra 468 hal. 




Sabiq, Sayyid. 1987. Fikih Sunnah (Fiqhus Sunnah). Jilid 13. Cetakan Kedelapan. 
Terjemahan oleh Kamaluddin A. Marzuki. Bandung : Al Ma'arif. 229 hal




Yunus, Mahmud. 1936. Al Fiqh Al Wadhih. Juz III. Jakarta : Maktabah Sa'adiyah 
Putera. 48 hal.

http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=99&Itemid=47



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke