SYAHADAT YANG MENGGERAKKAN
Saudaraku….
Hidup adalah gerak dan pertumbuhan. Itulah dinamika. Hidup yang dinamis akan
senantiasa produktif dan membahagiakan diri sendiri maupun lingkungannya.
Sedangkan hidup yang stagnan, pasif, monoton akan membosankan dan cenderung
membuat jiwa malas, gundah, stress dan penyakit mental lainnya. Bila sikap
hidup yang stagnan, pasif, monoton terus dibiarkan akan berakibat penurunan
daya tahan tubuh sehingga akan mudah terserang penyakit, dari yang ringan
hingga berat. Penurunan semangat beragama dan juga semangat hidup.
Sikap pasif dan stagnan dalam beragama membuat kita tidak menikmati
syariat/aturan agama. Sehingga mencari kenikmatan dari yang lain, lebih
mencintai kehidupan dunia daripada amalan akherat. Agama baginya hanya sebagai
pelengkap saja. Akibatnya cenderung apatis, cuek ,acuh, dan kurang peduli
terhadap pemahaman agamanya sendiri. Menjalankan syariat agama sebatas
menggugurkan kewajiban, bukan kebutuhan. Padahal beragama asal-asalan, hasilnya
juga asal-asalan di dunia ini maupun di akherat kelak. Cara beragama yang
seperti ini sungguh sangat merugikan. Seakan-akan beragama padahal tidak, atau
dengan kata lain pura-pura beragama.
Berbagai macam penyakit mental maupun fisik di zaman modern ini adalah bermula
dari sikap beragama yang pasif dan monoton. Kita tidak mengetahui mengapa kita
bersyahadat, shalat, berzakat, berpuasa, dan berhaji. Apa maksud semua ini?
Adakah korelasi antara syariat-syariat itu dengan cara hidup yang seharusnya
dilakukan?
Mengapa kalau ummat Islam ini benar-benar telah bersyahadat masih suka
melanggar janjinya?Bukankah syahadat itu janji kepada Allah dan RasulNya ?
Mengapa masih berbohong, menipu, curang dan korupsi? Mengapa kalau sudah
shalat, masih suka bidup indifidualis, egoistik, dan emosional? Mengapa kalau
sudah berzakat hidupnya masih materialistis, cinta dunia dan kurang berkorban
untuk kepentingan bersama? Mengapa kalau percaya dengan hari akherat, tidak
suka beramal untuk kehidupan akherat ?
Mengapa ketika ada uang hati tenang dan bahagia? Dan ketika dalam kesempitan
kepala stress dan hati gelisah takut hidup? Tuhannya uang atau Allah? Mengapa
tidak menikmati kekayaan yang Allah telah diberikan? Mengapa kita tidak pernah
menikmati shalat? Tidak menikmati membaca Al Qur’an ? Tidak menikmati sebuah
pengorbanan ?
Lebih jauh lagi, mengapa ummat Islam hidup dalam kebodohan? Mengapa
terbelakang? Mengapa terjadi kemiskinan dimana-mana? Mengapa tertindas dan
dibantai ? Mengapa tercerai berai ? Apakah Allah kita berbeda dengan Allah Nabi
Muhammad SAW yang telah memberi kemenangan demi kemenanan? Apakah Al Qur’an
kita berbeda ? Tentu tidak. Tapi mengapa hasil beragama dan berTuhannya
berbeda?
Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah persoalan dua kalimat syahadat.
Ya syahadatnya menjadi persoalan, tidak ada lain. Kita tidak tahu mengapa kita
bersyahadat? Apa makna dan konsekwensi syahadat yang telah dinyatakan? Dan
bagaimana seharusnya orang yang telah bersyahadat itu?
Saudaraku,….
Kita bersyahadat karena fitrah dasar untuk “ mempersaksikan “ siapa diri kita
sebenarnya. Inilah konsep dasar penciptaan manusia. Orang yang tidak
bersyahadat sebenarnya menyalahi fitrah penciptaannya, dan pasti dia tidak akan
bahagia selama hidupnya. Dia hidup dalam fatamorgana. Kalau kelihatannya
‘bahagia’, itu adalah kebahagiaan yang semu dan menipu namun ia tidak
menyadarinya.
Bersyahadat berarti mempersaksikan dirinya sebagai hamba yang dicipta, lemah,
dan tidak berilmu. Ia mempersaksikan bahwa ada pencipta yang mahahebat
segalanya yaitu Tuhan pencipta alam semesta dan segala isinya namanya Allah. Ia
mempersaksikan bahwa Allah yang maha pencipta telah mengutus salah satu dari
hambaNya bernama Muhammad SAW sebagai contoh bagaimana seharusnya hidup. Maka
apa yang telah dipersaksikan, menjadi kesibukan utama dan pertama bagaimana
menjalani hidup bertuhankan Allah dengan contoh nyata Muhammad SAW. Renungannya
tiap saat ; beginikah modelnya orang yang bertuhankan Allah dan mengaku
pengikut setia Muhammad saw itu ?
Syahadat adalah sebuah pernyataan yang menuntut kenyataan, janji menuntut
bukti, dan sumpah setia yang harus dipegang kuat-kuat. Inilah syahadat yang
menggerakkan kita melangkah. Menjadi motivator dalam bertindak dan memberi
nilai terhadap segala tindakan. Tanpa syahadat, segalanya kosong dan tidak
berarti. ﴾berlanjut…﴿
AGAR SYAHADAT MENGGERAKKAN JIWA
Ada dua sikap beragama seseorang, pasif dan aktif. Beragama yang pasif adalah
kurang bergairah, kurang semangat beramal sholeh, merasa cukup dengan
keadaannya selama ini dan tidak dinamis. Akibatnya sekian tahun beragama tidak
membawa pengaruh apa-apa terhadap perilaku maupun kesuksesan yang seharusnya di
capai sebagai hasil dari beragamanya. Beragama secara pasif cenderung
ikut-ikutan, tergantung tradisi dan orang kebanyakan. Bila mendapati
perselisihan dikembalikan kepada kebiasaannya, bukan dasar Al Quran atau
sunnah. Bila menghadapai tantangan dalam menjalankan agama cenderung menjadi
pengecut dan pecundang.
Sedangkan aktif beragama akan membuat hati senantiasa bahagia, semangat
berkorban atau beramal sholeh dan mampu membawa perubahan lebih baik pada
dirinya sendiri maupun lingkungannya. Keaktifan seseorang beragama sangat
tergantung pada pamahamannya terhadap syahadat yang telah dinyatakan. Semakin
mendalam pemahamannya terhadap makna, tanggungjawab dan konsekwensi syahadat
akan menggerakkan jiwa seseorang dalam menjalankan segala aktifitas.
Untuk itu agar syahadat menggerakan jiwa perlu memahami hal-hal berikut ini :
a. Syahadat sebagai janji
Berjanji adalah memberi harapan kepada orang lain. Karena itu berjanji adalah
hutang yang harus dibayar. Syahadat adalah sebuah pernyataan secara lisan
kepada Allah yang menuntut kenyataan, menuntut bukti, dan tindakan. Bersyahadat
kepada Allah dan RasulNya menuntut bukti ketatan kita kepadaNya dalam segala
aktifitas kehidupan. Maka orang yang bersyahadat tentu harus mencintai Al
Qur’an, cinta ke masjid, cinta sedekah, cinta sesama, dan cinta amalan sholeh.
b. Syahadat sebagai jual beli kepada Allah
Orang yang bersyahadat berarti telah menjual dirinya kepada Allah dengan surga.
Bila menjualnya sedikit atau setengah-setengah iapun akan mendapat imbalan yang
sedikit. Dan bila menjualnya sepenuhnya ia akan mendapat surga secara sempurna
pula. Orang yang yakin benar bahwa ia telah menjual dirinya ditukar dengan
surga tentu terlihat jelas kehidupannya sebagai orang yang sangat sholeh dan
banyak pengorbanannya untuk ia petik di akherat kelak.
“Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah
di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu
lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”(At Taubah : 111)
c. Syahadat sebagai proklamasi kemerdekaan
Proklamasi adalah pembatas hidup terjajah atau merdeka. Hidup terjajah
dikendalikan gaya hidup,orang atau bangsa lain, sedang hidup yang merdeka
memiliki prinsip diri yang akan menentukan sukses tidaknya seseorang mencapai
harapannya dalam hidup. Maka syahadat sebagai proklamasi kemerdekaan seseorang
bermakna :
c.1. Tidak dijajah oleh keinginannya sendiri.
Rasulullah bersabda,” Kalian belum dikaatkan beriman sebelum segala
keinginannya mengikuti apa yang akau bawa(Al Qur’an dan As Sunnah)”
(HR.Muslim). Memiliki keinginan adalah sesuatu yang sangat manusiawi, bahkan
manusia bisa maju dan berprestasi karena keinginan. Tetapi, jikalau hidup
diperbudak keinginan sampai terampas kebahagiaan, ibadah, waktu, pikiran,
tenaga, bahkan biaya hanya untuk meladeni keinginan kita, dan keinginan
tersebut nyata-nyata tidak membawa manfaat bagi kemuliaan dunia dan akherat,
berarti kita sudah dijajah oleh keinginan.
Simaklah orang yang disiksa oleh keinginan memiliki rumah megah, mobil baru,
penampilan yang selalu trendi, hari-harinya benar-benar hari-hari yang
terjajah. Tidak layak kita menggadaikan hidup ini untuk meladeni setiap
keinginan.
Bersyahadat mengajarkan kita harus selalu berpikir jernih. Keinginan yang harus
kita penuhi adalah keinginan yang disukai oleh Allah dengan tuntunan RasulNya,
yakni keinginan yang bisa menjadi ladang amal saleh kita dan bekal untuk
kepulangan kita ke akhirat. Dengan demikian perjuangan kita pun akan menjadi
ibadah. Dapat atau tidak yang kita inginkan, insya Allah tetap menjadi amal
kebaikan dan bisa menjadi bekal pulang yang bernilai.
c.2 Merdeka dari penjajahan nafsu.
Nafsu adalah bagian dari karunia Allah yang melengkapi kehidupan kita menjadi
bahagia bahkan mulia. Namun, nafsu harus terkendali. Kita lihat orang-orang
yang diperbudak nafsu syahwat, hari-harinya hanya memikirkan kemaksiatan.
Misalnya orang yang diperbudak nafsu amarah, pikirannya penuh kekejian, dendam
membara, tutur kata penuh angkara murka, tindakan menjadi keji dan hina, dan
sudah pasti dia tidak akan pernah disukai oleh orang lain, sehingga
hari-harinya penuh ketegangan.
Untuk itu, waspadalah bagi siapapun yang tidak bersungguh-sungguh melatih diri
untuk mengendalikan amarah, maka akan habis kehidupannya karena dijajah oleh
nafsu amarah.
d. Syahadat yang fungsional
Banyak orang yang mengaku Islam tetapi tidak shalat, tidak suka membaca Al
Qur’an, tidak suka menghidupkan sunnah, tidak berzakat, tidak puasa, dan tidak
haji. Perilakunyapun jauh dari nilai-nilai Qurani seperti korupsi, mencuri,
suka menggunjing/gosip, angkuh dan semacamnya. Sikap hati dan perilakunya tidak
menunjukkan orang yang telah menyatakan beriman kepada Allah dan RasulNya.
Inilah syahadat yang tidak fungsional. Dalam bahasa Al Qur’an disebut fasik.
Naudzubillah.
Wallahu ‘alam…
[Non-text portions of this message have been removed]