Pemerintah
memastikan tidak akan ada kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dan TDL
(Tarif Dasar Listrik) pada tahun 2010 meskipun harga minyak dunia saat ini
masih berfluktuasi.
Demikian
pernyataan yang dikemukakan oleh Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian, pada hari Rabu tanggal 13 Januari 2010,
Pernyataan
tersebut dikutip dari sebuah berita berjudul ‘Pemerintah Pastikan Harga BBM dan
TDL Tidak Akan
Naik’, yang dapat diakses langsung ke sumber beritanya
dengan mengklik di sini.
Selain itu,
dari sumber berita yang lain disebutkan juga bahwa masyarakat tak perlu
khawatir TDL akan naik begitu memasuki 2010. Pemerintah telah berjanji tidak
akan menaikkan tarif listrik.
Berkaitan
dengan janji pemerintah yang tidak akan menaikkan tarif listrik itu, Menko
Perekonomian mengatakan bahwa dibandingkan dengan menaikkan TDL, pemerintah
akan lebih fokus kepada upaya membenahi sektor kelistrikan secara menyeluruh
dimulai dari PLN.
“Kita akan coba selesaikan permasalahan di PLN”,
kata Hatta Rajasa.
Menko
Perekonomian mengakui bahwa tidak adanya kenaikan TDL tersebut akan membuat
beban subsidi makin berat. Meskipun demikian, potensi tambahan beban subsidi
itu masih akan bisa di-cover oleh APBN. “Tambahan
beban subsidi itu masih dalam range yang bisa diatasi APBN kita”,
kata Hatta Rajasa.
Pernyataan itu
tentu melegakan hati rakyat Indonesia.
Paling tidak, dengan tidak adanya kenaikan TDL maka biaya perongkosan
kehidupannya tidak akan menjadi naik.
Namun
sekalipun lega, sebagian gelintir dari rakyat Indonesiajuga meyakini dan
menyadari serta memaklumi bahwa lain Menko Perekonomian lain pula Menteri
Keuangan, dalam arti kata apa yang menjadi kebijakannya Menko Perekonomian itu
belumlah tentu akan sepenuhnya diamini oleh Menteri Keuangan.
Belum
berselang satu tahun dari pernyataannya Menko Perekonomian itu, apa yang
diyakini oleh segelintir rakyat Indonesiaitu menemukan kenyataannya.
Menteri
Keuangan, Sri Mulyani, memberikan pernyataan yang intinya memastikan bahwa
tarif dasar listrik akan naik pada Juli 2010 sebesar 15 persen.
“TDL naik sebesar 15 persen per Juli 2010“,
kata Sri Mulyani.
Pernyataan
Menteri Keuangan itu disampaikannya pada jumpa pers soal RAPBN-P 2010, pada
hari Senin tanggal 8 Maret 2010, di Gedung Depkeu.
Jadilah rakyat Indonesiaharus mulai bersiap-siap untuk menyediakan lebih banyak
lagi uang untuk
membiayai perongkosan kehidupannya yang tentunya akan otomatis menjadi naik
lantaran kenaikan TDL itu.
Pengeluaran
biaya rumah tangga yang pasti bertambah adalah biaya bulanan bayar listrik.
Tentu dalam
persoalan beban pengeluaran perongkosan hidup ini, para cerdik pandai akan
menasihati dan memberikan solusi atas pemasalahan itu agar rakyat
Indonesiamulai belajar menghemat pemakaian listrik jika tak mau biaya bulanan
bayar
listrik menjadi bertambah.
Selanjutnya,
disamping biaya bayar tagihan listrik, tentu pengeluaran biaya rumah tangga
juga akan bertambah dengan adanya kenaikan harga barang-barang kebutuhan hidup
yang lainnya.
Kenaikan harga
barang-barang itu tentu sesuatu yang logis dan wajar, mengingat kenaikan TDL
itu akan membuat biaya produksi barang otomatis menjadi naik pula.
Dalam
persoalan ini pula, para cerdik pandai juga sudah mempunyai nasihat dan
solusinya. Rakyat Indonesiadisamping berhemat, juga harus mulai belajar kreatif
serta berkerja lebih keras
dan lebih giat lagi agar mendapatkan peningkatan pendapatan sehingga
peningkatan pengeluaran rumah tangga itu dapat teratasi.
Terlepas dari
segala nasihat dan solusi yang diberikan oleh para cerdik pandai itu. Memanglah
yang menjadi persoalan terbesar disebagian besar rumah tangga di Indonesiaitu
adalah ketimpangan antara pendapatan dan pengeluaran.
Tentunya para
cerdik pandai juga sudah mempunyai jawabannya atas akar permasalahan dari
ketimpangan antara pendapatan dan pengeluaran ini.
Akar
permasalahannya tentu tidak jauh-jauh dari soal kemalasan, ketidak kreatifan,
dan segala hal yang berkait dengan kekurangan dan kelemahan serta keburukan
dari sebagian besar rakyat Indonesia.
Sebagian besar
rakyat Indonesiatentu mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh para cerdik pandai
itu pastilah
mutlak benar adanya. Apalagi para cerdik pandai itu bergelar Doktor bahkan
Profesor di bidang ilmu Ekonomi.
Sehingga
dengan menyadari sepenuh-penuhnya tentang segala kekurangan dan keburukan yang
ada di dirinya itu, maka rakyat Indonesianrimo saja. Meskipun, setiap tahun
berganti tahun, pendapatannya belum tentu
naik tapi perongkosan kehidupannya pasti naik.
Perongkosan
kehidupan yang pasti terus mengalami kenaikan pada setiap tahunnya itu,
mengutip penuturan dari para cerdik pandai, disebut sebagai inflasi.
Inflasi itu
ada yang karena tarikan permintaan (Demand Pull Inflation) dan ada yang karena
desakan biaya (Cost Push Inflation).
Inflasi adalah
sesuatu yang tidak bisa dihindari, pasti mutlak akan terus ada. Karena inflasi
yang terkendali itu katanya justru merupakan hal yang baik dan dibutuhkan bagi
memacu perkembangan ekonomi suatu negara.
Konon katanya,
tak ada satu pun negara yang ada di dunia ini yang tidak mengalami inflasi.
Berkait dengan
segala kemaslahatan inflasi itu, tentunya rakyat Indonesiamengamini saja
penjelasan
dari para cerdik pandai itu.
Walaupun ada
juga yang manggut-manggut mengamininya tapi sambil bersungut-sungut karena
harga-harga barang di tahun ini menjadi lebih mahal dibandingkan tahun kemarin,
dan akan menjadi bertambah mahal lagi di tahun depan, dan berlanjut terus
bertambah mahal di tahun-tahun depannya lagi.
Sedangkan pada
kenyataan kehidupannya menunjukkan fakta bahwa tingkat kenaikan penghasilan dan
pendapatannya itu terus menerus setiap tahunnya berada dibawah tingkat inflasi
riil yang terus terjadi setiap tahunnya itu.
Dan, akibatnya
yang tahun kemarin barang itu masih mudah terbeli, namun ditahun ini mungkin
menjadi untuk membeli barang yang sama itu haruslah dengan merelokasi dulu dari
alokasi pos kebutuhan lainnya.
Begitu juga
halnya dengan hal-hal lainnya yang merupakan komponen dari perongkosan
kehidupan, serta hal yang berkait erat dengan kebutuhan kehidupan. Tentunya
termasuk pula diantaranya adalah biaya pendidikan dan sekolah, serta biaya
kesehatan dan pengobatan.
Namun
sekalipun ikut mengamininya pula, ada di segelintir kalangan yang merasa heran
dan merasa ganjil dengan fenomena inflasi itu yang dikatakan sebagai sesuatu
hal memberikan maslahat dan pasti terjadi di semua negara.
Segelintir
kalangan itu menengarai bahwa di negara Saudi Arabia, di negara ini tentunya
tak mempunyai pakar ahli perekonomian negara yang pilih tanding dengan tingkat
kehebatan kelas dunia seperti misalnya yang sekaliber Profesor Boediono dan
Doktor Sri Mulyani, ternyata di negara teluk itu ada barang-barang kebutuhan
masyarakat kebanyakan yang dari zaman baheula sampai hari ini harganya tetap
saja hanya 1 Riyal saja.
Mungkin bagi mereka
yang pernah mengunjungi negara itu, barangkali saat mereka menunaikan Ibadah
Haji yang merupakan salah satu dari Rukun Islam, atau barangkali saat mereka
menjalankan ibadah Umroh untuk menambah bekal amalan di akhirat kelak, atau
barangkali mereka berkunjung ke sana dalam sesuatu keperluan yang lainnya, akan
menemukan fenomena bahwa minuman ‘Teh Susu’ yang banyak dijual di lapak-lapak
atau di kios-kios pinggiran jalan itu per gelasnya harganya 1 Riyal saja.
Menurut mereka
yang pernah beberapa kali pergi ke tanah suci dalam jeda waktu beberapa tahun,
harga 1 Riyal itu tidaklah berubah dari tahun ke tahun.
Kenapa ya
bisa begitu ?. Apa karena di negara Saudi Arabiaitu tidak ada inflasi ?. Atau
karena minuman Teh Susu itu memang kebal
inflasi ?.
Upsss, jangan
keburu apriori dulu, janganlah antipati dulu, jangan juga keburu bersikap dulu
sehingga jelas terbaca isi hati yang dipenuhi oleh Islamophobia.
Sesungguhnya
pertanyaan itu diajukan bukan karena menginginkan di Indonesiajuga diterapkan
Syariat Islam.
Tidak ada hubungannya dengan keinginan menerapkan Syariat Islam, tidak ada
hubungannya dengan keinginan untuk menghancurkan Pluralisme dan Sekulerisme di
Indonesia, tidak ada hubungannya dengan keinginan mengganggu Kebhinekaan
Indonesia.
Konon kabarnya,
di negara Saudia Arabiaini tidak punya ekonom
nir kepentingan dan nir ambisi politik yang dengan tingkat kehebatan ilmu yang
sekaliber Profesor Boediono dan Doktor Sri Mulyani .
Konon, katanya
di Saudi Arabiaini juga ada inflasi. Namun inflasinya begitu kecil dan sangat
terkontrol.
Sehingga mata uang Riyal menjadi sangat stabil dan sangat tidak fluktuatif.
Akibat
lanjutannya dari itu, teh susu dari tahun ke tahun tetap saja tak bergeming
harganya, cukup hanya 1 Riyal saja.
Termasuk juga
sekaleng Pepsi Cola atau minuman kaleng lainnya, yang harganya tak beranjak
dari 1 Riyal saja.
Mengapa
bisa begitu ya ?. Apa karena negara itu kaya raya dengan tambang
minyaknya ?. Atau
karena disubsidi oleh pemerintahnya ?.
Konon katanya,
itu semua dikarenakan negara itu masih menganut cara pengaturan dan manajemen
ekonomi moneter yang menurut para ahli ekonomi merupakan model moneter yang
sudah ketinggalan zaman dan terbilang kuno jika dibandingkan dengan
Indonesiasebagai misalnya.
Konon, mata
uang Riyal itu masih diback up dengan cadangan emas yang terus disesuaikan
jumlah cadangan sesuai dengan jumlah mata uang kertas yang dicetaknya.
Sebagaimana
diketahui, inti kesepakatan ‘Breton Wood’ di tahun 1944 yang digagas oleh
Amerika Serikat itu adalah janji Amerika Serikat untuk mendukung mata uang USD
secara penuh dengan emas yang nilainya setara.
Kesetaraan ini
mengikuti konversi harga emas yang ditentukan tahun 1934 oleh Presiden
Roosevelt, yaitu USD 35 untuk 1 troy ons emas.
Lalu,
negara-negara lain yang mengikuti kesepakatan tersebut diijinkan untuk
menyetarakan uangnya terhadap emas ataupun terhadap Dollar.
Dengan adanya
kesepakatan ini, maka seharusnya di setiap nilai uang 35 USD itu ada cadangan
emas sebesar 1 troy ons yang disimpan oleh Bank Sentralnya Amerika Serikat.
Namun
kemudian, di tahun 1971, atau tepatnya tanggal 15 Agustus 1971, Amerika Serikat
secara sepihak telah memutuskan untuk tidak lagi mengaitkan mata uang USD
dengan cadangan emas.
Menyusul
kemudian, pada tanggal 18 Desember 1971, diteken oleh Amerika Serikat bersama
negara negara industri yang disebut G 10 sebuah kesepakatan yang disebut
‘Smithsonian Agreement’.
Dimana dengan
adanya kesepakatan ini berakhirlah sistem Fixed Exchange Rate dengan back
up emas, berubah menjadi sistem Floating Exchange Rate tanpa back up emas.
Apakah
mungkin jika mata uang Rupiah kembali diback up dengan cadangan emas ?.
Tentu para
cerdik pandai yang bergelar Profesor dan Doktor saja yang berkompeten untuk
menjawabnya.
Karena bagi
sebagian besar rakyat Indonesiayang berkarakter nrimo itu hal terpenting dan
terutamanya adalah bagaimana agar
penghasilan atau pendapatannya bisa sebanding dengan tingkat kebutuhan
perongkosan hidupnya.
Sehingga
kebutuhan kehidupannya terpenuhi dengan cukup pangan, cukup sandang, cukup
papan, cukup pendidikan, cukup kesehatan.
Syukur-syukur
jika masih bisa menabung, sehingga sebelum usianya renta dan sebelum uzur
menghalanginya sudah mempunyai cukup uang untuk menyempatkan diri menggenapkan
Rukun Islam dengan menunaikan Ibadah Haji.
Akhirulkalam, mengasyikkan juga membayangkan andai
es cendol harganya tetap dari tahun ke tahun cukup Rp. 1 saja per gelasnya.
Sehingga tidak selalu dipusingkan oleh tekornya anggaran rumahtangga lantaran
gaji tahun ini tetap alias tidak naik dibandingkan tahun lalu sedangkan
harga-harga kebutuhan hidup selalu naik melebihi kenaikan gaji.
Mungkinkah
bisa terjadi ?.
Wallahualambishshawab.
*
Artikel-artikel
lainnya :
* ‘ Gaji Lokal Biaya Hidup Internasional ’ , klik di sini .
* ‘ Pendidikan semakin Menginternasional ’ , klik di sini .
* ‘ UU Migas, Sudahkah Rakyat Tersejahterakan ? ’ , klik di sini .
* ‘ Saneringkah Ini ? ’ , klik di sini .
* ‘ Rezim Dollar, Mungkinkah Runtuh ? ’ , klik di sini .
* ‘ Menggugat Neoliberalisme ’ , klik di sini .
* ‘ Dulu Koeli Sekarang Boeroeh ’ , klik di sini .
* ‘ Soros menggertak SBY ? ’ , klik di sini .
* ‘ George Soros dan Boediono serta
Musdah Mulia ’ , klik di sini .
* ‘ Boediono yang Sederhana dan
Bersahaja ’
, klik di sini .
* ‘ Presiden Termiskin di Dunia ? ’ , klik di sini .
* ‘ Boediono dan Privatisasi ’ , klik di sini .
* ‘ Sri Mulyani Wapres 2014-2019 ? ’ , klik di sini .
* ‘ KRMT Roy Suryo Notodiprojo lagi
Nguil ? ’
, klik di sini .
* ‘ Ruhut sekarang Gundul ’ , klik di sini .
*
Cukup 1 Riyal Saja
http://ekonomi.kompasiana.com/2010/03/10/cukup-1-riyal-saja/
*
[Non-text portions of this message have been removed]