http://www.dakwatuna.com/2007/hal-hal-yang-merusak-tauhid/

Hal-hal Yang Merusak Tauhid

Oleh: DR. Amir Faishol Fath


dakwatuna.com – Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang
berarti telah mempersaksikan diri sebagai hamba Allah semata. Kalimat
laa ilaaha illallaahu dan Muhammadur Rasuulullah selalu membekas dalam
jiwanya dan menggerakkan anggota tubuhnya agar tidak menyembah
selain-Nya. Baginya hanya Allah sebagai Tuhan yang harus ditaati,
diikuti ajaran-Nya, dipatuhi perintah-Nya dan dijauhi larangan-Nya.
Caranya bagaimana, lihatlah pribadi Rasulullah saw. sebab dialah
contoh hamba Allah sejati.

Dalam pembukaan surat Al-Israa’, Allah telah mendeklarasikan bahwa
Rasulullah saw. adalah hamba-Nya: Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke
Al-Masjidil Aqsha (Al-Israa’:1). Begitu juga dalam pembukaan surat
Al-Kahfi, Allah berfirman: Segala puji bagi Allah yang telah
menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak
mengadakan kebengkokan di dalamnya (Al-Kahfi:1).

Ini menunjukkan bahwa agar makna dua kalimat syahadat – yang intinya
adalah tauhid – benar-benar tercermin dalam jiwa dan perbuatan, tidak
ada pilihan bagi seorang hamba kecuali mencontoh pribadi Rasulullah
saw. dalam segala sisi kehidupannya, baik dari sisi aqidah dan ibadah,
maupun sisi-sisi lainnya seperti sikapnya terhadap istri dan
pelayannya di rumah, pergaulannya bersama-sahabatnya, akhlaqnya dalam
melakukan transaksi bisnis dan kepemimpinannya sebagai kepala Negara.
Maka untuk menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan
Rasulullah saw. seorang hamba hendaknya menghindar jauh-jauh dari
hal-hal yang merusak kemurnian tauhid sebagai cerminan dua kalimat
syahadat tersebut, yang setidaknya ada tiga: (a) Syirik ( menyekutukan
Allah (b) Ilhad (menyimpang dari kebenaran) (c) Nifaq (berwajah dua,
menampakkan diri sebagai muslim, sementara hatinya kafir).

1. Syirik (menyekutukan Allah)

a). Definisi: Syirik adalah lawan kata dari tauhid. Yaitu sikap
menyekutukan Allah secara zat, sifat, perbuatan dan ibadah. Adapun
syirik secara zat adalah dengan meyakini bahwa zat Allah seperti zat
makhluk-Nya. Aqidah ini dianut oleh kelompok mujassimah. Syirik secara
sifat artinya: seseorang meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama
dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain bahwa makhluk mempunyai
sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah, tidak ada bedanya sama sekali.
Syirik secara perbuatan artinya: seseorang meyakini bahwa makhluk
mengatur alam semesta dan rezki manusia seperti yang telah diperbuat
Allah selama ini. Sedangkan syirik secara ibadah artinya: seseorang
menyembah selain Allah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah
serta mencintainya seperti mencintai Allah. Syirik-syirik dalam
pengertian tersebut secara eksplisit maupun implisit telah ditolak
oleh Islam. karenanya seorang muslim harus benar-benar hat-hati dan
menghindar jauh-jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan
di atas.

b) Bentuk-bentuk Syirik: Pertama, menyembah patung atau berhala (al
ashnaam). Allah swt. dalam surat Al-Hajj:30 berfirman, “maka jauhilah
olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan
dusta”. Dalam surat Maryam:42 diceritakan bahwa Nabi Ibrahim menegur
ayahnya karena menyembah patung: Ingatlah ketika ia berkata kepada
bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak
mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?”

Kedua, menyembah matahari, dalam surat Al-A’raaf:54 Allah menolak
orang-orang yang menyembah matahari, bulan dan bintang, “Sesungguhnya
Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula)
matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada
perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.
Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. Lalu dalam surat Fushshilat:37
lebih tegas lagi Allah berfirman, “Dan sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah
bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi
bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya
kepada-Nya saja menyembah”.

Ketiga, menyembah malaikat dan jin, dalam surat Al-An’aam:100 Allah
berfirman: Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu
bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka
membohong (dengan mengatakan), “Bahwasanya Allah mempunyai anak
laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci
Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan”. Dalam
surat Saba’:40-41, “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah
mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat,
“Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”. Malaikat-malaikat itu
menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka:
bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada
jin itu”.

Keempat, menyembah para nabi, seperti Nabi Isa as. yang disembah kaum
Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama
dianggap anak Allah. Allah berfirman, “Orang-orang Yahudi berkata,
“Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putra
Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka
meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah
mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (At-Taubah:30). Dalam
surat Al-Maidah:72, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang
berkata, “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam”, padahal
Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku
dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan)
Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya
ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang
penolong pun”.

Kelima, Menyembah Rahib atau Pendeta, Allah berfirman, “Mereka
menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan
selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam;
padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada
Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang
mereka persekutukan”. Adi bin Hatim ra. pernah bertanya kepada
Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya berkata, “Sebenarnya mereka
tidak menyembah Pendeta atau Rahib mereka?” Rasululah saw. menjawab:
Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang
halal dan menghalalkan yang haram, sementara mereka mengikutinya.
Bukankah itu tindak penyembahan terhadap mereka?

Keenam, menyembah Thagut. Istilah thagut diambil dari kata thughyaan
artinya melampaui batas. Maksudnya: segala sesuatu yang disembah
selain Allah. Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada
tauhid dan menjauhi thagut. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami
telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),
“Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat
itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di
antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (An-Nahl:36). Dan tauhid
yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah
thagut, Allah berfirman: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama
(Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang
sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman
kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali
yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui (Al-Baqarah:256). Allah bangga dengan orang-orang
beriman yang menjauhi thagut, “Dan orang-orang yang menjauhi thagut
(yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka
berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada
hamba-hamba-Ku: (Az Zumar:17).

Ketujuh, menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecenderungan untuk
melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu ia
mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan
demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah
berfirman: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara
atasnya? (Al-Furqaan:43). Dalam surat Al-Jatsiyah:23, “Maka pernahkah
kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan
Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah
Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran?”

c) Macam-macam Syirik: Ada dua macam syirik: (a) Syirik besar (b)
syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua
dimensi: zhahir (nampak) dan khafiy (tersembunyi). Marilah kita bahas
satu-satu persatu dari kedua macam syirik tersebut.

Pertama, Syirik besar (Asy Syirkul Akbar), yaitu tindakan menyekutukan
Allah dengan makhluk-Nya. Dikatakan syirik besar karena dengannya
seseorang tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang
selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa
yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia
telah tersesat sejauh-jauhnya” (An Nisaa’:116). Ilustarsi syirik besar
ini dibagi dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa
dicontohkan seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung,
batu-batu, pohon-pohon besar, manusia (seperti menyembah Fir’un,
raja-raja, Budha, Isa ibn Maryam, malaikat, Jin dan Syetan. Sementara
yang khafiy bisa dicontohkan seperti meminta kepada orang-orang yang
sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka
yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan
dan mengharamkan seperti Allah swt.

Kedua, syirik kecil (Asyirkul Ashghar), yaitu suatu tindakan yang
mengarah kepada syirik, tetapi belum sampai ketingkat keluar dari
tauhid, hanya saja mengurangi kemurnian nya. Syirik Ashghar ini juga
dua dimensi: zhahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa lafal
(pernyataan) dan perbuatan. (a) Yang berupa lafal contohnya: bersumpah
dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik, seperti pernyataan:
demi Nabi, demi Ka’bah, demi Kakek dan Nenek dan lain sebagainya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: man halafa bighirillahi
faqad kafara wa asyraka (siapa yang bersumpah dengan selain maka ia
kafir dan musyrik) (HR. Turmidzi no 1535). Termasuk lafal yang
mengarah ke syirik pernyataan: kalau tidak karena Allah dan si fulan
niscaya ini tidak akan terjadi, atau memberikan nama seperti abdul
ka’bah dan lain sebagainya. (b) Adapun yang berupa perbuatan
contohnya: mengalungkan jimat dengan keyakinan bahwa itu bisa
menyelamatkan dari mara bahaya dan sebagainya.

Adapun syirik Ashghar yang khafiy, biasanya berupa niat atau
keinginan, seperti riya’ dan sum’ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan
kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang dan lain sebagainya.
Seperti menegakkan shalat dengan nampak khusyu’ karena sedang di
samping calon mertuanya, supaya dipuji sebagai orang saleh, padahal di
saat shalat sendirian tidak demikian. Riya’ adalah termasuk dosa hati
yang sangat berbahaya. Sebab Islam sangat memperhatikan perbuatan hati
sebagai factor yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan zhahir.
Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut nya dan
menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah
dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang
di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu
menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai
sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Al-Baqarah:264). Dalam sebuah
hadits Rasulullah saw. bersabda: man samma’a sammallahu bihii, waman
yraa’ii yraaillahu bihii (Siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud
riya’ Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang
menunjukkan amal shalehnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah
mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat (HR. Bukhari:288 dan
Muslim no. 2987).

d) Bahaya-bahaya Syirik: Pertama, Syirik adalah kezhaliman yang nyata.
Allah berfirman: innasy syirka ladzlumun adziim (sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar)
(Luqman:13). Mengapa sebab dengan berbuat syirik seseorang telah
menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang sama dengan dirinya,
tidak berdaya apa-apa.

Kedua, Syirik merupakan sumber khurafat, sebab orang-orang yang
meyakini bahwa selain Allah seperti bintang, matahari, kayu besar dan
lain sebagainya bisa memberikan manfaat atau bahaya berarti ia telah
siap melakukan segala khurafat dengan mendatangi para dukun,
kuburan-kuburan angker dan mengalungkan jimat di lehernya.

Ketiga, Syirik sumber ketakutan dan kesengsaraan, Allah berfirman,
“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut,
disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah
sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka
ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang
zhalim” (Ali Imran:151)

Keempat, Syirik merendahkan derajat kemanusiaan, Allah berfirman,
“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia
seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau
diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Al-Hajj:31).

Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia, Allah berfirman, “Dan
mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat
mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan,
dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di
sisi Allah”. Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa
yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?”
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan
(itu)” (Yunus:18).

Keenam, di akhirat nanti orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan
ampunan Allah, dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu)
dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu)
dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (An
Nisaa’:116) Dalam surat Al-Maidah:72, “Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”.

e) Sebab-sebab Syirik: Ada beberapa sebab fundamental munculnya
syirik: (a) Al-Jahlu (kebodohan). Karenanya masyarakat sebelum
datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab mereka
tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang
penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cenderung berbuat syirik.
Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecenderungan
berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat
jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa, sebab
mereka bodoh, dan dengan kebodohannya mereka tidak tahu bagaimana
seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Ujung-ujungnya para dukun sebagai nara sumber yang sangat mereka
agungkan.

(b) dhu’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang lemah imannya
cenderung berbuat maksiat. Sebab rasa takut kepada Allah tidak kuat.
Lemahnya rasa takut akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai
dirinya. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya maka tidak
mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik, seperti
memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke
kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dipilih jadi
presiden atau selalu merujuk kepada para dukun untuk supaya
penampilannya tetap memikat hati banyak orang dan lain sebagainya.

(c) taqliid (taklid buta). Di dalam Al-Qur’an selalu digambarkan
orang-orang yang menyekutukan Allah dengan alasan karena mengikuti
jejak nenek moyang mereka. Allah berfirman, “Dan apabila mereka
melakukan perbuatan keji, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang
kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami
mengerjakannya. Katakanlah, “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh
(mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan
terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Al-A’raf:28). Dalam
surat Al-Baqarah:170, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah
apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi
kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek
moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek
moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat
petunjuk?” Dalam surat Al-Maidah:104, “Apabila dikatakan kepada
mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti
Rasul”. Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati
bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti
juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?

2. Al-Ilhaad (Menyimpang Dari Kebenaran)

Penggunaan istilah al ilhaad dalam Al-Qur’an: Al-Qur’an menggunakan
istilah ilhaad di banyak tempat, kadang berbentuk kosa kata yulhiduun
sebagaimana berikut: Dalam surat Al-A’raf:

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka
akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dalam
surat An Nahl 10:

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya
Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”.
Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar
kepadanya bahasa `Ajam, sedang Al-Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang
terang. Dalam surat Fushshilat:4:

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak
tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke
dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman
sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki;
sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.Kadang berbentuk
kosa kata ilhaad, Allah berfirman:

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan
Allah dan Masjidil haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia,
baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang
bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan
Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (Al-Hajj:25) Dan
kadang berbentuk kosa kata multahadaa Allah berfirman:

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu
(Al-Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah
kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat
berlindung selain daripada-Nya (Al-Kahfi:27)

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

Katakanlah, “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat
melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh
tempat berlindung selain daripada-Nya” Al-Jin:22).Arti al ilhaad
menurut para ulama: Al-Farra’ mengatakan bahwa kata yulhiduun atau
yalhaduun artinya condong kepadanya. Imam Al-Harrani dari Ibn Sikkit
mengatakan: al mulhid artinya orang yang menyimpang dari kebenaran,
dan memasukkan sesuatu yang lain kepadanya. Dalam Lisanul Arab
dikatakan: al ilhaad artinya menyimpang dari maksud yang sebenarnya.
Meragukan Allah juga termasuk ilhaad. Dikatakan juga bahwa setiap
tindak kezhaliman dalam bahasa Arab disebut ilhaad. Karenanya dalam
sebuah riwayat dikatakan bahwa monopoli makanan di tanah haram itu
termasul ilhad. Ketika dikatakan laa tulhid fil hayaati itu artinya
jangan kau menyimpang dari kebenaran selama hidupmu.

Imam Ashfahani dalam bukunya mufradaat alfadhil Qur’an mengatakan
bahwa kata al ilhaad artinya menyimpang dari kebenaran. Dalam hal ini
–kata Al-Ashfahani- ada dua makna: Pertama, ilhad yang identik dengan
syirik, bila ini dilakukan maka otomatis seseorang menjadi kafir.
Kedua, ilhad yang mendekati syirik, ini tidak membuat seseorang
menjadi kafir, tetapi setidaknya telah mengurangi kemurnian tauhid
nya. Termasuk sikap ini apa yang digambarkan dalam firman Allah:

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim,
niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih
(Al-Hajj:25).Dalam menafsirkan ayat

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

(dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya), Imam Al-Ashfahani menyebutkan bahwa ada dua
macam dalam ilhaad kepada nama-nama Allah: (a) menyifati Allah dengan
sifat-sifat yang tidak pantas disebut sebagai sifat Allah (b)
menafsirkan nama-nama Allah dengan makna yang tidak sesuai dengan
keagungannya (Lihat Mufradat Alfaadzul Qur’an h.737).

Hakikat Ilhad

berdasarkan keterangan di atas baik ditinjau dari segi bahasa maupun
definisi yang disampaikan para ulama nampak bahwa istilah ilhad
digunakan untuk segala tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Jadi
setiap penyimpangan dari kebenaran disebut ilhad. Tetapi secara
definitif ia lebih khusus digunakan untuk sikap yang menafikan
sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah. Dengan kata lain para
mulhidun adalah mereka yang tidak percaya adanya sifat-sifat,
nama-nama dan perbuatan Allah.

Berbeda dengan kafir yang di dalamnya bisa berupa pengingkaran kepada
Allah, menyekutukan-Nya dan pengingkaran terhadap nikmat-nikmat-Nya.
Sementara ilhad lebih kepada pengingkaran sifat-sifat, nama-nama dan
perbuatan Allah saja. Dari sini nampak bahwa tidak setiap kafir ilhad.
Karenanya –seperti dikatakan dalam buku Al-Furuuq Al-Lughawiyah-
orang-orang Yahudi dan Nasrani sekalipun mereka tergolong kafir,
tetapi mereka tidak termasuk mulhiduun. Tetapi setiap tindakan ilhad
itu termasuk kafir.

Bahaya-bahaya ilhaad

Pertama, bahwa para ulama sepakat bahwa tauhid mempunyai tiga dimensi:
(a) tauhid uluhiyah, (b) tauhid rububiyah (c) tauhid asma’ dan sifat.
Karena ilhad adalah tindakan menafikan sifat-sifat, nama-nama dan
perbuatan Allah maka dengan melakukan ilhad seseorang telah menghapus
satu dimensi dari dimensi tauhid yang sudah baku. Para ulama sepakat
bahawa mengingkari salah satu dari dimensi-dimensi tauhid adalah
kafir. Karena itu orang-orang mulhid tergolong orang kafir.

Kedua, bahwa dengan menafikan sifat-sifat dan nama-nama Allah berarti
ia telah mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan adanya
nama-nama dan sifat-sifat Allah. Para ulama sepakat bahwa mengingkari
satu ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an adalah kafir.

Ketiga, bahwa mengingkari perbuatan Allah berarti mengingkari segala
wujud di alam ini sebagai ciptaan-Nya. Bila ini yang diyakini berarti
telah mengingkari kekuasaan Allah sebagai Pencipta. Mengingkari
kekuasaan Allah adalah kafir.

3. An Nifaaq (Wajahnya Islam, Hatinya Kafir)

Imam Al-Ashfahani menerangkan bahwa an nifaaq diambil dari kata an
nafaq artinya jalan tembus. Dalam surat Al-An’aam dikatakan:

[arabic text appear only in www.dakwatuna.com]

Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka
jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu
dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah
menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk,
sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil
(Al-An’aam:35). Orang Arab berkata: naafaqal yarbu’ binatang yarbu’
telah melakukan nifak, karena ia masuk ke satu lubang lalu keluar dari
lubang yang lain. Dalam pengertian ini kata an nifaaq digunakan. Sebab
orang-orang munafik ketika bertemu dengan orang-orang Islam mereka
suka menampakkan dirinya sebagai seorang muslim, sementara ketika
bertemu dengan kawan-kawan mereka sesama kafir, mereka kembali lagi ke
wajah mereka yang asli, sebagai orang-orang kafir. Karenanya Allah
berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang
fasik” (At Taubah:67).

Ciri-ciri orang munafik: Di pembukaan surat Al-Baqarah setelah
menceritakan ciri-ciri orang-orang beriman dan ciri-ciri orang-orang
kafir, Allah lalu menceritakan ciri-ciri orang-orang munafik secara
panjang lebar. Ringkasnya sebagai berikut: (a) Di mulut mereka
mengatakan beriman kepada Allah dan hari Kiamat, sementara hati mereka
kafir (lihat Al-Baqarah:8-10) (b) Ketika dikatakan kepada mereka agar
jangan berbuat kerusakan, mereka mengaku berbuat baik(lihat
Al-Baqarah:11-12). (c) Ketika bertemu dengan orang-orang beriman
mereka menampakkan keimanan, tetapi ketika kembali ke kawan-kawan
mereka sesama syaitan mereka kembali kafir. (d) Ibarat orang berbisnis
mereka sedang membeli kekafiran dengan keimanan. Sebab setiap saat
wajah mereka berganti-ganti tergantung dengan siapa mereka pada saat
itu sedang bersama-sama. (e) Ibarat pejalan dalam kegelapan, setiap
kali mereka menyalakan obor, seketika obor itu padam kembali. (d)
Ibarat orang-orang yang ketakutan mendengarkan petir saat hujan turun,
mereka selalu menutup telinga karena takut kebenaran yang disampaikan
Rasulullah saw. Masuk ke hati mereka.

Penutup

Demikianlah hal-hal yang merusak kemurnian tauhid (baca: menghancurkan
makna dua kalimat syahadat), yang secara singkat setidaknya ada tiga:
Syirik, ilhaad dan nifaq. Masing-masing dari komponen tersebut
mempunyai tujuan sendiri, hanya saja syirik lebih mengarah kepada
sikap menyekutukan Allah, sementara ilhad lebih mengarah kepada sikap
menafikan sifat, asma dan perbuatan Allah. Adapun nifaq lebih mengarah
kepada penampilan dengan wajah dua. Tetapi ujung-ujungnya adalah
kekafiran. Wallahu a’lam bishshawab.

http://www.dakwatuna.com/2007/hal-hal-yang-merusak-tauhid/


------------------------------------


===
http://media-islam.or.id

Anda bisa mendapatkan Busana Muslim secara online di:
http://rumahmadina.com
http://www.butikaqilla.com
http://wearmuslim.com
Toko buku Islam online:
http://rumahpensil.webuang.com
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke