Metode Perubahan Ala Rasulullah 



Wednesday, 03 February 2010 
 
Oleh: Muhammad Ishak
Kondisi negeri ini kian rusak dan semrawut. Korupsi misalnya, kendati 
slogan perlawanan terhadapnya terus diteriakkan, namun tidak ada 
tanda-tanda akan berhenti. Ironisnya, institusi penegak hukum yang 
seharusnya membabat korupsi justru menjadi sarang koruptor. Mafia hukum 
dan peradilan pun menjadi niscaya. Bagaimana rakyat bisa hidup tenteram, 
keadilan bisa ditegakkan, kezaliman bisa dilenyapkan kalau hukum dan 
aparatnya bermasalah. Kesemrawutan tak hanya dalam sektor. Hampir semua 
ada sektor kehidupan yang bermasalah. Bahkan bisa dikatakan, sejauh mata 
memandang, yang ada adalah hamparan masalah.
Maka mereka yang gerah dengan rusaknya kondisi masyarakat saat ini tentu 
sepakat sebuah perubahan. Akan tetapi, jika ditanyakan arah perubahan yang 
diinginkan dan bagaimana cara melakukan perubahan tersebut, jawabannya 
akan bervariasi mulai dari yang sekadar mengganti figur hingga mengubah 
sistem; dari cara yang paling dianggap paling halus hingga yang dianggap 
sangat radikal.
Bagi kaum Muslim apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW wajib diteladani 
karena ia adalah panutan terbaik dalam segala hal (QS al-Ahzab [33]:21) 
termasuk dalam menyampaikan perubahan masyarakat. Allah SWT 
berfirman:"Katakanlah inilah jalanku dimana saya menyeru dengan penuh 
kejelasan bersama orang-orang yang mengikutiku." (TQS Yusuf [12]: 108)
Menurut al-Syaukani ini merupakan dalil wajibnya bagi pengikut rasul untuk 
meneladani beliau dalam berdakwah, mengesakan Allah dan beramal 
sebagaimana yang telah disyariatkan.
Berikut ini adalah gambaran umum metode perubahan yang ditempuh oleh 
Rasulullah SAW dalam mengubah masyarakat Arab dari masyarakat Jahiliyyah 
menjadi masyarakat Islam.
Pertama, perubahan yang berbasis ideologi. Rasulullah SAW telah 
mendapatkan wahyu dari Allah SWT yang mengatur sema perkara. Wahyu 
tersebut sekaligus menjadi pedoman hidup yang wajib diamalkan oleh kaum 
Muslim. Jika dicermati wahyu juga merupakan ideologi karena terdiri dari 
ide dasar (aqidah) dan berbagai sistem kehidupan yang bersumber dari ide 
dasar tersebut (syariah). Selain itu ideologi tersebut berisi konsep dan 
metode untuk membumikan ideologi tersebut. Metode untuk mewujudkan 
ideologi tersebut adalah negara. Inilah tujuan perubahan yang diusung oleh 
Rasul dan para sahabat, membumikan ideologi tersebut di tengah-tengah 
masyarakat dengan jalan menegakkan daulah Islam.
Kedua, membentuk partai politik. Untuk membumikan sebuah ideologi tentu 
bukan perkara mudah yang dapat dijalankan seorang diri. Rasulullah SAW 
tidak hanya mengajak satu demi satu masyarakat Arab untuk meyakini 
ideologi yang beliau sampaikan. Namun lebih dari itu, mereka yang beriman 
kemudian diorganisir dan digerakkan secara sistematis yang berpusat di 
rumah Arqam bin Abu al-Arqam. Beberapa ayat Makkiyah menjadi bukti bahwa 
Rasulullah SAW merupakan dakwah dalam bentuk jamaah (lihat QS al-Syuara' 
[26]: 215; QS.Yusuf [12]: 183). Model kelompok yang berbasis pemikiran 
yang diyakini oleh anggotanya serta berupaya diwujudkan di tengah 
kehidupan tidak lain merupakan definisi partai politik. Dengan demikian 
kelompok Rasul saat itu adalah berbentuk partai politik.
Ketiga, mempersiapkan kader melalui pembinaan. Rasulullah SAW 
mempersiapkan kader partai yang nota bene adalah sahabat-sahabat beliau 
secara terus menerus tanpa henti hingga terbentuk kepribadian Islam pada 
diri mereka. Disamping mengamalkan apa yang telah diajarkan, Rasulullah 
juga mengutus orang-orang tertentu untuk mengajari Alquran orang-orang 
yang baru masuk Islam. Beliau misalnya mengutus Khabbab bin al-Arat untuk 
mengajar Zainab binti Khattab dan suaminya, Said  memahami Alquran. Kurang 
lebih tiga tahun jumlah pengikut beliau hingga memeasuki tahap interaksi 
dengan masyarakat secara terbuka hanya 40 orang pria di tambah dengan tiga 
wanita orang. Jika dirata-rata dalam sebulan hanya ada satu hingga dua 
orang yang masuk Islam.
Dari al-Arqam bahwa Rasulullah SAW berada di rumah beliau di Shafa hingga 
jumlah mereka mencapai 40 laki-laki Muslim. Orang yang terakhir masuk 
Islam adalah Umar bin Khattab. Tatkala jumlah mereka mencapai 40 orang 
mereka pun keluar menemui orang-orang musyrik. (HR. al-Hakim dan 
menurutnya shahih).
Keempat, mempersiapkan masyarakat sebagai basis untuk menerapkan ideologi. 
Pelaku utama dari aktivitas ini sahabat-sahabat yang sebelumnya telah 
dipersiapkan dengan matang. Dalam proses ini Rasulullah SAW membatasi 
kegiatannya pada tataran pemikiran yaitu menjelaskan kebatilan pemikiran 
yang diusung dan dipraktekkan masyarakat Arab dan menanamkan kebenaran 
ideologi Islam. Meski sesembahan merajalela disekitar Ka'bah beliau tetap 
mendiamkannya termasuk dalam masalah-masalah sosial seperti kemiskinan. Di 
sinilah proses yang paling berat dan menentukan sebab Rasulullah SAW dan 
para sahabat tidak hanya berhadapan dengan pemikiran yang rusak namun juga 
resistensi dari penganut pemikiran tersebut termasuk pemimpin politik 
mereka. Pertarungan pemikiran dan serangan politik terhadap 
pembesar-pembesar tersebut gencar dilakukan meski harus menerima perlakuan 
yang kejam dari mereka. Fase ini juga bisa disebut sebagai tafâ'ul ma'a 
al-ummah (berinteraksi dengan umat).
Kelima, mencari dukungan kekuasaan (thalab al-nushrah) dari para pemimpin 
masyarakat. Rasulullah SAW tidak sekadar membatasi diri untuk 
mensosialisasikan idenya kepada masyarakat. Namun pada saat yang sama juga 
secara aktif melakukan berbagai pendekatan kepada para penguasa Arab di 
masa itu Rasulullah SAW senantiasa mengajak pembesar Qurays memeluk Islam. 
Di sisi lain Rasul juga secara aktif mendakwahi qabilah-qabilah lainnya 
khususnya ketika musim haji tiba. Catatan Ibnu Sa'ad menunjukkan 
setidaknya Rasulullah menyambangi 15 kabilah Arab meski tak satupun dari 
mereka yang bersedia beriman dan mendukung beliau. Mereka antara lain: 
Bani Amir bin Sha'shaah, Bani Nadhir, Bani Hanifah, dan Bani Baqa. Meski 
demikian beliau terus bergerak hingga Allah mempertemukan beliau dengan 
suku Auz dan Khazaj. Menurut Ibnu Khalil (2003: 21) metode thalab 
al-nushrah yang dilakukan Rasulullah SAW secara konsisten meski menghadapi 
berbagai kesulitan menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut .
Keenam, menerapkan ideologi Islam dalam pemerintahan. Setelah mendapatkan 
dukungan dari pemuka Auz dan Khazraj Rasulullah SAW kemudian mengutus 
Mus'ab untuk mengawal proses penyiapan masyarakat Madinah. Setalah 
masyarakat Madinah dianggap siap maka beliau dan kaum Muslim Makkah hijrah 
ke Madinah yang sekaligus menjadi awal tegaknya negara Islam. Islam 
kemudian diterapkan secara menyeluruh dan tidak lagi sebatas wacana. 
Dakwah dan jihad ke seluruh jazirah Arab pun digencarkan secara agresif 
termasuk ke Mekkah.
 Bukan Sekadar Berubah
Inilah beberapa aktivitas yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam rangka 
menegakkan daulah Islam. Meski hal tersebut dilakukan 14 abad yang lalu 
namun ia tetap relevan hingga kini bahkan hingga hari Kiamat. Ini karena 
metode tersebut adalah hukum syara' yang tak berubah dan wajib dipedomani 
oleh ummat Islam. Metode perjuangan lain seperti reformasi, people power 
hingga revolusi berdarah dari sisi pergantian kekuasaan dapat saja 
berhasil. Namun bukan perubahan yang gariskan oleh syara'. Patut dicatat, 
perubahan yang dikehendaki saat ini bukan sekadar perubahan figur. Namun 
juga perubahan sistem secara total disamping  perubahan pemahaman, 
standardisasi (amal dan pemikiran) dan ketundukan masyarakat dari sistem 
kapitalisme kepada ideologi Islam. Lebih dari itu, perubahan yang 
mengikuti tuntunan Rasulullah merupakan sebuah kewajiban. Mengabaikan 
metode tersebut tidak hanya akan gagal namun juga akan menuai dosa (QS 
an-Nur [2]: 63). Wal-Lâh a'lam bi al-shawâb []
 


Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke