Pada dunia maya (internet), baik melalui  email, chatting, milis,  forum 
diskusi, blog,  kadang kita temui perdebatan dalam bidang agama dengan berbekal 
pemahaman maupun ilmu yang dipahami/diketahui.

Kita dapat pula temukan sebagian umat muslim gemar "mencela", "menghujat", 
"menilai", "menghakimi" saudara-saudara muslim lainnya berdasarkan tingkat 
pemahaman mereka sendiri.

Padahal Allah telah sampaikan bahwa adanya perbedaan tingkat pemahaman / 
kompetensi pada muslim semata-mata semua itu merupakan kehendak Allah 
sebagaimana firmanNya yang artinya."Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman 
yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. 
Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi 
karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil 
pelajaran (dari firman Allah)." (Al-Baqarah – 269).

Insyaallah muslim yang sudah memahami dan mengupayakan ma'rifatullah tidak akan 
"mencela", "menghujat", "menilai" atau "menghakimi" saudara-saudara muslim 
lainnya, karena mereka sudah "merasakan"  dan "mengalami" makna "saya bersaksi" 
dalam kalimat syahadatain.

Sebagaimana yang disampaikan imam Al Qusyairi bahwa "Asy-Syahid untuk 
menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu 
sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat 
dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat 
ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)".

Orang-orang yang sibuk memperturutkan hawa nafsu adalah bukan sebenar-benarnya 
seorang syahid (penyaksi) pantaslah kalau mereka masih "mencari" "di mana 
Allah" atau "bagaimana Allah". Celakalah mereka ! Semoga Allah memberikan 
pertolongan karunia pemahaman yang lebih baik kepada mereka.

Secara syariat, seorang muslim sudah terpenuhi rukun Islam ketika telah dengan 
sungguh-sungguh mengucapkan "saya bersaksi" dalam kalimat syahadatain ( 2 
kalimat syahadat). Sebaiknya kita tidak berpuas diri sebatas pengucapan atau 
pernyataan saja.

Bilakah manusia sebenar-benarnya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah ?

Setiap manusia sudah bersaksi bahwa Allah adalah sebagai Rabbnya ketika masih 
dalam alam kandungan. Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firman yang 
artinya.

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari 
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya 
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan 
kami), kami menjadi saksi". (QS- Al A'raf 7:172)

Keadaan sebenar-benarnya bersaksi terjadi dikarenakan manusia (ketika bayi 
dalam kandungan) dalam keadaan suci dan bersih.

Ketika bayi dalam kandungan berada di dalam air ketuban (omnium water). 
Sehingga seorang bayi dalam kandungan tidak melakukan aktifitas inderawi secara 
sempurna. Dengan kata lain seorang bayi tidak makan dan tidak minum atau 
berbicara dengan mulut, tidak bernapas dengan hidung, tidak melihat dengan 
mata, tidak mendengar dengan telinga, dan tidak buang air besar atau kecil 
melalui anus atau kemaluan. Tetapi bayi tersebut mendapatkan semua kebutuhan 
jasmaninya melalui saluran plasenta yang menghubungkan antara pusar bayi dengan 
dinding rahim ibu.

Dalam kandungan, seorang bayi juga tidak berpikir dikarenakan fungsi otaknya 
belum sempurna, tetapi kemampuan ruhani bayi telah hidup sempurna.

Keadaan sebenar-benarnya bersaksi terjadi dikarenakan dalam keadaan suci dan 
bersih, ketika panca indera dan hawa nafsu (jasmani) belum mempengaruhi ruhani. 
Saat-saat manusia terhubung (wushul) dengan Allah SWT.

Jadi upaya yang harus dilakukan agar kita bisa merasakan dan mengalami 
sebenar-benarnya bersaksi  dan kembali terhubung (wushul) dengan Allah SWT 
adalah kembali bersih dan suci.  Upaya yang dilakukan adalah dengan bertaubat 
yang sungguh-sungguh, akhlak yang baik, adab yang mulia, mensucikan jiwa 
(tazkiyatun nafs), mengenal diri, manajemen hati, sebagaimana upaya yang 
dilakukan oleh kaum sufi.

Sekarang kita dapat mengambil pelajaran (al-hikmah) dari perkataan Rasulullah 
SAW,  "Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam 
keadaan mati syahid" (HR.Ibnu Majah), dengan makna mensucikan jiwa, akhlak yang 
baik, adab yang mulia dalam perjalanan hidup kita, mengantarkan kita kembali 
sebenar-benarnya bersaksi (syahid) sebagaimana pada awal mula kejadian kita 
(ketika bayi dalam kandungan).

Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti 
bayi dalam kandungan, agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

"Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu 
Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada saat itu kamu tinggalkan 
dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu …." (QS Al An'am 6: 94)

"Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: " 
Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu 
pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan 
janji bagi kamu" (QS Al Kahfi 18:48).

Pahamlah kita kenapa muslim ketika selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan 
kembali dalam keadaan suci bersih, kembali fitri dengan kiasan "berbaju baru" 
yakni kemenangan menjaga hawa nafsu, mensucikan jiwa, berakhlak baik dan 
beradab mulia.  Namun sebagian umat muslim hanya memaknai secara lahiriah atau 
tekstual dengan mengenakan "baju baru" disaat hari raya Idul Fitri.

Wasssalam

Zon di Jonggol
http://mutiarazuhud.wordpress.com

Kirim email ke