BANGKITLAH DENGAN ISLAM! 
[Al-islam 507] Setidaknya ada dua peristiwa penting pada pekan ini yang 
perlu dicatat. Pertama, peristiwa yang terkait dengan sejarah, yakni Hari 
Kebangkitan Nasional, yang biasa diperingati setiap tanggal 20 Mei. Tahun 
ini Hari Kebangkitan Nasional memasuki peringatan ke-102. Artinya, sejak 
tanggal 20 Mei 1908–tanggal lahirnya organisasi Boedi Oetomo–ditetapkan 
sebagai Hari Kebangkitan Nasional, perjalanan ’kebangkitan nasional’ telah 
memasuki tahun ke-102. 

Kedua, peristiwa politik, yakni mencuatnya kembali isu terorisme pasca 
pemburuan sekaligus penembakan sejumlah orang yang diduga teroris oleh 
aparat Densus 88 yang menewaskan beberapa orang. Yang menarik, di tengah 
kritikan terhadap langkah-langkah aparat kepolisian yang makin ’brutal’ 
dalam memperlakukan para ’teroris’ (padahal mereka baru sebatas diduga), 
Presiden SBY melontarkan pernyataan yang tak kalah kontroversialnya. 
Merespon apa yang dilakukan oleh aparat kepolisian dalam menangani kasus 
terorisme baru-baru ini, Presiden SBY lalu mengaitkan tindakan para 
teroris ini dengan keinginan mereka untuk mendirikan Negara Islam. 

Ironi Kebangkitan 
Terkait dengan peristiwa pertama, meski ’kebangkitan nasional’ sudah 
berjalan seabad lebih, dari tahun ke tahun, negeri ini bukan makin 
bangkit, tetapi justru makin terpuruk di segala bidang. Contoh kecil, di 
bidang pendidikan, hampir berbarengan dengan Peringatan Hari Pendidikan 
Nasional setiap tanggal 2 Mei, kondisi dunia pendidikan di negeri ini 
boleh dikatakan makin memburuk. Terakhir, hal ini ditandai oleh banyaknya 
siswa yang tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN). Bahkan menurut data dari 
Kementerian Pendidikan Nasional, tahun 2010 ini sebanyak 267 sekolah 
tingkat SMA di seluruh Indonesia, 100% siswanya tidak lulus UN (
Republika.co.id, 28/4). Di tingkat SMP kondisinya lebih parah lagi; 
sebanyak 561 SMP/MTs di seluruh Indonesia, 100% siswanya juga dinyatakan 
tidak lulus UN (Detik.com, 5/5). Kenyataan ini belum ditambah dengan makin 
mahalnya biaya pendidikan. Akibatnya, puluhan juta orang miskin tidak 
dapat sekolah. 

Di bidang hukum/peradilan, yang mengemuka akhir-akhir malah merajalelanya 
mafia hukum/peradilan. Di bidang politik/pemerintahan, kasus-kasus korupsi 
bukan malah berkurang, tetapi makin banyak dan beragam dengan berbagai 
modus. Wajar jika menurut survei PERC, tahun ini 2010 ini pun–sebagaimana 
tahun lalu–Indonesia masih memegang rekor sebagai negara terkorup di Asia 
Pasifik (Metronews.com, 10/3). 
Di bidang ekonomi, negeri yang kaya-raya dengan sumberdaya alam ini pun 
masih menyisakan sekitar 100 juta penduduk miskin menurut kategori Bank 
Dunia (Okezone, 18/8/2009). Parahnya lagi, rakyat ini harus menanggung 
beban utang luar negeri yang tahun 2010 ini mendekati Rp 2000 triliun (
Kompas.com, 16/5). 

Di bidang kesehatan, bahkan akhir-akhir ini mencuat kembali sejumlah kasus 
gizi buruk di berbagai daerah, yang tentu berkaitan langsung dengan 
masalah kemiskinan. 
Jika demikian keadaannya, tentu setiap orang di negeri ini layak bertanya: 
lalu apa makna Hari Kebangkitan Nasional yang telah melawati usia lebih 
dari satu abad ini jika kebangkitan yang diharapkan semakin jauh dari 
harapan? 

Wacana Negara Islam 
Adapun terkait dengan yang kedua, sebetulnya upaya sejumlah kalangan, 
termasuk pejabat negara, mengaitkan isu terorisme dengan wacana pendirian 
Negara Islam bukanlah hal baru. Karena itu, pernyataan SBY di atas 
hanyalah pengulangan belaka. 
Sebagaimana diketahui, Presiden SBY dalam keterangan persnya di Bandara 
Halim Perdanakusumah, Senin (17/5), sebelum bertolak ke Singapura dan 
Malaysia, menegaskan tujuan dari para teroris adalah mendirikan Negara 
Islam. Padahal, menurut SBY, pendirian Negara Islam sudah rampung dalam 
sejarah Indonesia. Aksi teroris juga bergeser dari target asing ke 
pemerintah. Ciri lain, menurut Presiden, para teroris menolak kehidupan 
berdemokrasi yang ada di negeri ini. Padahal demokrasi adalah sebuah 
pilihan atau hasil dari sebuah reformasi. Karena itu, menurut Presiden, 
keinginan mendirikan Negara Islam dan sikap anti demokrasi tidak bisa 
diterima rakyat Indonesia (Okezone.com, 17/5). 

Ada sejumlah hal yang menarik untuk dicatat dari pernyataan SBY di atas. 
Pertama: Negara Islam adalah negara yang menjadikan Islam sebagai asasnya 
dan syariah Islam sebagai aturan segala aspek kehidupan. Hal ini bukanlah 
persoalan sejarah, atau masalah diterima oleh mayoritas rakyat banyak atau 
tidak. Ini adalah masalah kewajiban dalam agama. Sudah seharusnya siapapun 
yang menjadi Muslim terikat pada syariah Islam dalam seluruh aspek 
kehidupannya; termasuk bernegara, politik, ekonomi dan pendidikan. 
Kewajiban ini merupakan konsekuensi keimanan dan kecintaan seorang Muslim 
kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang seharusnya dijadikan teladan. Semuanya 
itu diwujudkan dengan terikat pada hukum-hukum Allah SWT yang bersumber 
dari Al-Quran dan as-Sunnah. Allah SWT berfirman: 

]íóÇ ÃóíøõåóÇ ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ ÇÏúÎõáõæÇ Ýöí ÇáÓöøáúãö ßóÇÝøóÉð[
Hai orang-orang yang beriman, masukkan kalian ke dalam Islam secara total 
(QS al-Baqarah [2]: 208). 

Saat menafsirkan ayat di atas, Imam Ali ash-Shabuni menegaskan, bahwa ayat 
tersebut memerintahkan kaum Muslim untuk melaksanakan seluruh hukum Islam; 
tidak boleh melaksanakan hanya sebagian dan meninggalkan sebagian yang 
lain. 
Lagi pula, dalam berbagai kesempatan Presiden SBY sering mengatakan kita 
harus menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan kehidupan kita. Ini 
sejalan dengan firman Allah SWT: 

]áóÞóÏú ßóÇäó áóßõãú Ýöí ÑóÓõæáö Çááåö ÃõÓúæóÉñ ÍóÓóäóÉñ[
Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang baik bagi 
kalian (QS al-Ahzab [33]: 21). 
Rasul saw. tentu saja harus diteladani dalam seluruh aspeknya, termasuk 
dalam upayanya mendirikan Negara Islam (Daulah Islam) di Madinah. Bahkan 
beliau sendirilah yang menjadi kepala negaranya. 
Kita pun masih ingat ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membacakan 
sambutan pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V, Jumat (7/5) di 
Jakarta. Dalam pidatonya, Presiden sendiri mengatakan Islam hadir sebagai 
jalan kehidupan manusia dan rahmat bagi seluruh alam. Tuntunan al-Quran 
dan as-Sunnah adalah pedoman hidup dan jalan yang lurus untuk mendapatkan 
kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah pun telah mencontohkan tatanan 
peradaban yang dibangun atas dasar iman dan takwa. “Kita memiliki tugas 
sejarah untuk membangun dan mengembalikan kejayaan Islam!” tegas Presiden 
saat itu. 

Kita juga ingat, ketika SBY memberikan kata sambutannya dalam Forum 
Ekonomi Islam Sedunia di Jakarta (2 /3/2009). Saat itu SBY mengajak 
negara-negara Islam mengatasi krisis dengan bersatu; negara-negara Islam 
akan bisa mengenang kembali kejayaan Abad 13. Tentu, kalau kita berbicara 
tentang kejayaan Islam Abad 13, tidak bisa dilupakan bahwa kejayaan Islam 
saat itu terjadi karena adanya Negara Islam–yang dikenal dengan Khilafah 
Islam–yang menjalankan syariah Islam. 

Selain itu, kewajiban menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman 
hidup tentu bukan hanya dalam masalah ibadah ritual, moral atau individual 
saja, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan. Di sinilah letak wajibnya 
menegakkan institusi negara yang akan menerapkan syariah Islam secara 
keseluruhan. Sebab, mustahil melaksanakan kewajiban syariah Islam secara 
keseluruhan kalau negaranya tidak berdasarkan Islam. Ini sesuai dengan 
kaidah ushul fikih: 
] ãÇó áÇó íóÊöãøõ ÇúáæóÇÌöÈõ ÅöáÇøó Èöåö Ýóåõæó æóÇÌöÈñ[
Selama suatu kewajiban tidak sempurna kecuali karena adanya sesuatu maka 
sesuatu itu wajib pula adanya. 

Kedua: Meskipun mendirikan Negara Islam adalah kewajiban agama, kita 
sepakat secara realita sosiologis, apakah Negara Islam tegak atau tidak 
sangat bergantung pada masyarakat; bergantung pada dukungan dan kesadaran 
masyarakat. Sistem apapun akan berjalan tegak dan baik kalau didukung oleh 
kesadaran masyarakat. Sistem demokrasi yang saat ini masih kita jadikan 
panutan bisa berjalan karena masyarakat kita masih mendukungnya. Artinya, 
kita tentu tidak bisa menolak perubahan kalau ternyata rakyat Indonesia 
yang mayoritas Islam ini kemudian mendukung penegakkan Negara Islam. 

Namun, kita setuju bahwa upaya membangun kesadaran masyarakat untuk 
menegakkan Negara Islam dilakukan bukan dengan jalan teror. Jalan ini 
bukanlah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. Jalan ini bahkan bisa 
kontraproduktif. Bagaimana mungkin rakyat akan mendukung syariah Islam 
kalau mereka ditakut-takuti dengan bom atau pembunuhan? 
Hizbut Tahrir termasuk yang menginginkan Negara Islam global berupa 
Khilafah Islam. Namun, dengan sangat tegas Hizbut Tahrir menentukan garis 
perjuangannya yang tidak menggunakan jalan kekerasan atau mengangkat 
senjata (non violence). 

Ketiga: Adalah kesalahan besar mengaitkan kewajiban penegakan Negara Islam 
dengan tindakan terorisme. Mungkin ada yang menempuh jalan kekerasan dalam 
memperjuangkan tegaknya Negara Islam. Akan tetapi hal itu tidak bisa 
digeneralisasi bahwa yang menginginkan tegaknya Negara Islam adalah 
teroris. Jika demikian logikanya, ketika banyak koruptor yang ditangkap 
dan mereka adalah pendukung sistem sekular, maka bisa dikatakan bahwa 
mendukung sistem ini pasti adalah seorang koruptor. Karena itu, kita 
melihat ada agenda busuk di balik pengaitan ini, yakni agar masyarakat 
kemudian takut, tertipu dan akhirnya tidak setuju dengan penegakan Negara 
Islam. Upaya ini memang secara sistematis dilakukan oleh kekuatan-kekuatan 
penjajah yang khawatir akan kebangkitan Islam. Sebab, tegaknya Negara 
Islam, apalagi dalam wujud Negara Islam global (Khilafah Islam) sangat 
ditakuti oleh Barat. Mereka tahu persis, tegaknya Khilafah akan 
menghentikan agenda penjajahan mereka di Dunia Islam. 

Karena itu, tentu sangat kita sayangkan kalau SBY terjebak dalam 
propaganda Barat ini yang mengaitkan terorisme dengan upaya penegakan 
syariah Islam atau Negara Islam. 
Bangkit Hanya dengan Islam 
Harus dikatakan, bahwa jika bangsa ini benar-benar ingin bangkit, maka 
kunci kebangkitan itu adalah Islam. Tanpa Islam bangsa ini akan makin 
tepuruk. Tanpa ideologi dan sistem Islam kondisi negeri ini akan makin 
memburuk. Tanpa Negara Islam (Khilafah Islam) yang menerapkan syariah 
Islam umat ini tak akan pernah bangkit dan akan tetap tertinggal. 
Karena itu, perubahan adalah hal yang niscaya. Apalagi jika itu perubahan 
ke arah yang lebih baik. Allah SWT sendiri telah berfirman: 
]Åöäøó Çááåó áÇ íõÛóíöøÑõ ãóÇ ÈöÞóæúãò ÍóÊøóì íõÛóíöøÑõæÇ ãóÇ 
ÈöÃóäúÝõÓöåöãú[
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada dalam suatu kaum 
hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya (QS ar-Ra’du [13]: 11). 

Karena itu, sangat bodoh siapapun yang tidak mau berubah dan gigih 
mempertahankan status-quo yang buruk. Karena itu pula, kita mempertanyakan 
sikap-sikap mempertahankan sistem demokrasi dan Kapitalisme yang 
jelas-jelas di depan mata tampak kebobrokannya. Padahal ada sistem yang 
lebih baik di depan matanya. Itulah sistem Islam. Itulah Khilafah Islam 
yang menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. 
Wallahu a’lam. [] 

Komentar al-islam: 
Presiden: Selamatkan Bangsa dari Bahaya Terorisme (Kompas, 18/5/2010). 
Termasuk dari bahaya terorisme Amerika Serikat dan negara-negara penjajah 
lainnya. 
  




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------


===
Untuk berlangganan milis Syiar Islam, kirim email ke:
[email protected]
Jangan lupa isi biodata anda.

http://media-islam.or.id

Umrah mulai US$ 1.500 dan Haji ONH Plus mulai US$ 6.000
http://media-islam.or.id/hajiumrah
TokoIslam.Info: Toko Obat Herbal Thibbun Nabawi. Aman dan Islami
http://media-islam.or.id/2010/04/22/tokoislam-info-menjual-obat-herbalalami-thibbun-nabawi

Belajar Islam via SMS:
http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-phone/Yahoo!
 Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke