-

Rambu-rambu menghadapi fitnah
 
Munculnya berbagai fitnah hari ini menjadikan kita harus selektif dan 
hati-hati dalam memahami islam. betapa tidak, munculnya berbagai pemikiran 
sesat dijajakan pada ummat dengan mengatas namakan ahlussunnah. dari itu, 
lewat tulisan kecil ini kita akan mengkaji rambu-rambu agar kita tdak 
terjerumus kedalam kesesatan.
 
Pertama: Jauhilah hawa nafsu
Ibnu Daqiq Al I’ed berkata tentang hal-hal yang membinasakan yang 
memasukkan penyakit “pertama: hawa nafsu, sedang ia adalah yang paling 
buruk, dan ia dalam tarikh kaum mutaakhirin adalah banyak.” Selesai.
Maka wajib atas pencari kebenaran untuk memurnikan (niat) untuk mencari al 
haq dan untuk tidak mengikuti hawa nafsu.
 
Allah ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, sehingga 
itu menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat 
dari jalan Allah bagi mereka adzab yang besar dengan sebab mereka lupa 
dari perhitungan.” (Shad: 26).
 
Hawa nafsu adalah satu thaghut dari sekian thaghut yang diikuti meyoritas 
manusia. Dan engkau tidak akan berpegang penuh erat dengan al ‘urwah al 
wustha dan bergabung dengan para pejalan sampai kamu berserah diri kepada 
Allah dan hukum-Nya saja dengan penyerahan yang muthlaq serta kafir 
terhadap tiap thaghut dan di antaranya thaghut hawa nafsu ini, Allah 
ta’ala berfiirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan 
hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara 
baginya, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar 
atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, 
bahkan mereka itu lebih sesat jalannya.” (Al Furqan: 43-44)
 
Dan firman-Nya ta’ala: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan 
hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan 
ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan 
meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya 
petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak 
mengambil pelajaran? (Al Jatsiyah: 23).
Maka hati-hatilah dari thaghut ini dan jauhilah ia sebagaimana engkau 
menjauhi thaghut-thaghut yang lain untuk merealisasikan tauhid yang 
merupakan haq Allah atas semua hamba dengan perealisasian yang sempurna.
 
Dan perhatikanlah sifat-sifat hamba-hamba-Nya yang binasa lagi berjatuhan 
di pintunya dalam ayat-ayat tersebut, dan sanksi yang Allah berikan kepada 
mereka dengan sebabnya, berupa penguncian terhadap hati dan pendengarannya 
serta penutupan terhadap pandangan, sehingga mereka telah menjadi lebih 
sesat dari binatang ternak mereka tidak mau melihat dalil-dalil dan 
bayyinat, terus mereka tidak mengambil ‘ibrah dengannya dan tidak 
menjadikannya sebagai penunjuk jalan atau mengambil pelajaran, sehingga 
thaghut ini telah mempermainkan mereka sekehendaknya, …. hawa nafsu itu 
menyertai mereka sebagaimana anjing menyertai tuannya….pujilah tuhanmu 
atas nikmat petunjuk kepada al haq dan at tauhid dan menangislah serta 
mohonlah kepada-Nya agar meneguhkanmu di atasnya dan menutup hayatmu 
dengannya.
 
Dan jadikanlah bagi hatimu dua kelopak mata yang keduanya
Menangis karena takut kepada Ar Rahman
Andai Tuhanmu berkehendak tentulah kamu juga seperti mereka
Karena hati itu ada di antara jemari Ar Rahman
 
Dan ingatlah firman Allah ta’ala: “Jika kamu bersabar dan bertaqwa, 
niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudlaratan 
kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” 
(Ali Imran: 120) dan firman-Nya ta’ala: “Sesungguhnya syaitan itu tidak 
ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada 
Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang 
mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukan 
dengan Allah.” (An Nahl: 99-100)
 
Kedua: Hati-hatilah dari fanatik golongan dan guru
 
Atau mendahulukan hal itu di atas Allah dan Rasul-Nya atau meninggalkan 
firman Allah yang muhkam karena ucapan dan pendapat mereka. Selama al haq 
itu telah nampak di hadapan engkau dengan dalilnya, maka gigitlah 
kuat-kuat dengan geraham dan janganlah kamu meninggalkannya karena ucapan 
atau pendapat seseorang. Bila engkau mendapatkan petunjuk pada kebenaran 
dalam suatu masalah terus kebenaran itu datang seraya menyelisihi apa yang 
engkau dapatkan dari guru-gurumu maka janganlah kebenaran itu dibantah 
dengan ucapan atau perbuatan mereka, karena firman Al Khaliq tidak boleh 
ditentang dengan ucapan makhluk. Berapa banyak hal seperti ini telah 
menghalangi banyak orang yang sebelumnya kami mengira mereka itu para 
pencari kebenaran dari sikap bergabung dengan para penempuh jalan, serta 
syaitan menggembosi mereka dengan berbagai syubhat: “Apakah hal seperti 
ini samar atas syaikh?” Seandainya itu adalah haq tentulah tidak samar 
atasnya” atau “bagaimana syaikh mengatakan hal yang menyelisihinya?” Jadi 
taufiq dan tarjih dan upaya pencaman nasikh dan mansukh, al ‘aam dan al 
khash atau muthlaq dan muqayyad hanyalah dilakukan dalam apa yang diduga 
ada pertentangan dari firman Allah atau sabda Rasul. Adapun ucapan 
makhluk, maka Allah ta’ala telah berfirman: “Dan seandainya itu berasal 
dari selain Allah tentu mereka mendapatkan di dalamnya perselisihan yang 
banyak.” (An Nisa: 82).
 
Janganlah menghalangimu dari mengikuti al haq dan membelanya keberadaan 
sebagian guru-gurumu menyelisihinya. Sungguh kami dulu di awal pencarian 
ilmu terjadi pertentangan dan isykal di hadapan kami sebagian ucapan para 
syaikh yang kami saat itu percaya benar kepada mereka, padahal al haq 
dalam masalah itu telah nyata di hadapan kami, sehingga kami sering 
bimbang dan tawaqquf. Dan ini adalah tergolong rintangan yang menghambat 
pejalan dan merintangi perjalanan. Padahal hal seperti itu tidak layak 
menjadi penghalang bagi pencari al haq dan tidak layak lama tawaqquf dan 
bimbang di dalamnya dengan sebab hal itu. Selama al haq itu telah nampak 
dan jelas dengan dalilnya dari Al Kitab atau As Sunnah, maka pendapat yang 
selaras dengannya adalah diterima dan pendapat yang menyelisihinya adalah 
tertolak lagi terlempar, karena semua orang diambil dan ditolak dari 
pendapatnya kecuali al ma’shum saw.
 
Jauhilah pendapat orang-orang bodoh: bahwa firman Allah itu tidak boleh 
diambil dengan dhahir-dhahirnya, karena bisa saja yang dimaksud itu adalah 
ini atau itu dan kita tidak mampu memahami Al Quran dan ucapan-ucapan 
lainnya yang dengannya mereka mempersulit apa yang telah Allah ta’ala 
mudahkan “Dan Kami telah memudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah 
yang mengambil pelajaran.” (Al Qamar: 22)
Itulah ucapan-ucapan kaum sesat di setiap tempat, mereka saling 
mewariskannya, sebagian dari sebagian yang lain utnuk menta’thil 
(menggugurkan) nushush al kitab, dan sebagai gantinya mereka memberlakukan 
teks-teks ucapan dan pendapat guru-guru mereka yang tidak pernah dibantah, 
sebagaimana mereka menimpali Kitabullah dengan sikap-sikap mempersulit.
 
Dan haqiqaitnya adalah ajakan yang jelas untuk taqlid serta penta’thilan 
teks-teks wahyu.
Semoga Allah merahmati Ibnul Qayyim di mana beliau berkata:
Mereka jadikan ucapan guru-gurunya sebagai nash yang memiliki Kepatenan 
lagi dua nash ditimbang darinya Sedang firman Rabbul ‘Alamin dan hamba-Nya 
Mereka jadikan samar yang mengandung banyak makna
 
Ketiga: Hendaklah engkau hiasi diri dengan inshaf (objektif)
 
Hiasilah dirimu dengannya dan jangan engkau mencabutnya selama-lamanya 
karena ia adalah pakaian yang paling langka di tengah makhluk pada zaman 
ini, oleh karena itu para ulama berkata: “Inshaf adalah pakaian para 
bangsawan, sedang bangsawan adalah yang paling jarang inshaf.”
 
Di antara bentuknya adalah engkau menjaga diri (wara’) dari menisbatkan 
kepada lawan atau menyandarkan kepada mereka apa yang tidak pernah mereka 
ucapkan, walaupun itu adalah tergolong lazim dari ucapan mereka, taqwalah 
engkau kepada Allah dan janganlah dusta atas nama mereka atau menghukumi 
mereka dengan praduga dan perkiraan, meskipun mereka itu dusta atas 
namamu, karena orang mu’min itu tidaklah berdusta.
 
Seringkali kami mengalami hal seperti dari Murjiah zaman kita ini, namun 
kami tidak membalas perlakuan buruk dengan hal serupa. Ibnu Hazm berkata 
dalam Al Fashl 5/33: Dan hendaklah orang yang membaca kitab kami ini 
mengetahui bahwa kami tidak menganggap halal apa yang dianggap halal oleh 
orang yang tidak memiliki sedikitpun kebaikan, berupa menyandarkan kepada 
seseorang apa yang tidak pernah dia katakan, meskipun ucapannya 
menghantarkan kepadanya. Maka ketahuilah bahwa menyandarkan ucapan kepada 
orang yang tidak mengucapkannya baik itu orang kafir atau ahlu bid’ah atau 
orang yang keliru, secara teks, adalah dusta atas namanya, padahal 
tidaklah halal berdusta atas nama seseorangpub.” Selesai.
 
Maka janganlah melampaui hududullah terhadap orang-orang yang menyelisihi 
meskipun mereka melampaui huduudullah terhadapmu, akan tetapi ikatlah apa 
yang engkau ucapkan dan timbanglah dengan timbangan keadilan yang 
dengannya langit dan bumi tegak. Dan ketahuilah bahwa mata kebencian 
menampakkan keburukan yang padahal secara sebenarnya ia memiliki jalan 
keluar yang shahih, ia buta darinya dengan hijab kebencian.
 
Keempat: Hati-hatilah dari sikap bimbang dan kecut dari mengikuti al haq 
dan membelanya karena sedikitnya anshar yang menempuh jalan atau karena 
banyaknya orang-orang yang menyelisihi dan yang menggembosi. 
 
Karena jama’ah itu adalah yang menyelarasi al haq walau engkau sendirian, 
dan bukanlah dengan jumlah banyak orang kebenaran itu diketahui dan bukan 
pula dengan sosok terkenal, namun sosok itu dikenal dengan sebab al haq. 
Ingatlah selalu bahwa ada Nabi yang datang di hari kiamat sedang ia tidak 
memiliki pengikut dan anshar kecuali satu dan dua orang, dan ada Nabi yang 
datang tanpa seorang pengikutpun…..padahal ia itu nabi!!
 
Dan Rasulullah saw telah mensifati Ath Thaifah yang menegakkan perintah 
Allah hingga hari kiamat, bahwa mereka itu: “Tidak terganggu dengan orang 
yang menyelisihi mereka dan tidak pula dengan orang yang menggembosi 
mereka.”
 
Maka dari itu janganlah kamu merasa terganggu dengan orang-orang yang 
menyelisihi atau dengan penggembosan mereka terhadap al haq walaupun 
mereka itu mayoritas. Dan harus engkau ingat pula bahwa orang-orang yang 
paling pertama api neraka dinyalakan dengannya adalah tiga orang, di 
antaranya ulama yang tidak mengambil manfaat dengan ilmunya karena 
kehilangan syarat ikhlas, jadi janganklah engkau terpukau dengan banyakya 
sorban-sorban yang menyimpang dari jalan ini, yaitu ulama pemerintah yang 
telah menjual dien mereka kepada penguasa dengan beberapa keping uang, di 
mana mereka membaiatnya, mendukungnya dan mengokohkannya, mereka kaburkan 
al haq dengan al bathil dan mereka merusak di hadapan manusia dien mereka. 
Jadi yang dianggap itu bukanlah orang-orang macam mereka itu namun yang 
dianggap itu hanyalah ulama yang mengamalkan (ilmunya) lagi berlepas diri 
dari ahlil kufri waththugyan, mereka itulah para pewaris al anbiya. 
Komitmenlah dengan jalan mereka walau mereka sedikit, dan jangan 
terperdaya dengan banyaknya buih, yang aneh itu bukanlah dari orang binasa 
bagaimana dia binasa, namun yang aneh itu adalah orang yang selamat 
bagaimana ia selamat.
 
Kelima: Yakinlah bahwa al haq itu akan menang di kemudian hari dan 
sesungguhnya kemenangan, keberpihakan, kejayaan dan kemenangan akhir tidak 
ragu adalah buat para pengikut dan ansharnya.
 
Dan ingatlah ucapan Abu Bakar Ibnu ‘Ayyasy saat berkata: (Ahlussunnah itu 
mati namun hidup penyebutan mereka, sedang ahlul bid’ah itu mati dan mati 
pula penyebutan mereka, karena ahlus sunnah itu telah menghidupkan apa 
yang dibawa Rasul saw, sehingga mereka memiliki bagian dari firman Allah 
ta’ala: “Dan Kami angkat bagimu penyebutanmu” (Asy Syarh: 4), sedang ahlul 
bid’ah mencela apa yang dibawa Rasul saw, sehingga mereka memiliki bagian 
dari firman-Nya ta’ala: “Sesungguhnya orang yang mencelamulah yang 
terputus.” (Al Kautsar: 3)
 
Maka segeralah dan cepatlah bergabung dan janganlah sesuatupun 
menghalangimu dari bergabung dengan kafilah untuk nushrah al haq dan 
penganutnya…..Tidak lain hanya beberapa hari lagi……dan di pagi hari 
orang-orang memuji perjalanan malam.
 
Ya Allah Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi Engkau 
memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam apa yang mereka 
perselisihkan….Berilah aku petunjuk terhadap apa yang diperselisihkan 
berupa al haq dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan petunjuk 
orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus……..
 
http://annajahsolo.wordpress.com/2010/04/19/rambu-rambu-menghadapi-fitnah/#more-539
4/23/2010 6:02 AM



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke