Salam Damai,
   
  Seminggu terakhir 2006, saya mendapat suguhan bergizi dari sebuah tv swasta 
yaitu tayangan film-film yang imajinatif mulai dari lord of the ring (3 buah), 
harry potter (2 buah) dan terakhir, peter pan. Dalam peter pan, ada sebuah 
percakapan menarik antara wendy dan ibunya. Sang ibu menyatakan kepada wendy 
bahwa sang ayah adalah sosok pemberani. Pernyataan yang membuat ketiga anaknya 
termasuk wendy mengeryitkan dahi. Sang ibu menjelaskan bahwa sang ayah adalah 
orang yang banyak berbuat untuk orang lain terutama keluarganya, dan 
mengabaikan dirinya sendiri termasuk mengabaikan mimpinya. Impian sang ayah 
disimpan dalam lemari di kamar, dan dikeluarkan setiap malam untuk mengagumi 
keindahan impian itu.
   
  Bayangkan bagaimana hidup sebagai orang yang diharuskan menyelesaikan beban 
masa lalu dan kebutuhan masa kini, tanpa suatu harapan masa depan! Bayangkan 
bagaimana kita dikejar-kejar bon-bon tagihan, tanpa tahu untuk apa tagihan itu 
kita bayarkan! Bagaimana keringnya kehidupan tanpa mimpi? Ya, kecuali bagi 
orang-orang yang memimpikan kehidupan itu kering! Sungguh saya sendiri tidak 
akan pernah memilih hidup tanpa impian.
   
  Sayang, kebiasaan kita untuk membagi ruang kehidupan secara tegas. Ada masa 
anak-anak. Ada masa remaja. Ada masa dewasa. Ada masa tua. Dan di setiap masa 
kita mempunyai tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Bermain dan 
berimajinasi bagi anak-anak. Belajar bagi remaja. Bekerja bagi orang dewasa.  
Menjadi orang tua bagi orang tua. Menjadi aneh dalam pandangan banyak orang 
ketika kita telah dewasa dan bermain-main. "Seperti anak kecil saja," celetuk 
seseorang di pojokan sana. "Gak pantes", kata yang lain. Padahal, bemain-main 
dan berimajinasi kan sesuatu yang menyenangkan. Dan herannya, keyakinan umum 
ini dibenarkan oleh teori-teori psikologi perkembangan yang diajarkan di semua 
kampus saat ini.
   
  Hasil pelacakan ivan illich (tokoh pendidikan), pembagian masa kehidupan 
tersebut diciptakan oleh orang-orang modern, agar mudah mengelola kehidupan. 
Tentu memang lebih mudah, lihat saja bagaimana sekolah dirancang sesuai dengan 
masa-masa tersebut. Dimana pada setiap level mencerminkan masa kehidupan 
tertentu. Masa bermain diakomodasi di playgroup dan tk. Masa belajar 
diperkenalkan di sd - smu. Persiapan kerja di akomodasi di perguruan tinggi. 
Kehidupan menjadi sesuatu yang linear, garis lurus yang ditarik oleh tangan 
antah berantah.
   
  Apa indahnya sebuah garis lurus? "Pasti ada keindahan dibalik segala 
sesuatunya, ujar sang bijak. Mungkin benar. Tetapi, apakah kita harus menikmati 
keindahan hanya dari sebuah garis lurus? Apakah kita tidak bisa menciptakan 
garis zig-zag sendiri? Atau garis benang ruwet?
   
  Wah sudah ngomong apa saja sih....? Kita kembali ke peter pan. Film ini 
adalah sebuah dialog antara sosok dewasa dan sosok anak. Tentang memilih 
menjadi anak-anak atau memilih menjadi dewasa. Sangat jelas pada prolog, "Semua 
anak akan tumbuh dewasa, kecuali satu orang". Yaitu peter pan, tokoh utama film 
ini. Pesannya kemudian adalah semua orang harus tumbuh dewasa, karena hanya 
impian semu untuk tetap menjadi anak kecil. "Ayo anak-anak tumbuh dewasalah 
kalian!", seru para orang tua.
   
  Saya tiba-tiba pusing dihadapkan dua pilihan yang saling meniadakan ini, 
menjadi anak kecil atau dewasa? Selama ini pula saya meyakini bahwa saya dan 
yang lainnya hanya mempunyai dua pilihan ini. Saya merasa dituntut untuk 
menentukan sebuah pilihan dari kedua pilihan tersebut (decision making). Sampai 
ketika saya nonton peter pan untuk kedua kalinya, ketika saya merefleksikan 
film itu sambil mendengarkan khutbah Idul Idha, saya menemukan kesadaran bahwa 
saya bisa menciptakan pilihan sendiri (creating choice).
   
  Setiap masa kehidupan mempunyai tugas perkembangannya sendiri. Anak kecil 
tugasnya adalah bermain dan berimajinasi. Pertanyaannya kemudian, untuk apa 
saya mengerjakan tugas tersebut? Apakah hanya agar diakui telah lulus sebagai 
anak-anak? Saya pikir lebih dari itu. Kita harus mengerjakan tugas perkembangan 
itu agar mampu bermain dan berimajinasi. Suatu kemampuan yang akan menjadi 
bekal dalam masa kehidupan selanjutnya. Ketika beranjak remaja, dewasa dan 
menjadi tua sekalipun, kita bisa dan bahkan harus bermain dan berimajinasi.
   
  Bukankah kehidupan lebih menarik ketika kita bisa bermain, belajar, bekerja 
dan bercinta sekaligus? Ketika kita mengerjakan sebuah tugas, pada saat itulah 
kita bermain, belajar, bekerja dan bercinta. Bermain agar bisa mendapatkan 
celoteh riang anak kecil. Belajar agar mendapatkan pemahaman yang segar remaja. 
Bekerja agar bisa menghasilkan suatu karya dewasa yang menghidupi kehidupan. 
Bercinta agar bisa menemukan makna kehidupan ini sebenarnya.
   
  Damai di Bumi
   
   
  Budi Setiawan
  http://bukikpsi.blog.com/
    http://groups.yahoo.com/group/Appreciativecommunity/
  Fakultas Psikologi Universitas Airlangga 
  www.fpsi.unair.ac.id 
 __________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 
\n    

  \n\n    \n    \n    \n    \n              \n          \n            Messages 
in this topic           (1)\n        \n        \n          \n            Reply  
         (via web post)\n          | \n        ",1] );  //-->  
http://groups.yahoo.com/group/Appreciativecommunity/
  Fakultas Psikologi Universitas Airlangga 
  www.fpsi.unair.ac.id 


 __________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke